
"Uda sana, bawak mereka kekamar mereka. Disini sempit" Ketus Adhira bersedekap dada.
Zeo menahan kalimatnya. laki-laki itu mengusap wajahnya. Merasa frustasi dengan hubungan tak sehat ini.
"Oh, aku pikir kamu-
"Jangan harap!" ketus Adhira.
Zeo mengangguk seolah-olah percaya. Laki-laki itu menekan egonya kuat, tak mau membuat masalah. "Yaudah, eh kamu mau kemana?" tanya Zeo saat Adhira berjalan keluar.
"Menurut kamu apa? Kamu pikir aku mau tidur sama anak-anak mu itu?" ketus Adhira.
"Kan mereka mau aku pindah, lagian tidur sama anak sendiri kali dhir, apa sih susahnya." Ketus Zeo yang tak tahan juga.
Adhira ini benar-benar makan Ego.
Jika saja Zeo tadi tak melihat perlakuan baik Adhira pada kedua anaknya. Mungkin ia sudah lepas kendali sekarang. Tapi karena laki-laki itu sudah tau kebenarannya ia hanya menghela napas.
"Kamu nggak mau tidur bareng mereka? Malam ini aja dhir, aku mohon. Tari sebentar lagi sudah mau pulang "kata Zeo melirik jam ditangannya. Memang Walaupun Tari adalah pengasuh Zela dan Ken tapi Tari tetap pulang ketika malam dan kembali lagi esok paginya, apalagi sekarang nanny kedua anaknya itu akan menikah sebentar lagi.
"Kan mereka bisa tidur sendiri, punya kamar sendiri, kenapa sih harus tidur disini" Kesal Adhira bersedekap dada.
"Ken kalau malam rewel Dhir, gak bisa ditinggal. Nanti kalau Ken bangun, Zela juga ikut bangun. Dikamar mereka kan gak ada orang"
"Kamu?" tanya Adhira mulai tak suka, biasanya setiap malam Zeo yang akan menjaga kedua anaknya tapi kenapa sekarang harus ia yang menjaganya.
"Aku?" Zeo menunjuk dirinya. "Aku mau lembur malam ini, ada proyek kantor yang belum selesai." kata Zeo, karena memang pekerjaannya sangat banyak sedangkan besok sudah hari minggu. Ia tak ingin minggunya terusik oleh banyak pekerjaan nantinya.
"Jadi mau ya"
"Gak, mau mereka sekarat pun aku gak peduli." ketus Adhira.
"Adhira! Mulut kamu itu memang ya-"
"Kenapa? kamu mau marah? Kenapa gak kamu ajak Alina aja buat urus anak-anak kamu itu. Kenapa harus aku?"
Zeo menghela nafas, Alina lagi, Alina lagi, apa yang ada dikepala perempuan itu hanya Alina saja sih? ini sudah hampir dua tahun berlalu loh.
"karena kamu mamanya. Ayolah Dhir, Ken sering kebangun kalau malam. Dia nggak nyenyak kalau gak didampingi tidurnya-
"Aku gak peduli aku bilang!" potong Adhira ketus.
Zeo memejamkan matanya ketika ia mulai terpancing emosi."Ok, Kita jaga mereka malam ini sama-sama ya." kata Zeo akhirnya. Ia tak mau terpancing emosi dan membangunkan Zela dan Ken.
"Gak sudi, " sahut Adhira keras.
"Hiks, ma-mama" tangisan Ken yang terbangun karena suara Adhira dan Zeo itu membuat Adhira bergeming ia tak menyangka suaranya terlalu kuat dan membangunkan Ken.
Zeo yang menyadari Ken bangun pun langsung sigap mengusap perut Ken, "Sstt, tidur sayang tidur."
"Hiks ma-mama" tangis Ken malah semakin keras begitu tau yang mengusap perutnya adalah Zeo.
Zeo menghela napas, ia menggendong Ken dan mengayunkannya pelan."Sttt, ini mama, ini mama." bisik Zeo ketelinga Ken.
"Sstt," Zeo terus menggoyangkan Ken digendongannya sampai bayi itu kembali tertidur dipundak Zeo.
