Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
54. Mencari info yang terlewat


__ADS_3

Keesokan harinya, Aura mendapati pasangan pengantin baru yang terlihat semringah. Ia sedikit menggoda Cean dan Neska yang bergabung dengannya di meja makan rumah.


"Eh, udah pada keramas aja, ya?" goda wanita itu.


Neska tampak langsung menundukkan kepala dalam-dalam, sementara Cean terkekeh sambil mendelik kecil pada Aura yang sengaja meledek pasangan baru itu.


"Aura? Duduk, gih." Mama Yara memberi isyarat pada Aura agar tidak mengganggu sang Adik.


"Jangan ditanggapin ya, Nes. Kamu tau sendiri Aura sama Cean kayak gimana ... mereka suka banget saling ledek," kata Mama Yara pada Neska yang sudah merona wajahnya.


"I-iya, Ma." Neska menjawab dengan raut keki.


Mama Yara kembali menatap Aura yang mengulumm senyum usil diposisinya.


"Udah, kamu jangan godain Adikmu terus, Aura."


"Yah, aku godain gimana, sih, Ma? Kan cuma nyapa orang yang keramas doang," dalih Aura. Meledek pengantin baru itu cukup membuat moodnya membaik.


"Mungkin Aura gak pernah keramas pagi-pagi, Ma," kata Cean menimpali.


"Apaan sih jadi bahas keramas," ujar Aura bersungut-sungut. Tentu saja ujaran Cean itu membuatnya merengut, padahal tadinya dirinyalah yang mau meledek Cean, kenapa malah dia yang jadi bulan-bulanan saudaranya itu.


"Kamu duluan tadi yang bahas hal itu." Cean melempar pandangan pada Rion yang tampak menekuri ponselnya. "... tanya aja sama Rion. Ya, kan, Dek?" sambung Cean mengarah pada adik bungsunya tersebut.


"Jangan libatkan aku, Kak," ujar Rion tak acuh.


Aura langsung terkikik mendengar Rion yang tidak berpihak pada Cean.


"Rasain!" olok Aura pada kembarannya itu. Kalau bertemu saudaranya--terkadang jiwanya kembali seperti anak kecil.


"Aura, udah, kita lanjut sarapan pagi, ya." Mama Yara angkat suara kembali.


Meja makan hari itu tampak riuh karena mereka semua berkumpul di meja yang sama. Hanya ada satu orang yang tidak ada disana, siapa lagi jika bukan Rayyan. Jika saja pria itu masih menyandang status sebagai suami Aura, mungkin Rayyan akan ikut bergabung dengan mereka di meja yang sama. Aura jadi kembali memikirkan sosok itu.

__ADS_1


Menjelang siang, mereka semua berkumpul di ruang keluarga, sebab Oma Indri kembali datang untuk melihat keadaan cucu-cucunya. Oma memang rutin melakukan itu, dia merasa tak banyak waktu untuk bersama para cucu diusianya yang sudah sepuh. Apalagi Oma memang tidak tinggal dikediaman yang sama dengan mereka sebab Oma punya rumah masa tuanya sendiri.


Jarang sekali mereka semua berkumpul dengan formasi lengkap. Biasanya cuma ada Cean yang stay di Jakarta, itupun dia sibuk bekerja. Sementara, Rion di Singapore untuk berkuliah, dan Aura sendiri sudah menetap di Jerman hampir dua tahun belakangan.


"Oma mengucapkan selamat untuk cucu-cucu Oma, Cean dan Neska yang akhirnya menikah. Oma tidak sabar mau menimang cicit, itupun jika Oma masih diizinkan Tuhan untuk berumur panjang."


Mendengar itu, Cean dan Neska saling bergenggaman tangan. Aura dapat melihat kekompakan pasangan baru itu dari posisinya dan salam hati ia berharap semoga bisa merasakan kebahagiaan seperti itu juga.


"Oma pasti panjang umur sampai bisa melihat kami semua--cucu Oma--memiliki anak-anak yang lucu," kata Cean dan mereka semua mengaminkan hal itu.


...***...


Aura mendatangi sebuah Cafe sendirian, sudah lama ia tak datang kesana-- mengingat jika dirinya telah meninggalkan Indonesia dan menetap di Jerman cukup lama.


Aura belum memiliki rencana untuk kembali bekerja di perusahaan sang Nenek. Ia mau rehat sejenak dari dunia pekerjaan sekalian mau menenangkan pikiran.


Mengenai usahanya untuk merebut hati Rayyan kembali, Aura juga bingung harus memulai darimana. Ia mengingat jika pria itu masih berada di Jerman. Apa ia harus kembali ke negara itu lagi untuk mewujudkan rencananya? Entahlah, Aura belum mempunya plan untuk hal itu.


Berhubung sekarang ia berada di Indonesia, Aura ingin mengetahui banyak hal yang sempat ia lewatkan. Untuk itulah ia berada di cafe sekarang, untuk bertemu seseorang yang kiranya bisa memberinya info mengenai apa yang sebenarnya terjadi setelah kepergiannya ke Jerman.


Aura mengadah untuk melihat seseorang yang datang menyapanya. Kemarin mereka memang sempat bertemu saat pesta pernikahan Cean, namun Aura merasa tidak etis jika ia membicarakan soal ini di acara yang harusnya sakral dan bahagia tersebut.


"Belum kok. Ayo duduk, Sheil," kata Aura mempersilahkan seorang gadis muda yang sudah menyempatkan untuk bertemu dengannya.


