Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
65. Perasaan Bersalah


__ADS_3

"Mas, aku boleh nanya sesuatu gak?" tanya Aura dalam dekapan Rayyan. Saat ini mereka berada di dalam kamar Apartmen yang sudah di beli Rayyan dan siap ditempati oleh keduanya--kapanpun mereka menginginkan.


"Kamu mau tanya apa, hmm?"


Aura diam sejenak, tampak menimbang-nimbang, tapi akhirnya ia memutuskan untuk menanyakannya juga.


"Soal Hanin---"


"Gak usah bahas itu, ya," pinta Rayyan dengan nada lembut.


"Tapi, Mas? Aku cuma mau tau, karena alasan Jeno jadi dendam sama aku itu karena Hanin yang menderita."


Rayyan mengesah panjang, sebelum akhirnya pria itu mengusap kasar wajahnya sendiri. Sejatinya pria itu sedang meredam kejengkelannya atas sikap Hanin yang juga membuatnya terkejut--karena memilih bunuh diri.


"Kamu ... kasih dia hukuman apa, sih, Mas? Aku denger, perusahaan Ayahnya mendadak bangkrut. Ya, sekarang aku emang tau kamu punya banyak uang, tapi apa se-berpengaruh itu ya, hidup Hanin karena campur tangan kamu?" Aura mengelus-elus dada Rayyan, ia berharap tindakannya itu dapat membuat Rayyan tidak marah karena keingintahuannya ini.


"Ya udah, aku cerita ke kamu," putus Rayyan. Padahal jika boleh, ia ingin Aura tidak mengetahui hal ini karena ia tidak mau Aura menganggapnya kejam. Akan tetapi, jika mengingat ulah Hanin yang menjebak mereka berdua saat itu, emosi Rayyan selalu tersulut.


"Coba kamu cerita, Mas." Aura pun menatap suaminya dengan senyuman.


"Jadi, waktu itu aku cuma cari tau siapa wanita yang udah jebak kita. Aku udah izin juga sih sama Papa kamu. Terus beliau bilang ya memang sepatutnya kita kasih pelajaran dan efek jera sama orang itu agar dia gak berani ngusik kamu lagi."


Aura terlihat menyimak cerita Rayyan. "Terus?" tanyanya.


"Ya udah, terus ketahuan kalau wanita itu namanya Hanin. Aku minta asisten aku cari tau latar belakang dia ternyata dia sempat pacaran sama Jeno--laki-laki yang hampir menikahi kamu. Jadi ya udah, aku udah dapat kesimpulannya dari situ."


Rayyan menarik nafas dalam sebelum akhirnya kembali melanjutkan.


"... ternyata Ayahnya Hanin itu adalah Pak Galih. Aku kenal beliau. Dia punya perusahaan garmen yang sebetulnya aku juga nanam saham disana."


Sekarang Aura bergerak dari posisinya. Ia menatap Rayyan lamat-lamat, sebuah pemikiran muncul di kepalanya.


"Awalnya aku bingung mau ngasih Hanin ini hukuman macam apa atas tindakannya yang udah jebak kamu dan aku malam itu. Kalau aja dia laki-laki, pasti udah aku buat masuk penjara," terbagi Rayyan kemudian.


"Jadi, kamu kasih dia hukuman apa?"


"Aku cuma tarik saham aku di perusahaan Papanya. Awalnya aku pikir saham aku gak begitu berarti disana, karena cuma beberapa persen saja. Ternyata setelah itu perusahaan itu mulai goyah, tidak lama kemudian collapse. Ternyata, usut punya usut Pak Galih itu punya banyak hutang dan banyak yang ikut-ikutan tarik saham setelah tau aku menarik saham dari sana."


"Jadi, perusahaan itu bangkrut beneran karena kamu?"


"Ya, awalnya aku pikir Pak Galih gak bakalan bangkrut, Sayang. Aku cuma mau dia bertanya-tanya kenapa aku narik saham tiba-tiba. Nah, rencana aku ... kalau dia nanya--aku bakal ceritain sama dia apa ulah yang udah dibuat anaknya. Jadi, nanti biar dia aja yang hukum Hanin. Sayangnya, karena dikejar hutang ... Pak Galih gak sempat ketemu aku lagi dan kabarnya malah kabur entah kemana. Dia juga kabur karena banyak melakukan korup."

__ADS_1


Sekarang Aura paham kenapa perusahaan Ayah Hanin bangkrut, kemudian dilanjut dengan kaburnya kedua orangtuanya, sehingga Hanin yang merupakan anak satu-satunya, terus dikejar-kejar penagih hutang. Hingga akhirnya, Hanin memutuskan mengakhiri hidup karena tidak sanggup lagi menanggung beban berat tersebut.


Rayyan menatap langit-langit kamar sekarang. "Apa menurut kamu, tewasnya Hanin karena ada andil aku didalamnya?" tanya Rayyan dengan wajah penuh penyesalan.


"Kamu merasa bersalah?" tanya Aura.


Rayyan diam, lagi-lagi mengembuskan nafas berat.


"Kalau dipikir-pikir lagi, ini semua berawal dari tindakan aku, kan?" tanya Rayyan pada istrinya.


"Jadi, kamu menyesal?"


"Entahlah, aku pikir ini juga karena kesalahan aku."


Aura menangkup kedua sisi wajah Rayyan lalu menatap pada manik mata pria itu.


"Kamu gak salah, Sayang. Hanin bunuh diri, dia tewas atas pilihannya sendiri dan itu bukan kesalahan kamu," kata Aura menekankan setiap kalimatnya.


