
Sementara itu, di dalam kamarnya, Nenek sedang sibuk bertelepon dengan Inggrid. Ia mengadukan perihal kedatangan Rayyan dan Aura di rumah peternakan.
"Kamu kapan kesini? Mama gak suka sama kedatangan mereka. Cepat pulang ya, Nak. Buat mereka gak betah disini."
"Oh, jadi mereka kesana ya, Ma? Bagus, berarti pancingan aku berhasil," sahut Inggrid dari seberang sana. Ia memang sengaja mendatangi kediaman istri Rayyan beberapa hari lalu karena ia ingin wanita bernama Aura itu ingin tahu dengan keluarga Rayyan dan mencari tahunya.
"Pancingan? Maksud kamu?" Nenek tak mengerti dengan ucapan putrinya.
"Jadi, aku sengaja datang nemuin Rayyan, Ma. Supaya istrinya itu penasaran sama keluarga Rayyan. Aku yakin Rayyan itu gak mau nyeritain soal kita sama istrinya."
"Untuk apa kamu ngelakuin itu, Inggrid? Mama gak suka ada mereka disini. Kamu aja yang segera pulang kesini."
"Mama tenang dulu, Ma. Aku punya rencana buat mereka," kata Inggrid terdengar bersemangat.
"Rencana apa lagi? Mama gak mau kalau rencananya gak menghasilkan apa-apa."
"Mama tenang aja, Aura istrinya Rayyan itu anaknya majikan Bi Dima. Dia anak orang kaya, Ma. Pasti bakal menghasilkan buat kita."
Mendengar itu, Nenek jadi tertarik dengan rencana apa yang akan diusung oleh Inggrid. Ia yakin jika anaknya itu mempunyai ide yang brilian untuk menghasilkan.
Sebenarnya hidup Nenek pun tidak kekurangan, semua kebutuhannya sudah dipenuhi oleh Rayyan. Bahkan urusan sandang dan pangan, serta cek kesehatan.
Akan tetapi, nenek tidak merasa semua itu dari Rayyan, dia merasa semua kebutuhan itu layak dia dapat sebab peternakan itu milik mendiang putranya. Dia tidak pernah menganggap jika Rayyan yang bertanggung jawab atas hidupnya. Dia selalu merasa semua yang dia dapatkan karena memang itu adalah hak nya.
Padahal, peternakan itu memang sudah diwariskan untuk Rayyan. Sedang Nenek dan Inggrid tidak berhak sebab mereka sudah mengusir Ayah Rayyan sejak lama--bahkan sebelum Ayah Rayyan meninggal--hanya karena menikahi istri yang tidak Nenek restui.
Jika tidak ada belas kasih dari Rayyan, mungkin Nenek tidak akan bisa tinggal disana, tapi karena Rayyan masih menghargai ikatan keluarga diantara mereka, pria itu tetap mengizinkan--meski Nenek tak pernah menganggapnya sebagai cucu.
Pun karena keegoisan Nenek dan Inggrid yang dengan tidak tau malunya meng-klaim jika peternakan itu adalah hak mereka juga.
Nenek juga tidak senang dengan Rayyan yang hidup berkecukupan, dia menganggap Rayyan menguasai harta mendiang anaknya sendirian.
Sekarang, bahkan Rayyan mendapatkan istri dari kalangan orang kaya, tapi menurut Nenek--Rayyan tidak mau membantu Inggrid--putrinya--yang sering membutuhkan uang. Dalam pikiran Nenek, Rayyan tidak peduli pada kesusahan tantenya sendiri, jadi nenek semakin tidak menyukainya.
Selama ini Nenek dan Inggrid memang tidak tau jika Rayyan memiliki pekerjaan yang layak, aset, serta kekayaan. Yang mereka tau adalah Rayyan hidup dari hasil peternakan. Jadi, dengan Rayyan menikahi wanita kaya--mereka juga bisa ikut memanfaatkan istrinya.
"Mama tadi nyambut mereka gimana?" tanya Inggrid kemudian.
"Ya, gak gimana-gimana. Mama sambut dengan ketus aja," jawab Nenek.
__ADS_1
"Hahaha. Ya udah kalau Mama udah terlanjur nyambut mereka dengan cara seperti itu, gak apa-apa itu justru bagus."
"Bagus apanya?"
"Aku yakin istrinya Rayyan itu pasti mau ambil hati Mama, karena dia anggap Mama neneknya Rayyan. Nah, mama manfaatkan aja situasi itu. Nanti secara perlahan Mama mulai aja untuk bersikap baik sama dia, biar dia ngerasa usahanya untuk meluluhkan Mama udah berhasil. Nah, kalau dia udah yakin kalau mama udah jadi baik ke dia, baru deh ... Mama manfaatin, mintain aja uangnya, Ma."
"Kalau ketahuan Rayyan gimana?"
"Kalau ketahuan, Rayyan juga gak akan marah sama Mama. Kecuali itu aku, pasti Rayyan ngamuk." Inggrid cekikikan diseberang sana.
"Oke, lah. Mama coba ya. Nanti Mama minta uang sama dia. Memangnya kamu butuh berapa? Nanti biar Mama mintain kalau rencana ini berhasil."
"Untuk awal, Mama pinta aja 10 juta, itu pasti kecil banget buat dia. Selang beberapa hari, minta lagi dengan jumlah lain, yang penting teratur, Ma," usul Inggrid.
