EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-21 Penerapan hidup sehat


__ADS_3

Zeo mengangguk-angguk, "Terima kasih dokter." kata Zeo dengan nada senang. Sangat senang. Dan tanpa ia sadari, ia keluar dari ruangan Dokter dengan wajah berseri. Seperti bukan Zeo sama sekali.


****


"Gak mau Zeo," tolak Adhira untuk yang kesekian kalinya ketika lagi-lagi Zeo memaksa nya untuk meminum susu hamil.


"Kata dokter lo harus minun ini Dhir, biar lo itu gak lemah gitu." jelas Zeo yang untuk kesekian kalinya juga.


Sejak pulang dari rumah sakit semalam, Zeo memang mulai menerapkan semua perkataan dokter. Ntah lah, Zeo juga tak tau mengapa ia melakukan itu. Ia hanya merasa membuncah, senang, bangga dan merasa bertanggung jawab terhadap anak yang berkemungkinan menjadi anak-anaknya. Dan tentu saja Adhira.


"Gue bilang nggak ya nggak!" bentak Adhira.


"Bisa nggak sih lo itu nurut sama gue untuk masalah ini. Ini juga buat kebaikan lo juga kan."


"Kebaikan gue atau anak lo ini ha! Pokoknya gue gak mau, kalau lo mau minum aja tuh sendiri, gue ogah." teriak Adhira menghentakkan kakinya.


"Kalau perlu gugurin aja ini anak sebelum besar dan nyusahin gue."


"Adhira!"


"Apa! Lo marah? Atas hak apa lo marah sama gue? Emang iya kan? Kalau gak karena Mama yang larang gue gugurin ini anak, uda gue gugurin dari dulu. Tau lo."


"Gak punya hati lo." Desis Sandi tak habis pikir.


"Emang"


"Adhira!"


"Apa sih hah! "


"Minum susu nya Dhir" Kata Zeo mencoba sabar.

__ADS_1


"Gak" Bentak Adhira keras


"Turutin gue untuk kali ini kenapa sih Dhir, apa sesusah itu?" Kata Zeo menurunkan nada suaranya.


"Iya, sesusah itu, emang kenapa? Lagian gunanya gue ngelakuin banyak usaha buat bunuh diri dan gugurin nih anak apa dong kalau akhirnya gue ngikutin aturan lo hah?"


"Adhira Stop! Ok, kalau memang lo gak mau minum, ,Yaudah, sebelum gue kehilangan kendali ya." Kata Zeo mengatur emosinya. Ia meletakkan susu buatannya ke meja bar dapur,


Adhira yang melihat Zeo mengalah pun tersenyum culas, ia merasa menang, merasa dituruti, merasa setinggi langit.


"Huh, nyerah juga kan lo"


"Ya. ya. ya, Terserah lo, gue pusing, terserah lo mau ngapain. Asal lo bisa jaga kandungan lo gue gak masalah" Kata Zeo akhirnya, kepalanya ousing terus adu mulut dengan Adhira.


" Ngejaga? Lo pikir gue selama ini pasrah-pasrah aja gitu ngalami morning sickness yang gila kayak gitu, gak selera makan, gak bisa tidur, lepas sekolah, jadi bahan bulian temen-temen gue, jadi cibiran tetangga gue. Iya ha! Lo pikir gue masih nurutin kemauan lo buat jaga dia"


"Apa yang lo lakuin sama anak-anak gue, Adhira" desis Zeo saat menyadari arah pembicaraan Adhira.


"Sialan lo," Zeo mengambil susu yang tadi ia buat, lalu melempar gelas susu ditangannya itu kedinding.


Suara pecahan yang kuat itu Membuat Adhira terlonjak kaget. Mata Perempuan itu tampak membulat ketakutan, namun ia berusaha menatap nyalang suaminya yang disulut emosi didepannya. Tak mau kalah pamor dengan suaminya itu.


"A-apa jangan pikir gue takut ya sama lo" Tantang Adhira.


Zeo berdecih, lalu pergi dari hadapan Adhira sebelum kembali kelepasan.


Adhira yang ditinggal pun menunduk, ia melihat lantai dapurnya yang penuh pecahan beling dan susu. Namun ia berusaha tak peduli. Memaki kepergian Zeo dengan banyak sumpah sarapah.


