
Saat Rayyan baru saja menginjakkan kaki di lobby Apartmennya, ponselnya kembali bergetar. Itu adalah panggilan dari Pak Deri. Buru-buru Rayyan menerima panggilan seluler tersebut sebab ia juga ingin tahu kelanjutan dari tugas Pak Deri yang terkahir kali mengatakan sedang mengikuti Nenek di pusat perbelanjaan.
"Ada apa, Pak?"
"Pak Rayyan, saya sekarang berada di Rumah Sakit."
"Apa terjadi sesuatu dengan nenek?" tanya Rayyan mulai panik.
"Bukan, Pak. Ini bukan soal Nyonya Marini tapi mengenai nyonya Inggrid."
"Kenapa dengannya?" Rayyan merubah intonasi suaranya menjadi datar, ia tidak terlalu tertarik untuk tau mengenai sang Tante, hatinya seakan mati untuk merasa khawatir pada wanita itu.
"Beliau ... beliau dilarikan ke Rumah Sakit karena over dosis."
Glek. Rayyan menelan ludahnya yang terasa berat di tenggorokan. Firasatnya selama ini tidak salah. Ada yang aneh dengan Tante Inggrid meski Rayyan sudah mencoba mengabaikan ya mati-matian.
"Urus semuanya, nanti saya akan segera kesana."
Rayyan memutuskan panggilan itu, memilih untuk pulang ke unitnya terlebih dahulu dengan perasaan yang entah.
Sesampai di Apartmennya, Rayyan mendapati Marsya yang langsung undur diri begitu melihat sang atasan telah kembali ke rumah.
"Saya pamit pulang ya, Pak."
"Silahkan. Terima kasih atas bantuan kamu hari ini." Rayyan memang kaku terhadap orang lain. Tapi baru sekali ini Marsya menangkap sikap Rayyan yang benar-benar datar dan dingin. Mungkin sedang ada masalah, batin Marsya yang buru-buru beringsut pergi saat itu juga.
Rayyan melihat Aura yang sedang makan cemilan sambil menonton televisi. Kartun Pororo menjadi pilihan sang istri.
"Sayang?" Aura menyadari jika suaminya telah kembali. Ia ingin mendekat menggunakan kursi roda yang beberapa hari ini ia gunakan--demi memudahkan pergerakan--namun Rayyan memberi isyarat untuk tidak menghampirinya, karena Rayyan sendiri yang lebih dulu mendatangi sang istri.
"Kamu pasti capek banget, buruan mandi gih."
Rayyan menggeleng, ia malah menumpukan kepalanya di pundak sang istri.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aura dengan suara tercekat. Ia yakin sesuatu telah terjadi.
Belum sempat Rayyan menyahut, suara dering ponsel milik Aura terdengar. Disusul suara tangisan Nenek diseberang sana.
"Aura! Aura! Tolong bantu Nenek lagi Aura. Tante Inggrid kritis di Rumah Sakit."
Aura kira, ini masih ada kaitannya dengan penyakit sang Tante yang menyebabkan wanita itu harus dibawa kerumah sakit siang tadi. Tapi ternyata semua ini bukan seperti yang ada dipikiran Aura, karena Rayyan sudah lebih dulu mengetahui penyebabnya.
"Mas, tadi siang Tante Inggrid dilarikan ke rumah sakit. Kata nenek dia sakit. Sekarang nenek bilang kalau Tante Inggrid sekarat, Mas." Aura berujar dengan raut panik yang membuat Rayyan semakin merasa entah.
"Kamu tau dari mana?" Rayyan menanggapi Aura dengan suara pelan yang nyaris tak berminat.
"Nenek sendiri yang nelepon aku, katanya dia butuh uang untuk biaya berobat Tante Inggrid. Jadi ..."
"Kamu kirimin mereka uang?" tebak Rayyan. Ia mengenal istrinya sejak lama, dan meski Aura seorang wanita yang keras kepala tapi Aura mempunya sisi kemanusiaan yang besar sehingga Rayyan tau Aura tak mungkin mengabaikan jika Nenek beralasan soal biaya untuk berobat sang Tante.
"Iya, Mas." Aura tertunduk dalam-dalam. "Maaf kalau aku salah, Mas. Tapi aku takut menyesal jika nantinya aku gak memberi uang untuk perobatan Tante kamu. Aku takut merasa bersalah kalau aku mengabaikan hal itu," terangnya.
Rayyan menarik nafas dalam-dalam. Dari sini ia dapat menghubungkan segalanya. Intuisinya cukup tinggi untuk dapat menyimpulkan keadaan.
