
Note : Lanjutan dari drama minggu.
"Anak-anak uda kamu bangunin kan Ze?" Tanya Adhira sambil melirik tangga yang menuju kamar anak-anaknya, sedikit heran karena kedua anak kembarnya itu belum juga turun.
"Ze?"
"Hm"
"Anak-anak uda kamu bangunin kan?"
"Hm"
"Ham, hem, ham, hem aja kamu, aku lempar spatula juga kamu nanti" Ancam Adhira kesal, sungguh suaminya ini sudah membuat darah tinggi saja sejak subuh tadi.
"Apa sih Dhir, aku lagi cek kerjaan ku tau" Sahut Zeo masih sibuk dengan tablet ditangannya, mengecek email-email yang masuk.
"Ini hari minggu lo Ze" Sindir Adhira sambil sedikit-sedikit melirik suaminya ditengah-tengah kesibukannya menyiapkan ramen kuah dan juga tempura udang kesukaan anak dan suaminya.
Ramen dan tempura udang adalah makanan khas mereka di minggu pagi, ntah bagaimana mulanya kebiasaan itu terlaksanakan apalagi dipagi hari yang biasanya mereka hanya sarapan olahan nasi, lalapan sayur dan juga telur mentah. Khas Jepang sekali.
Itu semua sebab si kepala keluarga yang ntah bagaimana menerapkan aturan tersebut, Zeo mungkin bisa mengadaptasikan budaya, lingkungan dan logat bicara orang asli Indonesia, tapi untuk makanan, papa dua anak itu sangat sulit untuk digoyahkan, justru malah meracuni kedua anaknya untuk membiasakan makan masakan Jepang setiap harinya. Padahal Zeo sendiri memiliki nenek dari mamanya yang asli orang Indonesia dan juga pernah tinggal di Eropa, yang pasti selera makannya berbeda dengan Jepang, tapi ntah lah.
Papa dua anak itu harus cerewet soal makanan dan membuat Adhira harus repot-repot belajar mengolah dan menghabiskan banyak jatah uang bulanannya untuk membeli bahan-bahan khas Jepang yang tentu saja lebih mahal dari pada bahan asli Indonesia.
Ah, terkadang kebiasaan makan anak dan suaminya ini membuat Adhira merindukan rasa Bubur ayam kesuakaannya. Ck, padahal ia bisa mendapatkan itu dari mana saja. Tapi percaya lah, saat selera makan diri sendiri berbeda dengan keluarga, itu terasa sangat aneh atau ntah lah, Adhira pun bingung mengatakannya.
Yang pasti Anak-anak dan suaminya akan menatapnya sedikit, oke hanya sedikit aneh jika ia makan bubur ayam di pagi hari, katanya bubur adalah makanan khas untuk orang sakit di Jepang. Ck, Membuat pusing saja.
"Ze"
"Hm"
"Zeo, panggil anak-anak"
"Bentar Dhir"
"Ck kamu ini ya, kamu sendiri yang nerapkan gak ada hp dan sejeneisnya kalau lagi mau makan dan family time, tapi kamu juga yang berulah memang ya- Ish" Adhira mengepalkan tangannya jengkel. Lalu setelahnya mama dua anak itu hanya diam sambil menyiapkan olahannya. Sedangkan Zeo hanya menghela nafas, malas menanggapi ocehan istrinya karena email-email ini memang sepenting itu untuk dilewatkan.
"Ohayo(Pagi) Mama,"
"Ohayo Papa" Sapaan ceria dari anak gadis Zeo itu membuat sepasang suami istri yang sedang saling diam itu pun menoleh.
"Ohayo gozaimase, Pa, ma" Ken pun ikut menyapa saat sudah duduk dikursinya.
"Ohayo" Balas Zeo tersenyum sambil meletakkan tabletnya di meja, menghentikan pekerjaannya.
"Pagi juga" Sahut Adhira sambil menyajikan mangkuk-mangkuk ramen didepan anak-anak dan suaminya.
"Wah Ebiii (Udang)!" Teriak Zela semangat saat Adhira meletakkan sepiring tempura ditengah-tengah meja.
"Hm, Oishi (Enak)!" Heboh Zela saat berhasil memasukkan satu udang ke mulutnya.
