Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
46. Organisasi


__ADS_3

Acara ulang tahun Lucy telah berakhir, semua teman-teman yang hadir sebagai undangannya kembali naik ke atas Yacht untuk kembali ke bibir pantai malam itu juga, tidak terkecuali Aura dan ketiga temannya yang lain, mereka juga harus segera pulang ke kediaman masing-masing.


"Jika kau memang tertarik untuk ikut dengan organisasi kami, kau bisa menghubungiku nanti," kata Devon pada Aura sembari menyerahkan selembar namecard miliknya.


"Baiklah, nanti aku akan menghubungimu jika aku sudah mendapat keputusan."


Devon mengangguk dan mereka berpisah untuk menuju mobil masing-masing.


Aura menaiki mobil Wilow yang menumpanginya sejak mengunjungi pantai pagi tadi.


"Hah, lelahnya," kata Sylvia yang menaiki jok belakang tepat disebelah Aura. Disusul dengan Ghea yang menempati kabin depan--disamping Wilow yang mengemudi.


"Kau bicara apa dengan Devon, Ra?" tanya Wilow saat mobilnya sudah mulai bergerak untuk meninggalkan area pantai.


"Ng, aku cuma tertarik untuk bergabung dengan organisasi sosial mereka."


Wilow melirik Aura dari kaca spion tengah. "Alasanmu ingin bergabung disana karena ada Rayyan juga, kan?" tebaknya.


Aura menghela nafas berat. "Tadinya aku memang berniat mendekati Rayyan lagi lewat organisasi itu, tapi setelah ku pikir-pikir aku berubah pikiran," terangnya.


Sylvia dan Ghea serentak menoleh pada Aura. "Kenapa kau berubah pikiran?" tanya Ghea.


"Aku akan berusaha mengikhlaskan Rayyan. Dia berhak bahagia, kan? Aku ikut di organisasi itu murni untuk kegiatan sosial, siapa tau kegiatan itu juga membantuku untuk segera move on," jawab Aura acuh tak acuh.


"Pasti karena tadi kau melihat Lucy dan Rayyan mesra, ya? Itu sebabnya kau berubah pikiran?" tebak Sylvia menimpali.


Aura mengendikkan bahu. Sejujurnya saat ini perasaannya masih sangat sakit mengingat bagaimana dekatnya Rayyan dengan wanita lain, apalagi itu Lucy yang jelas-jelas sangat cantik dan jauh lebih dari dirinya.


"Aku pikir itu sudah benar, sudah saatnya kau move on dari masa lalu, Ra." Wilow juga menyampaikan isi kepalanya.


Aura hanya merespons ucapan Wilow dengan gumaman kecil.


Keesokan harinya, Aura menghubungi Devon terkait rencananya untuk bergabung ke organisasi sosial itu.


Mulai sekarang, Aura harus membiasakan diri untuk menghadapi masalahnya dan bukan menghindari. Salah satunya, saat ia memutuskan untuk masuk organisasi tersebut, itu artinya ia harus menyiapkan hati untuk lebih kuat lagi karena didalam kegiatan sosial itu nanti, ia akan lebih sering melihat kebersamaan Rayyan dan Lucy dari jarak dekat sebab keduanya juga tergabung disana, kan?


Devon menyambut niat baik Aura dengan senang, ia mengajak Aura untuk mengikuti kegiatan sosial yang akan dilakukan di Minggu berikutnya dan Aura pun menyetujuinya.


...***...


"Dev?" Aura mendapati Devon yang menunggunya di pelataran parkir kantornya. "Kenapa kau menjemputku? Padahal aku sudah berniat ke tempat yang kau maksudkan sepulang dari bekerja," jelasnya.


Devon tertawa pelan. "Tak masalah. Sekarang kau juga sudah pulang kerja, kan? Kebetulan aku melewati jalan ini jadi kenapa tidak sekalian saja," pungkasnya.


"Oke, apa kita berangkat sekarang?"


"Of course, yes. Naiklah," kata Devon sembari membukakan pintu mobilnya untuk dinaiki Aura.