Adhira yang untuk pertama kalinya tau kalau Ken mudah terbangun dimalam hari pun merasakan hatinya sakit. Jadi selama ini Zeo yang selalu mengurusnya. Pantas saja selama ini laki-laki itu sering tidur dikamar Zela dan Ken dibanding dengannya.
__ADS_1
"Malam ini kita jaga mereka ya, aku mohon. Sekali ini saja" bisik Zeo mendekati Adhira yang masih terpaku.
*****
Zeo benar, Ken mudah terbangun ketika malam. Padahal Adhira sudah sebisa mungkin berganti posisi saat tidur dengan pelan. Tapi Ken tetap saja terkejut dan mulai merengek.
Ken memang tidak menangis kuat ketika bangun, tapi merengek terus menerus, Adhira sering menyebutnya dengan merungsing. Yaitu dimana bayi bertingkah manja dengan tangisan tanpa air mata.
"Dhir?"
Adhira yang sudah sangat mengantuk itu tetap menepuk-nepuk pantat Ken.
"Adhira?"
"Hm?"
"Capek? maaf ya, kerjaan ku masih banyak" Bohong Zeo. Padahal kerjaannya sudah selesai sejak tadi. Tapi ia tetap membiarkan Adhira yang mengurus Ken, biar tau rasanya.
"Hm, duh, iya Ken, ini mama loh.." Bisik Adhira ngantuk sambil memeluk Ken ketika bayi jiplakan Zeo itu meringik saat mendengar suara papanya.
Zeo yang melihat itu terkekeh pelan, merasa puas dengan Adhira sekarang. Biar perempuan itu tau bagaimana rewelnya Ken ketika malam. Dan saat Adhira sudah memejamkan matanya, Zeo naik ketempat tidur, memeluk Zela dengan nyaman. Ah, tampaknya malam ini ia akan tidur nyenyak.
*****
"Kamu nggak kerja Ze?" tanya Mama Zeo yang melihat Zeo hanya duduk menemani Zela dan Ken minum susu.
"Ha? Ini kan nichiyoubi(minggu) "Sahut Zeo melirik mamanya.
"Nichiyoubi? Eh, tumben bangun pagi biasanya hari minggu kamu bangun dihari seninnya." kata mama Zeo yang menyindirnya.
Zeo terdiam sebentar, tapi setelahnya laki-laki itu tersenyum tak jelas. Ia mengingat tadi malam Adhira lah yang gantian menjaga Ken yang rewel sedangkan dirinya tidur nyenyak.
Dan tadi Zeo bahkan tak menyangka ia bisa menemui matahari pagi dengan perasaan sebahagia ini.
"Doushita no? (Kenapa kamu) Kok senyum-senyum gak jelas gitu."
"Mama mau tau aja, kepo." kata Zeo tertawa, mamanya yang baru kali ini melihat Zeo yang sebahagia ini semenjak menikah hanya menggelengkan kepalanya.
"Kepo? Nande?" tanya Papa Zeo yang baru pulang dari lari pagi.
"Mau tau aja, itu artinya." kata Zeo menyahut.
" Bahasa apa lagi itu, kepo, kepo." kata Papa Zeo mengambil minum yang disodorkan istrinya.
"wakanomo katoba (Bahasa gaul)nya anak jakarta pa." kata Zeo menjelaskan yang disambut anggukan mengerti mama dan papanya.
"Pa-papa." Zela mengangkat-angkat botol susunya yang sudah habis.
"Eh, udah habis? Oishi(enak)?" kata Zeo mengangkat Zela kepangkuannya.
"Ici" oceh Ken meniru Zeo.
"Eh," Zeo dan kedua orang tuanya dibuat kagum oleh bayi laki-laki itu.
"Oishi" kata Zeo lagi,
"Ici" kali ini Zela yang mengikuti.
__ADS_1
"Wah, anak papa pinter-pinter ya udahan." kata Zeo terdengar bangga dengan perkembangan kedua anaknya.
"Zela sama Ken makin bagus perkembangannya ya Ze, uda mau nyoba ngomong, mama liat Zela juga udah mulai belajar duduk sendiri." kata Mama Zeo.
