EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-9


__ADS_3

"Lo kenapa gak ngomong sama kita Dhira." kata Windi ikut menangis.


Malam itu, keempat gadis paling angkuh disekolah itu saling menumpahkan tangis ditengah keputus asaan mereka. Mencoba saling memahami dan menurunkan egonya masing-masing.


***


Pagi-pagi sekali Adhira bangun dari tidurnya, semalam mereka menangis sampai tertidur.


Adhira memegangi kepalanya yang pusing, ia mulai merasakan mual namun masih bisa ia tahan.


Duduk termenung sebentar, Adhira mulai mengingat semua kejadian yang tadi malam terjadi. Mengusap wajahnya kasar saat tiba-tiba setetes air mata jatuh dari matanya.


Adhira bangun dari ranjangnya ia mencari sisa testpack semalam, ia harus memastikannya sekali lagi. Mungkin saja semalam adalah kesalahan. Mungkin saja semalam hanya hayalannya. Adhira mulai merasakan mual yang hebat ketika ia melihat 3 bungkus bakso semalam yang belum sempat mereka makan. Mengeluarkan bau menyengat yang membuat perutnya bergejolak.


Adhira berlari untuk memuntahkan isi perutnya, Setelah memuntahkan lendir-lendir putih itu, Adhira segera mengeceknya kembali. Ia mengambil benda pipih itu dan melihatnya.


Ia tertawa frustasi saat melihat lagi-lagi dua garis biru yang muncul.


Adhira masih terkekeh sambil memukul-mukul perutnya sebelum kekehannya berubah menjadi tangis tertahan.


Ia hamil


Benar-benar hamil.


Seolah kenyataan itu belum cukup menghantam psikologisnya, rasa pusing dan mual yang lagi-lagi menderanya semakin membuatmya frustasi.


Adhira membenci keadaan ini. Ia muntah-muntah sambil menangis. Ia benar-benar membenci keadaannya dan juga kehamilannya.


Setelah puas menangis sambil disertai muntah, Adhira merasakan kering dikerongkongannya. Dengan sempoyongan, Adhira berjalan keluar dari kamarnya untuk menuju dapur rumah yang sepi. Orang tuanya belum pulang ternyata.


Adhira masih sesenggukan ketika akan membuka kulkas hendak mengambil air putih, namun gerakannya itu terhenti ketika tak sengaja ia menemukan selembar note dipintu kulkas.


Mama, ayah sama adek kerumah nenek dulu ya kak, tadi  mama mau pamit, tapi kakak pulas banget tidurnya. Jadi, mama nelpon temen-temen kakak buat nemenin kakak malam ini. Cepet sembuh ya sayang. I love you. Oia jangan lupa makan. kayaknya mama agak lama deh dirumah nenek, mungkin 2 hari. kalau ada apa-apa telpon mama ya sayang.


Adhira yang emosinya sedang tidak setabil pun kembali sesenggukan. Hatinya tercabik ketika membayangkan respon keluarganya nantinya.


Ia memikirkan apa respon ayahnya nanti.


Betapa kecewa mamanya padanya.


Bagaimana sekolahnya


Bagaimana pandangan orang-orang tentangnya.


Bagaimana dengan panji


Bagaimana kehidupannya kelak


Bagaimana pendidikannya.


Bagaimana teman-temannya.


Apa ia akan ditinggal sendiri


Apa semua orang akan menghakiminya


Apa-


"Akhhhhhh!" Adhira berteriak saat kepalanya kian sakit.


"Mama hiks," tangisnya tak terkendali Setelah beberapa kali terisak.


Adhira langsung bangkit seperti orang kesurupan, ia menuju tempat peralatan dapur.


Tangan Adhira bergetar ketika ia memegang benda tajam itu ditangannya.


Adhira harus menyelesaikan masalahnya sebelum orang lain tau.


Adhira tak mau ayahnya marah

__ADS_1


Adhira tak mau mamanya kecewa.