"Kalau dia tanya buat apa, Mama bilang apa dong?"
"Bilang aja buat berobat Mama, gitu, Ma."
"Tapi kan biaya untuk perobatan dan kesehatan Mama udah diatur sama Deri atas permintaan Rayyan."
"Ya, mama bilang dong sama Aura, jangan sampai Rayyan tau. Pinter-pinter Mama aja deh mau gimana."
Suara ketukan pintu, membuat Nenek langsung mengernyit. Ia langsung menyudahi panggilannya dengan Inggrid karena ia takut seseorang akan mendengar percakapan dan rencana mereka.
"Nek? Ini Aura, Aura boleh masuk gak, nek?"
Dalam hati, nenek langsung semringah, pucuk di cinta ulam pun tiba. Begitulah yang ada di benak wanita tua itu.
Nenek hanya menjawab dengan ringkas.
"Hm ..."
...***...
Meski Rayyan sudah melarang, Aura tetap bersikukuh untuk meluluhkan hati nenek. Dalam hatinya, ia selalu menganggap jika semua orang bisa berubah. Seperti dirinya dulu yang pada akhirnya berubah menjadi lebih baik.
Bagi Aura, Nenek hanya belum menemukan titik terang untuk perubahannya. Mungkin Nenek masih gengsi dan malu karena takut tidak diterima oleh Rayyan yang selalu beliau sakiti sejak lama.
Saat nenek menyahutinya, Aura menganggap itu adalah persetujuan Nenek untuk ia kunjungi ke ke kamar wanita itu.
__ADS_1
Aura segera menekan handle dengan senyum yang terkembang di raut wajah cantiknya. Ia melihat ke kamar nenek, wanita tua itu terlihat sedang berbaring di ran jang dengan tatapan yang sayu.
"Maaf ya, Nek. Aura ganggu nenek, ya?"
Nenek tidak menjawab, namun diamnya wanita tua itu Aura anggap suatu kemajuan sebab nenek tidak marah-marah seperti siang tadi.
"Nenek udah makan malam tadi?" Aura menghampiri tempat tidur dan duduk dipinggirannya. Nenek hanya merespon dengan anggukan samar.
"Kalau obatnya udah diminum belum? Aura denger Nenek lagi kurang sehat, ya?"
"Kamu gak usah sok perhatian sama saya," ketus Nenek. Meski begitu, Aura menanggapinya dengan senyum karena dengan Nenek menerima kehadirannya di kamar pribadinya itu adalah sebuah kemajuan.
"Aura memang mau perhatiin nenek, nenek kan neneknya Mas Rayyan, jadi itu sama seperti neneknya Aura juga. Kan, Mas Rayyan suami Aura, Nek."
"Gak perlu. Saya gak perlu di perhatiin."
Nenek tau, ia tidak mungkin langsung berubah manis pada Aura. Kendati rencananya dengan Inggrid akan segera terlaksana--mengingat istri Rayyan ini benar-benar terlihat bersikukuh untuk mendekatinya.
Akan tetapi, Nenek pun tak akan berubah secara drastis dan tiba-tiba karena itu akan sangat mencurigakan, bukan?
Nenek akan berubah seiring waktu, lalu mulai melunak pada Aura jika sudah waktunya. Tepatnya, jika Aura sudah mulai mempercayainya nanti, sehingga ia akan mudah memanfaatkan dan memperalat Aura, begitulah pemikiran Nenek.
"Jadi, nenek udah minum obatnya, belum?"
"Udah atau belum, itu bukan urusan kamu. Sekarang saya mau kamu keluar, saya mau istirahat."
Aura mengesah panjang, ia tahu kesabarannya akan terus diuji disini. Meski begitu, ia selalu meyakinkan diri jika ia bisa meluluhkan Nenek. Ia mau hubungan Rayyan dan Neneknya membaik. Ia mau Nenek menganggap Rayyan sebagai cucu, sebab Aura yakin jika suaminya juga mengharapkan hal itu.
"Aura bakal keluar kalau Nenek udah minum obat," kata Aura kemudian.
"Apa untungnya buat kamu, sih? Lebih baik kamu keluar saja. Kalau kamu berniat untuk meluluhkan hati saja dan mendamaikan hubungan saya dengan suami kamu, itu akan sia-sia saja!" tukas Nenek tajam. "Sekarang, kamu keluar dari kamar saya!" sambungnya mengusir Aura.
Dengan berat hati, Aura pun mengikuti perintah Nenek. Ia tak mungkin terus memaksa karena ia takut itu akan berpengaruh pada kesehatan Nenek.
Akhirnya, Aura lun keluar dari kamar itu, namun sebuah gumaman kecil terucap dari bibirnya.
"Tenang Aura, ini baru permulaan, kamu masih bisa mencobanya lagi besok."
Aura sedang menyemangati dirinya sendiri. Ia harus bisa melewati ujiannya kali ini. Meluluhkan Nenek Rayyan.
__ADS_1
...Bersambung ......
Maaf, up nya kemalaman. Mohon dukungannya ya. Biar othor semangat lanjut ๐๐๐๐ sehat terus all Readersโค๏ธ othor bukan apapun tanpa kalian. Tekan lambang jempolnya jangan lupa yaโ