
Rayyan terbangun pagi-pagi sekali dan mendapati Aura yang tertidur didalam pelukannya. Wanita itu sedikit bergerak, sepertinya mencari posisi yang nyaman, hingga akhirnya menjatuhkan wajah didalam ceruk lehernya, membuat Rayyan tersenyum.
Rayyan merasakan ketenangan yang selama ini ia cari. Selama berpisah dari Aura, hidupnya bisa dibilang tidak fokus. Dan ya, Aura benar soal dirinya yang masih berada di Jerman waktu itu--karena keberadaan Aura yang masih disana--bukan karena ia ada urusan atau semacamnya--yang sempat Rayyan jadikan alasan saat Aura menanyakan mengapa ia masih menetap di Jerman.
Kalau dipikir-pikir, Rayyan memang tidak memiliki kandidat lain untuk menggantikan Aura. Meski itu Lucy sekalipun. Bahkan saat Rayyan berpisah dari Aura waktu itu, ia sudah bertekad jika suatu saat ia akan mendapatkan Aura kembali. Jadi, perpisahan yang ia beri pada Aura memang murni sebagai bentuk pembelajaran buat wanita itu, karena Rayyan tau, jika hanya dirinya yang bisa memasuki hidup Aura lebih jauh setelah apa yang terjadi diantara mereka berdua.
Sejak awal, Aura selalu menutup diri dari pria lain karena traumanya di masa lalu, dari hal itulah Rayyan tau jika Aura tidak akan membuka hati dengan mudah untuk pria lain. Rayyan optimis jika Aura akan kembali ke sisinya, meski saat Aura tampak dekat dengan Devon--Rayyan cukup merasa was-was.
Mendengar Devon mengeluhkan sikap Aura yang sering menghindar dan sulit didekati--membuat Rayyan merasa diatas awan. Pun saat Aura yang akhirnya menyatakan perasaan cinta padanya. Beberapa kali Rayyan meyakinkan diri jika ia tidak sedang bermimpi. Tidak sia-sia jika selama pertemuan dengan wanita itu--ia selalu berlagak dingin dan acuh. Ternyata itu mampu membuat Aura mengerti mengenai perasaannya sendiri.
"Mas?"
Lamunan Rayyan terhenti saat Aura memanggilnya. Wanita yang sudah menjadi istrinya lagi itu tampak mengucek mata.
"Ya, Sayang?"
Lalu wajah Aura kembali merona. Rayyan pun tersenyum saat melihatnya.
"Kamu ... ngelamunin apa, sih?"
"Ngelamunin kamu."
Aura menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Kok aku, sih?" tanyanya malu.
"Wajahnya jangan ditutupin gitu, dong!"
"Malu, soalnya aku jelek kalau baru bangun tidur."
"Siapa bilang?" Rayyan mengulumm senyum.
"Buktinya Mas lihat aku sambil nahan-nahan ketawa gitu," kata Aura.
Rayyan jadi beneran tertawa sekarang. "Kamu selalu cantik, kok. Apalagi pas wajahnya merah karena aku panggil 'sayang'," katanya menggoda.
"Ih, apaan sih, Mas." Aura malah makin malu saja.
"Eh, lebih cantik lagi kalau pas teriak-teriak," kata Rayyan ambigu.
"Teriak-teriak? Maksudnya pas marah-marah, gitu?" tanya Aura polos.
Rayyan menggeleng. "Meskipun waktu marah kamu juga tetap cantik dimata aku, tapi yang aku maksud disini bukan teriak-teriak karena marah," paparnya. Rayyan mengelus-elus pipi Aura lembut, membuat sang empunya menatap Rayyan dengan mata berbinar.
"Terus maksudnya teriak-teriak gimana, Mas?"
Rayyan berlagak membisikkan sesuatu di telinga Aura dan ucapannya berhasil membuat wanita itu semakin menutup wajah dengan kedua telapak tangannya sendiri.
"Ih, Mas, me sum banget, sih!" Suara Aura teredam karena bekapan yang ia lakukan pada wajahnya sendiri.