Adhira tak ingin dijauhi


Adhira tak ingin ditinggalkan.


Adhira tak mau menanggung malu karena anak zeo


Adhira tak ingin berurusan dengan Zeo


Adhira tak-


Nyess


Adhira menggigit bibir bawahnya saat darah menetes deras dari pergelangan tangannya.


Nyes


Adhira terus mengiris pergelangan tangannya.


Darah deras menetes kelantai. Adhira mulai merasakan pusing yang hebat. Nafasnya tercekat. Pandangannya pun memburam.


"Akhhh, Adhira!!!!" dan teriakan itulah yang terakhir ia dengar.


***


Adhira mengerjapkan matanya ketika cahaya silau menusuk matanya. Ia terdiam cukup lama saat mendengar suara tangis yang menusuk telinganya. Dan tak perlu waktu lama untuk ia menyadari kalau ia berada dirumah sakit sekarang, dan ia pun langsung menyadari awal mula kenapa ia ada diposisi ini.


"Dhir, lo bangun!" teriak teman Adhira yang ntah siapa, Adhira belum bisa melihatnya dengan jelas karena pandangannya yang buram.


"Akhh" Adhira langsung berteriak saat rambutnya terjambak kuat.


"Kurang ajar kamu!"


kesadarannya belum terkumpul saat ayahnya mengamuk dihadapannya.


"Om!"


"Mas!"


Teriakan itu membuat Adhira kembali merasakan pusing dikepalanya. Perempuan dengan perban ditangannya itu langsung menyadari satu hal, Ayahnya marah.


"Siapa laki-laki brengs*k itu ha!" Teriakan ayahnya itu menghantam Adhira.


Perlahan Ia mulai mengingat jelas masalahnya.


"Ayah, akh" Adhira merasakan kebas yang luar biasa ditangan kirinya yang diperban.


"Siapa orangnya ha!  Kamu- " wajah Deni memerah menahan amarah. Ia bahkan tak sadar telah menyakiti putrinya kesayangannya sendiri.


"Mas, udah!" tangis Mira menarik suaminya agar melepaskan jambakannya.


"Anak kurang ajar kamu, Ayah tanya siapa ayahnya"


"Mas!"


"Adhira Alindra!"


Adhira beringsut mundur sambil memegangi lengannya yang kebas saat Ayahnya berhasil ditarik mamanya menjauh.


"Kamu-"


"Mas udah!" Mira menarik suaminya saat Deni akan melayangkan tamparan ke Adhira yang sudah gemetaran.


"Lepas Mira, anak ini butuh pelajaran, cepet kasih tau ayah Adhira"


"Mas kamu mau bunuh Adhira hah, kamu mau bunuh anak kamu." teriak Mira keras yang membuat Deni menghentikan aksinya.


Laki-laki itu menatap Adhira dengan tatapan kosong, merasa menyesal.

__ADS_1


"Jangan pakai emosi." Tangis Mira memeluk suaminya yang mulai runtuh kelantai dan menangis.


Sedangkan Windi, Intan, Febi dan Devan yang melihat itu langsung menghampiri Adhira yang gemetaran. Terutama Devan, anak lelaki itu memeluk kakaknya sambil menangis, ia sesenggukan namun berusaha melindungi kakaknya dari amukan ayahnya.


"Gugurkan kandungan kamu Adhira!" teriak Deni setelah puas menangis kecewa dipelukan Mira yang membuat semua yang mendengar tercekat.


***


Adhira menangis sambil memeluk lututnya, ini sudah dua hari berlalu setelah keluarganya mengetahui kehamilannya.


Setelah pulang dari rumah sakit semalam Adhira terus mengurung dirinya dikamar tak mau ditemui.


Sedangkan ketiga temannya sudah kembali sekolah untuk persiapan ujian semester setelah libur panjang ujian kakak kelas mereka.


Adhira meremas perutnya saat rasa mual menjalar ingin dimuntahkan. Ia berlari kekamar mandi untuk menuntaskan nya.


