
Note: Semua dialog dalam bab ini berbahasa Jepang, Jadi ada beberapa kata atau kalimat baku sebagai pendukung.
*****
Toronto, Kanada
"Jadi?" Tanya Pemuda Jepang itu penasaran, menatap kekasihnya dengan raut permohonan.
"Positif" Kata Perempuan yang baru keluar dari kamar mandi itu dengan serak, siap menangis. Tubuhnya lemas begitu benda pipih ditangannya menunjukkan hasil yang tak mereka harapkan.
Mereka baru saja putus, tapi kesialan seolah masih berpihak kepada keduanya.
" Kusso!" Desis si Pemuda dengan pelan. (Sialan).
"Kenji-hiks,"
Pemuda yang dipanggil Kenji itu menendang meja nakas dengan kesal, meluapkan amarahnya. Lalu lama keheningan menerpa, sebelum tangisan tertahan si perempuan menjadi isakan kuat yang meyayat hati.
"Apa kita akan menikah?"
"Menikah? " Tanya Kenji tak percaya, "Kita baru saja putus Nana chan, " Sentak Kenji tak habis pikir.
"Tapi aku hamil!!!"
Kenji terdiam lagi, pemuda berdarah Jepang itu tampak frustasi, "Nana-Gomen" (Maaf Nana)
"Kenapa hiks?"
"Aku Sungguh tidak bisa Na, Aku tidak tertarik dengan pernikahan." Kata Pemuda Jepang itu dengan sesal. Dan setelah kalimat itu terucap, suara pecahan parfum mahal menggema menabrak dinding.
"Kamu- Setelah aku ada diposisi kayak gini kamu berani bilang kalau kamu gak punya ketertarikan dalam pernikahan hah, hiks"
"Nana- aku, aku beneran gak bisa-
"Jahat, kamu jahat"
"Nana-chan, gomen (Maaf)" Bisik Kenji datar,
"Hiks, Jadi gimana? Kuliah ku? Aku masih mau kuliah hiks, Ayahku bakal marah kalau tau masalah ini" Tangis Nana meyayat hati.
"Kita gugurin ya" Kata Kenji tegas.
"Tapi-
"Kamu masih mau kuliah kan?" Potong Kenji tak sabar.
Nana mengerjap, sebelum mengangguk dengan yakin. Ia tak mau menderita hanya karena bayi sialan ini diperutnya. Jika mantan kekasihnya saja dengan mudah menolak kehamilannya, maka ia pun bisa melakukan hal yang sama.
***
"Nana, jangan kekanakan!" Bentak Kenji ketika Nana lari dari rumah klinik tempat mereka akan aborsi.
"Karenina Tanaka!" Bentak Kenji menarik tangan Nana yang masih saja berusaha kabur.
"N-nggak, nggak Kenji, nggak.. kamu mau aku mati kayak perempuan tadi? kamu mau aku berdarah-darah kayak perempuan tadi hah, nggak Kenji, nggak hiks, aku mau pulang, aku mau pulang hiks. Tolong" Nana memohon, tubuh perempuan itu luruh kebawah sangking gemetarnya. Ia memeluk kaki Kenji, memohon untuk mengurungkan niatan mereka ketika melihat banyaknya darah dan jeritan perempuan-perempuan aborsi didalam sana.
Mereka memang nekat melakukan aborsi, tapi karena mereka orang asing sekaligus mewanti-wanti koneksi orang tua mereka di Jepang, mereka memilih klinik ilegal yang jauh dari kampus dan apartemen mereka.
"Kenji hiks, aku mohon, aku mohon Kenji, aku takut hiks"
Kenji mengusap wajahnya, ia lalu ikut menunduk dan mencium pelipis mantan kekasihnya. Tak tega dengan tangisan sang mantan pacarnya itu.
Dalam diam, pemuda itu menggendong tubuh lemah Nana kemobil mereka, membawanya pulang ke apartemen dengan banyak pemikiran serta akal muslihat dikepalanya.
****
"Jadi kamu maunya gimana, ini sudah 3 bulan Na, Perut kamu makin besar. Kampus juga lama-lama bakal tau." Bentak Kenji ketika Nana lagi-lagi menolak aborsi.
