EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-47 Respon yang tak diharapkan


__ADS_3

Zeo mengangguk, ia akan menghubungi mama dan adik-adiknya terlebih dahulu. Lalu akan mengabari ketiga temannya yang saat ini ntah berada dibelahan dunia mana.


****


Zeo langsung menjambak rambutnya begitu keluar dari ruangan dokter dengan pikiran berkecambuk, dilihat dari penampilannya saja laki-laki yang baru saja menjadi ayah selama seminggu itu sangat tertekan dan bingung.


Sedangkan baik keluarga Adhira maupun keluarga Zeo yang baru tiba hanya bisa saling melirik dan ikut kasihan.


Tadi, karena semua keluarga berkumpul, semua orang memohonkan agar bayi-bayi Zeo bisa diangkat keluar dari inkubator untuk dipertemukan dengan Adhira yang baru sadar. Tentu saja masih dengan pengawasan Dokter. Kata orang, pertemuan antara ibu dan anak dapat memperkuat kondisi mental mereka. Itu jugalah yang diharapkan Zeo dan keluarga.


Mereka juga ingin memberi kejutan terutama untuk Adhira, karena mereka semua tau kalau Adhira sedikit terganggu psikisnya jadi keluarga Zeo dan Adhira berencana menemukan Adhira dengan anak-anaknya. Berharap dengan begitu stress yang sempat dialami Adhira berkurang.


Namun, kejutan itu berakhir mengerikan ketika Adhira tiba-tiba mengamuk dan berteriak histeris dikeluar kendali begitu melihat anak-anak nya. Kemiripan yang kentara antara Zeo dan kedua anaknya membuat Adhira hampir melempar bayi-bayi itu kelantai jika saja tak banyak orang mencegah. Untung saja semua reaksi keluarga dan kerabat yang menjenguk sangat cepat, mereka langsung menjauhkan bayi-bayi malang itu dari amukan ibunya sendiri.


Zeo hampir kelepasan emosi saat itu, namun untungnya emosi itu dapat dikontrol ketika kakekya yang dulu berprofesi sebagai dokter mencegahnya dan menyuruh Zeo berkonsultasi.


Dan sekarang, Zeo hanya bisa menatap lantai dengan kosong begitu seorang psikolog rumah sakit mendiagnosa Adhira.


Perempuan itu menderita postpartum depression atau yang lebih dikenal dengan depresi pasca melahirkan. Hal itu disebabkan karena banyak hal, diantara nya stres dan tekanan psikis selama hamil, kehamilan diusia muda, pola hidup yang tidak sehat, kelahiran prematur dan banyak lagi.


Hal-hal itu membuat Adhira tidak bisa mengatur mood nya dengan baik, tidak bisa menghasilkan ASI karena tekanan psikis dan juga terkesan membenci anak-anaknya.


"Setelah anak-anak kamu bisa dibawa untuk perjalanan dalam pesawat, kita akan ke Jakarta agar baik anak-anak kamu dan Adhira mendapat penanganan yang lebih baik lagi." kata Papa Zeo yang tak tega melihat putra nya yang biasanya pemberontak itu tampak tak berdaya. Terus menunduk dengan wajah yang lusuh.


Zeo mengangguk, "Hm," kata Zeo dengan pandangan kosong.


Sungguh, hal ini semua diluar perencanaannya. Zeo merasa bersalah dengan Adhira karena membuat perempuan itu berada dalam posisi ini sedangkan Zeo mengasihani anak-anaknya yang lahir prematur dan tidak bisa merasakan dekapan ibunya.


"Apa yang Obaachan bilang, Abazure (Jala*g)itu tidak ada gunanya. Bahkan setelah melahirkan pun masih menyusahkan. Mungkin akibat selalu melawan suaminya." kata Nenek Zeo yang untungnya berbicara dengan bahasa jepang dan tidak dimengerti oleh ayah dan mama Adhira, mungkin jika saja mereka tau kalau putrinya sedang dimaki sudah pasti akan terjadi pertengkaran hebat antar keluarga.


"Okasaan! Jangan keterlaluan. " bentak Papa Zeo untuk pertama kalinya. Pria paruh baya yang selalu tunduk pada mamanya itu tak terima begitu menantunya dihina disaat seperti ini. Adhira mengalami tekanan psikis ini juga karena mereka. Tak seharusnya ada orang yang menjudge Adhira seperti itu.

__ADS_1


"Nande (Apa) Kamu gak terima menantu mu ibu bilang begity iya? memang iyakan, mana ada perempuan baik-baik yang melawan dan membenci anak-


"OBAACHAN!" Bentak Zeo yang membuat semua orang terkejut.


