
"Kau mau melihatnya mati secara langsung?" tanya Jeno pada Rayyan.
Tangan Jeno sudah ingin men-ce-kik leher Aura, membuat wanita itu gemetar di posisinya. Akan tetapi, Rayyan tampak tenang menghadapi situasi tersebut, seolah ancaman Jeno tidak berdampak apapun untuk dirinya.
Rayyan hanya memasang wajah datar, kemudian berbalik tanpa menghiraukan Aura disana.
"Heh, mau kemana dia? Apa dia tidak mau menyelamatkan Aura?" batin Jeno berkata-kata.
Sebelum Rayyan benar-benar meninggalkan ambang pintu tersebut, ia sempat berkata pelan.
"Aku dan Aura tidak ada hubungan apapun lagi, jadi terserah kau mau melakukan apa, itu tidak akan mempengaruhi hidupku," ujarnya sambil menatap Aura dingin.
Mendengar itu, Aura langsung lunglai, kakinya seolah berubah menjadi jelly yang lembek dan tidak dapat menopang bobot tubuhnya lagi. Ia lemas, padahal ia mengira Rayyan akan menyelamatkannya.
Rayyan benar-benar berbalik pergi. Jeno yang tersulut emosi langsung melepaskan Aura demi mengejar langkah Rayyan.
Lantas, Jeno pun menarik lengan Rayyan dan ingin memukulnya, namun gerakan Rayyan lebih sigap, seakan sudah membaca pergerakan Jeno sehingga Rayyan dapat menghindar dan justru langsung memban-ting tubuh Jeno ke lantai.
Kini posisi Jeno berada dibawah tubuh Rayyan dan pria itu memukuli lawannya dengan membabi buta, bahkan Rayyan tidak memberi selah sedikitpun untuk Jeno, sehingga Jeno tak memiliki kesempatan untuk membalas perlakuannya.
Rayyan benar-benar kalap, sejak tadi ia menahan emosi yang bergemuruh di dadanya dan sekarang saatnya melampiaskan kemarahan itu pada Jeno yang nampak tidak berdaya dibawah kakinya.
"Sudah pernah ku katakan jangan sampai kita bertemu lagi atau aku akan menghabisimu!" cerca Rayyan didepan wajah Jeno yang babak belur.
"Enghh ..." Jeno mengerangg kesakitan, ia memegangi perutnya yang sempat di hantam Rayyan dengan kakinya.
Sementara Aura, menyaksikan kejadian itu dengan mata membola dan pipi yang basah. Baru kali ini ia melihat kemarahan Rayyan dan ucapan Rayyan tadi yang sempat membuatnya lunglai tidak ia pikirkan lagi sebab bagi Aura keberadaan Rayyan disini adalah demi menolongnya.
Aura beringsut dari kamar itu sembari menutupi tubuhnya yang tidak sepenuhnya tertutup sebab bajunya sudah robek dan tak berbentuk karena ulah Jeno.
Dari posisinya yang berjarak setengah meter dengan keberadaan Aura sekarang, Rayyan membuka jaketnya dan memberikan itu pada Aura dengan sikap biasa. Tidak ada kalimat apapun yang Rayyan ucapkan, tapi Aura memahami dan langsung mengenakan jaket Rayyan untuk menutupi tubuhnya yang terbuka.
Disaat yang sama, terdengar suara langkah orang yang mendekat.
"Shandy sudah kita amankan, Ray!" Seorang pria dengan tampang bule berujar pada Rayyan yang tampak mematung tanpa kata.
Rayyan pun mengangguk. "Thanks, Bro. Sekarang tolong urus yang ini," ujarnya merujuk pada Jeno yang terkapar dengan nafas terengah-engah.
"Ok!"
Rayyan berlalu dari sana tanpa menoleh sedikitpun pada Aura yang ikut-ikutan membeku ditempat.