Rayyan terkekeh-kekeh karena tingkah malu istrinya itu.
__ADS_1
"Mandi, yuk!"
"Gak ah, Mas mandi aja sana sendiri," balas Aura dengan nada manja.
"Maunya sama-sama."
Aura membuka telapak tangannya sendiri--yang tadi masih menutupi wajahnya. "Cuma mandi, ya?" ujarnya polos.
Rayyan mengangguk-anggukkan kepala dengan sikap patuh.
"Janji?" tanya Aura kemudian, ia memicing melihat ekspresi Rayyan yang seolah penuh maksud.
"Ya, gak janji juga," kata pria itu enteng.
Aura mencebik tapi kemudian tertawa pelan. "Ya udah, ayo!" ajaknya.
Dengan gelagat senang, Rayyan langsung bangkit dari posisinya dan menyongsong Aura menuju kamar mandi.
Pria itu mengisi bak mandi dengan air hangat dan parfum mandi, menyalakan lilin aromaterapi, lalu melucutii pakaiannya sendiri.
"Ayo sayang!" Rayyan menarik Aura mendekat, kemudian memperlakukan istrinya dengan sangat lembut. Ia juga meloloskan piyama yang Aura kenakan--piyama yang ia pakaikan semalam saat Aura sudah tertidur--dengan sikap hati-hati seolah Rayyan takut jika salah pergerakan sedikit saja bisa melukai wanitanya.
Mereka bergabung dalam sebuah bathub yang sama dan saling menyabuni satu sama lain. Jelas saja janji hanya tinggal janji--dan memang Rayyan tidak pernah berjanji--bahwa kegiatan itu 'cuma mandi' saja.
Selepas mandi yang memakan waktu cukup lama dikarenakan ditambah oleh 'pekerjaan sampingan' lainnya itu selesai, Rayyan pun membantu memakaikan Aura pakaian selayaknya anak kecil.
"Tampannya ... suami siapa sih ini?" Aura mencubit kedua pipi Rayyan dengan gemas sembari memujinya.
"Suami kamu, Sayang." Rayyan pun tersenyum hangat.
Aura memeluk perut Rayyan yang sudah berdiri dihadapannya. Dalam posisi itu, ia terdiam cukup lama, sedikit banyak Aura kepikiran dengan ucapan Lucy kemarin.
"Mas?" Aura mengadah pada Rayyan namun tidak melepaskan pelukannya yang melingkari perut pria itu.
"Ya?" Rayyan mengelus rambut Aura yang terduduk dibawahnya. Kendati demikian, ia juga menunduk hingga tatapan matanya selurus dengan sorotan Aura yang mendongak kearahnya.
"Kemarin, aku dapat telepon."
Satu alis Rayyan terangkat. "Telepon? Kapan? Kok aku gak tau."
"Pas kamu mandi."
"Terus? Apa yang penting dari telepon itu?"
"Si penelepon itu bilang ..." Aura ragu, namun sesaat kemudian ia merasa yakin kembali untuk mengungkapkan ini pada Rayyan. "... kamu menerima aku lagi, mau menikahi aku lagi, karena kamu mau balas dendam sama aku atas rasa sakit hati kamu." Aura melirik Rayyan sebentar untuk mendapati reaksi sang suami yang tiba-tiba menegangg karena ujarannya. "... itu gak bener, kan, Mas?" lanjut wanita itu.
Rayyan tidak langsung menjawab, Aura dapat merasakan jika Rayyan menarik nafas panjang sebelum akhirnya mengembuskannya perlahan.
"Itu benar, Ra."
__ADS_1
Sekarang giliran tubuh Aura yang membeku. Refleks ia melepaskan tangannya yang melingkari perut Rayyan. Lantas berdiri untuk menyeimbangkan posisinya dengan sang suami, kendati itu sia-sia sebab tinggi Rayyan jauh diatasnya.
"Mas?" Aura tak percaya jika Rayyan mengakuinya begitu saja.
