
Ada banyak hal yang menjadi penyesalan bagi seorang Aura, salah satu penyesalan terbesarnya tentu saja karena pernah menyia-nyiakan pria sebaik Rayyan.
Aura sadar jika ia merasa amat kehilangan setelah pria itu benar-benar telah pergi.
Pun Aura tau jika semua penyesalannya sudah terlambat.
Jika mengingat hal itu, Aura selalu dihantam rasa takut dan malu untuk memulai kembali rencananya demi mengembalikan Rayyan menjadi miliknya. Itu seperti ia sedang memungut kembali sesuatu yang sudah ia campakkan. Tapi, sekarang ia tak peduli. Keyakinan terbesarnya adalah jika sesuatu itu memang berharga, tak ada salahnya jika ia mengambilnya kembali, meski ia tau jika ia harus mengorbankan banyak hal, salah satunya adalah harga dirinya sendiri.
Dari posisinya yang berada di balkon kamar sekarang, Aura tampak melamun. Sebenarnya tidak bisa disimpulkan seperti itu, karena sejatinya ia tengah mencuri pandang pada pria yang ada di bawah sana–di halaman rumah–yang sedang bercengkrama dengan keluarga besarnya.
Aura bersyukur dapat melihat hal itu dengan jelas dari tempatnya--kendati jikapun ia ikut bergabung disana tidak akan ada yang bisa melarangnya. Tapi, Aura masih memiliki rasa gugup. Untuk itu, ia menghindari bersinggungan secara langsung dengan Rayyan-- didepan keluarganya.
"Kenapa kamu ada disini, Ray? Apa ini artinya kamu masih peduli sama aku? Atau kamu ngelakuin ini hanya karena permintaan kedua orangtuaku yang belum bisa jujur sama Oma mengenai perpisahan kita?" Aura bermonolog, tentu ia heran dengan adanya Rayyan dikediaman orangtuanya, pria itu bahkan datang jauh dari Jerman.
Kendati demikian, Aura tak dapat memungkiri rasa senangnya saat mendapati Rayyan berada tak jauh dari dirinya, hingga kini ia bisa melihat pria itu dari jarak cukup dekat seperti ini.
Tanpa sadar, Aura menatap Rayyan lamat-lamat dari keberadaannya diatas balkon tersebut. Hingga pada detik yang tidak pernah ia perkirakan, pria yang sedang ia tatapi itu justru mengadah ke arahnya, hingga tatap mata keduanya bertemu satu sama lain.
Aura langsung memalingkan wajah, terlalu malu karena kedapatan melihati pria itu dari atas, ia seperti tertangkap basah dan aksinya sudah ketahuan.
Aura segera meninggalkan balkon, lalu memasuki kamarnya untuk menghindar dari keadaan dimana Rayyan sudah memergokinya dari bawah sana.
Sepanjang malam yang telah larut, Aura tak dapat tertidur. Ia bingung bagaimana caranya ia bisa mendekati Rayyan kembali. Apa ia harus menggoda pria itu secara terang-terangan? Ah, Aura malu untuk melakukannya.
Tapi jika ia hanya diam, Rayyan pun tak mungkin mendekatinya kembali. Itu yang Aura takutkan. Aura harus mempunyai tekat dan umpan agar Rayyan terpancing dengan niatnya.
Aura memutar otak agar bisa memanfaatkan waktu yang ia miliki demi mendapatkan hati mantan suaminya itu lagi.
Aura menarik gelas yang ada diatas nakas, ingin minum namun airnya tampak sudah tandas. Dengan terpaksa, ia keluar dari kamar untuk mengambil air minum di lantai bawah. Malas, namun rasa haus yang ada di kerongkongan menuntutnya untuk segera mengisi air.
Aura pun mengisi air dari dispenser, setelah penuh ia langsung berbalik untuk kembali ke kamar.
Tidak disangka ia bertemu dengan pria itu di undakan tangga. Aura ingin naik, sementara posisi Rayyan tampak sedang ingin turun. Mereka berpapasan.
Aura pikir ini adalah kesempatan untuknya menyapa Rayyan, sebab sejak makan malam tadi ia belum bicara sepatah katapun dengan pria itu. Namun nahasnya, rasa gugup terlalu mendominasi Aura. Sudah lama ia dan Rayyan tidak berada bersama dalam satu atap, sehingga kecanggungan begitu melandanya.
Entah bagaimana, Aura hanya diam dan memutuskan untuk segera berlalu saja. Sayangnya, langkahnya justru terlihat bodoh.
__ADS_1
Saat Rayyan ke kanan, Aura juga ingin melewati jalan itu. Tubuh mereka hampir bertubrukan. Aura langsung refleks ingin menghindar, ia mengambil sisi lainnya untuk kembali berjalan, sayangnya pria itu juga mengambil jalan yang sama dengan yang ingin Aura lalui, sehingga mereka tampak sangat kikuk satu sama lain.
Hingga akhirnya, Rayyan memilih diam di tempat, seolah membiarkan Aura untuk bebas memilih jalan manapun dan ia akan berjalan selepas Aura berlalu.
Aura sudah melangkah sekali. Dalam posisi tubuh mereka yang kini tampak saling membelakangi--namun akhirnya suara wanita itu berhasil lolos dari bibirnya.
