
"Onichan!"
"Moshi-moshi"
"Zeo-kun!"
"Zeo-kun, Jawab kami terlebih dahulu, bagaimana keadaan Zela"
Suara berisik dari seberang telepon itu sama sekali tak disahuti oleh Zeo, papa dua anak itu hanya membiarkan ponselnya tergeletak dilantai sedangkan ia menangis sesenggukan. Menunduk sampai bahunya bergetar.
Zeo benar-benar lebur sekarang, tak ada lagi wajah tegas dan sikap angkuh didirinya, tak ada lagi gengsi tak ada lagi harga diri.
Ia hanya menangisi putrinya. Kesayangannya, anaknya, sulung kebanggaannya yang ntah masih bisa ia peluk atau tidak dipagi menjelang nanti.
Tak berbeda jauh dengan Zeo, Adhira pun demikian, hanya bisa duduk dikursinya dengan pandangan kosong, air matanya seolah telah habis sejak sejam yang lalu ketika ia mendengar teriakan panik Ken yang menggendong Zela kerumah sakit. Ini semua-
Seperti dejavu.
Kenapa dari sekian banyak kelakuan bodohnya dimasa lalu, harus bunuh dirilah yang diikuti Zela untuk menyelesaikan masalahnya.
"Zeo-kun, jangan membuat kami takut"
"Dimana Ken-kun? Dimana Adhira-chan?"
"Moshi-moshi, Oniichan! Zeo oniichan!"
Mendengar suara kepanikan dari ponsel sang papa, Ken yang tadinya hanya duduk dan menangis didepan pintu ruang UGD pun bangkit dari duduknya dengan sempoyongan. Mengambil ponsel itu dan menggenggamnya. Ia harus segara mengabari kakek dan para bibinya disana.
"Moshi-moshi oji-chan" Suara Ken bergetar saat menyapa kakek dan keluarga papanya diseberang.
"Ken-kun, bagaimana dengan kakakmu?"
Mendapati pertanyaan itu Ken tak kuasa untuk menangis, remaja laki-laki yang selama ini tampak cuek itu meraung.
"Ojii-chan" Raungnya.
"Ya Ken? Jangan buat kakek , nenek dan bibi disini panik"
"Ojiichan, kakak ku belum bangun hiks, " Tangisan meyayat Ken untuk kakak kembarnya itu membuat orang tuanya yang tadinya sudah mulai tenang itu kembali menangis, ikut meraung.
Zela masih berada di unit gawat darurat karena kehilangan banyak darah, lukanya tidak besar dan juga tidak terlalu dalam, pertanda kalau gadis itu masih ada keraguan saat melakukan aksinya, tidak berniat benar-benar bunuh diri. Tapi karena terlalu lama ditemukan maka gadis Takahashi itu kehilangan banyak darahnya.
Zeo tak akan melupakan bagaimana ia melihat tubuh putrinya tergeletak dibawah meja belajar dengan teriakan Ken yang menggema dirumah besar mereka. Zeo juga tak akan pernah melupakan bagaimana mengerikannya ketika ia menyadari putrinya sudah pucat membiru karena sudah pingsan lebih dari satu jam.
Kemana satu jam yang lalu ia pergi!?
Kenapa satu jam yang lalu ia sempatkan bertengkar dengan istrinya tanpa tau kalau anaknya hampir kehabisan darah dikamar?.
Kenapa ia tak mengecek anak-anaknya dulu?
Kenapa?
Kalau saja-
Kalau saja begitu ia pulang dan mendapati rumah berantakan dan langsung pergi kekamar anak-anaknya, pasti kejadian seperti ini tak akan terjadi. Bukannya malah kembali bertengkar dengan Adhira, bukannya saling mencaci dengan istrinya.
Demi Tuhan,
Zeo menyesali semuanya.
...****************...
Ruang rawat berkelas vip yang didominasi warna putih gading itu tampak dingin dan hanya menyisakan suara tangisan Adhira yang sedang menciumi tangan sang anak, seolah berharap ciumannya itu dapat menghilang luka yang dibalut perban disana. Seolah ia berharap kejadian tadi malam hanya sekedar hiasan mimpi saja.