Saat Aura berusaha mengejar langkah Rayyan, disanalah ia baru sadar jika ia berada disebuah rumah besar dengan pekarangan yang cukup luas. Beberapa motor trail nampak tersusun disana. Beberapa pria berlalu lalang yang Aura yakini sebagai teman-teman Rayyan yang membantunya sampai pada rumah tersebut.
__ADS_1
Ada sebuah mobil Jeep dengan mesin yang menyala tampak sedang menunggu. Sepertinya itu adalah mobil yang akan digunakan untuk membawa dan mengamankan Shandy dan Jeno.
Aura tidak tau kemana teman-teman Rayyan akan menggiring mereka, yang jelas sekarang fokus Aura hanya pada pria yang mulai menaiki motor trail-nya.
"Ray?"
Rayyan menoleh sekilas pada wanita yang memanggilnya itu, ia tidak jadi mengenakan helmnya karena Aura terlihat ingin mengatakan sesuatu.
"Makasih ya, udah nolongin aku."
Rayyan hanya menipiskan bibir. Sikapnya yang dingin membuat Aura bertanya-tanya. Rayyan tampak berubah. Bukan hanya dari segi penampilan yang kini terlihat memanjangkan jambang dan membiarkan bulu-bulu kasar di bagian rahangnya, sikap pria itu juga tampak berbeda.
Rayyan mengenakan helmnya, bersiap untuk pergi tapi dia membuka kaca helm dan berkata datar pada Aura.
"Jangan berpikir berlebihan, aku kesini bukan untuk menolongmu, tetapi karena Jeno memiliki dendam padaku mengenai Hanin. Jadi, aku kesini memang untuk mengamankannya karena dia akan menjadi batu sandungan untukku dikedepan hari."
Sekali lagi Aura merasa tertampar dengan perkataan Rayyan yang dingin. Ucapan itu seperti menyayat hatinya. Rayyan yang hangat sudah tiada yang tersisa hanyalah Rayyan yang dingin seolah tidak pernah mengenalnya dengan cukup dekat.
"Carl!!" seru Rayyan pada salah satu temannya yang ada disana.
Lelaki yang dipanggil Rayyan mendekat kearah mereka.
"Kenapa, Ray?" tanya Carl.
"Antar dia pulang. Sepertinya ini bukan tempatnya," kata Rayyan merujuk pada Aura.
"Ray!" Aura mencegah kepergian Rayyan yang sudah menyalakan mesin motornya. Tangan gadis itu memegang stang motor agar Rayyan tidak berlalu begitu saja.
"Kenapa?" tanya Rayyan yang lagi-lagi tampak dingin, bahkan tatapannya seolah membekukan Aura secara tak langsung.
"Kenapa harus meminta teman kamu untuk mengantar aku? Kenapa gak kamu aja yang antar aku, Ray?"
"Aku masih ada urusan lain, yang lebih penting."
Aura mematung, ucapan Rayyan seolah menyadarkannya akan posisinya yang tidak lebih penting sekarang.
Suara deru motor Rayyan yang mulai menjauh terdengar nyaring di pendengaran wanita itu. Aura seperti terhipnotis dengan diam di tempat. Sebuah suara akhirnya menyadarkan Aura dari lamunannya mengenai sikap Rayyan yang berbeda.
"Ayo, ku antar!" ujar Carl yang sudah dipesani oleh Rayyan untuk mengantarkan Aura.
Aura menaiki motor trail yang dikendarai oleh Carl dan terdiam disepanjang perjalanan.
"Apa kamu mengenal Ray sebelum hari ini?" tanya Carl pada Aura yang diam sejak tadi.
__ADS_1
Pertanyaan Carl membuat Aura tahu jika Rayyan memang tak pernah bercerita pada teman-temannya mengenai dirinya.
"Ya, aku mengenalnya," jawab Aura terus terang.
"Oh... pantas saja dia mau meminjamkanmu jaket nya."
"Kalau boleh tau, kenapa kalian semua datang ke rumah itu? Termasuk Rayyan?" Aura masih ingin tau alasan yang sesungguhnya, sebab ia yakin Rayyan kesana untuk menyelamatkannya bukan seperti ucapan pria itu yang mengatakan memang mau mengamankan Jeno, aura menganggap ucapan Rayyan tadi hanya sebuah alasan untuk menutupi niatnya yang sesungguhnya.