Ini sudah tiga bulan berlalu semenjak mereka tau tentang kehamilan Nana, dan belum ada yang dapat kedua pasangan kekasih itu lakukan selain bertengkar, saling menyalahkan dan saling menghakimi. Dan selama itu juga mereka memilih mempertahankan kandungan itu karena Nana yang masih saja takut dan akan histeris jika dibawa keklinik.
"Terus aku gimana! Apa aku harus pasrah-pasrah aja waktu aku ngeliat dengan mata ku sendiri bagaimana para dokter gadungan itu penuh darah hah, kamu tega Ken? Kamu tega aku mati kayak perempuan waktu itu" Tangis Nana lagi. Tubuhnya gemetaran saat mengingat bagaimana perempuan bernasib sama dengannya yang akhirnya meninggaldan menjadi tangisan kekasihnya.
"Ya jadi gimana? Minun pil kamu gak mau, katanya sakitnya makin parah, ke klinik kamu kayak gitu." Kesal Kenji.
"Lama-lama muak aku sama kamu Na, kalau kamu memang mau pertahanin bayinya, yaudah pertahanin sana. Tapi gak usah bawa-bawa aku kedepannya" Ancam Kenji mengancam pergi.
"Kenji hiks, iya, iya, aku mau aborsi, " Nana yang ketakutan pun langsung memeluk kaki Kenji, memohon. Ia tak mungkin bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Yaudah, ke klinik itu lagi ya" Kata kenji kembali menunduk, memeluk Nana dengan penuh harap.
Nana menggeleng ribut, "Ke rumah sakit resmi aja ya"
Kenji menghela nafas kasar, "Kerumah sakit kamu bilang? Itu sama aja kita berserah diri sama orang tua kita bodoh. Rekam medisnya bakal ada terus di rumah sakit nantinya. Jejak kita juga bakal ketauan. Aku belum sehebat itu untuk ngelawan orang tua aku" Kata Kenji mencoba menjelaskan. mau bagaimana pun kedua orang tua mereka adalah orang-orang berpengaruh di Jepang. Walaupun mereka saat ini di Kanada dngan dalih kuliah. Tetap saja orang tua mereka bisa tau nantinya. Sepintar apapun mereka menutupi.
Nana terpaku, ia berpikir keras.
__ADS_1
"Kenji"
"Ya"
"Aku bakal lahirin anak ini,"
"Kamu gila hah-
"Aku bakal ambil cuti kuliah, dan setelah melahirkan. Baru kita buang anak ini ke panti asuhan. Ya. Kamu mau" Kata Nana sembab. "Aku janji, aku gak bakal ganggu kamu lagi nanti, setelah masalah ini selesai"
Kenji terdiam cukup lama, "Terserah kamu" Katanya akhirnya.
***
"Kamu yakin gak mau liat atau cium anak ini dulu, Ken, Dia laki-laki" Kata Nana memeluk bayinya. Ia baru saja melahirkan di apartemennya dengan bantuan dokter kandungan yang sudah diikat kontrak dengan Kenji selama kehamilan Nana.
"Aku uda liat" Kata Kenji datar, enggan peduli.
"Dia mirip kamu, Dia ganteng banget"
"Karenina Tanaka"
"Hiks, Satu minggu ya Ken, aku jaga dia sampai satu minggu ya, setidak biar dia kuat nanti"
"KARENINA!!!"
"hiks, i-iya, T-tapi kamu yakin mau buang dia. Dia masih kecil banget Ken"
"Nana, jangan kekanakan. Itu janji mu dulu"
Nana menangis kuat, ia memeluk bayi mungil yang masih menyusu padanya itu dengan erat.
"Kenji"
"Na- Jangan gini sayang, dia gak punya harapan sama orang tua kayak kita"
Nana mengangguk, masih menangis. "Kenji"
"Hm"
"Kamu gak mau kasih dia nama. Aku mohon" Isak Nana sedih.
Kenji mengusap wajahnya, ia lalu menatap bayi merah yang masih menyusu itu dengan kosong.