Zela memang sudah dipindahkan keruang rawat, sudah selesai menjalani transfusi darah, dan sudah selesai mejalani semua runtunan penanganan medis, kata dokter seharusnya pagi ini Zela sudah bisa sadar dari pingsannya, namun bahkan sampai pagi pukul 10 ini, sulung Takahashi itu belum juga mau bangun walaupun dokter yang mananganinya mengatakan kalau semua sudah baik-baik saja.
"Mama udah, jangan nangis terus, nanti kakak makin gak mau bangun" Kata Ken mengusap punggung mamanya yang bergetar, mencoba menenangkan ibu hamil itu dengan segenap perasaannya.
"Tapi kakak mu marah sama mama Ken, "
"Nggak, kakak nggak marah ma dia cuma capek mungkin, kan semalam kami main di Dufan sampai sore"
"Tapi kata dokter seharusnya kakak uda bangun, tapi dia belum bangun, pasti dia marah sama mama kan Ken? harusnya mama gak marahin kalian semalam, harusnya mama gak-
"Sstt, uda ma, gak papa, uda jangan nangis, sini lepasin tangan kakak nanti jahitannya nyeri" Kata Ken sabar, mencoba menarik mamanya kedalam pelukannya.
Kata Zela, pelukannya adalah pelukan ternyaman setelah pelukan sang papa tapi waktu itu Ken hanya menjulurkan lidahnya tak percaya karena merasa kakak kembarnya hanya membual untuk merayunya, tapi sekarang, Ken berharap pelukannya memang senyaman yang dikatakan Zela. Ken ingin membuat mamanya tenang dan berhenti menyalahkan diri atas kejadian yang menimpa kembarannya.
"Sstt, mama jangan nangis ya, nanti pasti kakak bangun kok" Bisik Ken berkali-kali ditelinga mamanya, seolah memberi sugesti difikiran mamanya kalau semua ini akan berlalu.
Sedangkan Zeo, papa dari Zela dan Ken itu hanya duduk disofa tunggunya dengan pandangan lurus menatap anak dan istrinya yang mencoba saling menenangkan. Raut wajah laki-laki itu tampak kaku dan dingin. Pandangannya lurus dan kosong seolah ia sedang malemun panjang, ntahlah, ntah apa yang ada difikiran papa berdarah Jepang itu sekarang.
Anaknya mencoba bunuh diri, kata dokter luka ditangan putri sulungnya itu hanya luka kecil, Dokter yang menanganinya juga mengatakan kalau mungkin, sebenarnya Zela tak berniat untuk bunuh diri, gadis itu hanya mencoba menarik perhatian keluarganya dan mencoba mengembalikan keluarganya yang berantakan. Hanya saja, waktu untuk ditemukannya terlalu lama, sehingga menimbulkan kejadian fatal kehilangan banyak darah seperti semalam.
Zeo menggelengkan kepalanya ketika wajah membiru putrinya semalam membayanginya nya.
__ADS_1
"Hhah" Hela nafasnya terdengar berat, Zeo lalu kembali diam, memikirkan sebab akibat semua masalah ini bermula pada keluarganya. Dimulai dari Adhira yang tiba-tiba menolak kehamilannya setelah sebelumnya ikut bahagia diperayaan kehamilannya, lalu Adhira yang mulai menyamankan diri dirumah setelah mendapat arahan dari psikolog dan dokter kandungannya, dan sejak itu Adhira yang mulai merasa apatis dengan keluarga, mengabaikan nya, mengabaikan anak-anak sampai akhirnya mereka bertengkar hebat tiga atau empat hari yang lalu dan berlanjut sampai sekarang.
Ntah disadari atau tidak, tapi Zeo sudah mengepalkan tangan dan mengeraskan rahang sejak wajah istrinya itu berkelebat difikirannya.
Istrinya itu-
Zeo menatap Adhira penuh kemarahan, namun ia lalu kembali menghela nafas, mencoba meredamkan amarahnya. Ia harus berbicara dengan Adhira sekarang. Masalah ini mungkin adalah masalah terakhir yang mereka hadapi dalam ikatan pernikahan.
Yah, mungkin saja, karena sungguh, Zeo sekarang tak menemukan alasan untuk ia terus bertahan dalam ikatan pernikahan yang penuh keegoisan ini.
"Dhira?" Panggil Zeo ketika laki-laki itu berhasil mengatur emosinya.
"Zeo hiks" Adhira langsung melepaskan pelukan Ken dan beralih kearah suaminya, ingin memeluk tapi Zeo memalingkan wajahnya.
