
"Happy banget ya?" Tanya Adhira sambil menggandeng tangan Zeo.
"Yang, serius kamu tanya kayak gitu? Apa raut wajahku kurang menjelaskan semuanya? Ya jelas happy banget lah! Ahk, baby boy bakal launching sebentar lagi, gimana gak happy?!"
Adhira meringis saat Zeo menyahuti pertanyaannya dengan terlalu bersemangat. Oke, mungkin ia yang salah bertanya. Sudah pasti Zeo senang dengan kelahiran anak mereka. Jujur, Adhira merasa sangat lega. Ketakutannya selama ini hanya sekedar hayalan semata. Zeo adalah Zeo. Laki-laki itu akan selalu memegang teguh ucapannya untuk berubah dan mencintai keluarganya setulus hati.
"Kalau kamu? Gimana? Seneng nggak?" Tanya Zeo hati-hati, jelas sekali kalau laki-laki itu takut kalau jawaban istrinya akan diluar perkiraannya.
Adhira menghentikan langkahnya, ia lalu menatap dalam mata keraguan suaminya itu, ah, melihat itu hati Adhira terasa berdenyut nyeri. Sebegitu jahatnya kah ia dulu sampai bahkan suaminya ragu kalau ia akan bahagia dengan kelahiran anak mereka?
"Dhira maaf," Zeo lalu mengubah ekspresinya menjadi senyuman paksaan. "Aku salah ya tanya nya? Maaf ya? Apa aku buat kamu tertekan? Apa semangat ku buat kamu sakit hm? Maaf, aku bakal jaga anak kita sebaik mungkin nantinya, tapi kamu jangan tinggalin aku ya?" Zeo melemparkan senyumannya, senyuman yang terlihat sangat pedih. Seolah ia takut kalau Adhira tak nyaman dengan pertanyaannya. Takut Adhira akan meninggalkannya.
"Zeo maaf-" Nada Adhira bergetar.
Zeo tersenyum lembut, senyuman yang banyak mengandung arti kesakitan. Laki-laki itu selalu menyimpan semua perasaannya dengan sangat apik.
"Ahaha, nggak papa sayang, perlahan pasti bisa. Yaudah yuk kita pulang. Calon-calon kakak itu pasti uda nungguin kabar adiknya ini." Zeo mengelus pelan perut besar Adhira. Mengabaikan rasa sakit dan kecewanya, laki-laki itu menggandeng Adhira dengan lembut.
Adhira menahan tangisnya. Menangisi kejahatannya dimasa lalu yang sampai membuat suaminya itu bahkan tak sepercaya diri ini.
"Pelan-pelan sayang," Zeo menuntun Adhira, "Jangan buru-buru jalannya, nanti pinggangnya pegal kalau jalannya gitu." Zeo menahan pinggang Adhira agar istrinya itu tak jalan terburu.
"Maaf, aku lihat ada yang mau melahirkan tadi, aku takut" Sahut Adhira mengamit lengan suaminya erat.
Zeo menolehkan kepalanya, mencari situasi yang dikatakan sang istri, dan saat melihat keramaian perawat yang mendorong seorang pasien hamil yang sudah pingsan dan suami pasien yang berwajah panik. Zeo pun langsung merangkul istrinya, membawa Adhira jauh dari sana. Mereka harus keluar dari rumah sakit.
Yah, mereka memang masih dirumah sakit untuk melakukan USG dan pemeriksaan rutin lainnya. Usia kandungan Adhira telah menginjak sembilan bulan, tinggal menunggu hari saja untuk menyambut kelahiran anak bungsu mereka yang berjenis kelamin laki-laki itu.