"Ck, bareng-bareng kali Zel" Tegur Ken, pemuda tujuh belas tahun itu memukul lengan kakaknya saat Zela kembali akan menyomot tempura ditangannya.
"Ma! Liat ma, Ken manggil kakak pakai nama, gak sopan!" Adu si sulung marah.
"Halah, cuma beda beberapa menit aja kok, sok banget lo"
"Tuh kan ma, gak ada sopan-sopannya" Adu Zela lagi, mendramatis suasana karena merasa tak dihargai sebagai sulung keluarga.
"Yaelah Zel-
" Zela Onechan, Ken, Jangan gak sopan" Tegur Zeo sambil mengelap sumpitnya.
Zela yang merasa dibela pun menjulurkan lidahnya pada Ken yang membuat remaja laki-laki itu mendengus, malas menanggapi.
Lalu mereka pun sibuk bersiap untuk makan, "Itadakimasu!" Teriak si kembar yang diikuti Zeo saat akan menyuapkan seuntai ramen kemulutnya.
"Yeheee, Kenpai, Papa Kenpai papa, Ken" Heboh Zela saat mengangkat segelas susu nya, mengajak ayah dan adiknya minum bersama.
__ADS_1
"Kenpaii" Seru ketiganya saat berhasil menyatukan minuman mereka sampai menimbulkan bunyi cheers yang khas.
"Mama, gak makan?" Tanya Zela saat menyadari mamanya hanya diam sambil sesekali menusuk-nusuk telur yang ada pada kuah ramen dengan sumpitnya.
Pertanyaan Zela itu membuat dua laki-laki kembar beda generasi itu menatap Adhira.
"Iya, mama gak makan? Kenapa? Mual lagi?" Tanya Ken khawatir.
Zeo pun ikut menoleh, menatap istrinya yang kini hanya mengulas senyum tipis. "Mama gak papa kok, kalian makan aja"
"Mama sakit lagi?" Tanya Zela khawatir.
"Nggak, kapan mama sakit"
"Semalam kan mama mual-mual waktu buat Tamagoyaki ya kan Ken" Kata Zela yang diangguki oleh adik kembarnya.
"Ya kan papa?" Tanya Zela pada papanya.
Zeo mengangguk pelan.
"Kalian kenapa sih? Berantem? Kok pada diem-dieman?" Tanya sulung Takahashi itu lagi yang merasa aneh dengan respon santai papanya. Padahal biasnya laki-laki Jepang itu yang akan sangat heboh jika mamanya kenapa-napa.
"Apa sih kak" Sangkal Adhira malas.
"Ya habisnya Mama sama Papa diem-dieman dari tadi"
"Nggak kok"
"Usoo (Bohong)!" Sentak Zela tak terima sambil mengangkat sumpitnya.
"Aizela!" Tegur Zeo.
Zela menunduk, "Gomen(Maaf)"
Zeo menghela nafas, merasa bersalah setelah menyentak anak gadisnya, "Mama merajuk waktu papa suruh tes kehamilan tadi" Kata Zeo akhirnya, Mencoba terbuka dengan anak kembarnya yang kini sudah beranjak dewasa.
"Nggak" Kesal Adhira.
"Mama belum tes" Sela Zeo yang membuat Adhira berdecak kesal.
"Kenapa mama gak mau tes?" Kata Zela yang kini meletakkan sumpitnya, menatap mama dan papa nya penasaran.
"Ntah, mama mu gak mau, padahal kan papa uda curiga mama hamil semenjak mama sering mual kalau buat tamagoyaki" Kata Zeo menyampaikan alasannya.
"Ck, itu karena telurnya agak nyengat baunya Ze, biasanya kan aku pakai telur ayam, tapi seminggu terakhir pakai telur bebek karena telur ayam gak ada" Tegas Adhira menyangkal.
"Tapi mama juga sering mood swing akhir-akhir ini" Sela Ken dengan nada semangat, sungguh jika mama nya hamil ia yang akan paling bahagia disini. Sudah menjadi rahasia umum kalau bungsu Takahashi itu ingin sekali menjadi kakak sejak kecil. Katanya tak mau terus di anak bayikan kembaran beda beberapa menitnya lagi.
"Tuh kan Ken, papa juga bilang gitu. Tapi mama mu gak percaya"
"Alah, kalian ini, mama itu uda tua mana mungkin hamil" Sangkal Adhira yang mulai merasa terpojok.