"Ayo pulang, ada yang mau aku omongin sama kamu" Kata Zeo dingin.
"Nggak usah, mama disini aja" Ken dengan panik memeluk pundak mamanya dan tetap memaksa mamanya duduk dikursi tunggu, ia tau kalau papanya sejak tadi malam sudah menahan emosi, ia takut mamanya kenapa-kenapa.
"Ayo Dhir" Kata Zeo mengabaikan anaknya itu.
"Nggak pa, biar mama disini aja jaga Zela"
"Dhira" Zeo menatap tajam istrinya. Lagi-lagi mengabaikan anaknya.
"Pa"
"Adhira Alindra" Tegas Zeo yang membuat Adhira mengerjapkan matanya takut, ia lalu melepas tangan ken dan memaksakan tubuhnya berdiri, mengikuti suaminya.
"Pa"
"Kamu jaga kakakmu aja Ken, papa mau ngomong sama mamamu"
"Kalau sekedar ngomong kenapa nggak disini aja, kenapa harus pulang?"
"Alzelo Ken Takahashi! Jangan buat papa marah! Kamu disini jaga Zela, jangan ikut campur urusan orang tua, paham!" Gertak Zeo tajam yang membuat Ken dan Adhira kembali diam karena Menyadari kalau saat ini papanya tidak bisa diganggu gugat.
...****************...
"Z-zeo, kamu mau makan?" Tanya Adhira gugup, ia lah yang memulai pembicaraan setelah keduanya sampai dirumah dan masih saling diam.
"Nggak"
"Aku bakal masakin kok" Kata Adhira meramas tangannya gugup, Zeo sangat menyeramkan sekarang.
"Zeo, aku- "
"Apa? Mau membela diri?"
"Zeo- kamu harus dengerin aku, aku gak tau kalau Zela kayak gitu, aku-
"Masih berani bilang gak tau kenapa Zela ngelakuin itu setelah kamu marahin dia sebelumnya iya, berhenti sok tersakiti disini kamu Dhir, kamu yang buat anakku hampir mati tadi malam! "
"Tapi aku gak lakuin apa-apa Zeo!" Bentak Adhira tak mau terus disalahkan.
"Kamu marahin anak-anak dan bilang kalau kamu benci mereka itu bukan termasuk ngelakuin apa-apa iya? Dhir, Dhir, anj*ng aja rela mati untuk ngelindungi anaknya, tapi kamu-"
"T-tapi itu semua karena kamu, kalau kamu gak ngehakimi aku-
"Adhira!" Zeo membentak keras,
"Apa? Kamu takut kalau kamu salah iya? sebuah rumah tangga yang dalam nya hancur ya itu karena kepala keluarganya yang gak adil, karena kepala keluarganya yang baj*ngan, karena-
"Rumah tangga kita gak bakal hancur kalau kamu yang mau nurunin ego mu Dhir, rumah ini gak bakal hancur kalau nggak ada Ego setinggi langitmu itu!" Potong Zeo cepat.
Mereka lalu saling diam, tersentak dengan argumen-argumen mereka sendiri.
"Apa kamu sadar Dhira? Berapa tahun aku berjuang untuk rumah tangga ini? Sendirian? Tujuh belas tahun Dhira, Tujuh belas tahun!! Apa kamu sadar itu?"
"Tapi yang buat aku ada disini awalnya itu karena sikap baj*ngan mu! Kalau aja dulu-
"IYA! Iya aku tau kalau aku yang salah dari awal, aku yang hamilin kamu, aku yang buat sekolah dan masa muda mu hancur, aku yang buat kamu dikucilkan sama temen-temenmu, aku yang buat kamu mendekam dirumah sakit jiwa. Iya Dhira, iya, itu aku, " Zeo mentap Dhira dengan mata merah, pertanda kalau dirinyabsedang dikuasi rasa emosional yang tinggi sampai membuat laki-laki itu ingin menangis.
