
Rayyan merasakan pergerakan Aura yang tadinya tertidur dalam pelukannya.
Tapi, Rayyan enggan untuk segera membuka mata--saat ia merasakan jari jemari Aura mulai menyentuh seluruh aspek yang ada pada wajahnya.
Aura mengelus garis rahang suaminya, lalu menyusuri pelipis, berlama-lama di alis tebal milik Rayyan, kemudian jemari itu turun ke mata sang pria dan Aura pun mengusapnya perlahan.
Dalam posisinya, Rayyan mendengar cekikikan Aura yang tertahan, yang artinya wanitanya itu memang sengaja dan berniat untuk menjahilinya. Tanpa pernah Aura sadari bahwa sebenarnya Rayyan sudah lebih dulu terbangun sejak tadi.
Kini hidung mancung Rayyan ditelusuri dengan telunjuk Aura. Terakhir, Aura mengelus bibir Rayyan dengan gerakan yang sangat lembut disana.
Saat merasakan itu, ingin rasanya Rayyan langsung mengambil jemari istrinya tersebut, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya dan menggigitnyaa gemas, atau justru mengulummnya lama.
Namun, Rayyan masih saja mempertahankan sikap tidurnya--yang sebenarnya tidak lagi tidur--itu.
Tiba-tiba Aura mendekatkan wajah, kemudian mengecup bibir sang suami sekilas. Ya, hanya sebuah kecupan ringan, namun itu mampu mengejutkan Rayyan dalam posisinya. Pria itu akhirnya membuka kelopak matanya dan mendapati Aura yang sedikit tertegun--atau mungkin terkejut--karenanya.
"M-mas?" Aura tampak keki. Mungkin malu karena tindakannya ketahuan oleh Rayyan.
Rayyan mengulas senyum, kemudian tangannya terulur mengelus bibir sang istri yang tadi baru saja nakal memulai kecupan saat ia tertidur--meski kenyataannya Rayyan sudah bangun--begitulah.
"Kenapa nyuri ciumannya pas aku lagi tidur?" tanya Rayyan dengan suara berat khas bangun tidur.
"Ng--" Aura menggigit bibir, keki.
"Kalau udah terjaga gini, berani gak?" tantang Rayyan dengan sebelah alis yang terangkat naik.
Aura memandang ke langit-langit, mencoba menghindari tatap yang Rayyan berikan kepadanya. Tatapan yang selalu berhasil membuat jantungnya berdetak beberapa kali lebih cepat dari detak jantung yang normal.
"Kiss me," bisik Rayyan yang kemudian mau tak mau dilakukan juga oleh Aura dengan sangat singkat. Bahkan itu hanya menyentuh ujung bibir suaminya saja.
"Lagi," titah Rayyan.
Aura menggeleng samar, malu-malu.
"Again, Aura."
Dan karenanya, Aura kembali memajukan wajah untuk mencium bibir suaminya secara kilat. Sayangnya, Rayyan tidak mungkin membiarkan Aura lolos lagi kali ini, ia segera menangkup kedua sisi wajah istrinya untuk memperdalam ciuman mereka.
"Engh ..." Aura sudah melenguh manja saat tangan Rayyan berhasil menyelinap ke balik piyama yang Aura kenakan.
Saat lidah mereka masih saling membelit dan bergulung-gulung didalam kehangatan rongga mulut yang menempel, mendadak terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan segalanya.
Rayyan mendengkus pelan, tapi tak bisa marah pada siapa yang menganggu aktivitas paginya bersama sang istri.
"Aku lihat dulu nenek mau apa. Kamu tunggu disini ya."
Aura mengangguk, dan mulai mau mengancingkan lagi piyama yang sudah berhasil Rayyan buka seluruh kancingnya.
"Sayang, ini gak lama. Jangan dikancing lagi," titah Rayyan. Ia tak mau bersusah-susah lagi, lebih tepatnya mengulang lagi dari awal untuk membuka satu persatu kancing piyama istrinya. Ia hanya akan menemui neneknya sebentar dan menanyakan apa yang dibutuhkan wanita tua itu, lalu berniat kembali melanjutkan kegiatan yang tertunda ini.
