Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
66. Tamu yang tak diharapkan


__ADS_3

Rayyan sangat terkejut saat Bi Dima membisikkan sesuatu padanya-- mengenai kedatangan seorang tamu yang tidak diharapkan.


"Bu Inggrid datang kesini, Mas," kata Bi Dima berbisik dengan suara bergetar.


Asisten Rumah Tangga itu, cukup tau bagaimana hubungan antara Rayyan dan Inggrid, sehingga sejak awal kedatangannya ke ruang makan--Bi Dima tampak gelisah dan ragu-ragu untuk menyampaikan berita tersebut.


Memang Rayyan sudah menduga wanita itu akan kembali datang ke hidupnya setelah merasa kekurangan. Rayyan tau jika begini artinya Inggrid sudah tak punya apapun lagi. Kendati demikian, Rayyan tidak pernah menyangka jika kedatangan wanita itu adalah sekarang--dimasa-masa hidupnya sudah tenang bersama keluarganya yang baru.


Tapi akhirnya, nama itu kembali terdengar di telinga Rayyan, wanita itu juga nekat mendatanginya lagi setelah semua yang telah terjadi.


Mengingat perbuat Inggrid, selalu membuat Rayyan harus menahan perasaan dongkol. Tapi, walau bagaimanapun, kini ia harus mampu untuk menguasai keadaan dalam waktu singkat.


Rayyan tidak mau meledak-ledak dihadapan keluarga besar sang istri hanya karena wanita tidak tahu diri itu.


Sebelum menemui tamu tak diundang tersebut, Rayyan tampak menghela nafas lebih dulu. Hingga akhirnya, ia dapat bersuara dengan cukup tenang.


"Dimana dia, Bi?" tanyanya pada Bi Dima. Rayyan tau, mungkin semua orang yang ada di satu meja yang sama dengannya saat ini--langsung bertanya-tanya akan hal apa yang terjadi.


Saat langkah jenjangnya tiba di ambang pintu masuk, Rayyan dapat melihat sosok itu. Wanita yang sudah menghilang nyaris 2 tahun belakangan. Yang seharusnya memang tidak datang lagi ke kehidupan Rayyan.


"Mau apa Tante kesini?" tanyanya sarkas.


Inggrid tampak menyeringai pada Rayyan, lalu menjawab dengan ucapan sinis.


"Mau kasih tau keluarga istri kamu, kalau kamu itu cucu durhaka yang menelantarkan neneknya sendiri!"


Hampir saja Rayyan kehilangan kendali, apalagi ucapan Sang Tante terdengar sangat menyudutkannya. Namun untungnya, Rayyan mampu menahan amarahnya. Ia tau, menghadapi Inggrid tidak bisa hanya mengandalkan emosi, mengingat keberadaannya sekarang yang ada di rumah mertuanya--sepertinya Inggrid memang sengaja untuk memancing kemarahannya.


Rayyan pun menghela nafas dalam-dalam. Sampai akhirnya suaranya berhasil keluar.


"Tante gak capek jadi orang licik?" sindirnya. Sebuah sunggingan tipis sengaja Rayyan berikan.


Inggrid malah tertawa satir. "Jangan lagak kamu, Rayyan!" ujarnya sembari menunjuk-nunjuk wajah Rayyan disana. "Kamu lupa siapa yang ngasuh kamu pas orangtuamu meninggal?" lanjutnya menekankan.


"Saya gak lupa. Yang menjaga saya adalah Bi Dima dan Pak Deri," tanggap Rayyan mantap.


Inggrid kembali tertawa sumbang. "Bukan berarti kamu harus durhaka sama Nenek dan Tante kamu sendiri, kan?" ujarnya--saat tanpa sengaja ia melihat seorang wanita muda yang cantik--dan ia yakini sebagai istri dari keponakannya.


"Mas? Ada apa?" Aura yang sebenarnya sudah mendengar percakapan keduanya sejak tadi, akhirnya memilih untuk menghampiri, ia memegang lengan Rayyan dan menatap Inggrid juga kemudian. Bukan maksud Aura untuk mencampuri, tapi ia rasa ada sesuatu yang tidak beres disini.


Rayyan sebenarnya bingung harus mengatakan apa pada Aura sekarang. Hingga akhirnya ia mengelus punggung tangan Aura sekilas.


