Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
78. Mendadak pias


__ADS_3

Jangan tebak reaksi Inggrid saat mendengar mengenai undangan makan malam itu. Tentu saja ia sangat senang dan merasa antusias. Sejak kabar itu diberitakan oleh sang ibu, ia bahkan sudah menyiapkan outfit khusus untuk bertemu keluarga besar Aura. Rasanya ia sudah tidak sabar menunggu hari berubah menjadi malam.


Tanpa perlu meminta dijemput, Inggrid sendiri yang mendatangi kediaman Rayyan dengan penampilannya yang dibuat se-elegan mungkin.


Sayangnya, saat hatinya sedang senang ia harus melihat wajah masam Rayyan saat membukakan pintu apartmen, membuat kekesalannya muncul namun tak dapat diluapkan dan hanya bisa diredam. Sabar Inggrid, sabar. Begitulah batinnya menyikapi keadaan ini. Jika saja yang dinikahi Rayyan bukan anak orang kaya yang mungkin bisa dimanfaatkan sewaktu-waktu, mungkin Inggrid akan menunjukkan jati dirinya didepan Aura secara terus terang. Namun karena ingin dihargai oleh wanita yang menjadi istri Rayyan itu--maka Inggrid menahan sikapnya agar dinilai baik oleh Aura.


"Inggrid kamu udah datang?" sambut Nenek yang melihat putrinya sudah tiba.


Ah, akhirnya... Inggrid padahal sudah kesal saat dimana Rayyan tidak mempersilahkannya untuk masuk dan hanya diam saja melihat kedatangannya.


"Ma, ayo berangkat, Ma." Inggrid merasa diatas awan jika ada mamanya yang adalah nenek Rayyan. Sehingga tanpa menunggu dipersilahkan oleh Rayyan--ia melewati tubuh itu begitu saja dan masuk ke dalam apartmen.


"Iya, ayo. Mama udah siap ini," respons nenek.


Rayyan mengerutkan kening tak suka. "Nenek pergi bareng saya, kan?" tanyanya kemudian.


"Iya, bareng Inggrid juga jadi dia nebeng ya di mobil kamu."


Rayyan sebenarnya tak suka, apalagi neneknya tak pernah mengatakan jika mereka akan berangkat bersama dengan Inggrid tapi bisa-bisanya Inggrid datang seolah-olah mereka sudah membuat janji untuk pergi bersama.


Rayyan berdecak, namun tak mengucap apapun lagi. Ia memilih masuk ke kamarnya untuk melihat sang istri yang tadi masih bersiap-siap.


"Kamu udah siap?" tanya Rayyan pada Aura yang mematut diri didepan cermin.


Aura mengangguk. "Udah, Mas." Tapi, Aura melihat raut wajah Rayyan yang sedikit berbeda, sepertinya ada sesuatu saat Rayyan keluar dari kamar tadi. "Ada apa, Mas?" tanyanya memastikan kecurigaannya.


"Tante Inggrid datang kesini dan mau berangkat sama-sama."


Sekarang Aura paham kenapa suaminya bersikap demikian.


"Ya udah, Mas. Lagian tujuan kita sama kan."


"Aku gak suka. Lagian aku gak pernah bilang mau pergi bareng sama dia."

__ADS_1


"Udahlah, Mas. Yang penting tujuan kita sama-sama makan malam di rumah Mama, apa salahnya berangkat bareng?"


Rayyan mendengkus pelan. Ia melihat istrinya yang tersenyum tampak meyakinkan, hingga akhirnya Rayyan mengalah. Bagaimanapun juga ia tak mau ribu didepan sang istri. Meski sikap semena-mena Nenek dan Tantenya membuat Rayyan kesal sendiri.


Setelah memastikan Aura duduk dengan nyaman di kabin depan, serta memasangkan seatbelt untuk istrinya, Rayyan pun menutup pintu depan dan kembali ke sisi seharusnya ia berada yakni dibalik kemudi mobil. Ia melihat sejenak ke belakang lewat center mirror dan terlihatlah Nenek dan Tante Inggrid disana yang tampak memasang wajah semringah.


Rayyan berdehem pelan, membuat kedua wanita di belakang langsung diam karena sejak tadi keduanya berceloteh heboh diposisi mereka.


Mobil pun mulai berjalan dan meninggalkan basement Apartmen untuk menuju kediaman orangtua Aura.


...***...


Hal pertama yang terjadi saat Inggrid benar-benar memasuki rumah mewah keluarga Aura adalah kagum. Desain interior yang tak biasa, tentu dengan perabotan elit dan luar biasa. Belum lagi rancangan rumahnya yang terlihat unik dan terkesan tak pasaran. Inggrid tau jika Ayah Aura dulunya adalah seorang arsitek andal yang terkenal pada masanya. Tidak heran memang jika beliau merancang kediamannya dengan sedetail ini hingga ke bagian-bagian terkecil yang tak luput dari perhatian Inggrid.


