EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-58 Lima tahun pernikahan


__ADS_3

Adhira memalingkan wajahnya ketika Zeo tersenyum lebar menatapnya, Senyuman tulus yang ia lihat hampir tiap hari di lima tahun pernikahannya ini, senyuman yang membuat mata Zeo menyipit bagai bulan sabit.


"Ohayoo mama" Dan sapaan ceria itu, Adhira sudah biasa dan sudah sangat hapal dengan rutinitas suami dan kedua anaknya di tiga tahun terakhir.


"Pagi" Dan jawaban yang selalu sama yang diberikan Adhira, Jawaban dengan nada Datar. Tapi walaupun begitu baik Zeo maupun kedua anaknya sudah tersenyum lebar dengan mata mereka yang menyipit. Ciri Khas Takahashi sekali.


"Hari ini kita jadi piknik kan Dhir?"Tanya Zeo ketika Adhira selesai meletakkan salad sayur didepan kedua anaknya.


"Piknik?" Tanya Adhira agak kaget.


"Jangan bilang kamu lupa" Hela Zeo lemas, wajah ceria dan senyum mengembangnya langsung hilang begitu saja, meninggalkan bahunya yang lemas dan tatapan yang dingin.


Adhira meremat sumpit yang tadi ia pakai untuk membagi salad sayur untuk anaknya. Ia lupa, sungguh lupa. Semalam Zeo sudah memberi taunya kalau sabtu ini mereka akan piknik tapi Adhira mengacaukannya. "Maaf"


Zeo memejamkan matanya, Menahan kesal.


"Papa, papa, kita jadi piknik kan? " Tanya Zela semangat sambil diam-diam menyingkirkan sayur kol yang tadi hampir ia makan.


"Piknik apa? apa papa?" Tanya Ken kebingungan. Ah, anak-anak Zeo ini memang masih kesulitan mengatur kalimat dan memahami beberapa kata dalam bahasa indonesia. Membuat Adhira sering kesulitan memahami apa yang diucapkan anak-anaknya. Tapi anehnya tidak bagi Zeo, ayah dua anak itu memahami dengan mudah apa yang dimaksud dua anaknya.


"Piknik, iya piknik iya papa? Apa papa?" Tanya Ken lagi.


"Ryokou (Liburan) kan papa, ya kan papa?" Kata Zela mencoba menjelaskan.


"Ryokou (liburan)- ahahahah, kankou, kankouu (Tamasya)" Sorak Ken yang mulai paham apa arti piknik yang dibahas papa dan mama nya.


Adhira menunduk kala Zeo menatapnya menyalahkan.


"Papa kok diem aja, Hayaku-hayakuuu (Cepet ayo cepet) papa," Rengek Ken lagi.


Zeo tersenyum, ia menatap kedua anaknya sayang, "Maaf yah, kayaknya kita hari ini gak jadi piknik deh. Tapi papa Janji, besok kita piknik. "


Wajah ceria sikembar langsung luntur begitu saja, "Ta-tapi kenapa?" Tanya Zela berusaha menahan tangisnya.


"Papa tiba-tiba harus kekantor sekarang, kalian papa antar ke daycare miss Ana aja mau?" Kata Zeo dengan senyum lebar, berusaha membuat kedua anaknya kembali bersemangat.


"T-tapi-

__ADS_1


"Hari ini boleh deh beli es krim, "


"T-tapi-


"Es krimnya pakai toping coklat, pasti enak banget" Rayu Zeo.


Ken dan Zela menatap mamanya takut-takut, "boleh mama, boleh?" Tanya Zela mewakili adiknya yang menatap mamanya penuh permohonan. Adhira termasuk sangat ketat dalam urusanan makanan dan minuman yang dikonsumsi dua anaknya. Ibu dua anak itu tak segan marah-marah tak jelas ketika anaknya melanggar aturannya.


Adhira tersenyum paksa saat Zeo menatapnya penuh ancaman, "Yah, hari ini aja" Sahut Adhira yang langsung mendapat sorakan gembira dua cucu Takahashi itu.


"Papa suruh antar pak Agil ya. Papa sama mama mau kekantor bareng hm?" Kata zeo yang lagi-lagi mendapat anggukan kedua anaknya. Sedangkan Adhira merasakan suhu atmosfer rumahnya menjadi panas.


Zeo pasti ingin berbicara dengannya..


****


"Maksud kamu sebenarnya apas sih Dhir?" Tanya Zeo begitu kedua anaknya sudah menaiki mobil dan pergi.


Adhira menundukkan kepalanya, "Aku beneran lupa"


Adhira diam.


Zeo menghela nafasnya kesal, "Kamu uda janji buat kasih keluarga yang lengkap untuk Zela dan Kem dulu" Ungkit Zeo.


