
Adhira duduk dikursi taman, ia tak sanggup jalan lagi karena pinggangnya terasa sangat pegal.
"Kenapa berhenti? Capek?" tanya Devan.
Adhira mengangguk, "Hem, beliin kakak es krim dong Dev." kata Adhira mengusap keringat dikeningnya. padahal ia hanya berjalan kurang lebih 200 meter, tapi lelahnya seperti latihan karate sampai malam.
"Es krim? Yang itu? Rasa apa?"
"Strawberi" kata Adhira.
"Yaudah tunggu bentar," kata Devan pergi membeli es pesanan kakaknya.
Adhira meringis ketika ia merasakan perutnya nyeri. Apa ia terlalu banyak berjalan, Pikirnya sambil memegangi pinggangnya. Walaupun sekarang moodnya bagus tapi Adhira tetap tak mau mengelus perutnya bahkan saat berganti baju pun sebusa mungkin untuk tak melihat perutnya. Ia benar-benar masih dendam dengan Zeo.
"Ekhem, ini toh yang orang yang kamu ceritain dari semalam Dev."
Adhira menghentikan elusan dipinggangnya ketika suara yang tak asing menyapanya. Suara Gisel musuh nya ketika disekolah. Kenapa sih Gisel ada dimana-mana, kalau saat mereka jumpa disupermarket dulu, itu wajar karena rumah orang tua Gisel ada disekitar daerah apartemennya. Tapi kalau saat ini-
Oh, ada Devi juga, pantas saja.
"Hai? Kok kaget gitu sih mukanya? Atau takut hm?" kata Gisel meminum minumannya bergaya didepan Adhira yang duduk saja masih tampak kesulitan.
Adhira terkekeh kecil, ia menatap Gisel dan Devi dengan pandangan rendah. "Ngapain gue takut sama kalian?" Tantang Adhira berani, namun diam-diam tangannya mengepal untuk menutupi getaran paniknya.
"Oh, kirain." kata Gisel melirik Devi yang juga menampilkan wajah sengit. Adhira mendengus memaki tetangga depan rumahnya itu dalam hati. Sejak Dulu Devi memang sering iri padanya, mungkin karena Adhira yang lebih unggul dari segala bidang darinya.
"Denger-denger lo ditinggal sama suami lo ya? Ditinggal kemana ini? Kerja atau cari yang baru." tawa Gisel mengejek.
"Stt, jangan gitu sel, ntar kenapa-napa gue juga yang disalahkan."
"Oia ya, lo kan tetangga depan rumahnya." kata Gisel kembali terkekeh.
"Kok kalian sibuk banget sih sama hidup gue?" ujar Adhira menyela tawa kedua mantan teman seangkatannya itu.
"Bukan sibuk sih, cuma prihatin aja" Kata Gisel mengibaskan rambutnyan
"Heh," Adhira mendengus tak suka.
"Makanya dhir jadi cewek jangan mau-an uda gini nyeselkan? Salah sendiri menjal*ng dari dini."
Adhira mulai kesulitan mengatur emosi, rasa nyeri dan pegal diperut juga pinggangnya semakin melengkapi nya. Lagian kenapa sih nyai sihir ini datang kekompleksnya. Bukannya jalan-jalan dikompleks nya sendiri.
"Lo-
"Apa? Gak terima dibilang ******? Jadi apa dong sebutan buat cewek yang mau-an aja diapa-apain sama cowok? "
"Tapi terlepas dari semua itu, gue sebagai temen juga kadang menyesalkan keputusan lo sih Dhir. Tapi kok bisa gitu ya, seorang Adhira Alindra yang tegas dan kebanggan semua guru bisa menjal*ng gitu" Ejek Gisel puas.
"Kenapa emangnya kaget? Mau gue ajarin cara menjal*ng yang bagus kayak mana?" kesal Adhira tak mau kalah.
"Ops, sori aja nih Dhir, gue masih mau dijalan yang suci. Gue juga belum mau ngikutin jejak lo yang gagal bunuh diri itu uhk." kata Gisel mengejeknya.
"Nasib lo sial banget ya. Oia gue lupa Dev, Semenjak Kak Panji di LA, dia masih hubungi lo gak sih?" kata Gisel melirik Devi.
Adhira langsung menatap Devi begitu nama panji disebut. Agak sensitif karena sebelumnya mereka sempat bersaing untuk mendapatkan Panji.