Rayyan menipiskan bibir. "Aku emang mau balas dendam sama kamu, karena dulu aku gak bisa sedekat ini sama kamu, jadinya sekarang aku mau balas dengan aku yang gak mau jauh-jauh sedikitpun dari kamu," katanya sembari menangkup sisi wajah Aura dan menatap ke dalam bola mata wanita itu demi meyakinkannya.
"Ya ampun, Mas. Aku serius!" protes Aura dengan mata yang sudah berkaca-kaca seperti orang ingin menangis.
Rayyan memeluk Aura, membawa Aura ke dalam dekapannya. Mengelus-elus surai panjang istrinya sekaligus membuat gerakan naik turun yang perlahan di punggung Aura--dengan jemarinya.
"Boleh aku tebak siapa penelepon itu?" tanya Rayyan akhirnya.
Aura tak menjawab, namun Rayyan tau jika wanitanya masih mendengarkan.
"Jangan termakan hasutan Lucy, ya, Sayang. Dia begitu karena iri sama kamu. Sejak awal, aku emang gak setuju kamu ikut organisasi itu, bukan apa-apa ... aku takut Lucy mencari kelemahan kamu."
Tangis Aura pecah di dada Rayyan. Sekarang ia tau kenapa sikap Rayyan selalu acuh tak acuh saat mereka bertemu di organisasi itu. Rupanya Rayyan tak senang ia bergabung disana, selain itu Rayyan memang mau memberi pelajaran pada Aura dengan sikapnya. Namun soal keikutsertaan Aura didalam organisasi itu benar-benar membuat Rayyan terganggu sebab selain ada Lucy, ada Devon juga yang terang-terangan mendekati wanitanya.
"Jadi ... semua itu gak bener, kan, Mas? Bahkan, katanya Mas mau ngasih neraka untuk pernikahan kita," ujar Aura dengan suara serak yang semakin menjadi.
"Sayang, neraka itu panas, aku mana berani ngasih kamu neraka. Jangankan neraka, aku gak bakalan ngasih kamu pegang korek," kelakar Rayyan yang ditanggapi Aura dengan cubitan kecil diperut pria itu.
"Udah aku bilang aku serius, Mas," sungutnya.
Bukannya marah, Rayyan malah terkekeh kembali. "Aku juga serius, Lucy itu aneh-aneh aja," kata Rayyan menahan gemuruh di dadanya sendiri karena ternyata Lucy benar-benar menyulut kemarahannya dengan tindakan yang berniat memprovokasi Aura seperti ini.
"Tapi kamu juga salah sih, Mas!" Aura tiba-tiba melepas pelukannya.
Rayyan menatapnya bingung. "Salah? Salah aku dimana?" tanyanya.
"Kamu ngasih Lucy harapan tanpa kepastian. Kamu PHP-in dia. Iya, kan?"
Rayyan menggaruk pelipis ya sekilas. "Enggak, Sayang. Aku gak ngasih dia harapan. Bahkan sejak awal aku udah lebih dulu tegaskan sama dia kalau dia hanya sebatas adik buat aku, karena aku gak bisa ngelupain satu orang wanita yang sekarang ada dihadapan aku."
"Gombal aja terus, Mas." Aura melengos, namun Rayyan kembali tertawa.
Seperti anak ayam, pria itu mulai mengikuti langkah Aura yang kini membuka pintu kamar dan hendak turun ke lantai bawah.
Sebelum Aura benar-benar beranjak, di depan kamar Rayyan lebih dulu memegang kedua pundak Aura dan menatapnya lamat-lamat.
"Jangan percaya sama orang lain. Kamu cukup rasain aja kasih sayang aku ke kamu yang gak akan ada habisnya. Percaya sama aku. Oke?"
Aura mengangguk seraya bibirnya mengatakan, "Iya, Mas. Aku percaya sama kamu," katanya.
...Bersambung ......
Sebelum datang konflik, aku kasih best momen mereka dulu yang manis-manis pokoknya. Oh iya, ini aku kasih clue ya, konflik mereka nanti bukan pelakor kok. Jadi tenang aja🙏💚 stay disini ya, jangan lupa dukungannya🥰🥰🥰🥰
__ADS_1