Akhirnya, Aura menurut, ia hanya menutup bagian tubuhnya yang sudah terlanjur terbuka-dengan selimut yang ada disana.
__ADS_1
Rayyan pun berjalan ke arah pintu setelah ketukan yang terdengar terus menerus dilakukan tanpa jeda.
"Ada apa, Nek?" tanya Rayyan dari ujung pintu kamar yang tidak ia buka sepenuhnya.
"Nenek mau sarapan. Kalian kok belum bangun? Nanti rezekinya di patok ayam."
Rayyan menipiskan bibir. "Iya, Nek. Ini udah bangun. Kalau nenek mau sarapan, nanti saya pesankan online. Sebentar ya." Rayyan bergerak mengambil ponselnya, kemudian kembali ke hadapan Nenek yang tampak menunggu. "Nenek mau makan apa?" tanyanya kemudian.
Rayyan tak mungkin menyuruh neneknya masak, pun mengingat kondisi Aura, tidak mungkin juga sang istri yang akan menyiapkan menu sarapan mereka jadi pesan secara online adalah pilihan paling tepat.
Sebenarnya Rayyan bisa saja membuatkan sarapan untuk mereka konsumsi pagi ini, tapi tentu ia tidak bisa fokus melakukan aktivitas di dapur sebelum sesuatu yang hampir terjadi di kamar belum dituntaskan.
"Apa aja. Asal jangan yang buat kolesterol nenek naik."
"Oke, Nek. Saya pesan makanan di resto vegetarian saja. Sebentar lagi bakal ada yang antar ke sini."
Rayyan hendak menutup pintu kamar--setelah sang nenek mengangguk, sayangnya neneknya itu kembali bertanya-tanya.
"Kamu kenapa masuk lagi? Ayo keluar kamar, sekalian ajak istrimu, kita sarapan sama-sama."
Rayyan mengesah pelan sampai akhirnya ia menjawab ucapan sang nenek dengan anggukan ringan beserta jawaban.
"Saya dan Aura mandi dulu, setelah itu kita sarapan."
...***...
Sarapan pagi kali ini terasa berbeda karena kehadiran nenek di Apartmen mereka. Aura sesekali melirik Rayyan begitupun sebaliknya.
"Katanya mau ke rumah sakit, harusnya kalian udah berangkat dari tadi."
"Iya, Nek." Aura menyahut keki. Ia menahan geli karena tidak biasanya mereka diomeli bagai anak kecil seperti ini.
Usai sarapan, Rayyan benar-benar mengajak Aura untuk segera ke Rumah Sakit. Nenek tidak mau ikut dan Rayyan membiarkan saja wanita itu menetap di Apartmen tanpa berpikir apapun.
"Mas, sekalinya nenek mulai perhatian, sampai waktu mandi aja pake diomelin," gelak Aura begitu Rayyan meletakkan tubuhnya di kabin mobil dengan hati-hati.
"Nah, itu, telinga kamu masih tahan kan denger omelan nenek?"
Aura mengangguk. "Ini lebih bagus, daripada sikap nenek dingin ke kita."
Rayyan sudah duduk di balik kemudi dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan basement Apartmen untuk menuju rumah sakit.
Sementara disana, nenek segera menghubungi Inggrid saat merasa Rayyan dan Aura sudah meninggalkan gedung Apartmen.
"Kamu mau tau kan, Rayyan tinggal dimana? Cepat kesini, nanti Mama bukain pintu."
"Oke, Ma." Inggrid menyahut dengan antusias, ia sudah memikirkan apa saja yang akan ia lakukan dikediaman baru sang keponakan. Enak saja Rayyan menikmati hidup enak sendirian tanpa pernah mengajaknya. Ia harus bisa mengambil keuntungan hari ini.
...***...
Aura menjalani beberapa pemeriksaan terkait keadaan kakinya. Ia juga melakukan rontgen tulang yang syukurnya tidak terdapat fraktur disana.