"Bisa nggak Obaachan diam, Obaachan itu nggak punya perasaan sama sekali . Sudah berapa kali Zeo bilang Adhira bukan Abazure dan sekarang dia lagi tertekan karena ulah Zeo. Kalau emang Obaachan cuma mau ngehina istri Zeo. Dan ngasih pengaruh buruk untuk keluarga kecil Zeo.Lebih baik obaachan pulang sekarang."


"kamu-


"PULANG ZEO BILANG " Amuk Zeo menatap neneknya bengis.


Melihat keributan yang terjadi dari pihak besannya, Ayah dan mama Adhira hanya menatap saling kebingungan. Pasalnya keluaraga Zeo terus berbicara menggunakan bahasa ibu mereka yang sama sekali tak mereka mengerti.


"Zeo-kun, tenang nak." kata mama Zeo setelah nenek Zeo akhirnya dipaksa dibawa pergi keluar.


Zeo menunduk, laki-laki itu mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh. Sial, hati dan jiwanya sedang tak baik-baik saja, dan Obaachannya membuat pikirannya kian kusut. Tak bisakah neneknya itu mengerti hatinya masih sakit luar biasa saat melihat bagaimana respon Adhira yang hampir membanting bayi lemahnya didepannya.


Tak bisakah neneknya memahami posisinya yang kacau karena anak-anaknya harus mendekam di inkubator lebih lama dan istrinya yang mendapat tekanan mental pasca melahirkan.


"Kalian juga, maafin Oniisan ya" kata Zeo mengusap kepala kedua adik kembarnya yang tampak terkejut dengan pertengkaran yang baru saja terjadi. "Lain kali aja ya main sama Kak Adhiranya"


"Zeo oniisan!" panggil Zee begitu Zeo melangkah pergi.


"Ha'i (ya)" sahut Zeo pelan.


"Gishi kita is so beautiful" kata Zee dan Zea kompak.


Zeo terkekeh, "Yeah, she is so beautiful" kata Zeo tersenyum.


****


"Dhir, uda gak papa." Kata Zeo mengelus rambut Adhira yang terurai, perempuan itu tak menatapnya, tapi Zeo tau kalau istrinya itu sedang menangis.

__ADS_1


"Lo mau makan? Atau apa gitu biar gue ambilin ya."


"Dhira" tegur Zeo melembut.


Mendengar panggilan lembut itu Adhira menoleh menatap Zeo"Ze hiks, g-gue gak maksud buat buang mereka" tangis Adhira tersendat-sendat.


Dan Zeo merasakan sesak didadanya saat melihat mata sembab Adhira. Pasti berat sekali menjadi Adhira, mendapat tekanan sana-sini, padahal respon tubuhnya yang ingin menjauhkan anaknya itu merupakan respon alam bawah sadarnya yang trauma akan pertengkaran-pertengkaran mereka sebelumnya.


"Iya gue ngerti," kata Zeo mencoba lebih lembut. Kata dokter Adhira tidak bisa dikasari, perempuan itu harus selalu dijaga moodnya dengan baik dan berusaha diajakĀ  berbagi cerita agar mengurangi kadar depresinya.


"T-tapi hiks " Adhira tersedu. Zeo tau kalau Adhira merasa sangat dikucilkam karena ketika ia refleks melepaskan gendongan bayinya tadi semua orang berteriak dan memarahinya. Jiwa Adhira sangat terguncang karenanya.


"Uda-uda, jangan nangis, ntar jahitan perut lo sakit lagi" kata Zeo mengingatkan Adhira tentang jahitan caesar nya.


Adhira terisak, berusaha mengurangi tangisnya. "Tapi, gue gak sengaja Ze hiks"


"Iya-iya, gue percaya sama lo" Kata Zeo memeluk Adhura pelan, takut melulai perut Adhira yang jahitannya masih basah.


"Tidur ya, biar lo cepet pulih." kata Zeo mengelus-elus rambut Adhira.


"Tapi gue-


"Stt, apapun kata mereka, gue percaya sama lo Dhir,"Bisik Zeo, "Sekarang tidur ya"


Adhira yang memang kelelahan pun perlahan memejamkan matanya mengantuk dan tertidur.


Begitu melihat Adhira yang tidur, Zeo meraih tangan Adhira yang masih ddibelit selang infus. "Maafin gue dhir " bisik Zeo mencium tangan Adhira lembut.


"Gue bakal tebus semua kesalahan gue ke elo seumur hidup gue." kata Zeo sungguh-sungguh.


****

__ADS_1


__ADS_2