
Zeo tersenyum tipis, "Aitai" katanya mengakhiri rekaman suaranya dengan tangan yang menggenggam kuat. Ia benar-benar rindu.
***
Adhira baru membuka handphonenya keesokan harinya, semalam ia tertidur setelah lama menangis. Memegangi kepalanya yang pusing, Adhira mengernyit ketika mendapati voice note nomor asing yang masuk diakun WhatsApp nya.
Adhira ragu untuk membukanya, namun begitu ia menyadari kalau itu nomor Jepang, tanpa bisa dicegah, ada sedikit harapan dihatinya bahwa itu adalah Zeo yang menyapanya. Bahwa Zeo yang menghubunginya.
Dengan gerakan ragu Adhira mendekatkan handphonenya untuk mendengarkan suara itu.
[Otanjoubi omedetou Ai]
[Aitai]
Tubuh Adhira membeku seketika, itu suara Zeo. Walaupun logat nya berbeda namun Adhira yakin itu Zeo. Adhira tersenyum tipis, ia lalu mendengarkan suara itu berulang-ulang tanpa berani mencari tau apa arti ucapan itu. Namun begitu, wajahnya yang sejak tadi malam lusuh, kini bersemu kemerahan. Ia sudah melepas rindunya.
Dan ntah bagaimana bisa, semangat nya tiba-tiba bergelora. Adhira agak berlari kekamar mandi, membasuh wajahnya berkali-kali, dan mengompres mata bengkaknya dengan air hangat. Perempuan itu juga untuk pertama kalinya mengelus-elus perut besarnya dengan sayang. Senyumnya mengembang. Hanya untuk sebuah alasan sederhana sebuah pesan suara tanpa tau pasti artinya apa. Adhira sudah melupakan bagaimana ia menangis tergugu tadi malam.
***
Anggota keluarganya saling melirik bingung ketika Adhira turun dengan wajah cerah, dalam artian tidak semenyedih kan semalam. Padahal tadi malam jelas-jelas mereka dengar sendiri bagaimana Adhira mengamuk dikamarnya.
"Mama masak apa?" tanyanya memeluk Mira yang sibuk menata piring.
Walaupun masih bingung, Mira tetap tersenyum, "Mama masak ayam kecap sama tumis kangkung, kamu mau makan kak?" tanya Mira penuh harap.
Adhira menelengkan kepalanya, ia menatap masakan mamanya yang tersaji dimeja. Tak diduga perempuan itu mengangguk, "Hem, tapi kakak mau tumis kangkung aja. Takut mual kalau makan ayam" sahutnya dengan senyuman.
Mira menahan senyum, begitupun dengan Deni dan Devan. Mereka bahkan tak mau menanyakan apa alasan Adhira cerah hari ini karena takut perempuan itu kembali murung.
"Mama ambil kan ya?"
Adhira mengangguk kuat, ia bahkan memberikan piringnya kepada mamanya dengan senyum lebar layaknya anak kecil.
"Susunya juga uda mama buat, nanti diminum ya kak."
"Ok" kata Adhira memberikan tanda ok dengan jarinya.
Hari ini mood perempuan itu sedang sangat bagus, mungkin karena ia mendengar suara Zeo setelah seminggu tak mendengarnya. Namun Adhira tak menyadarinya, tak menyadari kalau suara Zeo langsung bisa mengubah moodnya menjadi sebaik ini dalam sekejab mata.
Orang tua Adhira pikir, perubahan Adhira itu hanya sekedar hari itu saja, tapi ternyata. Keanehan itu terus berlanjut untuk keesokan hari dan beberapa hari selanjutnya. Bahkan seminggu selanjutnya. Adhira masih betah menampilkan senyumnya setelah disetiap malam ia tidur lelap dengan jaket Zeo ditubuhnya serta pesan suara singkat yang terus berulang-ulang tanpa bosan.
Mood Adhira semakin baik, ia makan dengan teratur, minum susu hamil tanpa banyak protes dan juga sudah berani keluar rumah hanya untuk sekedar jalan-jalan.
Mira bahkan sempat khawatir dan nekat mencari Adhira ketika anak perempuan nya itu pamit jalan-jalan sore. Ia takut kejadian adu mulut dengan tetangganya kembali terjadi dan membuat psikis Adhira kembali tertekan. Namun yang Mira temukan justru Adhira yang tak begitu peduli dengan omongan tetangganya. Perempuan itu bahkan melewati teman-teman sebayanya seperti Devi dan lainnya dengan santai.
Tidak mengindahkan sindiran-sindiran halus teman-teman sebaya yang dulu selalu jadi saingannya.
__ADS_1
Seperti kali ini contohnya, perempuan itu mengajak Devan jalan-jalan pagi ketaman kompleks karena ini adalah hari minggu.
"Kamu yakin mau ketaman?" tanya Deni untuk kedua kalinya setelah Adhira meminta izin.
Adhira mengangguk, "Iya, Dhira bosen dirumah terus yah." katanya sambil mengambil pisang goreng
"Tapi semalam uda jalan-jalan dikompleks" Kata Deni masih saja khawatir,
Adhira mengerucutkan bibirnya, "Kan bukan ditaman" Kesalnya sambil sekali lagi memasukkan pisang goreng kemulutnya.
