
"Hiks, apa- lo m-mau apa, ng-nggak Zeo, nggak mau bajingan lo."
Zeo yang sudah membuka bajunya itu tersenyum culas. "Ck, gue cuma mau ngajari lo cara jadi istri dan ibu yang baik Dhir" kata Zeo langsung mencium Adhira yang terus memberontak.
Kali ini, Zeo tak akan mau mengalah.
****
Zeo mengusap matanya karena cahaya matahari yang mengenai wajahnya. Pemuda itu melirik sekitarnya, dan ia baru menyadari bahwa ia berada dikamar bukan diruang nonton seperti biasanya.
Ia melirik kesebelah tempat tidurnya, tidak ada Adhira disana. Hanya menyisahkan baju yang dipakai perempuan itu semalam. Zeo sedikit mengernyit, merasa sedikit bingung dengan pakaiannya dan pakaian Adhira yang berserakan dilantai sebelum akhirnya pemuda Jepang itu menghela nafas ketika ingatannya pulih.
Semalam, ia memang sedikit kelewatan, Tapi sungguh, Adhira memang harus diberi pelajaran. Tingkahnya benar-benar menguras emosi.
Tapi-
Kemana Adhira dipagi buta ini?
Zeo membenarkan posisi tidurnya. ia menatap sekeliling untu memastikan keberadaan Adhira dan ketika ia mendengar suara shower dari kamar mandi. Zeo kembali memejam kan matanya, Mungkin Adhira sedang mandi Pikirnya kembali hendak tidur.
Ah, Rasanya Zeo tak rela matahari sudah muncul, ia masih ingin tidur lelap lebih lama. Ini adalah kesempatannya setelah hampir 5 bulan tidak bisa menikmati ranjang empuk semenjak menikah dengan Adhira. Perempuan itu benar-benar tak ingin berbagi kamar dengannya.
Namun bayangan pekerjaan dan tugas memasak untuk sarapan menghantuinya. Zeo bangkit dari tidurnya hanya dengan memakai boxer pendek ditubuhnya. Ia lelah. tapi juga lapar.
"Adhira, lo mau sarapan apa?"
"Gue mau masak omelet telur, lo mau atau mau makanan lain, biar gue orderkan." Teriak Zeo.
"Adhira"
"Dhira-"
Zeo menghentikan panggilannya saat Adhira langsung membuka pintu kamar mandinya. Mata perempuan itu nampak bengkak karena banyak menangis, sedangkan tubuh perempuan itu memerah, mungkin karena telalu kuat saat menggosok. Terutama dibagian leher , ada luka-luka kecil ulah Zeo tadi malam.
Zeo berdehem ketika menyadari Adhira yang sangat kacau saat ini, bahkan Zeo bisa melihat tubuh Adhira agak gemetaran karena menggigil, bibir dan kulit tangan dan kakinya pun mengkeriput, menandakan perempuan itu sudah sangat lama dikamar mandi.
Adhira yang sesenggukan langsung berlalu pergi keluar kamar tanpa memperdulikan Zeo setelah mengambil baju ganti, mungkin akan berganti di kamar mandi dekat dapur.
Namun dari tingkah Adhira itu, Zeo menyadari satu hal. Perempuan itu marah, benar-benar marah yang sudah sampai tahap kecewa. Dan ntah kenapa, Zeo sedikit puas untuk satu hal itu, maksudnya dalam artian ia telah berhasil membuat Adhira kalah, dengan membuat perempuan itu tunduk dan takut padanya.
__ADS_1
***
Selesai mandi dan berberes Zeo langsung membuat omelet telur dan roti bakar untuk sarapan. Tak lupa pemuda itu pun membuat kan segelas susu hamil untuk Adhira. Mulai sekarang Zeo akan benar-benar mengubah pola makan Adhira demi anak-anaknya. Ia tak akan mau mengalah lagi, tak akan pernah.
Adhira juga tak protes ketika Zeo menyuruhnya makan, perempuan itu sama sekali tak mengeluarkan suara, hanya sesekali tampak merenung dengan pandangan tak fokus.
Zeo menyadari itu, ia tau Adhira tertekan namun ia sengaja membiarkan Adhira berpikir demikian agar ada rasa takut dihati perempuan itu kepada dirinya sehingga tak mau menyakiti anak mereka lagi. Zeo ingin Adhira sadar akan kuasa dirinya dihubungan ini. Sudah cukup banyak ia mengalah pada perempuan yang saat ini masih sesenggukan itu.