"Hm, kadang sih. Udahlah jangan dibahas ada mantannya disini" Bisik Devi yang sayangnya sengaja dikeraskan agar Adhira dengar.
"O-oh gue lupa sori, yaudah kita-kita mau jalan dulu ya Dhir. Yuk Dev, Oia cuma mau ingetin ntar habis lahiran anak lo jangan dibuang ke kolong jembatan ya. Kasian dia, bay-bay." kata Gisel melambaikan tangannya yang diikuti Devi.
Adhira menggigit bibirnya sampai ia rasa ada rasa anyir dilidahnya. "Sialan" makinya.
"Eh-"
Adhira menoleh saat Gisel kembali, menunjukkan wajah yang lebih angkuh. "Lo maki-maki ya, " Katanya.
"Utututu, jangan gitu dong Dhir, ntar anak-anak hasil menjal*ng lo ini ngikutin jejak mamanya" Kata Gisel sambil mengelus perut besar Adhira yang langsung ia tepis kuat.
"Dih kasarnya, Eh, Dhir, gue mau tanya ni, mumpung lo irang sini kan ya, eh, ini foto siapa ya ?" Tanya Gisel membuka ponselnya dan menunjukkan foto Panji dan Devi yang berpelukan, jika dilihat dari latarnya mungkin itu di Bandara.
Adhira menatap Gisel dan Devi dengan marah, dan hal itu mengundang tawa tertahan keduanya.
"Eh, sorry salah ya, Maksud gue yang ini Dhir, bentar" Gisel kembali menunjukkan pinselnya, kali ini foto Zeo dan Alina yang tertawa bersama. Itu adalah foto di akun instagram Zeo yang diposting satu tahun yang lalu. Adhira sudah pernah melihatnya, tapi kenapa hatinya sesakit ini.
"O-ow, siapa ini ya... Yuhuu, spadaaa, gue happy banget. Cuma ya Dhir, gue baru tau loh kalau suami lo kak Zeo yang ganteng itu. Yang dulu sering lo maki-maki dan lo hukum itu loh. Kenapa nih, kena karma ya loh" Kata Gisel kembali menyimpan ponselnya.
"Tapi gue juga baru ngeh, Kak Zeo itu kan musuhnya kak Panji ya kan Dev, apakah selama ini mantan ketua osis kita ini bermain belakang dengan musuh pacar sendiri?" Kata Gisel pada Devi.
Adhira membuang pandangannya saat air matanya sudah akn jatuh, sial, kenapa ia harus sesensitif ini sih.
"Sel, udah, ntar bunuh diri lagi tuh anak tetangga, " Kata Devi menarik Gisel yang mengundang tawa sebelum mereka benar-benar melambaikan tangan dan pergi.
Setelah mereka pergi, Adhira benar-benar menangis. Sial, tak biasnya ia diam begini ketika ditindas.
Tapi sungguh, Tubuhnya gemetaran hebat sekarang, ia kembali terserang panic attack.
"Kak, loh kak, kak Devi mana? Tadi kayaknya Devan liat dia disini deh" kata Devan berlari kecil menghampiri kakaknya. Agak bingung karena kakaknya sendiri. Omong-omong ia yang tadi memberi tau Devi dab Gisel akan keberadaan Adhira. Bermaksud agar Adhira tak bosan menunggunya yang lama karena antre.
"Mati kayaknya" balas Adhira setengah terisak.
__ADS_1
"Kak kok nangis, kenapa? Kak?"
" Udah ah, Yuk pulang! " kata Adhira meninggalkan Devan yang kebingungan.
"Kak ini es krimnya, Kakak!"
***
"Loh kok cepet banget- Kak kenapa lagi?" tanya Mira saat melihat Adhira yang menangis. Perempuan itu membanting pintu kamar dengan kuat lalu menguncinya. Mengabaikan pertanyaan mamanya.
"Kak, Adhira hei buka pintunya sayang,"
"Mana kakak ma?"
"Didalam, kakak kamu kenapa lagi sih? Dijulid tin lagi sama buk Astuti?"
"Gak tau, tapi tadi ngobrol sama kak Devi" kata Devan mengangkat bahunya.
Mira menarik napasnya. Ada masalah apa lagi ini?
***
Adhira melempar semua barang-barangnya dengan marah, perempuan itu berteriak dan membanting semua benda yang ada disekitarnya.