"Hm, aku mohon. Kamu otousan nya, kamu yang berhak kasih dia nama."
"Alzeo"
"Apa?"
"Namanya Alzeo, Alzeo immanuel." Kata Kenji yakin.
"Tanpa Takahashi dibelakangnya" Tanya Nana gemetar, putranya lahir tanpa marga ayahnya. Hati Nana sakitnya luar biasa.
"Tanpa Takahashi dibelakangnya" Kata Kenji yakin.
Dan sore hari itu juga, bayi mungil bernama Alzeo Immanuel itu merasakan dinginnya musim salju pertamanya didepan panti asuhan. Dengan tangisan sang mama yang terus mengiringinya.
*****
Setahun setelah itu, Nyonya Takahashi datang kepanti asuhan dengan wajah marah. Mengambil hak asuh cucunya setelah ia mendengar pengakuan Nana, mantan kekasih anaknya yang saat itu datang membatalkan pernikahan Kenji dengan kekasihnya yang lain.
Putri Tanaka itu berteriak kalau Kenji sudah memiliki anak dengannya, pergi meninggalkannya setelah ia depresi berat karena rasa bersalah pada bayi kecilnya.
Dan tepat di 12 bulan usianya, Alzeo Immanuel resmi menyandang nama Takahashi dibelakang namanya. Walaupun hal itu tanpa persetujuan ayahnya.
***
Diusia kelima tahun, orang tua Zeo resmi menikah. Mereka kembali bersama atas paksaan kedua pihak keluarga karena sepasang mantan kekasih itu sudah membuat malu nama keluarganya. Nama Kenji terlanjur dicap buruk karena kegagalan pernikahannya, sedangkan Nana mendapat diskriminasi keluarga karena walaupun di Jepang, keluarganya masih berdarah indonesia yang menjujung tinggi budaya timur.
Tapi walaupun begitu, Zeo kecil tetap tinggal bersama neneknya. Di Jepang. Tanpa orang tuanya yang setelah menikah memilih pindah kembali ke Kanada. Meninggalkannya dalam sepi, Meninggalkannya yang saat itu meraung mengejar mobil orang tuanya karena keduanya terus menyalahkan Zeo akan pernikahan mereka.
Zeo kecil selalu bertanya-tanya, kenapa okaasan dan otousan nya mengabaikannya. Tapi selalu dibalas tatapan kebencian oleh keduanya.
Sejak itu, Zeo memilih diam.
****
Didua tahun pernikahan orang tuanya, Zeo mendapatkan dua orang adik perempuan dari kedua orang tuanya. Namanya Alzea dan Alzee. Nama yang hampir sama dengannya. Begitupun nasibnya.
Karena setelah kelahiran adik kembarnya, orang tuanya bertengar hebat didepan matanya. Otousannya selingkuh. Okaasan nya depresi berat. Karenanya, akhirnya kedua bayi kembar itu diserahkan ke Nenek Zeo. Dirawat dengan keras sama seperti Nenek merawat Zeo.
Lalu tiga tahun setelahnya, kedua orang tuanya kembali bersama, sadar akan dosa mereka. Tapi sudah tak mampu mengubah rasa benci Zeo pada orang tuanya.
Ditambah, setelah bersama pun, orang tuanya tak berusaha mendekatinya dan adik-adiknya. Mereka justru pindah ke Indonesia. Lagi-lagi pergi meninggalkan anak-anaknya. Meninggalkan tanggung jawabnya.
__ADS_1
Zeo tak tau mengapa, namun dimasa SMA nya, otousannya memintanya datang dan bersekolah diindonesia, karena Zeo lelah ditekan oleh Nenek dan kakeknya, Zeo pun menyetujui.
Dan hubungan mereka kian kaku karena mereka memaksakan tersenyum paksa diatas kebencian.
Zeo memilki hubungan yang buruk dengan orang tuanya. Dan Zeo, tak ingin ketika ia dewasa nanti, siklus kebencian itu menyalur keanaknya.
Zeo tak ingin mengulang masa lalu.
