
Saat mereka arah jalan pulang dari piknik tadi, Zeo memperhatikan suasana hati anak dan istrinya yang sangat berbeda. Anak-anaknya yang ceria sampai ketiduran didalam mobil. Sedangkan Adhira bersedekap dada dikursi depan bersamanya tanpa mau melepas masker dan topi lebarnya, -Seperti topi pantai yang bercorak sulaman bunga- Zeo tau, Adhira malu jalan bersama nya. Zeo juga tau, Adhira malu saat anak-anaknya memanggili nya mama ditempat umum.
Adhira itu, masih merasa sangat muda, merasa seharusnya diusia sekarang ia masih sibuk-sibuknya mencari kerja setelah lulus kuliah, masih sibuk-sibuknya nongki-nongki santai bersama teman-temannya. Bukannya menikah dan mengurus anak. Yah, Adhira dan gengsinya, Zeo tak tau bagaimana harus meruntuhkannya.
"Dhira"
"Hm"
"Besok aku ke Jepang" Kata Zeo mengingatkan.
Adhira memutar bola matanya, "Kamu uda kasih tau aku semalam, Aku juga uda tau besok penerbanganmu jam 4 sore, karena paginya kamu mau antar aku sama anak-anak ke Bandung kan. Itu uda kamu bahas dari semalam"
Zeo diam. Adhira selalu seperti ini, memutuskan kontak komunikasi dengannya, bersikap acuh tak acuh dan kaku. Adhira memang tak menolak afeksinya, Adhira memang tak menolak saat ia memberikan perhatian atau bahkan ciuman. Ia menerimanya.
Tapi, lima tahun mereka menikah dan tiga tahun mereka berdamai, Adhira belum pernah menciumnya atau memberikan perhatian lebih dulu tanpanya. Semua harus diberi tau. Misalnya, Zeo harus memberi tau, pagi ini ia mau makan apa, pakai baju apa, dasi warna apa. Semuanya harus diberi tau. Tanpa Adhira mau berinisiatif.
"Dhira"
"Apa?"
"Sebenernya kamu cinta aku nggak sih?"
Adhira langsung menolehkan kepalanya kaget, topi bundarnya bahkan sampai terjatuh sangking cepatnya ia menoleh. "Apa?"
Zeo menoleh sebentar sebelum kembali fokus menyetir. "Kamu anggap kami penting gak sih sebenernya? kamu menganggap kami berarti atau cuma sekedar tokoh figuran dihidupmu sih Dhir?"
Adhira terkekeh, "Apa sih maksud mu, kekanakan."
Zeo diam, dan perjalanan pulang piknik itu terasa hambar. Anak-anak yang tidur, Zeo yang kalut dan Adhira yang jengah. Perjalanan pulang itu terasa sangat memuakkan.
Saat mereka tiba dirumah dan akan bersiap tidur saja, Adhira maupun Zeo tak ada yang kembali bersuara, yah, tiap harinya selalu begitu memang. Mereka hanya akan berkomunikasi ketika anak-anak ada disekitar mereka. Bertujuan agar si kembar tak merasakan apa yang Zeo dulu rasakan. Trauma akan orang tuanya sendiri.
"Dhira"
"Apa lagi sih-
"Kalau kamu memang anggap kami gak penting, kami bisa kok pergi darimu kapan pun"
Dan hari itu adalah komunikasi mereka terakhir sebelum terlelap tidur.
*****
Zeo memijat kepalanya yang pening, rasanya toleransinya terhadap alkohol semakin berkurang . Padahal ia hanya meminum segelas wine.
"Oyong lo Ze?"
Zeo mendongak saat Bastian menatapnya mengejek,
"Lima tahun gak jumpa, jadi cupu juga ya lo" Ejek Dean tertawa.
"Sttt, Gak boleh gitu guys. Ketua kita ini Bapak rumah tangga. No. No. Alkohol." Tawa Neo terpingkal yang diikuti lainnya.
"Anjing kalian" Maki Zeo memegang kepalanya yang demi Tuhan, sangat pusing. Zeo tak tau ia pusing karena memang alkohol, pekerjaan, atau pertengkaran dinginnya dengan Adhira tiga hari yang lalu. Yah, Sekarang Zeo sudah berada di Jepang. sudah tiga hari, seharusnya hari ini ia pulang. Namun, ketiga temannya minta berkumpul. Mereka akan datang mengunjungi ke Jepang katanya. Dan disinilah ia sekarang. Di Klub yang sangat ramai di hampir tengah malam ini.
"Masih gitu-gitu aja hubungan lo sama si ketua osis lampir itu Ze"
"Dia istri gue bangsat"
"Oke- Sori"
"Pisah aja uda Ze, gak lo banget bertahan sendiri. Alina gue rasa masih mau balikan sama lo. Masih berharap dia itu semalam cerita sama gue waktu jumpa di Bali" Kata Neo menimpali.
"Iya Ze, pisah, ambil hak asuh anak-anak lo, kalau trauma yang lo takuti. Gue yakin, Alina bisa gantiin posisi Adhira sebagai mama mereka" Kata Bastian juga, Sedikit prihatin juga sebenarnya. Zeo seperti mayat hidup sekarang. Sangat workholic, Cinta bertepuk sebelah tangan dan juga selalu menyerahkan hidupnya untuk keluarganya tanpa di hargai.
__ADS_1
"Beda Bas, Adhira mama mereka, Beda rasanya." Kata Zeo memijat pelipisnya.
"Beda kasih sayang antara Alina dan Adhira, atau beda perasaan lo dulu dan sekarang. Lo uda cinta mati kan sama Adhira"
Zeo diam.