Setelah puas mengamuk, Adhira terduduk dan menangis terisak-isak. Emosinya selalu tak terkontrol jika berhadapan dengan Gisel dan Devi.
Drrtt
Adhira menoleh begitu mendengar getar ponsel yang tadi juga sempat ia banting. Dari notif bar dilayar ponselnya, Adhira bisa melihat DM Gisel diakun ig nya.
[Yang sabar ya,:-D]
Adhira memaki dan segera menginjak-injak Ponselnya. Hatinya sakit sekali.
*****
Adhira meringis kesakitan, perutnya terasa kram mungkin efek karena ia tak makan sejak semalam. Ini sudah hari kedua setelah ia bertemu Gisel ditaman waktu itu dan Adhira masih mengurung diri dikamarnya. Ia juga tak mau makan ataupun minum susu hamil karena sedang dalam masa penghukuman untuk anak-anak Zeo diperutnya. Biar mati sekalian. Desisnya saat ia mengingat pesan Zeo untuk menaikkan berat badannya dulu.
"Bisa nggak sehari aja gak usah bikin gue susah? Bapak lo uda gak peduli sama lo, jangan harap gue mau berbelas kasihan." kata Adhira memegangi pinggangnya yang ikut nyeri.
"Aw," Adhira mengeluh karena rasa sakit diperutnya. Ia lapar.
Tok-tok
"Kak, boleh mama masuk."
"Kamu gak mau makan? Mama bawakan sayur tumis brokoli loh."
Adhira menggeleng, "Nggak ma, Gak laper."
Mira tersenyum tipis, ia mendekati Adhira. lalu meletakkan sayur itu dinakas, "Gak laper atau lagi ngehukum Zeo?"
"Apa sih ma? Zeo nya juga gak ada disini."
"Kamu hukum Zeo tapi nyakitin cucu-cucu mama." Kata Mira mengelus perut Adhira.
Adhira menahan napasnya ketika anak-anak Zeo dalam kandungan nya itu aktif. mungkin karena jarang dielus jadi mereka meresponnya dengan baik.
"Kamu kalau malam selalu kayak gini kan? Gak bisa tidur sampai jam segini kenapa gak bilang mama?"
"Gak papa kok ma, cuma perut aku agak kayak gak nyaman kalau tidur."
"Sakit?"
Adhira menggeleng, "Mau mama telpon kan Zeo?"
"Hah, mama kenapa sih, kenapa bahas Zeo mulu sih?"
"Kamu kangen Zeo kan?"
"Nggak" ketus Adhira.
"Handphone kamu mana?"
"Ma-" Adhira memberengut ketika Mira mengambil ponselnya yabg retak,
"Jaket Zeo mana? Cepet pakai, biar mama yang hubungi Zeo biar dia pulang."
"Mama apa sih? Jaket apa?" Kata Adhira pura-pura tak tau.
"Kak, jangan pikir mama gak tau ya kamu sering pake jaket Zeo kalau malam."
Adhira membuang pandangannya, ia tak berani menatap mamanya. Memang Beberapa hari ini jika perut nya mulai terasa sakit dan terasa kram, Adhira biasa memakai jaket Zeo yang pemuda itu berikan ketika mengantarnya dulu. Bertujuan agar ia merasa Zeo ada disisinya. Ntahlah semakin bertambah usia kehamilannya Adhira semakin tak memiliki keberanian, ia semakin cengeng dan tersentuh. Apa itu efek karena ia hamil anak-anak Zeo?
"Coba pakek jaketnya ini." kata Mamanya mengambil jaket Zeo yang ternyata ada dibalik selimut.
Adhira menatap jaket itu lama, lalu ia memakainya.
"Sini tidurkan kepalanya dipaha mama."
__ADS_1
Adhira menurut, ia memejakan matanya ketika mamanya mengelus rambutnya.
"Kak tau nggak? Dulu waktu pertama kali mama liat kamu, mama langsung jatuh hati."
"Sama akunya atau sama ayah ?" Goda Adhira.
Mira terkekeh, "Waktu mama nikah sama ayah kamu mah, mama masih muda, umur berapa yah 21 kayaknya. Kalau cuma ayah kamu mah lewat dari cowok yang ngejar-ngejar cinta mama, gini-gini mama mantan idola kampus loh."
Adhira memainkan rambutnya, "Terus kenapa mama mau sama ayah."
"Karena- kamu."
