
Jika dulu Aura pernah menjadi orang yang egois, keras kepala, suka membantah dan selalu mempertahankan keyakinannya sendiri tanpa mau mendengar pendapat orang lain. Apakah salah jika sekarang ia ingin merubah segala sikap buruknya tersebut? Apa salah jika secara perlahan, ia kembali menjadi orang yang penurut dan berusaha mempercayai orang lain?
Aura tau jika ia memang terkesan bodoh, tapi ia juga tak bisa memungkiri hubungan darah yang terjalin antara Rayyan, nenek dan Tante Inggrid itu memanglah ada.
Jadi, apa salah jika ia mau menganggap Nenek dan Tante Inggrid bisa berubah sewaktu-waktu? Meski begitu, tentu saja Aura masih ingat dengan jelas bagaimana Rayyan memberinya peringatan untuk tidak mendekati Tante Inggrid.
Dan ya, Aura tak mau melanggar hal yang sudah diwanti-wanti suaminya. Biarlah kali ini ia mengikuti kemauan Rayyan, toh sang suami tak mungkin menjerumuskannya dan pasti itu adalah yang terbaik baginya, pikir Aura.
Saat mengingat jika tadi Mama Yara sempat ingin mengundang Nenek dan Tante Inggrid untuk makan malam bersama, diperjalanan pulang Aura pun mengatakan hal itu pada suaminya.
Dan respon Rayyan adalah tidak langsung menjawab atau menyetujui itu. Pria dengan dimple itu hanya mengesah panjang sebelum akhirnya bersuara kembali,
"Kamu yakin itu mama yang ngundang nenek dan Tante Inggrid? Bukan karena kemauan kamu yang mau mendekati mereka berdua?" tebak Rayyan.
Aura menipiskan bibir. "Enggak, Mas. Aku mau ikutin saran kamu untuk jaga jarak dari Tante Inggrid. Undangan makan malam ini murni dari ajakan Mama dan ya ... mungkin Mama cuma mau menghargai mereka yang masih sebagai keluarga kamu," terang Aura.
Rayyan mengangguk. Sebenarnya ia sangat berat hati untuk mengiyakan hal ini karena ini sama saja dengan membuka peluang pada Tante Inggrid untuk memasuki kehidupan keluarga besar Aura, tapi jika ini adalah undangan khusus dari mertuanya maka Rayyan pun tak mungkin bisa menolaknya.
"Baik, nanti biar aku bicara sama Nenek dan minta beliau untuk menyampaikannya sama Tante Inggrid."
Aura mengangguk dalam posisinya. Mereka kembali ke Apartmen saat hari menjelang malam dan syukurnya tidak ada lagi Tante Inggrid yang siang tadi sempat membuat kegaduhan disana--dengan sikapnya yang menyebalkan dimata Rayyan.
"Eh, udah pulang kalian?" tanya Nenek yang terlihat sibuk di pantry, hal itu membuat Aura dan Rayyan menatapnya heran.
"Nenek ngapain, nek?"
"Nenek masak makanan untuk makan malam kita," jawab Nenek dengan suara yang hangat.
Nenek melakukan itu untuk membuat Rayyan luluh dan tidak membahas soal kejadian siang tadi dimana ia sengaja mengundang Inggrid ke Apartmen tersebut. Bagaimanapun, nenek masih takut jika Rayyan marah atas tindakannya itu. Nenek belum mau diusir dari sini, ia bahkan belum mendapatkan apapun.
"Gak usah repot-repot, Nek," kata Aura yang masih berada dalam gendongan suaminya. Rayyan hanya diam, ia tidak berkata apapun, sikapnya mendadak dingin kembali pada Nenek mengingat ucapan dan perbuatan yang siang tadi nenek lakukan padanya.
"Gak apa-apa. Nenek masih sehat untuk melakukan hal seperti ini. Lagipula semua bahannya ada lengkap di kulkas."
__ADS_1
"Makasih ya, Nek." Aura menyengir, lantas pamit pada nenek untuk ke kamarnya. Ia sendiri bingung harus merespon apa dengan perubahan nenek yang demikian. Dalam hati, Aura juga yakin jika tingkah nenek begini pasti ada hubungannya dengan kejadian siang tadi yang luput dari pandangannya sebab ia tidak ikut menyaksikannya.
"Aku yakin Nenek merasa bersalah sama kamu, Mas. Dia pasti begini karena takut kamu marah akibat dia mengundang Tante Inggrid kesini tadi," celetuk Aura saat Rayyan membaringkan tubuh mungilnya ke atas ranjang.
"Hmm ..." Rayyan tau ucapan Aura benar, tapi disatu sisi ia juga yakin jika nenek melakukan ini karena takut tak diizinkan tinggal disini lagi.
"Kamu jangan diamkan nenek lagi ya, Mas. Kemarin kan hubungan kalian udah mulai membaik."