"Gue nyuruh lo makan kan? Bukan ngelamun?" tegur Zeo. "Apalagi nangis gak jelas gitu, Gak mempan asal lo tau" Tambah Zeo sadis.
Adhira meliriknya, perempuan itu membuang muka, enggan menatap Zeo.
"Wah, berani ngelawan heh" Desis Zeo ketika Adhira memdorong piring sarapannya. Memberi gesture enggan menghabiskan omelet yang baru ia makan seperempatnya.
"Dhira lo tau kan akibat lo gak mau nurutin gue? Lo mau gue bertindak kayak tadi malam?" ancam Zeo ketika Adhira tak juga memakan sarapannya.
Adhira menatapnya marah, mata perempuan itu juga memerah menahan tangis. Tapi tak mengatakan apapun, Zeo benar-benar seperti iblis.
Brak
Adhira terlonjak saat meja makan digebrak kuat oleh Zeo, mata pemuda itu menyorot Adhira bengis.
"Adhira! Lo habiskan sarapan lo pakai cara lo sendiri atau pakai cara gue"
"Hiks"
"I-itu telur hiks" Tangis Adhira sesenggukan, sisa tangis tadi malam semakin membuatnya sesak. Ia ketakutan. bahkan tangannya yang memegang sumpit gemetaran hebat.
Zeo meliriknya marah, "Ngomong gak usah setengah-setengah, punya pita suara kan lo" Pemuda itu sudah akan kembali menggebrak meja saat Adhira melanjutkan.
"G-gue mual." kata nya pelan bahkan sangat pelan.
Zeo menaikkan alisnya, ia mengingat ketika dirumah Adhira dulu setiap sarapan Adhira selalu makan sepiring berdua dengannya karena mual ketika makan sendiri. Itupun perempuan itu hanya makan beberapa makanan yang tak mengandung daging karena bau dan amis. Dan jangan bilang selama ini Adhira tak mau sarapan karena hal yang sama. Namun perempuan itu gengsi untuk mengakuinya.
Zeo berdehem, agak menyesal "Kalau gue yang suapi, lo bisa habisin?"katanya datar.
Adhira diam saja ketika Zeo mengambil piringnya lalu menuangkannya dipiring pemuda itu menjadi satu.
"Buka mulut lo" kata Zeo yang diabaikan Adhira.
__ADS_1
"Adhira!" tekan Zeo.
Adhira langsung membuka mulutnya dengan agak bergetar, perempuan itu menangis sambil mengunyah makanannya. Bahkan beberapa kali tersedak karena tangisannya.
Zeo tak memperdulikan itu, ia terus menyuapi Adhira dan dirinya sendiri sampai sarapan mereka habis.
"Minum susu nya." kata Zeo yang dituruti Adhira walaupun masih sambil sesenggukan.
"Mu-al" Tangis Adhira ketika ia akan memuntahkannya namun mulutnya ditahan oleh Zeo.
"Telen"
"Hiks, m-mual Ze"
"Telen gue bilang"
"Hiks"
"Gampang kan, Gitu aja susah" Desis Zeo saat Adhira berhasil menghabiskan segelas susu itu.
Pemuda itu lalu mengambil jasnya, pagi ini ia akan kekantor teman papanya, sebelum dilanjutkan kuliah sore sampai malam nantinya.
"Nanti makan siang gue orderkan dari kantor, dan awas kalau gak lo makan nanti. Oya, gue juga nanti ada tugas kelompok. Tapi gue usahain pulang cepet." Kata Zeo, dan tanpa diduga, pemuda itu menghampirinya, agak menundukkan tubuhnya untuk mengelus perut Adhira yang besar.
"Papa kerja dulu ya, kalian sama mama dulu hm? Nanti papa usahain pulang cep- Eh, Dia, mereka- Mereka nendang Dhir?" Takjub Zeo saat ia merasakan gerakan pelan diperut Adhira.
Adhira diam saja, perempuan itu enggan menatap Zeo ataupun perutnya.
Zeo terkekeh pelan, " Wah, anak papa uda pintar nendang ya. Sehat-sehat terus ya sayang." kata Zeo mencium perut Adhira senang.
Berbanding terbalik dengan Zeo yang gembira dan tampak semangat, Adhira justru kian membenci ketiganya dengan sangat.
***
Yes,,, please komen guys.
Komennya banyakan sedkit aja, aku bakal double up hari ini.
Terserah komen apa, boleh kritikan juga, makian buat Adhira ataupun Zeo juga boleh.
__ADS_1
Tapi please komen huhuhu.
Sepi tau. Aku jadi gak semangat hiks.