Mereka juga mulai melihat-lihat ruang rawat yang akan ditempati Adhira nantinya. Pastinya mereka akan mencari ruangan yang nyaman untuk sang ibu dan bayi juga keluarga yang hadir. Intinya, Zeo ingin semuanya harus dipersiapkan bahkan untuk kedetail yang terkecil pun. Walaupun dibeberapa hal terdengar berlebihan sampai harus diceramahi Adhira berjam-jam, tapi bagi Zeo tak ada yang lebih penting dari itu. Anaknya akan lahir dan Zeo tak akan mau mengulang kepanikan, kecemasan dan ketakutannya lagi saat Zela dan Ken lahir dulu. Ia ingin semuanya membaik, menjadikan kelahiran anak kembarnya sebagai pelajaran bahwa pentingnya persiapan yang matang untuk menyambut sang buah hati.
"Zeo?"
__ADS_1
"Iya sayang?" Zeo membukakan pintu mobil untuk Adhira, membantu perempuan itu masuk dan setelahnya ia mulai mengatur posisi kursi mobil menjadi senyaman mungkin untuk istrinya itu.
"Aku takut-
Zeo yang sedang memasang sealtbelt agar tak terlalu menekan Adhira itupun tertegun.
"Takut apa sayang?" Tanya Zeo lembut.
"Aku takut melahirkan, aku takut kayak dulu, aku juga takut kayak ibu-ibu tadi. Zeo- kamu bakal temenin aku kan nanti," Adhira menggenggam tangan besar Zeo, membawa tangan itu kepelukannya.
Zeo tertegun untuk beberapa saat, sebelum ia akhirnya tersenyum menenangkan, menghapus air mata Adhira yang menetes itu dengan lembut. Laki-laki itu mencium kening Adhira, "Aku bakal disisi kamu apapun yang terjadi, aku bakal pastiin kamu gak akan ngalamin ketakutan yang kamu rasakan saat ini. Percaya sama aku ya? "
"Janji?" Kata Adhira bergetar.
"Janji" Sahut Zeo yakin, dan setelah Adhira tenang. Zeo pun menutup pintu mobil dan ia masuk dari kursi pengemudi.
"Zeo-
"Aku bahagia banget loh hari ini, makasih ya,"
Zeo menghentikan gerakan tubuhnya, laki-laki itu terdiam beberapa detik seperti orang linglung sebelum akhirnya menatap Adhira dengan mata berbinar. "Sayang, maksud kamu-" Zeo seperti kehabisan kata-kata, tapi mata berkaca-kacanya telah menjelaskan semuanya. Menjelaskan dengan jelas kalau ia sangat bahagia mendengar penuturan istrinya itu.
"Sayang? Kamu beneran bahagia? Kamu senang? Kamu senang untuk kalahiran baby boy? Kamu senang? Oh God, thank you! Thank you sayang, aku janji, aku janji bakal jagain kamu selamanya. Sayang, Oh God" Zeo memajukan tubuhnya untuk memeluk Adhira dengan kebahagiaan yang membuncah, tangisan laki-laki itu terdengar sangat bahagia dan penuh syukur.
"Aku jahat banget dulu ya?" Adhira bertanya dengan tangisan, " Sampai kamu bahkan sesenang ini cuma karena dengar aku bahagia?"
Zeo merenggangkan pelukan mereka, "Sayang? Aku pikir, aku pikir selama ini kamu gak bahagia sama aku, aku pikir kamu cuma-
"Zeo, aku bahagia, aku bahagia banget, aku bahagia untuk Zela dan ken yang berhasil masuk ke universitas terbaik, aku bahagia waktu akhirnya Zela dan Ken memilih buat kuliah diIndonesia dan gak ninggalin kita, aku bahagia waktu liat kamu ada disampingku setiap aku bangun tidur, aku bahagia waktu aku nyambut kamu pulang kerja, aku bahagia waktu kamu cium keningku, aku bahagia waktu aku tau kalau calon anak kita laki-laki, aku bahagia waktu aku tau anak kita sehat, aku bahagia waktu aku tau anak kita bakal lahir. Aku bahagia Zeo, Aku bahagia walaupun cuma sesederhana kalian makan masakan ku." Adhira menghapus air mata Zeo yang menetes deras. Ia menangkup wajah suaminya dengan tangisan.