"Tapi kamu juga harus tau, aku juga ngalamin hal yang sama! Aku juga uda dapet karmanya Dhira, aku yang putus kuliah, aku yang harus kerja, aku yang harus jadi monster biar kamu mau pertahanin anak-anakku, aku yang harus ngurus anak-anak waktu kecil, aku yang harus sabar sama sakitmu. Aku tanggung jawab semuanya Dhira, Aku tanggung jawab! Tapi apa kamu ngertiin itu? Apa kamu ngerti Dhira? Nggak kan? Kamu nggak ngerti karena kamu terlaku fokus sama Dirimu sendiri! Karena kamu cuma mentingi sakit hatimu tanpa kamu mikirin aku atau bahkan anak-anakmu sendiri" Zeo mengusap air matanya yang jatuh. Rasanya dadanya sakit sekali, sakit sekali karena selama ini ia yang selalu memendam sendiri.
"Apa kamu tau Dhira? Hampir delapan belas tahun apa yang aku alami? Apa yang aku perjuangkan dan apa yang aku korbanku untukmu, untuk kita? Apa kamu sadar rumah tangga ini pincang sebelah, rumah tangga ini cuma aku yang pertahanin? Apa kamu juga tau seberapa rendah aku jatuhin harga diriku untukmu? Apa kamu tau Dhira?"
"Dan terlepas dari itu semua- Apa kamu pernah sekali aja liat aku sebagai suamimu Dhira? Liat aku sebagai sosok yang kamu sayang, Ah, bahkan aku gak tau perasaanmu sama aku sekarang, sebenarnya kamu sayang sama aku atau nggak, selama delapan belas tahun ini, berapa kali bisikan sayang yang kamu kasih ke aku dengan tulus? Satu kali? Dua kali? Atau bahkan nggak ada Dhira? "
"Zeo-
"Nggak Dhira, kali ini kamu harus dengerin semua nya, aku mau egois hari ini" Kata Zeo bergetar.
"Aku sayang kamu Dhira, Aku cinta kamu, aku ngehargai dirimu sebagai istriku, sebagai ibu dari anak-anakku, gak peduli gimana penolakanmu untukku, yang aku tau aku cuma harus bahagiain kamu karena kamu uda mau bertahan dirumah ini, karena kamu uda nunaiin janjimu karena uda kasih keluarga yang lengkap untuk Zela dan Ken"
"Aku lakuin semuanya Dhira, aku berjuang untuk kita semua, aku harus buktiin sama keluarga besarmu kalau anak-anakku pantas dikeluarga ibunya, apa kamu tau kalau mereka, Zela sama Ken, anak-anakmu itu dapat diskrimanasi dikeluarga besarmu karena dia anak diluar nikah Dhira? Apa kamu tau kenapa selama ini Zela dan ken gak terlalu suka pergi ke Bandung? Kenapa mereka cuma mau ketemu orang tuamu aja tanpa mau diajak kekeluargamu yang lain? Nggak kan? " Zeo tersenyum pedih saat ia melihat keterkejutan dibola mata basah Adhira, seolah perempuan itu baru menyadari satu fakta itu.
__ADS_1
"Bahkan hal yang sesensitif itu aja kamu nggak tau loh Dhir"
Zeo menunduk untuk mengatur rasa emosional yang menghantam dadanya.
"Kamu terlalu sibuk sama dirimu sendiri tanpa mau tau apa yang terjadi sama anak-anakmu Dhir, " Kata Zeo pelan.
"Yang perlu kamu tau, gak cuma kamu yang tersakiti disini, tapi kita semua, demi Tuhan Dhira, apa salahnya sih kamu maafin aku dimasa lalu, dan nurunin ego mu itu, apa susahnya sih kita memulai lembaran yang baru tanpa harus saling ungkit mengungkit kesalahan dimasa lalu? Aku tau aku salah, aku tau aku bajingan, tapi aku uda berubah Dhira, apa nggak bisa kamu liat aku sebagai suamimu tanpa harus ungkit-ungkit kesalahanku dimasa lalu?"
"Aku cinta kamu Dhira, demi Tuhan, aku bener-bener cinta sama kamu, tapi apa kamu juga ngerasain hal yang sama ke aku? Aku selalu ngeliat dirimu sebagai orang yang istimewa, tapi bahkan, waktu kamu tau kamu hamil anakku lagi aja kamu uda sejijik itu. Aku sehina itu ya Dhir?"
Adhira menggeleng, perempuan yang sudah terisak-isak itu mendekati suaminya, mencoba menggenggam tangan suaminya, "Nggak Zeo, nggak, maaf, tolong maafin aku, maafin aku" Adhira menangis sambil memeluk Zeo yang hanya berdiri kaku tanpa niatan membalas pelukan istrinya itu.
