
"Adhiraaaaa" Teriakan itu membuat Adhira tersentak, perempuan yang sedang meminum susu hamil itu bahkan sampai tersedak sangking terkejutnya.
"Uhuh-uhuk"
"Eh-eh, Feb tolongin Feb," Windi langsung panik, ketiga gadis berseragam SMA itu mulai heboh dan saling menyalahkan.
"Elo sih"
"Kok guez yang teriak kan elo"
"Udah-udah, Dhir, Minum dulu dhir," Kata Intan yang memberi Adhira air minum dan mengusap pundak perempuan itu.
"Sori Dhir, kita-kita gak sengaja" kata Windi setelah Adhira bernafas lega.
"Iya Dhir, suwer!" Tambah Febi.
Adhira mendengus "Kalian kok kesini? Masih pakai seragam lagi?" kata Adhira tak memeperdulikan permintaan maaf teman-temannya.
"Em," Ketiga temannya saling berdehem mereka melirik satu sama lain.
"Kenapa? "
"Mama lo bilang lo sedih karena mamanya Devi, jadi kita langsung kemari habis dari bimbel. Mau ngehajar mereka biar lo gak sedih, " kata Intan duduk disebelah Adhira.
"Iya, Dhir, ih, najis banget gue sama tetangga depan lo itu Dhir, najis senajis-najisnya. Dia belum tau aja kelakuan anaknya disekolah" kata Febi menggebu.
Adhira tertawa, "Kayak berani aja lo pada."
"Dih, ngeremehin kita dia Ntan, Win." kata Febi.
"Gini-gini kita bertiga ini dikenal sebagai kakak kelas yang garang tau disepenjuru sekolah. Siapa sih yang berani sama kita" tambah Febi yang langsung mendapat cubitan dari Intan dan Windi.
"Sakit monyong" katanya mengelus lengannya yang menjadi sasaran cubitan Windi dan Intan.
"Lo pada kenapa sih-"
Windi langsung mengkode Febi untuk melihat Adhira. Menyadari wajah ceria Adhira berubah total setelah Febi menyebut sekolah. Febi pun langsung terdiam. Ia lupa kalau Adhira sensitif sekali masalah sekolah.
"Em- lupain, lupain tentang segala hal. Sekarang kita mau nginep disini Dhir, besokkan lo ulang tahun tuh jadi kita pengen ngasih lo kejutan besok." Kata Windi cengengesan.
"Kalau uda lo bilang itu namanya bukan kejutan lagi dodol." kata Intan kesal.
Adhira yang melihat keributan itupun tertawa, sejenak ia melupakan kesedihannya tadi. Ia rindu sekali dengan ketiga temannya. Apalagi seminggu ia dirumah ia seperti di apartemen, terkurung tak bisa kemana-mana, ya, walaupunbedanya dirumah ada mama yang selalu mengajaknya mengobrol. Namun bagi Adhira itu tetap saja membosankan. Apalagi masalah dengab tetangganya semalam. Duh, Adhira kian merasa kesepian.
"Yehh, ya kan, biar Adhiranya bisa mengantisipasi" Celetukan Windi itu membuat senyum Adhira kian lebar.
"Kalian beneran nginep kan? Terus sekolah kalian gimana? Besokkan masih Rabu." tanya Adhira, namun ada nada berharap yang sulit ditutupi. ia ingin teman-temannya menginap. Mengurung diri dirumah selama seminggu membuatnya semangat dengan rencana teman-temannya.
"Kita kan nginep ini malam, sekolah mana buka malam-malam Dhir." kata Febi.
"Astaga, astagfirullah, Febi maksud Adhira itu kita besok sekolah nya gimana?" jelas Intan.
__ADS_1
"Ya sekolah lah, kayak baru perdana nginep aja. Pagi kita berangkat dari sini" kata Windi menjatuhkan tubuhnya keranjang.
"Kotor dodol, ganti baju dulu." tarik Intan menarik Windi.
"Yaelah sabar napa."
Adhira tertawa, ia mengusap matanya yang mulai berair.
"Loh-loh ini anak malah nangis segala. Kenapa atuh neng?" Tanya Windi menghentikan keributan.
"Dhir lo kenapa? Perut lo sakit? Kenapa Dhir?" tanya Intan khawatir.
"Dhir lo mau lahiran atau gimana, gue panggil mama lo ya." kata Febi yang sudah akan beranjak
"Gue kangeen kalian huhu." tangis Adhira.
Ketiga temannya yang awalnya khawatir pun langsung berdecak.
"Ck, lebay banget sih." ketus Windi namun tak urung gadis itu memeluk Adhira yang diikuti Intan dan Febi. Mereka melepas rindu dengan pelukan yang hangat.
****
"Jadi baby lo sama Zeo kembar?" kata Febi akhirnya setelah Adhira mencurahkan semua isi hati dan unek-uneknya pada ketiga temannya.
"Kok bisa ya, apa dikeluarga lo ada keturunan kembar Dhir? Ini buat babynya kan sekali pas waktu di Bar itu doangkan atau- Aduh, Dhir, sakit tau" Ringis Febi saat Adhira melempar bantalnya dengan kesal.
"Elo, calon emak-emak dilawan" Sungut Intan.
"Intan, ih, gue masih muda"
"Tapi seriusan Dhir, Itu anak lo kok bisa kembar?"