Kata dokter yang ia alami saat ini adalah morning sickness dimana keadaan itu merupakan keadaan yang wajar untuk kehamilan trimester pertama.


Adhira terduduk lemas setelah muntah-muntah, sejak semalam ia belum ada makan yang masuk keperutnya sama sekali.


"Ya ampun kakak," panggil Mira begitu mendapati Adhira terduduk lemas disamping toilet.


"Muntah lagi?" tanya Mira mengelus rambut Adhira yang lepek karena tak terawat.


"Mama, Maafin kakak." tangis Adhira memeluk mamanya,


Mira tersenyum, ia mengangguk, "Mama uda maafin kakak kok." Katanya ikut menangis karena sedih.


Mira mengusap-usap perut Adhira yang masih rata itu dengan minyak kayu putih yang membuat mual Adhira agak mereda.


"Ma,"


"Hm, kenapa? Mau muntah lagi?" tanya Mira lembut.


Adhira menatap mamanya, "Kenapa mama mau mertahanin anak sialan ini." kata Adhira merujuk pada anak dalam kandungannya.


Dua hari yang lalu, saat Deni mengamuk dan meminta Adhira menggugurkan kandungannya karena Adhira yang tak mau menjawab siapa yang menghamilinya. Mira dengan tegas menolak, ia bahkan mengancam akan meminta cerai kalau Deni meminta Adhira menggugurkan kandungannya. hal itulah yang menjadi alasan kenapa Adhira masih bisa merasakan siksaan pagi ini.


"Emang kamu tega?" tanya Mira pelan.


Adhira terkekeh, "Adhira bahkan uda berpikir kayak yang ayah pikirin waktu pertama kali Adhira tau ma."


Mira menatap Adhira lama, "Kamu gak merasa kasihan sama sekali?"


"Kenapa aku harus kasihan ma, anak ini," Adhira menunjuk perutnya yang masih diusap oleh Mira. "Cuma benalu ditubuh aku, seharusnya dia memang gak ada didunia ini ma."


"Adhira!" bentak Mira tak habis pikir dengan pemikiran putri sulungnya.


Adhira yang dibentakpun sempat tersentak, untuk pertama kalinya mamanya memanggil namanya bukan sebutan 'kakak' atau sebutan sayang lainnya.


"Buang pikiran gila kamu itu jauh-jauh, apa kamu gak merasakan belas kasihan sama sekali? Kamu bisa membenci ayahnya, kamu bisa menyalahkan ayahnya untuk semua kejadian yang kamu alami, tapi kamu gak berhak menyebut cucu mama Benalu ditubuh kamu." marah Mira.


"Mama nggak ngerti, mama gak tau apa yang aku rasain." tangis Adhira.


Mira menarik napasnya, ia lalu mengatur emosinya saat melihat tangisan Adhira.


"Maafin mama," kata Mira memeluk Adhira.


Adhira membalas pelukan mamanya, "kakak benci mereka mah" kata Adhira merujuk pada ayah bayinya dan anak dalam kandungannya.


"Stt, kamu gak boleh gitu, memang kamu gak mau kasih tau tentang anak ini keayahnya?"


Adhira melepas pelukan mamanya, "Aku gak tau ayahnya"


Mira tersenyum, ia tau Adhira tau siapa laki-laki pemilik janin ditubuh putrinya itu. Tapi Adhira enggan mengakuinya.


"Sayang, kamu gak boleh kayak gitu, kalian harus sama-sama menanggung jawabkan kesalahan kalian."


"Ma, mama gak tau gimana dia memperkosa Adhira, mama gak tau betapa iblisnya dia, mama-

__ADS_1


"Berarti kamu ingat wajahnya kan?"


Adhira tak bersuara, ia keceplosan membicarakan Zeo dihadapan mamanya. Itu sangat bertolak belakang dari pengakuan Adhira sebelumnya yang mengatakan tak tau siapa ayah bayinya.


__ADS_2