"Kenapa kamu disini, Ray?" tanya Aura dalam posisi yang sama. Ia memejamkan mata rapat, ia tau Rayyan takkan melihat itu.
Rayyan yang tadinya ingin melangkah, kembali terdiam saat mendengar Aura bersuara.
"Saya cuma mau membantu, karena ini permintaan kedua orangtua kamu."
Mendengar kalimat Rayyan yang formal, membuat hati Aura terasa remuk. Dari hal itu, ia tau jika Rayyan sudah membuat tembok pembatas diantara mereka.
"Kalau begitu, terima kasih," kata Aura kaku.
Rayyan hampir berjalan kembali saat Aura justru membalikkan badan demi melihat tubuh pria itu yang hendak berlalu.
"Ray?"
Bukannya bicara kembali, Aura justru mendekati tubuh Rayyan yang membelakanginya. Lalu, entah keberanian darimana Aura justru memeluk tubuh tinggi itu dari belakang, kemudian menyandarkan kepalanya pada punggung bidang milik Rayyan.
Tindakan Aura ini, tentu mengejutkan Rayyan, namun ia nampak tenang saat menyikapinya.
"Apa yang kamu lakukan, Ra?" Ada penekanan dalam kalimat Rayyan, namun tidak ada tindakan yang dilakukannya untuk melerai pelukan Aura yang terasa semakin mengerat.
"Aku rindu kamu, Ray," lirih Aura diposisinya yang seolah tak mau beranjak.
Rayyan menatap pada lengan Aura yang melingkari perutnya dari belakang, bahkan di jemari wanita itu masih terdapat tempat minum yang juga digenggam erat.
"Aku minta maaf atas semua kesalahan aku dulu. Aku tau aku sangat keterlaluan. Aku jahat. Terlalu jahat sama kamu. Aku gak bisa menghargai kamu. Aku selalu egois, aku selalu–"
"Udah, Ra." Kali ini Rayyan berucap sembari mencoba melepas tautann tangan Aura yang mendekapnya. Namun Aura seakan urung, semua sudah terlanjur, ia sudah membuang rasa malunya jauh-jauh saat awal berlaku nekat memeluk Rayyan seperti ini.
"Kita bareng-bareng lagi ya, Ray. Aku janji bakal berubah. Aku janji bakal jadi istri yang baik. Aku mau ngelewatin banyak hari sama kamu. Aku gak mau sama yang lain," kata Aura sambil terisak dipunggung Rayyan. Ia mengesampingkan harga diri dengan memohon seperti ini pada pria yang sempat menikahinya itu.
Rayyan diam, tidak menyahut perkataan dan janji-janji yang sudah diutarakan oleh Aura.
__ADS_1
"Kamu mau kan, Ray? Aku nyesel udah nyia-nyiain kamu. Aku minta maaf. Hmm?"
"Jangan gini, Ra. Saya gak mau nanti ada yang melihat kita disini sementara mereka tau kita udah berpisah." Rayyan akhirnya berhasil melerai pelukan Aura, sekarang ia menatap pada wanita yang tengah memerah wajahnya karena mendadak menangis itu.
"Aku gak peduli." Aura menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sekarang kamu balik ke kamar, tidur, ini udah sangat larut," saran Rayyan.
"Terus, jawaban kamu apa?" tuntut Aura.
Rayyan diam seolah Aura tidak pernah mengatakan apapun padanya.
"Jawab aku, Ray, please! Kamu mau kan kita ngulang semuanya dari awal lagi? Dengan sikap aku yang akan berubah jadi lebih baik. Kita juga bisa menikah ulang dalam keadaan yang lebih baik ketimbang waktu itu."
Rayyan menghela nafas berat, kemudian berkata pelan,
"Saya takut tidak bisa membuat kamu bahagia, Ra."
Sekali lagi Aura menggeleng-gelengkan kepalanya. "Enggak, kamu bisa! Dulu aku aja yang gak tau diri," jawab Aura disertai lelehan airmatanya.
"Masuklah, Ra. Ini jam istirahat, takutnya kita malah membangunkan semua orang di rumah ini."
Aura menipiskan bibir. "Jadi kamu gak mau? Apa semua ini karena Lucy? Kamu lebih memilih dia daripada aku? Aku tau aku emang gak lebih cantik dari dia. Dia lembut, penurut. Pasti kamu lebih suka dia, kan?"
"Besok kita bahas lagi, sekarang kamu tidur." Rayyan ingin beranjak, namun Aura malah mencekal lengannya dan satu tindakan berani yang lain kembali dilakukan wanita itu.
Tanpa pernah Rayyan perkirakan, Aura malah bertindak mengecup bibir Rayyan.
Aura sendiri tidak tau kenapa melakukan hal itu, tapi yang jelas Rayyan termangu dengan wajah memerah karena perbuatannya.
"Baik. Sekarang aku tidur, tapi besok aku harus dapat jawaban dari kamu, Ray!" kata Aura yang entah kerasukan jin apa sehingga bisa berbuat se-agresif itu.
Aura lantas berlalu, memasuki kamarnya sendiri sembari mengusap sisa-sisa airmata di pipinya.
...Bersambung ......
Up lagi enggak??? Tinggalkan komennya ya✅❤️❤️❤️❤️
__ADS_1