
Namun saat pembicaraan Zeo dan gengnya sudah membawa nama Adhira dan dirinya. Panji rasa ia harus ikut campur.
Panji mengepalkan tangannya, ia harus meluruskan masalah ini. Ia harus menemui Adhira segera. Harus.
***
Dan sekarang disini lah Panji, didepan rumah pujaan hatinya yang sudah berpacaran hampir 3 tahun dengannya. Adhira.
Panji bukanlah orang yang mudah terkena hasutan, ia akan mencari kebenarannya dengan teliti, karena itulah ia sekarang disini, untuk meminta penjelasan Adhira dari pembicaaran Zeo dan gengnya.
Panji sudah berpacaran lama dengan Adhira, bisa dibilang mereka adalah hubungan nyata sahabat menjadi pacar, Adhira adalah teman TK-SMP Panji, sebelum akhirnya memutuskan berpacaran saat ia kelas 3 SMP dulu.
Karena mereka sudah kenal sejak kecil, dan sudah terlalu akrab, terlalu percaya, terlalu saling menyayangi. Baik Adhira maupun Panji sendiri tak pernah menuntut banyak hal ketika berpacaran. Apalagi mereka pernah LDR saat Panji sekolah di Jakarta selama 2 tahun. Mereka jarang jalan bareng, jarang ngedate bareng, bahkan kata ganti keduanya masih menggunakan, 'Lo-gue' karena terlalu geli untuk memanggil 'aku-kamu' layaknya orang pacaran lainnya.
Panji tak pernah menuntut Adhira untuk terpaku padanya, Panji tak mengekang Adhira, itu semua karena ia tau. Adhira adalah gadis populer disekolahnya. Adhira adalah sosok sempurna untuk standar perempuan idaman. Cantik, pintar, mandiri, pemberani dan yang paling Panji suka adalah Adhira tak pernah oteritir padanya.
Panji adalah remaja nakal yang terkadang terbawa arus pergaulan bebas, tapi Adhira tak pernah menghakiminya. Gadis cantik dengan banyak prestasi itu bahkan tak pernah menjudge nya buruk. Adhira hanya menerapkan kalau Panji sedang bersamanya. Jalan bersamanya, Panji tak boleh membawa pengaruh buruk itu padanya.
Semisal Rokok,
Adhira bukan tipe pacar yang memarahinya untuk berhenti merokok, Adhira adalah tipe pacar yang memegang semboyan 'Kamu boleh ngerokok, kamu boleh nakal, tapi jangan didepan ku'
Karena itu. Panji sangat mencintai gadis itu, Panji bahkan rela pindah kembali ke Bandung dan sekolah dengan sungguh-sungguh demi Adhira, agar gadis itu tak malu bersanding dengan berandalan sepertinya.
Agar ia pantas untuk Adhiranya.
Adhira adalah alasan Panji terus berubah dan berjuang menggapai tujuannya.
Tapi-
Panji memejamkan matanya untuk mengatur ekspremi dan emosi hatinya dulu sebelum melemparkan senyum saat Mira membuka pintu rumah untuknya.
"Malam tante," sapa Panji ramah.
Mira sempat tercekat karena tak menyangka Panjilah yang akan bertamu. Dan ekspresi itu dilihat oleh Panji.
"M-malam Panji, sini masuk."
"Em, gak usah Tan, panji cuma sebentar kok, cuma mau ngomong sesuatu ke Adhira. Adhiranya ada tan?"
Mira mengangguk kaku, "Em itu, iya ada kok, sebentar ya!" kata Mira lalu berlalu pergi.
Panji tercenung sesaat, Penyambutan Mira sangat berbeda dari biasanya. Panji bahkan tak menangkap wajah ceria yang ia dapat jika ia datang berkunjung.
Panji menggeleng, mencoba membuang semua pikiran buruknya.
__ADS_1
***
Adhira yang sedang malamun dikagetkan dengan kedatangan mamanya yang tergesa-gesa.
"Kak, ada Panji dibawah." dan satu kalimat itu berhasil membuat adhira kian tak bedaya. Nafasnya tercekat, ia bahkan sempat tercenung lama denhan pikiran kosong. Namun dengan keberanian yang ntah ia dapat dari mana, Adhira langsung turun kebawah setelah menyisir rambutnya.
Sesekali Adhira berhenti melangkah saat pusing dan tubuhnya yang lemas seperti akan tumbang begitu saja.
"Dhir" panggilan lembut Panji itu membuat Adhira mendongak.