Gadis itu pun duduk. Dia adalah Sheila, adik Jeno. Aura bersyukur karena Sheila tidak datang kesana bersama Rion--seperti yang Aura minta--perlu diketahui jika Sheila memang sedang menjalin hubungan dengan Rion, adik bungsu Aura, itupun mereka sudah berpacaran sebelum tragedi Jeno yang menyekap Aura bersama Shandy saat di Jerman. Jadi, Sheila memang tak ada kaitan apapun mengenai perbuatan kakak lelakinya itu.


"Sheila, kamu tau kenapa kakak mau bicara sama kamu hari ini?"


Sheila mengangguk ragu, dalam hatinya ia juga merasa tidak enak pada Aura-- karena kelakuan yang diperbuat Kakaknya di belakang hari. Bahkan, berkat perbuatan terakhir Jeno--hubungannya dan Rion terancam tidak direstui--untungnya Orangtua kekasihnya itu masih mengenang hubungan baik yang sudah terjalin lama diantara kedua keluarga, lagipula Jeno juga sudah merasakan ganjarannya sekarang.


"Aku ... minta maaf soal perbuatan Kak Jeno, ya, Kak. Untuk hal ini, nanti keluargaku juga akan menemui kakak secara langsung, karena mereka sudah mendengar kepulangan kakak ke Indonesia, jadi mereka mau meminta maaf sama kakak."


Aura mengangguk, saat ini ia memang tidak berminat membahas Jeno. Ia hanya ingin mencari tau mengenai Hanin--pacar Jeno--yang menyebabkan Jeno tega berbuat jahat padanya, pun Aura ingin tau apa yang Rayyan lakukan pada Hanin sehingga bisa memantik kemarahan Jeno.

__ADS_1


"Kakak lagi gak mau bahas soal Jeno, Sheil."


"Terus, kakak mau tau soal apa?" tanya Sheila tak paham.


"Hanin. Kakak yakin kamu pasti pernah denger soal dia, kan?"


"Ya, aku emang kenal sama Kak Hanin, kak." Sheila menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Sebenarnya, apa yang terjadi sama Hanin? Yang Kakak denger dia sangat menderita. Memangnya ada apa?"


"Kak Hanin ... Dia--dia bunuh diri, Kak."


"A-apa?" Mata Aura langsung membola mendengar hal itu. Bagaimana bisa Hanin melakukan perbuatan itu, apa sebenarnya yang Rayyan lakukan untuk menghukum wanita itu terkait perbuatan Hanin yang sudah tega menjebak mereka pada malam pengantin yang harusnya Aura lalui bersama Jeno--dulu.


"Aku gak tau pasti kejadiannya, Kak. Kakak tau sendiri kalau aku juga sedang kuliah di Singapore. Tapi, dari info yang aku dengar, Kak Hanin itu menderita di akhir hidupnya. Kabarnya, perusahaan Ayahnya bangkrut, orangtuanya bercerai dan kabur entah kemana untuk menghindari hutang, karena dia satu-satunya yang tersisa, akhirnya semua penagih mulai mendatanginya," terang Sheila memberitahukan hal yang ia ketahui.


Jelas saja Aura terkejut dengan hal ini, ia tak menyangka jika Hanin sampai nekad berbuat hal itu karena terus-terusan diteror dan ditagih hutang yang tidak kunjung habis.


Sheila juga mengatakan, jika semua harta orangtua Hanin sudah habis, tapi wanita itu tetap tidak bisa melunasi hutang perusahaan Ayahnya yang jumlahnya sangat banyak.


Karena tak sanggup menanggung beban itu, Hanin lebih memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri, ia ditemukan tergantung di sebuah rumah kos yang terakhir kali ditempati.


Menurut Sheila, Jeno merasa bersalah pada Hanin, karena sang kakak tidak begitu mengetahui perihal masalah pribadi gadis itu, padahal Hanin selalu ada dan memberi dukungan disaat Jeno terpuruk. Untuk itulah Jeno merasa sangat menyesal sebab tidak sempat membantu Hanin disaat-saat sulitnya.


"Mungkin karena kalap dan perasaan bersalah yang menderanya, Kak Jeno jadi tega melakukan hal yang jahat sama Kak Aura," tambah Sheila.


Aura terdiam, dalam pikirannya memikirkan kenapa bisa perusahaan orangtua Hanin mendadak bangkrut? Apa ini ada campur tangan Rayyan untuk menghukum kelakuan wanita itu? Tapi, kenapa Rayyan bisa melakukan itu? Siapa sebenarnya pria yang sempat membersamainya itu?


"Setelah di deportasi dari Jerman, Kak Jeno langsung ditangkap aparat kepolisian, Kak. Sekarang Kak Jeno di penjara dan gak bisa keluar dengan jaminan." Sheila kembali menekuk lehernya dalam-dalam, ia merasa malu akan perbuatan kakak lelakinya itu.


Aura jadi tau jika setelah malam dimana ia disekap oleh Jeno dan Shandy waktu itu, Rayyan dan teman-temannya benar-benar membuat Jeno dan Shandy dideportasi dan memastikan jika keduanya segera mendapatkan hukuman saat kembali ke Indonesia.


...Bersambung ......

__ADS_1


Satu persatu mulai terjawab ya. Besok othor up lagi. Cukup untuk hari ini 3 bab🙏


Mohon dukungannya yah, guys❤️


__ADS_2