"Gila Ze, lo cinta sama iblis kayak Adhira"
"Dia istri gue Dean! Bisa hargai itu nggak"
"Ok, sori"
"Jadi selain anak-anak lo, lo memang cinta sama Adhira?"
Zeo menuangkan wine ke gelasnya, "Apa gue salah cinta sama istri dan anak-anak gue sendiri" Tanyanya gamang.
"Nggak, lo gak salah, yang salah itu cara lo"
"Apa maksud lo?" Tanya Zeo kearah Bastian.
"Buat Adhira sadar sama kehadiran lo, buat dia ngerasa kehilangan?"
"Hah"
"Jangan pulang ke Indo pagi nanti. Cancel tiket lo, Pulang dua atau tiga hari lagi. Buat Adhira sadar sesadarnya. Jangan hubungi Adhira pake nomor dia. Kalau lo mau hubungi anak-anak lo, telpon mertua lo. Buat Adhira ngerasa dia uda gak dibutuhkan lagi. Gue yakin seratus persen, tuh Iblis dalam tubuh istri lo runtuh."
"Gila lo"
"Coba aja kalau gak percaya"
"Ngapain gue disini, Anak-anak gue uda kangen kali"
"Yaelah, tahan dua atau tiga hari aja kali Ze, Lagian rumah lo, asal lo memang Jepang kali. Semua pusat keluarga dn Bisnis lo disini. Banyak yang bisa lo lakuin buat ngabisin waktu. "
"Pala kalau lo gak betah, gue temeni ngedate yuk ke festival bunga sakura."
"Anjing lo" Maki Zeo yang dibalas tawa semua temannya.
Awalnya, Zeo fikir saran dari ketiga temannya adalah saran terburuk, Tapi, siapa sangka benar-benar akan ia lakukan. Zeo menghabiskan waktunya lebih lama di Jepang tanpa menghubungi Adhira sama sekali.
Dan rasanya, Zeo ingin kembali berterima kasih pada ketiga temannya saat sekarang ia mendapatkan hasilnya.
Adhiranya benar-benar menyadari keberadaanya. Adhiranya membalas cintanya.
"Jadi, uda belum pelukannya."
"Diem kamu Ze, hiks, "
Zeo tertawa, Sekarang mereka sudah ada dikamar, melarikan diri karena sama-sama malu dengan orang tua Adhira. Rasanya mereka sudah tak punya wajah saat berani-beraninya saling ******* didepan orang tua Adhira tadi.
"Dhir, udah, sampai kapan malunya. Aku jadi curiga deh, kamu malu atau kangen sama aku" Goda Zeo yang langsung mendapat dorongan dari Adhira.
Perempuan itu menatap Zeo kesal dengan mata bengkaknya, "Nyebelin kamu"
Zeo tergelak, ia puas sekali hari ini. Yah, minus malunya saat berciuman tadi sih.
"Jadi kangen nggak nih"
"Diem Ze"
"Oh, kangen ya, sini peluk lagi"
"ALZEO!"
__ADS_1
"Apa sayang"
"Ih, hiks, nyebelin banget kamu" Kesal Adhira memukuli Zeo dengan bantal.
Zeo terkekeh, sedikit sakit sebenarnya.
"Udah, hei, Adhira" Saat Zeo rasa pukulan Adhira sudah kelewatan. Zeo menhentikannya. Ia menangkup pipi Adhira lalu mencium bibir Adhira dengan lembut. Jika tadi Adhira yang **********, kali ini Zeo hanya menciumnya. Mencoba menenangkan Adhira yang katanya malu luar biasa.
"Uda. gak papa, Aku juga kangen banget kok sama kamu," kata Zeo lalu memeluk Adhira.
Adhira membalas pelukan itu walaupun Zeo tau tangan Adhira agak ragu saat akan membalas pelukannya tadi.
"Ze"
"Hm"
"Kita pulang hari ini juga ya"
"Hah, pulang? Ke Jakarta?"
"Iya"
"Kapan?"
"Sekarang"
"Tapi-
"Pokoknya sekarang"
"Kenapa?"
"Emang kamu masih punya muka di depan mama ayah hah" Kesal Adhira sambil mengelap ingusnya dibaju Zeo.
"Dhir, Jijik heh"
"Biarin, nih-nih, biar ingus semua" Adhira justru menempel-nempelkan ingusnya pada kemeja Zeo.
Zeo menyentil kening Adhira. "Ih, Jijik Dhir, cuci itu nanti"
"Gak mau huks haha" Adhira tertawa sambil sesekali cegukan.
Zeo meliriknya sinis. "Habis nangis ketawa-ketawa. Gak malu, huu"
"Zeo!, kulempar bantal nanti kamu"
"Huuu gak maluuu, cemburu sama anaknya lagi tuh"
"Zeo!"
Zeo terbahak saat Adhira benar-benar melemparinya bantal. Mereka masih saling berbalas ejekan saat ketukan pintu kamar menghentikan keduanya.
"Bang! Kata Ayah inget waktu, Ini dua anaknya masih nangis ini loh."
Itu suara Devan.
Gila.
"Oke, kita pulang hari ini"
*****
Oke guyss, Jadi sebenernya..
__ADS_1
Bab Ego di draf ku uda habis wkwkwk. Tapiiii Karena aku rasa kalau aku tamatin nanti jadi gantung. Jadii Beberapa bab ke depan. Kita lihat perkembangan keluarga 'Ego' ini dari sudut pandang Zeo Ok.