Panji tercekat, Adhiranya tampak berbeda, ia tampak sangat pucat, pandangan sendu dengan kantung mata menghitam, mata memerah dan tubuh yang kian kurus serta pergelangan kiri gadis itu yang masih diperban. Adhira seperti orang depresi.
"Dhira lo kenapa?" Panji langsung merengkuh kekasihnya itu kedalam pelukannya.
Adhira tak bersuara, tapi ia mencengkram erat jaket Panji, ia ketakutan, ia ingin mengadu, dan ia menangis lagi.
"Gue gak papa, lo uda selesai ujian nya?" Tanya Dhira lemah disela isakannya.
Panji mengangguk masih dengan memeluk Adhira. Melihat hancurnya Adhira sekarang tanpa perlu bertanya pun Panji sudah tau jawabannya.
"Dhir?" panggil Panji pelan.
"Hm?" kata Adhira masih betah mendengar detakan jantung Panji yang berirama.
Adhira tercekat. Ia hendak mundur untuk melepas pelukan mereka tapi Panji enggan melepaskannya. pemuda itu memeluknya kian erat.
"Gini dulu, gue kangen banget." bisik Panji serak.
Adhira diam saja, tapi pikirannya penuh dengan banyak pertanyaan. Apakah Panji akan menerimanya.
"Pan, g-gue-"
"Gak perawan? Its ok, gue gak memepersalahkan itu." tukas Panji cepat. bahkan terlalu cepat untuk ukuran kekasih yang sudah tau di khianati.
Adhira membeku, apa Panji sudah tau.
"Pan-"
"Jangan tanya gue tau darimana Dhir, gue bakal tetep sayang sams lo gue bakal tetep nerima lo apapun keadaannya. Gue sayang lo" Adhira dapat merasakan sesuatu menetes dipucuk kepalanya. Panji menangis.
"Gue sayang lo Dhir,"
"Pan"
"Panji"
__ADS_1
"Gue gak denger-"
" Panji dengerin dulu"
"Gue bilang gue gak denger, gak denger, gak-
"Gue hamil" Kata Adhira memejamkan matanya.
Panji tercekat, ia langsung melepas pelukannya. Ia menatap Adhira yang sudah bercucuran air mata.
"Lo apa?"
"Gue hamil, jadi lo bisa pergi sekarang, kita putus ok." Kata Adhira sesenggukan.
Panji masih terdiam, namun tangannya terkepal kuat.
"Siapa?"
"SIAPA!" bentak Panji mengguncang bahu Adhira yang ringkih.
Adhira hanya menangis.
Panji mengacak-acak rambutnya, pikirannya bercabang, ia tahu pasti Ayah anak Adhira itu siapa. Siapa lagi kalau bukan Zeo. Tapi Panji seolah masih berusaha menyangkalnya. Ia tak terima.
Panji menatap Adhira yang menangis, ia lalu berlalu pergi begitu saja. Ia harus menemui Zeo secepatnya.
Yah, secepatnya.
Pemuda itu bahkan tak menyadari bagaimana hancurnya Adhira yang melihat kepergiannya.
Adhira sangat terpukul, Panji bilang ia akan menerima Adhira apapun yang terjadi tapi pemuda itu pergi begitu saja setelah mengetahui faktanya. Adhira masuk kekamarnya, bahkan panggilan mama ataupun Ayahnya tak ia dengar.
Adhira menangis lagi, ia masuk kekamar mandi, menguncinya, menghidup kan shower air, Adhira memukul-mukul dadanya untuk menghilangkan sesak yang menghimpit.
Adhira menenggelamkan kepalanya kebak mandi sampai kesusahan bernapas. Ia lakukan itu berulang-ulang kali sampai tubuhnya jatuh kelantai karena lemas.
Tubuhnya menggigil, kepalanya pusing tapi rasa ingin mengakhiri hidup terus merajainya. Adhira menangis cukup lama.
"Akhhh" tangisnya meraung, ia lalu menatapkan kepalanya kedindinng kamar mandi.
Menjambak rambutnya dan kembali menatapkan kepalanya ke dinding, hal itu terus ia lakukan sampai bau anyir menusuk hidungnya. Ada darah kental merembes dari kepalanya. Lalu jahitan dipergelangan tangannya yang basahpun terbuka, terasa sangat perih.
Adhira tersenyum diantara sakit luar biasa yang ia rasa. Ia telah menyelesaikan masalahnya, pikirnya sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.
****
__ADS_1