"Ck, kok itu sih yang lo pikirin, bukan itu poin pentingnya tau. Lagian ini nih anak Zeo, bukan anak gue ih" dengus Adhira.
"Ck, iya-iya anak Zeo. Tapi sabar dulu dhir, bukannya kembar itu bisa dari keturunan ya? " kata Febi lagi.
"Ish, ya nggak harus juga lah, tante gue itu ya nggaklah, dia sama suaminya gak ada tuh keturunan kembar tapi anaknya kembar. Itu faktor makanan juga." kata Intan menjelaskan.
"Yeh, Adhira loh makan nya gak pernah yang bergizi dari dulu. Dia loh maniak bakso, kalau Dhira makan nya yang kayak umbi-
"Adik Zeo kembar, udah. Kenapa kalian jadi mikirin kenapa anak Zeo ini kembar sih. Ish" kesal Adhira.
"Kembar wah,"
"Sori Dhir."
"Dhir ntar kalau anak lo lahir manggil gue aunty feb boleh."
"Febi, diem dulu kenapa, kita mau curhat ini." kesal Windi yang membuat Febi memberengut.
"Tapi Zeo gak kasar sama lo kan Dhir? Kayak mukul gitu?" tanya Intan.
__ADS_1
Adhira terdiam, ia mengingat perlakuan Zeo padanya. Walaupun pemuda itu kadang bertindak kelewatan dan kasar,namun ia akan baik kalau Adhira tidak berulah. Seperti menurut ketika disuruh makan.
" Kalau nampar termasuk kasar nggak."
"Hah, seriusan lo, bangsat yang satu itu"
"Tapi itupun kalau gue berulah sih."
"Hah, sebentar-bentar gue gak mudeng. Zeo nampar lo kalau lo berulah emang lo ngapain? Jangan bilang lo mau bunuh diri atau sejenisnya?"
Adhira meringis, "Gugurin kandungan tepatnya."
"Nah, kalau ini sih lo yang bangsat Dhir, serius. Kali ini gue dipihak Zeo. Kalau gue jadi Zeo juga gue pasti bakal kayak gitu" kata Windi yang diangguki Intan dan Febi.
"Iya, Gugurin kandungan itu gak baik tau Dhir,"
"He'em, cukup-cukup sekali aja lah, lo mau bunuh diri waktu itu. Please lah Dhir, please"
"Kok kalian jadi bela Zeo sih."
"Ya emang karena dia wajib dibela. Nih ya Dhir, gue bukannya mau nyudutkan lo. Tapi ya anak kalian ini kan gak salah apa-apa, jadi lo-
"Anak Zeo Win, bukan anak gue. Gue ogah."
"Nah tuh kan, emang bangsat lo Dhir, itu anak lo loh. Dimana-mana itu kalau ada kasus kayak lo sicewek yang mohon-mohon sama sicowok biar mau tanggung jawab dan mau nerima anaknya. Kalau lo kebalik, malah Zeo yang sayang sama anak kalian Ya kan? Berarti yang waras dihubungan kalian itu ya Zeo, Lo yang sinting kayaknya Dhir."
"Iya Dhir, lo ya nggak bisa gitu juga lah Dhir . Mau gimana pun kan lo itu istri Zeo, mau jadi mama lagi. Sesekali kurangi lah sedikit sikap egois lo. Kayak mana pun lo harus bisa nerima Zeo dan anak-anak kalian."
"Gue setuju sama Febi sama Windi Dhir, lo boleh benci Zeo, lo boleh nggak nganggap Zeo, tapi please, jangan bawak-bawak anak kalian" Tambah Intan yang tadi diam saja.
Adhira menatap ketiga temannya dengan kecewa, kenapa ketiga temannya jadi menyalahkannya sih? Kenapa mereka tak membela dan berusaha mengerti posisinya.
"Kok kalian jadi ngatain gue sih, kalian aja gak ngerasain gimana kehidupan gue, gue muak liat dia, gue muak liat dia ngatur-ngatur gue. Gue selalu inget kebejatan dia sama gue dan anak ini, kalau gak karena ada mereka gue masih bebas sekarang, gue gak perlu dikatain sama mereka, gur gak perlu dikeluarin dari sekolah. Gue cerita ke kalian itu biar hati gue tenang, tapi Kalian- hiks." Adhira tergugu.
Ketiga temannya saling pandang dengan raut bersalah.
"Sori Dhir, kita yang salah, kita yang terlalu menghakimi. Sori" kata Intan merangkul Adhira.
"Iya Dhir, kita gak maksud gitu." tambah Windi yang diikuti Febi.
Adhira terisak-isak, ia menatap gelas susu nya yang masih tinggal setengah. Perempuan itu diam saja dan enggan merespon ketiga temannya.
"Gue mau tidur, " Kata Adhira lalu melepas rangkulan Intan, Febi dan Windi.
Ia mengambil bantal lalu menarik selimut. Meninggalkan ketiga temannya yang merasa bersalah.
Perempuan itu benar-benar marah.
***
Hm, Menurut kalian gimana sama girl's talk kali ini.
__ADS_1
Setuju sama pendapat teman-teman Adhira atau justru ngertiin posisi Adhira hm?
Buat jawaban kontak Zeo di hp Adhira semalam, banyak yang bener ya.. Id kontaknya. Bajingan.