***


Aura permusuhan mereka masih berlanjut bahkan sampai malam hari tiba, Ini sudah jam 10 malam, dan Adhira masih sibuk berselancar di media sosial ketika Zeo masuk ke kamar untuk mengambil jaket dan bantal disamping Adhira yang sedang memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Lo mau ngapain?" Adhira langsung menatap Zeo nyalang. Ah, walaupun mereka sudah resmi menikah dua minggu terakhir, namun tak sekalipun mereka tidur disatu ranjang yang sama. Selama dirumah Adhira dulu, Zeo tidur dilantai beralaskan baju atau jaket tebalnya, begitupun kala mereka pindah di apartemen ini. Zeo tidur di sofa ruang tamu yang hanya cukup untuk setengah badannya. Ntah lah, Adhira enggan kasihan dan Zeo enggan membuat masalah.


"Lo beneran mau ngapain Ze, keluar sana!" Teriak Adhira duduk dari acara berbaringnya.


Zeo melengos, tak terusik sama sekali oleh tatapan dan teriakan Adhira. Pemuda itu memakai jaketnya, mengambil laptopnya dan langsung membanting pintu kamar dengan keras.


Adhira mendengus, merasa sangat tak peduli dengan Zeo yang sedang marah padanya.


"Bocah" decih Adhira sambil terus memainkan ponselnya sampai matanya memerah karena mengantuk namun, bahkan sampai jarum jam menunjukkan angka 11, Adhira juga tak bisa tidur.


Ia mengerang frustasi karena matanya berat namun kesadaran tak segera melayang kealam mimpi, saat menutup matanya dengan bantal ia justru terbayang bakso pedas kesukaannya secara tiba-tiba. Adhira melirik perutnya yang tertutup piyama. Ia memutar matanya ketika tau siapa dalang dibalik kefrustasiannya ini. Ini pasti ulah anak Zeo, ia mengidam. Sial.


"Lo itu jangan aneh-aneh ya, gue tuh capek mau tidur." monolog Adhira kepada perutnya. Perempuan berpiyama Dora itu bahkan menekan perutnya jengkel.


"Lo pikir gue mau nurutin lo gitu? Jangan harap deh." dengus Adhira mencoba menutup matanya kembali, tapi percuma saja hal itu menjadi usaha yang sia-sia.


"Ck, lo itu anak Zeo beneran ya. Sama-sama brengseknya, oh Kayaknya lo perlu ngerasain apa itu nanas muda deh biar tau rasa " Kesal Adhira bangkit dari tempat tidurnya. Ia menghentak-hentakkan kakinya kesal. Dalam pikirannya sudah membayangkan apa yang terjadi dengan anak Zeo ini jika ia benar-benar memakan buah nanas muda yang dijual tak jauh dari toko buah dekat apartement nya ini.


Apa anak Zeo dalam kandungannya itu akan luruh dengan dramatis, atau justru akan langsung mati didalam sana, Ck, kenapa ide cemerlangnya ini tak terlintas sejak dulu ya, kenapa pula ia yang rela mengiris nadinya dan membenturkan kepalanya sampai menyisahkan bekas jahitan permanen ini.


Tapi saat memikirkan ulang pemikirannya, Adhira berdecak senang, ah, ia tak sabar ingin segera mencobanya. Kira-kira seperti apa ya reaksi Zeo saat tau calon anaknya luruh nantinya.


Hu. huhuu, Adhira berjingkrak senang. Senyum culas terpancar dibibirnya.


"You lose Ze," Bisik Adhira menepuk perutnya yang rata namun agak keras itu.


Perempuan itu membuka pintu kamar dengan riang sambil menyusun banyak rencana dikepalanya, seperti bagaimana ia bisa menghabiskan banyak nanas muda itu, atau bagimana ia mengejek Zeo yang kalah nantinya.


Omong-omong, jika Zeo tadi pagi memaksanya untuk meminum susu dan mengubah pola hidup yang sehat, Maka malam ini, Adhira akan melakukan hal yang sebaliknya.


Ah, senangnya.

__ADS_1


__ADS_2