"Aku?" bingung Adhira.
"Waktu pertama kali mama liat kamu digendong sama ayah pas gak sengaja jumpa dikantor. Mama kayak uda ngerasa ada ikatan. Kamu lucu banget," kata Mira menjawil hidung Adhira.
Adhira terkekeh, "Terus?"
"Tapi ayah kamu gak suka mama, dia juga gak mau kamu deket sama mama."
"Oyah? Tapi kenapa?"
"Em, karena ayah gak mau kamu gak kenal bunda kamu?"
"Ha?"
"Ayah gak mau kamu sayang sama mama ataupun sosok ibu yang lain dan lupain bunda kandung kamu yang bahkan rela meregang nyawa demi kamu bisa kedunia."
Adhira menghentikan kegiatannya, ia memang pernah dengar kalau bundanya meninggal saat melahirkannya, tapi selama ini Adhira tak terlalu mau tau karena takut merasa bersalah.
"Bunda kan uda gak ada, kenapa ayah keras kepala?"
"Karena buat jaga perasaan Bunda, Coba deh kakak bayangin, kalau seandainya kakak ada diposisi bunda dalam versi masih hidup. Apa yang bakal kakak lakuin kalau anak-anak kakak jatuh cinta sama perempuan lain dan lupain kakak sebagai mamanya yang uda rela mati buat mereka?"
Adhira diam, seketika ia tau kemana arah pembicaraan mamanya.
"Emang kakak mau kalau anak-anak kakak kelak gak kenal kakak? Mereka bakal dirawat sama orang lain, mereka bakal cinta sama sosok ibu yang lain."
"Mama bahas apa sih?" kata Adhira berusaha mengelak.
"Kak, mama serius. Apa kamu rela suatu saat ninggalin anak-anak kamu buat Zeo dan wanita lain?"
Adhira menelan ludahnya, ia tak rela.
"Sekarang mama tanya serius sama kamu, kamu sayang nggak sama kandungan kamu?"
Adhira tak menyahut
"Coba kamu pegang ini, kamu rasakan tendangan mereka," Mira meraih tangan Adhira dan meletakkan diperut besar Adhira.
Hati Adhira berdesir begitu ia mendapat tendangan pelan itu.
"Apa gak ada rasa sayang kamu muncul? Ada kan? "
"Aku-
"Mama tau kamu gak suka Zeo, mama tau kamu dendam sama Zeo, tapi apa kamu mau gitu aja ngasih anak-anak kamu ke Zeo dan wanita lain? Hanya karena anak-anak kamu berhubungan darah dengan Zeo?"
Adhira tak memberi respon apapun.
"Kamu kangen Zeo nggak?"
Adhira menatap mamanya dengan pandangan sulit diartikan tapi setelah itu ia menjawab tidak dengan tegas.
"Kamu gak kangen, tapi anak-anak kamu kangen. Cuma karena setiap malam kamu pake jaket Zeo sebelum tidur, selalu dengerin voice note Zeo keperut kamu aja Kamu bisa tidur nyenyakkan."
"Mama kok-"
"Apasih yang gak mama tau soal kamu? Mama bahkan sering mergoki kamu nyiumin jaket Zeo setiap mau tidur."
Adhira memaling kan wajahnya, "Perut Adhira gak enak kalau belum gitu, daripada Adhira gak bisa tidur." katanya membela diri.
"Nah, itu, Jadi uda tau kan pentingnya Zeo disisi kamu? Bau jaketnya aja bisa bikin hati dan anak kamu tenang. Gitu masih gak mau nganggap Zeo. Coba kamu pikirkan ulang. Jangan cuma karena ego kamu yang benci Zeo kamu nyiksa anak-anak kamu kak"
****
Adhira masih terjaga beberapa jam setelah Mira pamit keluar.
Perempuan itu merenung, lalu menatap perutnya, "Kalian beneran sekangen itu sama papa kalian? Apa gue terlalu ego dan nyakitin kalian? " tanyanya memecah keheningan.
"Tapi papa kalian brengsek, dia jahat sama gue, " katanya lagi yang hampir seperti bisikan ketika mengingat foto yang ditunjukkan Gisel semalam.
****
Likenya lebih dari 70 hari ini, aku bakal up, Side story tentang keluarga Zeo. Disana bakal dijawab semua hal tentang Zeo ya.
Judulnya Rahasia Takahashi.
Hmm,
__ADS_1