Oya sekarang perempuan itu juga mulai suka mengemil. Seolah-olah sudah menerima keadaannya dan anak-anaknya dengan baik.
"Yaudah ayo berangkat, nanti siang uda gak enak, panas." kata Devan yang disetujui Adhira.
"Sebentar kakak ambil handphone dulu." kata Adhira kekamarnya yang sekarang sudah dipindah kelantai bawah. Usia kehamilan yang sudah menginjak minggu ke 28 ini membuat Mira dan Deni meminta Adhira tidur dilantai bawah agar tak perlu menaiki tangga.
"Kakak sekarang pegangannya handphone mulu ya ma," kata Devan yang kini kembali duduk karena menunggu Adhira.
Perlahan senyum Mira memudar, ia mulai berpikir bahwa yang dikatan Devan ada benar nya juga. Jika diperhatikan Adhira sekarang sangat sering memegang handphone dari biasanya.
"Iya ya Dev, kok mama baru sadar sih? kakakmu kemana-mana jadi bawa handphone"
"Iya kan Ma, tuh Devan juga heran apa abang uda ngehubungi kakak ya atau jangan-jangan kakak balikan sama bang Panji." kata Devan menduga.
" Heh, Jangan ngawur kamu, " kata Deni yang sedang makan.
"Tapi kan-
"Ayok dev," ajak Adhira yang sudah kembali, perempuan itu sangat bersemangat jika dilihat dari raut wajahnya.
"Ayo" kata Devan bangkit dari duduknya secepat yang ia bisa. Sekarang baik ia mama dan ayahnya selalu menuruti permintaan Adhira dengan cepat. Karena rasanya itu lebih baik dari pada melihat Adhira yang kembali terpuruk seperti minggu-minggu awal dulu.
****
Lain dengan Adhira yang tiap hari nya kian semangat, Zeo justru sebaliknya.
Pemuda yang sibuk dengan laptopnya karena ia mengerjakan tugas kuliah dan pekerjaannya secara online itu tampak lusuh tiap harinya.
Ia kurang tidur, dan hampir tiap malam selalu adu mulut dan adu pendapat dengan kakek serta neneknya. Atau kalau ia sedang sial, papanya akan ikut memojokkannya.
Hanya mama dan kedua adiknya yang tampaknya berpihak padanya walaupun secara diam-diam.
"Oniican, suruh mama sarapan dulu" Kata Zea menghampiri Zeo yang tetap tak peduli.
"Oniicaan," rengek Zea manja.
"Bilang sama mama, Oniican gak makan pagi ini, oniican udah makan onigiri" Kata Zeo dingin.
__ADS_1
"Tapi-
"Zea, Oniican gak mau buat kamu nangis sekarang! Keluar!" Bentak Zeo tanpa sadar.
Zea menahan tangisnya, Oniicannya berubah semenjak bertengkar dengan neneknya seminggu yang lalu. Dan tak dapat dicegah, Putri sulung Takahashi itu menangis terisak saat kembali keruang makan. Menimbulkan pertanyaan-pertanyaan keluarganya.
Zeo masih tak menyadari salahnya apa ketika tiba-tiba laptopnya ditarik dan dibanting oleh papanya.
"Otousan!!!"
"Apa! Berani kamu bentak Saya hah"
"Otousan apa-apaan sih, aku lagi selesain tugas kuliah ku"
"Dan buat adikmu nangis."
Zeo diam, masih tak mengerti salahnya apa, tapi Emosinya sudah terlanjur tersulut oleh papanya.
"Zea nangis? Aku gak ada buat Zea nangis."
"Masih gak mau ngaku kamu hah, Kamu bentak adikmu itu tadi, karena apa hah. karena ego mu itu-
"Ego?" Zeo memotong cepat, Senyum sinisnya mengembang. "Aku gak sengaja buat Zea nangis dan otousan uda ngamuk separah ini sama aku. Ei, Kenji Takahashi- Kemana aja selama ini kalau Zea ataupu Zee nangis setiap kalian ninggali mereka ke Indonesia hah, jangan sok jadi otousan yang baik deh"
Plak.
Zeo memegang pipinya yang perih.
"Berani ngelawan kamu"
"Aku ngelawan? Pa- aku cuma nyadarkan papa sama kesalahan papa. Cuma masalah Zea nangis papa uda berlagak kayak sosok papa yang benar-benar sayang sama anaknya. "
"Otousan memang sayang sama anak-anak Otousan!"
"Terus apa kabar aku yang kalian buang ke panti asuhan dulu hah!!!" Bentak Zeo diluar kendali.
"Berhenti ngatur dan sok berkuasa pa. Muak liatnya" Desis Zeo menendang laptopnya yang tadi sudah dibanting papanya.
Dan saat ia keluar kamar, ia mendapati semua keluarganya menatapnya. mamanya menangis mungkin merasa bersalah karena Zeo mengungkit masa lalunya, sedangkan nenek dan kakeknya menatapnya tanpa suara, begitupun adik-adik Zeo.
"Gomen" Bisik Zeo sebelum ia benar-benar melangkah pergi.
Otaknya panas. Sialan!
****
Onigiri, :Nasi kemasan berbentuk segitiga
__ADS_1
gomen : maaf