Di kepala Inggrid sudah bingung sendiri menyusun angka-angka rupiah yang digelontorkan untuk membangun rumah ini. Belum lagi bangunannya yang dibangun dikawasan menengah ke atas dan jelas harga tanahnya pasti sangat tinggi.


Ternyata Rayyan pintar sekali mencari istri. Ini adalah mukjizat yang bisa membuat hidup Rayyan berubah, pikir Inggrid.


Sementara dalam hati Rayyan, ia sudah dapat menebak kemana arah pemikiran sang Tante. Untuk itulah selama ini ia merahasiakan kekayaannya. Jadi, biar saja Tante Inggrid mengira ia kaya karena menikahi Aura sebab jika Tante Inggrid tau sumber kekayaannya, maka dapat dipastikan jika tantenya itu akan berbuat apa saja untuk memorotinya.


Seorang wanita yang Inggrid yakini adalah ibu dari Aura, menyambut kedatangannya.


"Ya, saya Inggrid," jawabnya dengan senyum terbaik, Ia juga mengulurkan tangan demi bersambutan dengan wanita cantik itu.


"Saya Yara, mamanya Aura."


"Ya, saya bisa menebaknya."


"Mari, semuanya sudah berkumpul di meja makan." Mama Yara mengiring Tante Inggrid untuk menyusul yang lainnya.


Inggrid tidak sadar ternyata ia hanya tinggal seorang diri di ruang tamu karena terlalu larut mengagumi interior rumah tersebut.


"Ah, ya ..." jawab Inggrid berlagak sungkan. Ia mengikuti langkah Mama Yara hingga tiba di ruang makan yang ... besar dan berdesain klasik.

__ADS_1


Tidak bisa Inggrid pungkiri, pasti Aura akan mewarisi harta kekayaan yang banyak nanti. Tidak terbayangkan jika Rayyan ikut kecipratan. Ah, rasanya Inggrid tidak menyesal jika nantinya ia harus kembali berbaik-baik pada keponakannya yang tidak pernah dianggap itu.


Rayyan hanya akan ia anggap jika memiliki banyak uang. Tapi jika miskin, lebih baik ia tidak punya keponakan saja, pikirnya.


Saat mereka semua mulai untuk makan malam, seorang wanita sepuh yang berjalan dari arah ruangan ujung tiba-tiba ikut bergabung dengan mereka. Yang Inggrid dengar mereka memanggilnya Oma.


Saat Inggrid menegakkan kepala untuk melihat sosok tersebut, seketika tubuhnya menegangg. Ia melirik sang Mama dan sepertinya ibunya juga memberi respon serupa.


...***...


Nenek sangat terkejut saat melihat siapa yang kini bergabung dengan mereka di meja makan. Sosok yang disambut dengan sebutan Oma itu membuat mata Nenek membola. Nenek sangat tau dan mengenal siapa dia. Dia adalah Indri. Mendadak Nenek menelan ludah dengan susah payah.


"Kalian disini, Mar?" sapa Oma Indri yang langsung tau siapa yang diundang oleh anak-cucunya.


Nenek kembali tercekat, ia tau Indri bukan sosok sembarangan dan pasti Indri juga sudah mengetahui siapa dirinya dan siapa nenek Rayyan karena pasti wanita tua itu mencari tahu latar belakang cucunya tersebut. Itu terbukti saat Indri memanggilnya dengan akrab seperti ini. Mar yang disebut Indri adalah nama nenek. Marini.


"Kamu juga datang, Inggrid." Oma Indri menyapa Tante Inggrid disana yang wajahnya sudah pias.


Rayyan langsung menegakkan tubuh, saat menyadari oma memanggil nama Nenek.


"Maaf Oma, sebelumnya apa Oma mengenal nenek saya?"


Oma mengulas senyum. "Sejak awal, Oma tau kamu cucunya Marini," paparnya.


"Oma kenal neneknya Mas Rayyan darimana?" tanya Aura menimpali.


"Bagaimana kalau makan malamnya kita mulai saja." Oma malah mengalihkan pembicaraan. Ia melirik Mama Yara seolah memberi isyarat untuk mengikuti permintaannya.


"Ah, iya, bagaimana kalau kita mulai aja makan malamnya," ujar Mama Yara menanggapi. Ia juga tidak mengerti ada apa, tapi sepertinya Oma mengetahui sesuatu meski sebelumnya mereka belum membicarakan mengenai keluarga Rayyan pada beliau.


"Ya, silahkan, silahkan. Nenek dan Tantenya Rayyan... kita makan dulu, anggap saja rumah sendiri," kata Papa Sky menengahi.


Rayyan melirik Tante Inggrid dan Nenek yang mendadak kehilangan wajah semringahnya setelah kehadiran Oma Indri ditengah-tengah mereka semua. Rayyan menebak jika ada sesuatu hal yang pernah atau sempat terjadi diantara mereka.

__ADS_1


...Bersambung ......


Dukungan novel ini pada kemana ya? Apa udah gak mau dilanjut ya? Kopi? Bunga? Vote? Makanya othor jadi gak semangat up🤭


__ADS_2