Bagaimana jika sekarang Rayyan mengatakan pada sang istri bahwa uang yang dikirimkan Aura itu tidak digunakan untuk biaya perawatan sang Tante? Bagaimana jika akhirnya Aura tau jika uang itu malah dibelikan obat-obatan terlarang oleh Tante Inggrid.
Rayyan kehabisan kata sekarang. Apalagi yang dia tangkap disini adalah istrinya menganggap jika kritisnya Tante Inggrid karena penyakit, bukan karena insiden yang dibuat oleh Tante Inggrid sendiri.
"Kalau gitu, aku mandi dulu. Kamu tunggu disini nanti kita ke rumah sakit ya."
Aura mengangguk. Dia tidak berpikiran buruk sama sekali. Hanya saja, sikap suaminya yang tenang membuat Aura jadi kepikiran. Apa rasa sakit yang dirasakan sang suami begitu besar sehingga tidak terdapat kepanikan atau rasa iba sama sekali begitu mendengar sang Tante sedang kritis? Bukankah seharusnya Rayyan bersikap gopoh saat mendengar hal ini?
Dari sini Aura menyadari satu hal, jika luka dihati suaminya akibat perbuatan Tante Inggrid sudahlah terlampau besar dan lebar, sehingga berita ini seolah tidak berpengaruh apapun untuk suaminya. Entahlah.
Rayyan siap lima belas menit kemudian. Ia mendorong kursi roda Aura dan membawa istrinya masuk ke mobil. Rayyan sudah tau alamat rumah sakit itu dari Pak Deri.
"Sayang, apa sebenarnya kamu udah tau kalau Tante Inggrid masuk rumah sakit?"
__ADS_1
Rayyan mengangguk.
"Nenek nelepon kamu juga tadi siang?" tanya Aura.
Rayyan menoleh sekilas pada sang istri namun tetap fokus mengemudikan mobil. Mana berani neneknya meneleponnya sebab masalah ini. Apalagi mereka sudah lebih dulu memanfaatkan istrinya. Perasaan Rayyan sekarang lebih seperti mati rasa ketimbang khawatir.
"Aku tau Tante Inggrid di rumah sakit dari Pak Deri. Bukan karena nenek yang nelpon," jawab Rayyan akhirnya.
"Kenapa Nenek gak nelepon kamu ya? Ini kan masalah genting." gumam Aura.
Rayyan hanya mengendikkan bahu untuk merespon ucapan sang istri meski sebenarnya ia dapat menjawab itu dengan analoginya sendiri. Nenek takut. Sangat takut jika ia mengetahui hal ini. Maka Nenek menghubungi Aura lebih dulu, mungkin mengira Aura akan menjelaskan bahwa Tante Inggrid masuk rumah sakit karena sakit. Sedang Rayyan telah tau segalanya dari Pak Deri tanpa sepengatahuan sang Nenek.
Mereka tiba di Rumah Sakit beberapa menit kemudian. Dan Rayyan mendapati sang Nenek yang sudah menangis tersengguk-sengguk di koridor rumah sakit.
"Ray ... gimana ini, Ray? Tantemu ..." Nenek meraung sambil mengguncang lengan Rayyan.
"Nek, Tante Inggrid sakit apa sebenarnya? Kenapa bisa sampai kritis begini?" Aura bertanya dari posisinya yang duduk di kursi roda.
Nenek menatap Rayyan lama, dan nenek menangkap jika wajah Rayyan yang seolah menunjukkan kemarahan lewat sikap diamnya itu. Mendadak nenek menegangg. Apa Rayyan sudah mengetahui sebab-musabab Inggrid bisa masuk Rumah Sakit? Begitulah pemikiran Nenek.
"Inggrid itu sakit ..." Nenek ragu menyampaikannya, terlebih ia takut Rayyan semakin marah apalagi jika ia berbohong.
"Sakit apa, Nek?" desak Aura.
"Sakit itu ... ehm ..." Nenek bingung sekarang.
Dan suara Rayyan yang tenang, malah menjawab keingintahuan istrinya.
"Tante Inggrid menggunakan obat-obatan terlarang, itu sebabnya dia dilarikan kesini."
Jawaban Rayyan membuat Aura spontan menegak. Tanpa ia sadari, ia berdiri dari kursi rodanya. "Apa?" tanyanya spontan dengan nada tak percaya. "Jangan bilang kalau uang yang aku kirim itu digunain buat beli obat-obatan itu!" lanjutnya dengan mata membola.
Dan mau tak mau, Nenek akhirnya mengakui. Wanita tua itu mengangguk untuk menjawab rasa ingin tahu cucu menantunya.
__ADS_1
...Bersambung ......