"Hmm ..." Rayyan masih merespon ucapan sang Istri dengan gumaman saja.
"Kamu bakal bilang sama Nenek soal undangan makan malam yang dari Mama kan, Mas?" tanya Aura, dan sebelum Rayyan menyahut, Aura langsung melanjutkan. "Jawabnya jangan hmm ... hmmm ... terus, dong, Mas," paparnya.
Rayyan mengulas senyum. "Iya," jawabnya akhirnya.
"Iya, apa?"
"Iya, Sayang." Rayyan mengacak rambut Aura sekilas, kemudian beranjak keluar kamar untuk mengatakan pada sang nenek terkait undangan dari mertuanya.
Nenek tampak menyusun lauk di meja makan saat Rayyan kembali ke ruangan itu.
"Ya? Kamu mau makan?"
Untuk sesaat Rayyan tertegun, baru sekali ini dia melihat neneknya sehangat ini. Bahkan selama hidupnya, nenek tidak pernah menanyakan soal makannya. Mau ia sudah makan atau belum, nenek tak pernah mengurusi atau mempedulikan.
Rayyan menggeleng. "Saya belum lapar. Nanti saja makannya," tolaknya halus. Bagaimanapun, Rayyan tetap harus waspada pada sang nenek, ini bukan sikap nenek yang biasanya--meski Aura terus meyakinkan Rayyan bahwa nenek bisa saja berubah sewaktu-waktu, tapi tetap saja Rayyan sulit mempercayai hal itu begitu saja.
"Ya sudah kalau begitu, nanti kita makan bareng istrimu saja ya."
"Nek, saya gak mau nenek repot begini lagi ya."
"Kenapa?"
"Saya gak mau dianggap memanfaatkan nenek." Rayyan tidak mau nantinya hal ini akan diungkit nenek saat beliau kesal padanya. Sebagaimana yang sering mereka lakukan saat marah pada Rayyan. Bahkan mengungkit hidup Rayyan yang selama ini tercukupi karena harta mendiang Ayahnya--yang adalah anak nenek--bukankah itu yang siang tadi juga dilontarkan oleh Tante Inggrid? Jelas Rayyan selalu mengingatnya sebagaimana nenek dan tante yang selalu mengungkitnya.
__ADS_1
Sementara nenek, ia hanya diam saja karena jawaban Rayyan, seolah tidak pernah mendengar apa-apa.
"Nenek mau ketemu keluarga Aura, kan? Kebetulan mama mertuaku mengajak makan malam bersama-sama."
Mata nenek langsung berbinar senang. "Kapan?" tanyanya antusias.
"Kapan nenek sempat dan ada waktu. Bebas."
"Wah, tentu aja nenek mau ketemu keluarga istrimu."
"Ya udah, kalau nenek udah setuju."
Rayyan hendak berbalik pergi, namun kembali menoleh sekilas. "Ehm, Nek. Sampaikan juga hal ini pada Tante Inggrid karena dia juga diundang untuk hadir," lanjutnya kemudian.
Mendengar itu nenek semakin bersemangat saja. "Iya, iya, nanti nenek bilang sama Inggrid," jawabnya senang.
Rayyan berlalu dan kembali ke kamarnya. Ia melihat Aura disana yang sedang bermain ponsel.
"Udah?" tanya Aura saat menyadari Rayyan sudah kembali.
"Udah, kamu seneng, kan?"
Aura mengangguk cepat. "Iya, Mas. Yang terpenting itu keluarga kamu dan keluarga aku saling mengenal, dan kalau bisa menjalin hubungan yang baik juga, kan?" ujarnya.
"Semoga, Ra."
Sebenarnya Rayyan malah lebih takut jika Tantenya akan memanfaatkan situasi ini dimana dia sudah mengenal keluarga Aura. Rayyan tak mau tantenya akan mengambil kesempatan disaat keluarga Aura menganggap jika dia adalah bagian dari keluarga juga--sebab Rayyan tau betul bagaimana tabiat Tante Inggrid.
"Aku harap, setelah makan malam itu nanti gak ada yang memanfaatkan dan merasa dimanfaatkan," batin Rayyan.
Jika hanya memperkenalkan neneknya saja, mungkin Rayyan tak masalah tapi jika itu Inggrid--Rayyan takut wanita itu merasa besar kepala dan memanfaatkan situasi dikedepan hari.
"Jangan takut, Mas. Aku yakin Papa dan Mama akan memiliki jalan keluar untuk permasalahan keluarga kamu ini," kata Aura dalam hatinya. Ia berharap semuanya akan baik-baik saja setelah ini, lagipula ia juga sudah menceritakan pada Mamanya mengenai sikap Tante Inggrid dan ia tau keluarganya bukan orang-orang yang gampang dimanfaatkan.
__ADS_1
...Bersambung ......