Sebenarnya Aura canggung seperti ini dengan pria yang baru dikenalnya.


Berbeda saat dia dengan Darren, mereka memang cukup dekat karena berada dalam lingkup pekerjaan yang sama, pun karena Darren adalah sepupu Wilow, tapi dengan Devon, Aura tentu merasa tidak sedekat itu, tapi nyatanya pria itu malah menjemputnya seperti saat ini.

__ADS_1


"Apa kau biasa pergi bekerja dengan taksi?"


Aura mengangguk, mengiyakan.


"Bagaimana kalau aku menjemputmu setiap hari?" tawar Devon dengan senyuman khasnya.


"Apa kau berniat menjadi supir pribadiku?" kelakar Aura.


"Jika kau tidak keberatan akupun akan senang melakukannya," ujarnya serius.


Aura hanya tertawa singkat atas tawaran Devon yang terdengar berlebihan.


Hingga lebat lain, mobil yang dikendarai pria itu sampai disebuah rumah yang menjadi basecamp organisasi sosial tersebut.


Rencananya, hari ini mereka akan mengunjungi sebuah panti asuhan untuk menyumbang obat-obatan dan bahan makanan. Aura datang kesana juga dengan niat membagikan baju-baju miliknya yang sudah tidak ia gunakan. Untuk itulah Devon sengaja menjemput Aura, sebab ia tau jika wanita itu membawa banyak bungkusan yang berisi baju-baju layak pakai miliknya.


"Hallo!"


Aura menyapa semua yang berkumpul disana. Ada Carl dan juga Lucy tentunya. Tapi Aura tidak mendapati adanya mantan suaminya. Entah kenapa ia merasa cukup lega, sebab ia pun tidak menginginkan pertemuan itu karena kedatangannya hari ini murni untuk kegiatan sosial saja, tanpa melibatkan perasaan pribadinya terhadap salah seorang anggota organisasi tersebut yang tidak lain adalah Rayyan.


"Aura? Kau datang?" sambut Carl dengan heboh.


Carl membantu membawakan bungkusan yang Aura bawa, padahal Devon juga sudah sibuk membawa sebagiannya lagi.


"Apa kegiatannya akan dilakukan sekarang?" tanya Aura pada Carl dan Devon disana.


"Kebetulan hari ini hanya akan mengumpulkan barang-barangnya dulu. Besok baru kita akan kesana."


"Oh, aku pikir kita akan kesana malam ini."


"Baiklah, ku pikir itu juga bagus."


Lucy tiba-tiba datang dan menghampiri Aura disana. Ia bahkan bertingkah sok akrab dengan merangkul pundak Aura.


"Hai, Ra? Apa kau tidak mengajak Wilow juga?"


"Wilow ada acara keluarga, tadinya dia ingin ikut bergabung juga sebenarnya," kata Aura jujur.


"Oh, kalau begitu besok ajak Wilow juga, supaya kau tidak sendirian."


Aura menatap heran pada Lucy, ia tak memahami maksud perkataan wanita itu yang mengatakan soal 'sendirian'.


"Ehm, maksudku, kemungkinan besok semua akan hadir, termasuk pasangan-pasangan mereka yang tergabung dalam organisasi juga, jika ada Wilow, setidaknya kau tidak canggung. Aku juga akan bersama pasanganku," kata Lucy sambil mengedipkan sebelah matanya.


Aura langsung memasang senyum kecut. Ia memahami ucapan Lucy. Jadi, semua wanita yang tergabung dalam organisasi ini mungkin memiliki pasangan masing-masing dan hanya dia yang sendirian, untuk itulah Lucy menyarankan agar Aura mengajak Wilow untuk ikut serta.


"Tenang saja, Lucy! Aura tak akan sendirian karena dia bersamaku!" kata Devon yang datang menimpali. Rupanya dia juga mendengar perkataan Lucy tadi.


"Ya, ada aku juga. Itu gunanya kita single, untuk menemani para wanita single yang lain," ujar Carl ikut-ikutan bersuara.