"Ah, apa iya ma, Zeo kurang perhatikan kalau Zela mulai belajar duduk sendiri ya kan sayang, coba dong papa mau lihat." kata Zeo menciumi rambut putri kecilnya yang sedikit agak kecoklatan sama sepertinya.
"Pap-pa"
"Iya, papa mau lihat." kata Zeo mengulangi.
"Tapi perkembangan Zela sama Ken mulai nampak semenjak sering sama Dhira kan Ze."
Zeo mengerjap kan matanya, "Kayak nya iya ma, Zela sama Ken juga mulai mau ngomong kalau sama Dhira. Apa mungkin karena mereka lebih paham pake bahasa indonesia dibanding nihongo (Bahasa jepang) ya ma" kata Zeo yang menyadari bahwa mereka sering mengajak Zela dan Ken bicara menggunakan bahasa jepang.
"Bisa jadi sih, tapi tetep harus dibiasakan dua bahasa dari kecil dong, keluarga besar kita di jepang semua nanti gak bisa nihongo kasian mereka nya." kata mama Zeo sambil menyiapkan sarapan.
"Hm, Nanti aku biasain dua bahasa, tapi semalem memang dokternya Zela sama Ken memang sempat negur aku, katanya harus fokus satu bahasa dulu, jadi kalau memang mereka berdua lebih paham bahasa indonesia ya aku ngikut aja." Kata Zeo yang diangguki kedua orang tuanya.
"Ini Adhiranya mana?" tanya papa Zeo mengangkat Ken yang sudah selesai minum susu kegendongannya.
"Ken-kun sama Ojiichan yuk, "
"ji-jiji" Ken kembali meniru ucapan kakeknya dan itu membuat yang lain tersenyum.
"Adhira masih mandi tadi, dia yang jaga Ken sama Zela tadi malam. Zeo ngantuk banget." kata Zeo memberi tau orang tuanya.
"Eh iya?bagus dong, berarti Dhira ada kemajuan mama perhatikan dia juga uda gak minum obat dari psikiater lo Ze."
"Seriusan ma?" kaget Zeo yang baru mengetahui fakta ini. Kesibukannya dari pagi sampai hampir menjelang malam dikantor membuatnya sulit untuk memperhatikan hal-hal kecil seperti itu.
"Iya, tapi mama gak tau juga kalau dia minum dikamar ya. Cuma Adhira sekarang uda agak peduli kok sama Zela juga Ken. Jarang ngelamun juga gak kayak dulu"
Zeo menghela napas, jika memang begitu berarti Adhira hanya bersikap kasar dan bertingkah membenci Zela dan Ken hanya didepan nya saja.
"Oia, kamu libur kan hari ini?" tanya mama Zeo lagi.
"Hm"
"Kalau gitu nanti jam 10 an jemput Zea sama Zee di bandara ya."
"Zea sama Zee? Mereka kesini kok gak kabar-kabar ? Terus sekolahnya?" tanya Zeo bingung.
Mama nya melirik papa Zeo. "Zea sama Zee bakal sekolah disini kayaknya. Biar Obaachab sama Ojiichan bisa nikmati masa tuanya."
Zeo melirik kedua orang tuanya tak percaya. Karena ia tahu hubungan mama dan papanya dengan ia dan kedua adiknya kurang bagus. Makanya ia dan adiknya sejak dulu tinggal bersama obaachan dan ojiichanya dijepang dan tidak bersama orang tua mereka.
Zeo banyak bicara dengan mama dan papanya juga baru-baru ini saja karena mereka membantu mengurus Zela dan Ken.
Tak mau banyak bertanya Zeo pun mengangguk dan mengiyakan. "Oke, nanti juga sekalian ajak Dhira sama anak-anak keluar hari minggu." kata Zeo berusaha tak memikirkan keputusan orang tuanya mengenai kepindahan kedua adiknya.
****
Adhira begadang guys, biar tau rasaa wkwkwk.
Banyak like, vote, dan hadiahnya ya.. Nanti double up deh kalau banyak.
Buat spoiler, Dibandara nanti mereka jumpa Panji.. Masih inget panji kan..
__ADS_1
Itu loh mantannya Adhira wkwkw.