"Nanti aku ceritakan, ya. Aku izin keluar sebentar, ya," tutur Rayyan lembut pada sang istri. Ia berniat mengajak Inggrid bicara diluar kediaman mertuanya.


"Tapi Tante ini ... siapa?" Aura mendongak pada Rayyan, menatap pada netra suaminya yang ia tahu sedang tidak baik-baik saja sekarang.


"Apa kamu gak mau memperkenalkan istri kamu sama Tante, Ray?" Suara Inggrid tiba-tiba terdengar dan menginterupsi percakapan antara Aura dan Rayyan.

__ADS_1


Sontak saja keduanya kembali mengalihkan atensi pada wanita paruh baya itu.


"Kamu pasti Aura, kan." Inggrid menyeringai. "Kenalkan, Saya Inggrid. Tantenya Rayyan," ujarnya sembari mengulurkan tangan.


Aura ragu-ragu menyambut uluran jemari Inggrid, ia menatap Rayyan seolah meminta persetujuan pria itu, tapi Rayyan menggeleng sebagai isyarat agar Aura tak meladeninya. Aura jadi serba salah, namun akhirnya ia memilih menuruti Rayyan saja lagipula ia memang tidak mengenal siapa wanita paruh baya ini.


"Ah, bahkan Tante gak boleh kenalan sama istri kamu ini," tanggap Inggrid, ia kembali menarik tangannya yang tak bersambut.


"Lebih baik sekarang Tante pergi," usir Rayyan tanpa ekspresi. Jika sebelumnya Rayyan tampak menahan amarah, sekarang raut pria itu mendadak berubah datar. Rayyan tidak tertarik lagi untuk bicara empat mata dengan Inggrid, lebih baik ia mengusir wanita itu pergi ketimbang meladeninya dengan bicara diluar rumah.


"Oh, jad kamu ngusir Tante? Kenapa? Kamu takut aib kamu Tante buka disini? Dihadapan istri kamu?"


Rayyan menahan gemuruh perasaan amarahnya mati-matian. Ia tak mau menerjang Inggrid didepan Aura. Apalagi Inggrid membahas soal aib yang bahkan Rayyan sendiri tidak tau aib apa. Mungkin Inggrid ingin menjelekkan Rayyan di hadapan istrinya, entahlah.


"Saya bilang, pergi!" tekan Rayyan.


Inggrid semakin senang melihat Rayyan yang terpancing seperti ini.


"Perlu kamu tau, suami kamu ini bukan suami yang baik. Dia tega menelantarkan neneknya dan saya sebagai tantenya. Padahal, waktu orangtuanya meninggal, kami yang menjaga dia."


Aura hanya diam. Ia tidak mungkin percaya begitu saja dengan ujaran wanita ini, pikirnya.


"Pergi, Tan. Atau mau saya panggil keamanan untuk mengusir Tante?" ujar Rayyan dengan rahang mengeras.


"Mungkin sekarang kamu gak percaya, tapi lihat, suami kamu ini begitu sombong dan arogan. Bisa-bisanya dia hidup enak sendiri tanpa mempedulikan keluarga yang sudah membesarkannya sampai menjadi orang sukses!"


Inggrid tersenyum sinis. Ia tahu sekarang jika kelemahan Rayyan adalah istrinya.


"Baik, Tante gak akan kesini lagi tapi kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan setelah ini?"


"Bi! Bi Dima!"


Rayyan tak tahan lagi sekarang. Ia ingin sekali marah pada Inggrid saat ini juga.


Bi Dima yang dipanggil langsung menghadap pada Rayyan yang tampak menahan emosinya mati-matian.


"Bi! Tolong panggilkan Pak Zulmi dan pastikan wanita ini pergi dari sini!"


...***...


Sepanjang perjalanan menuju Apartmen, Rayyan tidak mengucap sepatah katapun lagi. Pun Aura yang hanya diam, belum berani bertanya apapun pada sang suami.


Mobil itu berhenti tepat di basement Apartmen. Lantas, Rayyan mulai bergerak menurunkan koper Aura yang dibawa sebab kepindahan keduanya.


Aura memperhatikan Rayyan yang belum mau membahas hal tadi. Baiklah, Aura membiarkannya. Mungkin Rayyan butuh waktu untuk mengutarakan semuanya.