"Aku bahagia hidup sama kamu, aku bahagia jadi bagian hidupmu, aku bahagia Zeo, aku bahagia jadi istrimu, jadi mama buat anak-anakmu, aku bahagia, jadi bisa tolong kamu percaya diri?" Adhira tersenyum lembut.
__ADS_1
"Tolong percaya diri Zeo, tolong tegapkan punggungmu lagi, tolong pupuk kepercayaan dirimu lagi, kamu berhasil sayang, kamu berhasil buat keluarga cemara untuk anak-anak kita, kamu berhasil sayang, kamu berhasil buat keluarga kita bahagia. Kamu berhasil didik anak-anak kita, kamu berhasil nuntun aku kejalan yang lebih baik. Kamu, Alzeo Immanuel Takahashi, kamu berhasil buat kami bahagia, jadi tolong percaya diri. Jangan ragu kalau aku bahagia sama kamu. "
"Sayang, makasih, makasih," Zeo tergugu, selama ini ia selalu menanamkan pada dirinya kalau ia adalah sosok laki-laki yang gagal, sosok ayah yang gagal semenjak Zela dan Ken mengalami keterlambatan perkembangan motorik saat usia setahun dulu, ia juga merasa gagal menjadi suami saat Adhira gila karena sangking membencinya.
Zeo merasa ia adalah orang paling gagal didunia, gagal menjadi anak, gagal menjadi cucu, gagal menjadi ayah, gagal menjadi suami, gagal membuat keluarga bahagia untuk keluarganya. Dan semua Hal itu membuatnya tak banyak meminta, tak banyak memberi harapan untuk keluarganya, tak peduli seremuk apa tubuhnya ketika pulang kerja, Zeo akan selalu melihat anak-anaknya dulu sebelum tidur, menutupkan pintu kamarnya, mematikan handphone mereka, menyimpan laptop mereka, mematikan lampu kamar anak-anaknya, dan selalu menurut dan sabar dengan semua kecerewatan dan aturan Adhira. Ia merasa, ia harus selalu memgabdi pada anak dan istrinya sebagai tebusan kegagalannya. Tapi tadi-
Tadi Adhira mengatakan kalau ia bahagia, kalau istrinya bahagia.
Zeo,
Zeo tak tau harus berkata apa, ia sangat bahagia, luar biasa bahagia.
"Sayang, makasih" Zeo tergugu, "Ayo bahagia lebih lama, lebih lama sampai nanti maut memisahkan kita, ayo bahagia lebih lama untuk lihat anak-anak kita dewasa dan berkeluarga, ayo selalu bahagaia Dhira,"
Adhira mengangguk " Ayo bahagia Zeo," Adhira mengalungkan tangannya, ia lalu menarik Zeo lebih dekat dengannya, mencium bibir Zeo lembut, menyalurkan rasa bahagianya dan Zeo bisa merasakan itu, laki-laki itu membalas ciuman istrinya dengan tak kalah lembutnya.
Mereka bahagia, benar-benar bahagia. Dan Zeo cukup percaya diri untuk mengatakan kalau ia telah berhasil untuk itu.
Untuk kebahagiaan keluarganya, ia percaya diri sekarang.
...****************...
Konnichiwa!!
Aku nggak tau apa yang terjadi pada diriku semalam eaaa..
aku tiba-tiba aja pingin baca ulang cerita Adhira Zeo ini dari awal, niat awalnya sih mau ngerevisi, tapi lama-lama aku baper dan menyadari kalau sebenarnya aku jahat banget karena buat Zeo jadi sesakit itu.
Aku nggak nyangka kalau Zeo seberjuang itu. Huhuhu.
Jadi sebagai penebusan rasa besalah, aku buat bab ini untuk pelipur lara.
__ADS_1