"Tapi tetap aja... semuanya bermula karena tindakan aku yang gegabah, padahal sejak awal aku gak bermaksud begitu."


"Aku tau, Mas. Aku tau kamu gak mungkin berbuat tega sama orang lain. Kamu juga gak menyangka kan kalau Hanin bakal ambil jalan pengecut seperti itu. Jadi, ingat, Mas! Ini bukan kesalahan kamu. Hanin tewas karena pilihannya sendiri. Dia yang memilih mati ketimbang mencari jalan keluar yang lain dari masalahnya."


"Kamu percaya sama aku, Ra?" Rayyan balas menatap pada netra istrinya.


"Makasih ya, Sayang. Sebenarnya aku sempat merasa bodoh karena gak berpikir sampai sejauh ini. Aku juga gak tau kalau Pak Galih itu banyak hutang. Harusnya yang aku selidiki bukan cuma latar belakang Hanin, tapi mencakup riwayat orangtuanya juga," sesal Rayyan.


"Semua orang pernah keliru, begitupun kamu. Gak ada yang sempurna. Intinya, soal kematian Hanin itu adalah pilihannya sendiri, jadi jangan menyalahkan diri kamu ya."


...***...


Keputusan untuk pindah sudah terencana dan akan segera dilaksanakan. Barang-barang Aura yang masih berada di kediaman orangtuanya sudah selesai di kemas untuk dipindahkan ke Apartmen barunya bersama Rayyan.


"Udah semua?"


Aura mengangguki pertanyaan suaminya itu.


Semua keluarga tampak berkumpul untuk melepas Aura yang benar-benar akan tinggal bersama sang suami dan meninggalkan kediaman Lazuardi. Untuk hal itu, Mama Yara sengaja menyajikan banyak makanan enak yang nantinya akan di rindukan sang anak.


"Mama ini ada-ada aja, deh. Aura pindah gak jauh, masih di kota ini juga dan Mama bisa kesana kapanpun mama mau," gelak Aura saat sang Mama tampak berat melepas kepindahannya.


"Ya, meskipun gitu tetap aja kamu gak bakal tinggal disini lagi," sahut Mama Yara.

__ADS_1


Papa Sky, Rayyan dan yang lainnya menanggapi interaksi keduanya dengan kulumann senyum yang tertahan.


"Apa bedanya sama Aura yang dulu pindah ke Jerman. Itu lebih jauh lagi? Bahkan selepas lulus kuliah waktu itu Aura juga sempat tinggal di Singapore," kata Aura kemudian.


"Itu beda, Sayang. Dulu itu kamu pindah masih status single, kalau sekarang kamu kan benar-benar harus ikut sama suamimu, Nak."


Aura akhirnya mengalah dengan sikap berlebihan sang Mama. Ia memeluk Mama Yara dan berusaha menenangkannya.


"Aura akan lebih mandiri, Ma. Dan Aura udah jadi istri yang sebenarnya jadi Aura harap mama mau mengerti ya kenapa Aura dan Rayyan lebih memilih tinggal di rumah sendiri."


"Iya, Sayang. Maaf ya, Mama cuma merasa rumah ini makin sepi. Cean juga bakal pindah sebentar lagi," ungkapnya sendu.


Aura semakin memeluk sang Mama yang ia tahu sedang bersedih itu.


"Tenang, Ma. Ada papa yang gak akan ninggalin Mama," timpal Rayyan berkelakar.


"Yup. Papa akan selalu disini sama Mama," jawab Papa Sky pula.


Saat mereka semua sedang asyik menikmati makan siang bersama. Suara Bi Dima yang tampak panik terdengar, gelagatnya sangat aneh. Semua menunggu apa yang akan Bi Dima ucapkan saat tiba-tiba ia hadir di ruang makan. Sayangnya, Bi Dima hanya diam dengan tingkah kebingungan.


Baru saja Aura ingin menanyakan ada apa, tapi belum sempat itu terjadi, Bi Dima malah menuju posisi Rayyan dan tampak membisikkan sesuatu di dekat pria itu seolah hanya Rayyan yang boleh mengetahui kabar ini.


Aura menatap penasaran pada keduanya, tidak terkecuali yang lain. Sementara Rayyan yang mendengarkan perkataan Bi Dima, nampak tercengang dan mendadak menegakkan tubuh.


Tak lama, Rayyan tampak menghela nafas seperti ingin menguasai keadaan dulu.


"Dimana dia, Bi?" tanya Rayyan pada Bi Dima. Namun ia tak berbisik, sehingga semua yang ada di meja makan itu dapat mendengar ujarannya hingga semakin bingung dengan alis yang tertaut.


Rayyan undur diri dari meja makan. Namun, ia tidak mengatakan apapun pada Aura secara khusus.


Aura langsung keheranan. Sebenarnya apa yang terjadi? Begitulah pertanyaan di kepala wanita itu.


Aura memilih menyusul Rayyan yang sudah meninggalkan meja makan dan tampak berderap cepat ke arah pintu masuk.


"Mau apa Tante kesini?" tanya Rayyan dengan nada tak senang pada seorang wanita paruh baya.


Wanita yang tidak Aura kenali itu malah menyeringai pada Rayyan, lalu menjawab dengan ucapan sinis.


"Mau kasih tau keluarga istri kamu, kalau kamu itu cucu durhaka yang menelantarkan neneknya sendiri!"


Dan Aura menegangg diposisinya yang tertutupi oleh sebuah guci besar. Apa benar Rayyan berlaku demikian?

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2