Maka dari itu, ia memaksakan Adhira bersamanya. Demi anak-anak mereka kelak.
Dan karena hal itu juga, hari ini, Zeo memantapkan langkahnya. Ia akan pulang kepada Adhira setelah ia menerima pesan dari mertuanya kalau Adhira terpuruk dan butuh dirinya. Zeo tak ingin dipandang pengecut sebagaimana ia memandang ayahnya.
"Kamu tetap memilih pergi?" Tanya Kenji saat Zeo melangkahkan kakinya keluar rumah malam itu. Ah, ya, Zeo mengambil penerbangan tengah malam karena tak ingin orang rumah tau.
Tapi tampaknya rencananya gagal saat papanya bersedekap dada didekat gerbang rumah dengan angkuh.
"Aku memilih pulang, bukan pergi." Desis Zeo dingin.
"Disini rumah mu"
"Adhira rumah ku"
"Alzeo immanuel Takahashi"
"Tanpa Takahashi"
"Ei"
"Dulu, Otousan sendiri yang bilang. Namaku tanpa Takahashi dibelakangnya"
Kenji terdiam kaku.
"Dulu, Aku nangis karena otousan koyak buku pr Matematika ku cuma karena aku buat marga Takahashi disampulnya. Padahal hari itu, aku cuma minta koreksikan tugas, tapi rupanya yang dikoreksi namaku" Zeo tertawa pelan.
"Dan apa otousan tau, Aku pernah ngejar mobil kalian yang pergi ninggali aku ke Kanada sampai kakiku keseleo. Nangis sendirian di jalanan, APA OTOUSAN TAU HAH, APA KALIAN TAU!?" Zeo menghadap papanya, matanya nyalang penuh kebencian.
"Aku tanya sama otousan, sekali ini aja kita berkomunikasi layaknya ayah dan anak, " Kata Zeo memelan.
"Kamu memang anakku"
" Ya, aku anakmu, anak yang kamu jadikan landasan kebencianmu terhadap dunia."
"Alzeo"
"Apa pernah sekali aja otousan datang kesekolah untuk ambil rapor ataupun memenuhi panggilan sensei ku?" Tanya Zeo tiba-tiba.
"Alzeo-kun"
"Apa pernah sekali aja Otousan ajak aku jalan-jalan, atau liburan misalnya diliburan musim panas ku, hm?"
"Apa pernah otousan peluk dan kasih semangat buat ku waktu aku hampir mati karena latihan bela diri!"
"Apa pernah Otousan datang dan bela aku waktu aku dicekoki ilmu bisnis sama Obaachan dan Ojiichan? Pernah?"
"Nggak kan?"
"Otousan nggak pernah lakuin itu untuk Zeo dan adik-adik Zeo kan?"
"Yang Otousan tau, Otousan harus terus lari-dan lari kayak pengecut. Gak mau tau dan gak mau peduli"
"Ze-
"Dan kalau Otousan gak bisa kasih yang seharusnya Otousan kasih buat Zeo dan adik-adik Zeo, tolong, kali ini aja Zeo minta tolong sama Otousan. Jangan halangi Zeo buat kasih yang seharusnya Zeo kasih ke anak-anak Zeo"
Kenji membeku, ia tak mengeluarkan suara sama sekali.
Zeo memundurkan tubuhnya, "Zeo pulang, Otousan"
Dan untuk pertama kalinya, Kenji menyayangkan masa mudanya yang kelam.
****
Note:
Sensei : guru.
Oi-oiiii,, cepet juga ya lewat likenya. Gitu dong , kan semangat wkwkwk.
Jadi gimana sama bab ini, terjawabkan, kenapa Zeo dulu bilang sama ketiga temennya kalau dia mau mempertahankan pernikahannya.
Kenapa Zeo sesayang itu sama anaknya.
Kenapa Zeo seberusaha itu menjadi sosok seseorang yang layak dipandang bukan sebagai pengecut. Hm? Tau kan kenapa dia dulu bilang kalau dia gak mau ngulang sejarah yang sama...
Kira-kira side strory siapa lagi yang pingin kalian tau?
__ADS_1