Zela menatap mamanya serius, "Tapi mama masih muda tau, temen mama aja baru ada yang nikah diumur nya mama, mama tuh masih 33 loh ma, tua dari mana coba"
"Tapi kan-
"Coba aja dulu ma, bener kata papa tadi gak ada salahnya tes. Kami juga gak keberatan kok punya adik, ya kan Ken"
"Gak keberatan sama sekali kak" Sahut Ken menggebu.
"Tuh kan, lagian nanti kalau beneran mama hamil mama sama papa jadi gak kesepian kalau kami kuliah, ya kan Ken"
Ken yang ditanyai kakaknya itu pun lagi-lagi mengangguk membenarkan.
"Kami palingan cuma empat atau lima bulan lagi dirumah, kakak uda fiks kuliah di Jepang, Ken walaupun belum fiks kuliah di Belanda tapi kan juga uda pasti diluar negeri, nanti kalau kami pergi mama sama papa kesepian, tapi kalau punya adik lagi kan mama gak sepi" Jelas Zela menerangkan.
Adhira diam saja, Ia bukannya tak mau punya anak lagi, hanya saja bayangan saat hamil Zela dan Ken dulu sangat membekas di benaknya.
"Coba ya?"
__ADS_1
Adhira menoleh saat ia merasa tangannya digenggam oleh Zeo,
"Tapi kalau-
"Kan ada aku hm, ada anak-anak juga, kita hadapi bareng-bareng kami semua ini dipihak mu loh Sayang, kami semua sayang kamu" Kata Zeo yang membuat mata Adhira berkaca-kaca.
"Iya, ma, Kita pasti selalu sayang mama kok" Kata Ken berdiri sebelum memeluk mamanya dari belakang.
"Zela juga, kami selaluuu sayang mama" Kata Zela semangat yang membuat mama dua anak itu terenyuh.
"Tapi kalau misalnya mama gak hamil lagi, kalian gak papa?" Tanya Adhira pelan.
"Gak papa dong, itu artinya Ken tetep jadi adik bungsu"
"Mulai Zel, mulaii"
Mereka tertawa saat Ken sudah memberengut tak terima.
Yah, tampaknya Adhira tak ada lagi alasan untuk menyangkal dan menolak.
Tiga Takahashi ini benar-benar.
...****************...
Omake :
"Kalau aku hamil gimana Ze" Tanya Adhira takut-takut saat akan melihat hasil tespeck ditangannya.
""Ya gak papa, kan ada bapaknya"
"Ish Ze"
"Ya jadi gimana? Kamu kok panik banget kalau seandainya hamil, orang punya suami juga"
"Ck, dasar"
Zeo tertawa pelan, "Uda cepet liat"
Adhira membuka tangannya perlahan dan wajahnya langsung lemas saat melihat hasilnya, sedangkan Zeo tertawa terbahak-bahak.
"Ish, jangan lari kamu, tanggung jawab!! Kan aku uda bilang gak mau hamil lagi" Teriak Adhira menghentak-hentakkan kakinya.
Sedangkan Zeo sudah berlari keluar kamar sambil berteriak heboh memanggil anak kembarnya, mengangkat tinggi-tinggi hasil tes nya untuk memberi tau kalau akan ada anggota baru dikeluarga mereka.
Sedangkan Adhira menghela nafas, tapi ia langsung tertawa pelan saat mendengar suara teriakan heboh Zela yang berteriak tak percaya dan Sorakan Ken yang senang karena tak lagi menjadi anak bungsu.
Adhira menepuk perut datarnya, tersenyum tipis, "Selamat datang Takahashi kecil" Bisiknya manis.
...****************...
Catatan kecil.
Disini mereka(zela dan ken) memamg uda usia 17tahun ya, soalnya menyesuaikan sama cerita Zela yang uda dibuat setengah tahun lalu. Wkwk
Ramen : Mie khas Jepang yang disajikan dengan kuah dan topping telur.
Tempura : Gorengan khas Jepang
Ebi : Udang
Ohayo/ Ohayo gozaimase : Pagi /Selamat pagi.
Kenpai : Cheers dalam bahasa Jepang.
Onechan : Kakak perempuan
Uso : Bohong!
Gomen : Maaf
__ADS_1