"Jangan kayak gini dong Dhir"


"Kayak gini gimana? Aku kan uda kasih keluarga lengkap kan buat mereka, aku uda jadi ibu rumah tangga yang full 24 jam bareng sama mereka dan kamu, terus apa lagi Ze, aku beneran lupa kali ini" Kata Adhira tak mau disalahkan.


Zeo menghela nafas, "Lima tahun loh Dhir, lima tahun kita nikah, gak ada perubahan mu kearah yang baik ke aku ataupun ke anak-anak. Kamu sebenarnya nganggap kami berarti buat hidupmu nggak sih?"


Adhira diam.


"Tuh kan, kamu aku kasih pertanyaan termudah yang tinggal kamu jawab ya atau nggak aja kamu langsung diam, aku jadi ragu sama kasih sayang mu, baik sebagai mama ataupun istri dirumah ini."


Adhira masih diam.


"Aku pikir kamu berubah lo Dhir, mau nurunin ego mu buat kami, buat keluarga kita. Tapi- Sesulit itu kah ngeliat kami pakai kasih sayang mu hm? Kamu bukan lagi bocah umur 18 tahun loh Dhir, kamu uda jadi mama, umur mu uda 23 tahun, Dewasa sedikit kenapa?"

__ADS_1


"Dewasa apa lagi-


"Kamu pikir aku gak tau alasan mu gak mau piknik hm? Karena kamu takut jumpa temen-temen mu kan? Karena kamu malu sama orang-orang kalau seorang Adhira Alindra yang pinter, yang cantik dan yang muda ini uda nikah, jadi ibu rumah tangga yang taunya ngurus anak hm?"Sentak Zeo cepat.


"Ze aku, aku-" Adhira tak mampu melanjutkan kalimatnya, yang dikatakan Zeo memang benar, setelah tiga tahun yang lalu Adhira berjanji akan memberikan keluarga utuh untuk kedua anaknya, Adhira memang memfokuskan hidupnya untuk keluarga kecilnya, ia tak lagi menolak afeksi Zeo, ia tak lagi menolak ciuman ataupun perasaan Zeo, ia juga mulai menunjukkan kasih sayangnya secara penuh untuk kedua anaknya. Apalagi semenjak mereka pindah kerumah sendiri setahun terakhir.


Tapi-


Hanya sebatas itu, Adhira masih malu dan gengsi jika harus mengakui keluarga kecilnya didepan umum. Gengsi Adhira masih setinggi langit. Ia malu dan merasa tak memiliki kesetaraan derajat saat berkumpul dengan ibu-ibu kompleks yang berpendidikan tinggi, memiliki banyak pengalaman, dan memiliki talenta yang memuaskan.


Apalagi status nya sebagai istri sulung Takahashi itu, semakin membuatnya sering dipandang berbeda, dengan usia yang belia, ketidak lulusannya saat sekolah, dan gosip hamil diluar nikah menderanya.


Adhira terlihat baik-baik saja, tapi terkadang ia kurang percaya diri untuk itu.Bahkan, Terkadang dengan Egonga yang setinggi langit itu, Adhira akan mengekang kedua anaknya untuk tak ini atau itu.


Tak mau membawa anaknya jalan-jalan ke mall bersama karena ingin dipandang sebagai gadis muda yang lajang. Tak mau menemani Zeo keacar perusahaan karena tak ingin dilihat sebagai vmsi cinderella yang dibawa oleh pangeran. Yah, Adhira dan gengsi serta ego tingginya yang sulit dipisahkan. Tanpa sadar sudah menyakiti hati Zeo sejak dulu.


Zeo mengusap wajahnya, "Yaudah lah, aku maafin kali ini, besok kita harus beneran piknik, senin nanti aku harus ke Jepang."


"Ke Jepang?"


"Hm, Kantor pusat lagi ada masalah, papa lagi gak fit untuk perjalanan jauh"


Adhira meremas tangannya. "Ze-


"Uda lah, Masalah tadi biarin lalu, asalkan besok kita beneran piknik, kasian anak-anak, Ya Dhir, mau?"


Adhira mengangguk. Dan saat Zeo berbalik badan untuk mengambil minum dikulkas, Adhira langsung memeluk Zeo dari belakang. Membenamkan wajahnya di punggung Zeo, Adhira menangis, "Maafin aku Ze hiks, aku uda jahat sama kamu sama anak-anak juga hiks"


Zeo hanya diam, laki-laki itu lagi-lagi menghela nafas, meletakkan minumannya kembali ke kulkas. Ia berbalik badan. Memeluk Adhiranya dengan erat. Lagi-lagi mengalah akan egonya.


Sungguh, di lima tahun pernikahannya ini, Zeo selalu merasa Adhira belum bisa menerimanya dengan baik.


Kata orang, diusia pernikahan kelima itulah segala ujian dan kesetiaannya diuji.


Tapi, kenapa Zeo selalu merasa pernikahannya telah di uji bahkan disatu menit setelah ia resmi menyandang status sebagai seorang suami Adhira Alindra.


*******

__ADS_1


__ADS_2