Lucy mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


"Ya, ya, kalian pria single temani lah mereka yang single agar tidak terjadi perpecahan," kelakar Lucy yang langsung berlalu ke arah teman-temannya yang lain.


Aura ikut menyibukkan diri disana. Membantu mengemasi barang-barang yang akan dibawa untuk kegiatan sosial besok.


"Apa kita hanya membagikan ini? Ku pikir di panti juga banyak anak-anak kecil, bagaimana jika kita memberikan mainan juga?" usul Aura.


"Ah, itu hanya akan membuat mereka berebut," ujar Lucy terdengar tak setuju.


"Kita beli yang bentuknya sama, jadi semuanya akan mendapat jatah masing-masing dan tidak berebut," ujar Aura kemudian.


Lucy hendak mengucap kata, tapi suaranya tertahan sebab Devon keburu buka suara untuk menyetujui usul Aura.


"Ku pikir itu juga bagus, anak-anak panti akan senang dan kita bisa menggunakan dana yang ada di rekening untuk keperluan ini," katanya.


"Ah iya, sekalian aku juga mau menyumbangkan dana dalam bentuk uang, aku minta nomor rekeningnya, ya." Aura menatap Devon serius sebab ia tulus ingin membantu.


"Disini kita tidak perlu menganggarkan siapa yang paling banyak menyumbang, Ra! kita semua sama-sama donatur tetap jika kita sudah tergabung dalam organisasi ini," kata Lucy yang terdengar sarkasme.


Aura melongo dengan perkataan wanita itu, entah kenapa perasannya mengatakan jika Lucy tengah menyindirnya.


"Maaf, aku tidak berniat untuk menganggarkan apapun, aku tulus mau membantu."


Lucy berdecak kesal dengan ujaran Aura, baginya Aura terlalu terang-terangan untuk menyumbang, sedangkan jika ingin melakukan itu seharusnya tidak perlu digembar-gemborkan.


"Aku tidak tau nomor rekeningnya, apa aku salah jika aku menanyakannya?" gumam Aura bingung.


Devon menepuk pundak Aura pelan. "Jangan terlalu dipikirkan, terkadang Lucy memang begitu. Aku paham maksudmu bukan untuk menganggarkan. Sudah lupakan saja apa yang dia ucapkan," ujarnya menenangkan.


Aura mengangguk, namun seseorang menginterupsi kedekatan mereka dengan berdehem pelan.


Aura dan Devon menoleh, mendapati seorang pria yang berdiri disana dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ray, kau baru datang?" Lucy yang menyambut kedatangan pria yang tak lain adalah Rayyan itu.


"Ya, aku baru saja tiba," ujar pria itu datar. Matanya menatap Lucy sekarang, seolah mau menunjukkan kedekatan mereka pada Aura yang ada disana atau itu hanya perasaan Aura saja?


"Aku pikir kau masih sibuk dan tidak jadi kesini," jawab Lucy pada Rayyan.


Aura membuang muka, berlagak sibuk dengan bungkusan yang terhampar dihadapannya.


"Apa ada orang baru yang masuk organisasi?" tanya Rayyan pada Lucy, namun Aura masih bisa mendengarnya, Aura juga tau yang Rayyan maksudkan itu adalah dirinya.


"Iya, Aura bergabung di organisasi ini. Devon yang menjemputnya tadi. Lihat, kan? Devon bergerak lebih cepat, dia memang playboy karatan," kata Lucy dan disambut dengan kekehan semua teman yang lain.


Devon juga ikut terkekeh mendengar namanya disebut dan dijuluki oleh wanita itu.


"Jangan dengarkan ucapan Lucy, dia memang sering begitu," ujar Devon pada Aura.


Aura hanya diam tanpa kata, ia sudah bertekad untuk bisa melewati masalah ini dan belajar mengikhlaskan Rayyan.


...Bersambung ......

__ADS_1


Sorry ya lama up dan bab-nya agak garing. Lagi ada acara keluarga soalnya, tapi maksain up buat yang nungguin. Besok othor up lagi ya, othor usahain bab nya akan seru🙏🙏


Kirim dukungannya, gaess❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2