Sampai mereka tiba di unit apartmen itu, hanya keheningan yang merajai suasana.

__ADS_1


Rayyan tampak sibuk memasukkan baju-baju Aura ke dalam lemari. Sementara Aura, ia menyusun beberapa pigura foto yang ikut dibawanya dari rumah sebelumnya.


Namun, tiba-tiba saja Aura mendapati Rayyan yang terduduk di lantai, tepatnya di depan lemari pakaian yang masih terbuka. Pria itu terlihat kacau dengan mencengkram kepalanya.


"Mas? Kamu gak apa-apa?" Aura menghampiri dengan gelagat khawatir dan panik.


"Mas?" Aura kembali memanggil sebab Rayyan tak menjawab pertanyaannya.


Rayyan menoleh pada Aura, tatapan matanya kosong dan hal itu membuat Aura trenyuh saat melihatnya.


"Sebenarnya ada apa, Mas? Cerita sama aku," kata Aura lembut.


Rayyan menggeleng lemah. "Aku ... capek, Sayang," akuinya.


Aura memeluk tubuh tegap Rayyan, membawa kepala pria itu bersandar di bahunya, mengelus-elus kepala belakang Rayyan dengan gerakan perlahan dan konstan.


Tidak pernah Aura melihat Rayyan selemah ini. Apalagi mengeluh 'capek'. Baru sekali ini Aura melihat sisi lain dari suaminya.


"Mas, Sayang, kamu bisa cerita apapun ke aku. Kamu tau kan, kalau aku pasti percaya sama kamu," bujuk Aura. Ia tidak mau Rayyan memendam masalahnya.


Berkali-kali Rayyan terdengar mengembuskan nafas kasar, lalu lama kelamaan pria itu akhirnya mengangkat kepala.


"Aku bingung harus memperlakukan Tante Inggrid seperti apa," kata Rayyan kemudian.


"Jadi, dia benar-benar Tante kamu?"


Rayyan mengangguk, membenarkan.


"Dia adiknya Papi. Untuk itu aku bingung harus bagaimana memperlakukannya. Aku sudah sering memberinya teguran karena sikapnya yang sering kelewatan. Terakhir, aku bahkan membuat surat perjanjian putus hubungan jika dia berulah lagi. Tapi akhirnya, dia kembali lagi ke hidup aku."


Rayyan tampak putus asa, sementara Aura yang belum tahu pokok permasalahan antara Rayyan dan Tante Inggrid hanya bisa menjadi pendengar yang baik.


"Sebenarnya, surat pemutusan hubungan keluarga itu sah dan jika Tante Inggrid berani meminta apapun lagi sama aku, itu jatuhnya semacam tindak pemerasan. Tapi, apa aku setega itu melaporkan dia ke pihak berwajib?" ungkap Rayyan pada Aura.


Rayyan menceritakan pada Aura mengenai ulah Tante Inggrid yang selalu mencurangi hasil peternakan. Menggelapkan dana yang masuk. Pun terakhir, menjual tanah peternakan itu. Berkali-kali Rayyan memberi kesempatan agar Tante Inggrid berubah, namun nyatanya dia semakin parah.


"Memangnya semua uang itu dibuat apa sama Tante Inggrid?" tanya Aura polos. Ia mengira Tante Inggrid terkena sindrom sosialita, tapi ternyata jawaban Rayyan berhasil mengejutkannya.


"Tante Inggrid itu suka berjudi. Itu yang buat aku dongkol sama dia," jawab Rayyan.


"Astaga ..." Aura mendengkus juga. "Terus soal nenek kamu? Gimana? Kenapa dia malah bawa-bawa nenek kamu?" tanyanya kemudian.


"Soal Nenek ... beda lagi," Rayyan mengesah pelan. "Nenek gak percaya sama aku, nenek lebih percaya Tante Inggrid. Padahal aku mau-mau aja menjaga nenek, tapi beliau yang tidak mau, karena sejak awal gak pernah menganggap aku sebagai cucunya," terangnya dengan mata nanar.


Mendengar itu, tentu semakin membuat Aura terkejut. "Ke-kenapa begitu? Jadi, selama ini kamu hidup dengan perjuangan kamu sendiri?" tanyanya speechless.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2