__ADS_1
Seharusnya Aura sudah mulai bisa untuk melakukan terapi berjalan karena dokter mengatakan jika yang terjadi pada Aura adalah masalah persendian saja sekaligus otot tubuh yang syok karena kejadian yang terjadi secara tiba-tiba.
Mendengar segala penjelasan Dokter yang positif, membuat Rayyan dan istrinya menjadi semangat untuk mengikuti segala tahap agar Aura dapat segera sembuh kembali.
"Hallo, Ma?" Rayyan menerima panggilan dari Mama Yara--mertuanya.
"Kalian udah sampai di rumah sakit?" tanya Mama Yara dari sebrang sana.
Sebelumnya, Rayyan memang sudah memberitahukan hal ini pada keluarga Aura dan tentu saja mereka sangat khawatir. Rayyan tau kabar darinya cukup terlambat, tapi ini juga atas permintaan istrinya yang meminta memberitahu orangtuanya saat mereka sudah berada di Jakarta saja.
"Sudah, Ma. Saya dan Aura baru keluar dari ruang pemeriksaan."
"Lalu, bagaimana hasilnya?"
"Alhamdulillah, Aura bakal bisa jalan lagi, Ma. Tapi dia harus semangat buat ikutin terapinya. Dan itu gak akan lama, kok."
"Alhamdulillah. Mama lihat Aura kesana ya."
"Gak usah, Ma. Nanti kita aja yang ke rumah Mama."
Rayyan ingat jika ia sudah berjanji pada neneknya untuk memperkenalkan pada keluarga Aura, jadi dia akan merealisasikan hal itu hari ini. Apalagi sekarang ia sudah sedikit tenang karena istrinya dinyatakan baik-baik saja.
"Kalau saja waktu jatuh itu punggung atau tulang ekor aku yang kena, mungkin kondisi aku bakal lebih buruk lagi, Mas," tutur Aura dijalan pulang.
Rayyan mengelus pipi istrinya sekilas sambil tetap fokus mengemudi. "Iya, Sayang. Bersyukur ya, bersyukur."
Aura mengangguk, ia senang sekali karena akhirnya kakinya akan sembuh dan tidak perlu waktu lama lagi.
Sampai kembali ke Apartmen, Rayyan hanya berniat menjemput neneknya saja agar langsung diajak ke kediaman mertuanya, sehingga dia meminta Aura untuk menunggu di mobil dalam beberapa saat.
Namun, saat Rayyan membuka pintu Apartmennya menggunakan password yang ia punya. Ia begitu terkejut mendapati seseorang yang tengah berkunjung ke kediamannya.
Inggrid.
"Hai, keponakanku yang tampan ..." sapa Inggrid.
Rayyan tau, Inggrid bersikap begini--seolah menganggapnya keponakan--hanya karena wanita itu tau bahwa Rayyan memiliki uang. Sama seperti dulu mereka datang lagi pada mendiang Ayahnya saat sang Papi sukses dalam usaha peternakannya, padahal sejak awal, mereka lah yang lebih dulu mengusir sang Ayah dan membencinya.
"Saya tidak pernah mengundang Tante kesini, jadi silahkan tinggalkan rumah saya sebelum saya mengusir Tante dengan cara kasar."
"Wow," sahut Inggrid, berlagak dramatis dengan ujaran keponakannya. "Jangan gitu, lah. Tante kesini karena Mama Tante kan ada disini. Apa salah, kalo Tante mau ketemu sama Mama Tante sendiri?" jawabnya berlagak tersenyum cerah.
Rayyan muak sekali. Disatu sisi ia juga memikirkan Aura yang menunggunya di mobil. Rayyan tak mau membuang waktu, ia segera memanggil sang nenek yang belum kelihatan sejak tadi.
"Nek? Ayo, nek. Saya mau ajak nenek keluar."
Nenek datang dengan tergopoh-gopoh dari arah dapur.
Alih-alih menjawab ajakan Rayyan yang ingin mengajaknya pergi, sang Nenek malah berujar hal lain yang diluar dari perkiraan Rayyan.
"Eh, udah pulang kamu? Inggrid datang kesini, dia mau nginap juga disini."
__ADS_1
...Bersambung .......