"Jadi, pria yang tadi kami amankan belakangan bernama Jeno, dia musuh Rayyan. Rayyan tau kedatangan Jeno ke Jerman dan mencurigai pria itu, jadi kami semua sudah memantau gerak-geriknya sejak dia tiba di negara ini."
"Darimana Rayyan bisa tau kedatangan Jeno?"
"Rayyan punya koneksi untuk mengetahui itu."
Rasanya Aura tak percaya dengan ucapan Carl. Bagaimana bisa seorang Rayyan memiliki koneksi dan mengetahui dapat melacak kedatangan seseorang? Apa Rayyan termasuk orang berpengaruh? Kenapa Aura sama sekali tak mengetahuinya? Bukankah pria itu mantan suaminya? Hatinya tersentil, seolah menegaskan sebuah kenyataan jika ia memang tidak tau apapun mengenai Rayyan dan itulah faktanya.
"Kau sudah lama mengenal Rayyan?" tanya Aura penasaran. Seharusnya ia lebih mengenal Rayyan, nyatanya ia tak tahu sama sekali tentang pria itu.
"Belum. Hanya saja, kita tergabung dalam satu organisasi, Ray baru bergabung 6 bulan belakangan tapi kita sudah selayaknya saudara dan akan saling membantu satu sama lain."
"Begitupun soal Jeno?"
"Ya, tentu saja, Ray bilang Jeno itu musuhnya yang memiliki dendam padanya. Kedatangan Jeno ke Jerman membuat Rayyan waspada, itulah kenapa kami memantaunya. Dan kau beruntung karena kami datang disaat yang tepat. Karenamu juga kami bisa melaporkan Rayyan atas kasus yang diperbuatnya hari ini bersama Shandy."
Aura pun terdiam. Jadi benar jika Rayyan ke rumah itu tadi bukan untuk menolongnya? Melainkan untuk menangkap Jeno yang kebetulan bersama Shandy dan kebetulan juga tengah menyekapnya disana. Tapi, bukankah kebetulannya terasa sangat banyak?
Carl menurunkan Aura di depan gedung Apartmen wanita itu. Aura mengucapkan terima kasih pada pria itu.
"Carl, terima kasih banyak ya. Sampaikan juga rasa terima kasihku pada teman-temanmu yang lain, terutama pada Rayyan."
Carl menanggapi ucapan Aura dengan acungan jempol kemudian berlalu dari hadapan wanita itu.
Aura memasuki unit apartmennya dengan perasaan campur aduk. Ia merentangkan tubuh diatas ranjangnya dan menghela nafas panjang.
Alih-alih memikirkan nasib diri yang hampir nahas ditangan Jeno dan Shandy, wanita itu justru memikirkan pria penyelamatnya.
"Rayyan ..." Aura bergumam lirih, diliriknya jaket yang masih melekat ditubuhnya, itu adalah milik Rayyan.
Aura membuka jaket itu, menghirup aroma khas sang pria yang masih tertinggal disana.
"Ray, maafin aku, Ray ..." Aura memeluk jaket itu, dengan genangan airmata yang tidak dapat tertahan.
Aura mengingat janjinya pada diri sendiri saat dulu ia hampir dilecehkan Shandy. Janji itu adalah ia rela melakukan apapun asal ia dapat keluar dari situasi tersebut. Dan penyelamatnya waktu itu adalah Rayyan. Jadi itu pertemuan pertama mereka. Kenapa Aura baru menyadarinya sekarang?
__ADS_1
Dan janji itu, seharusnya Aura menebus janji itu pada penyelamatnya yang tak lain adalah Rayyan. Aura harus menebusnya dengan melakukan apapun untuk Rayyan sebab pria itulah yang selalu menjadi pahlawannya. Dulu maupun sekarang.
...Bersambung ......