"Maaf Zeo hiks, maaf"
"Dhira?" Zeo berucap rendah dan serak, menandakan kelelahan dan kekecewaan yang nyata.
"Apa aku kurang berjuang?"
"Nggak Zeo, nggak, aku yang salah, maaf, maaf uda buat kamu berjuang sendiri hiks, maafin aku" Adhira semakin menangis kencang, memeluk suaminya dengan erat.
"Apa aku terlalu ngekang kamu? Apa aku terlaku egois Dhira?"
"Nggak Zeo hiks" Tangis Adhira kian keras.
"Adhira sayang, maaf kalau aku uda ngekang kamu untuk selalu ada buat aku sama anak-anakku, maaf Dhira" Zeo memeluk pundak Adhira, menangis tergugu, mendengar nya saja Adhira langsung tau betapa sakitnya perasaan suaminya itu. Zeo benar-benar sangat terluka.
"Maaf kalau aku uda egois Dhira, maaf buat kesalahanku dimasa lalu"
"Dhira- Aku sadar aku salah, tapi aku juga sadar kalau apa yang dimulai dengan kesalahan dan keterpaksaan pasti gak berakhir indah"
"Zeo-" Adhira mencengkram baju suaminya itu kuat.
"Adhira Alindra, maaf untuk semuanya, ayo akhiri semuanya"
"Nggak! Nggak! Aku gak mau Zeo! "
"Anak-anak uda dewasa, mereka pasti uda bisa ngertiin kita, gak ada lagi alasan kita saling menyakiti kan Dhir?"
"Nggak Zeo, apa kamu nggak sayang sama anak-anak kita, apa kamu-
"Karena aku sayang anak-anakku Dhir, makanya aku milih untuk ngelepas kamu. Karena aku, Lebih baik kehilangan kamu dan biarin kamu cari kebahagiaanmu sendiri dibanding kehilangan anak-anakku."
"Tapi mereka juga anakku Zeo hiks, coba pegang, coba pegang Zeo" Adhira menarik tangan besar Zeo untuk ia letakkan diperutnya.
"Apa kamu mau ninggalin dia juga? Apa kamu mau buat dia tumbuh tanpa kasih sayang orang tua yang lengkap? Apa kamu ninggalin dia sama aku sendirian?"
Zeo menatap perut Adhira, laki-laki itu diam dengan pandangan kosong.
"Zeo-
"Aku bakal kasih sayang ku sepenuhnya sama dia, aku gak bakal lari dari tanggung jawabku Dhira, aku bakal bawa anak-anakku pergi biar mereka nggak ada yang ngehalangi mimpimu lagi- tapi aku cuma minta waktu tujuh bulanmu buat anakku ini ya Dhir, tolong jaga dia tujuh bulan aja, nanti setelah dia lahir aku janji kami nggak bakal ganggu kamu lagi"
"Zeo bukan gitu, aku- " Adhira terisak kuat sambil memegangi tangan Zeo. Bukan itu, bukan itu maksudnya, Adhira hanya ingin Zeo mengurungkan niatnya dan kembali bertahan dengan alasan anak mereka, bukan begitu, bukan.
"Zeo"
"Sstt"
"Adhira Alindra"
Adhira menggeleng kencang tak mau dengar, seolah ia sudah tau apa yang akan dikatakan suaminya itu.
"Ayo bercerai"
"Nggak Zeo, nggak!"
"Senin nanti aku bakal urus semua suratnya, jadi kamu tinggal tanda tangani aja"
"Nggak Zeo nggak!! Aku nggak mau" Adhira menolak keras sambil memukuli dada suaminya itu.
"Jahat, bajingan, aku nggak mau Zeo!"
"Dhira, hei tenang sstt'" Zeo menenangkan Adhira dengan kecupan dikening.
"Nggak ada yang bisa kita pertahanin Dhira, jadi kita akhiri aja ya" Kata Zeo lembut yang dibalas Adhira dengan tangisan putus asa.
Ia tak mau bercerai, ia tak mau mengakhiri.
Dan siapa yang tau, kalau Alezo immanuel Takahashi itu sudah berada dalam tahap mengikhlaskan dalam sebuah cerita sebuah percintaan.
...****************...
Huh, aku lemes habis ketik bab ini.
Yuk kasih komentar dan dukungannya biar aku kembali semangat secara mental buat lanjutin bab iniš¤
__ADS_1