
Mira menarik putrinya kepelukannya. "Kamu kenapa sih sayang, cerita sama mama ya pelan-pelan."
"D-Dhira benci Zeo ma, Dhira benci Zeo hiks." tangis Adhira dipelukan mamanya.
****
"Oniisan (Abang)"
Zeo menoleh, ia menatap Zee, adiknya. Ah, omong-omong. sekarang Zeo berada di Osaka, jepang. Sejak seminggu yang lalu. Dan selama seminggu itu juga, Zeo merasakan ketidak nyamanan.
Hal yang aneh sebenarnya. Rumah bertingkat tiga dengan gaya arsitektur Eropa Jepang itu adalah tempatnya sejak kecil, rumah ternyaman yang selalu ia rindukan. Tapi, untuk pertama kalinya, kepulangannya kali ini terasa hampa.
Zeo rindu suasana apartemennya. Dan Zeo rindu pertengkarannya dengan Adhira. Ah, sudah lah rasanya menyesakkan sekali.
"Oi, Zeo Oniisan, " Panggil Zee lagi saat panggilannya tadi tak direspon. (Bang Zeo, Hei)
"Ck, Nande?" Sahut Zeo kesal. (Ck, apa sih)
"Oniisan yang kenapa, ngelamun mulu kangen Gishi (Kakak ipar) heh." katanya duduk disebalah Zeo.
Zeo mendengus, "Sok tau." kata Zeo menyandarkan tubuhnya kesandaran sofa. Pemuda itu memejamkan matanya.
Zee tersenyum usil, " Gishi ku se kawai apa sih sampek buat Oniisan galau kayak gini? Lebih kawai Alin Oneesan atau Gishi nih?"
"Zee-Chan, Urusai yo" Tegur Zea yang baru datang, ikut bergabung dengan abang dan adik kembarnya. (Zee, jangan berisik tau)
"Zee, jangan ganggu, Oniisan mau tidur." kata Zeo menggerutu.
"Oniisan mencurigan nih, Zea, apa menurutmu Oniisan lagi kena virus kataomoi" Kata Zee penasaran. (Cinta bertepuk sebelah tangan) Yang diabaikan Zea karena gadis Jepang mirip Zee itu pergi kedapur mengambil keripik
"ih, aku kan penasaran." kata gadis berusia 12 tahun itu kesal.
"NaZe?" (Apa sih) Zee dan Zeo menoleh ketika suara Zea terdengar. Kembaran Zee itu kembali datang sambil membawa keripik kentang.
"Itu loh Zea, Aku penasaran sama Gishi (Kakak ipar) tapi oniichan cuek," adu Zee pada kakak kembarnya.
__ADS_1
Zea menatap Zeo, "Iya, Aku juga penasaran."
"Kan uda ada fotonya," kata Zeo kesal.
"Difoto kan gak jelas, vidio call dong biar jelas. Lagian Oniisan uda disini seminggu gak ada tuh nelpon Gishi kayaknya, sibuk mulu." kata Zea yang diangguki Zee.
"Atau ajakin kemari dong, biar kami tau kayak mana kakak ipar kami, sama calon ponakan juga. Kata Okaasan bayinya juga kembar kayak kami" tambah Zee.
"Iya, Alina Oneesan aja uda pernah diajak kemari, masak Yang kakak ipar belum pernah diajak ya kan Zea" Kata Zee lagi setelah lama diam
Zeo melirik kedua adik kembarnya, mereka memang sangat penasaran dengan sosok Adhira sejak tau Ia sudah menikah, Ah. Adhira lagi, Zeo jadi tak ingat perempuan itu lagi kan. "Dia-
"Dari pada ajakin Gishi kalian kemari mending ajakin Alina Oneesan saja. Obachaan uda kangen sama gadis cantik dan pengertian itu." kata Nenek Zeo yang baru muncul sambil membawa tongkatnya. Omong-omong nenek Zeo sudah mulai sehat setelah seminggu yang lalu masuk rumah sakit karena Tekanan darah tingginya kambuh.
Zeo memutar bola matanya, "Zeo sama Alina uda putus loh Obaachan, Zeo kan uda bilang dari semalam. Jangan tanyain Alina mulu, Zeo uda nikah"kata Zeo kesal. Mengingat sejak semalam nyonya Takahashi itu terus menanyakan keberadaan Alina.
Lagian setelah Alina mengiriminya pesan tentang kejelasan hubungan mereka, Zeo langsung mengirim pesan balik dan mengatakan kebenarannya bahwa ia telah menghianati Alina dan sudah menikah. setelahnya Zeo langsung memblok nomor Alina. Mereka putus secara sepihak.
"Obaachan tetap suka Alina," kata Nyonya Takahashi lagi.
"Zeo-kun, Jangan mulai kurang ajar kamu ya. Zeo-kun!" Teriak nyonya Takahashi yang diabaikan total oleh Zeo.
"Kalian juga suka Alina Oneesan kan? Gak kayak Gishi kalian itu, gak pernah mau tau sama keluarga disini. Uda tau suaminya punya keluarga di Jepang. Bukannya berusaha mengakrabkan diri, malah sok gak peduli gitu. Kalian juga liahat itu. Oniisan kalian yang biasanya nurut itu jadi gak ounya sopan santun begitu." kata Nyonya Takahashi menatap kedua cucu perempuannya.
Sedangkan Zee dan Zea saling pandang tak berani menjawab, takut Neneknya itu kembali jatuh sakit karena memikirkan kisah percintaan abang mereka.
****
Zeo membaringkan tubuh lelahnya keranjangnya. Kamar yang penuh dengan rumus-rumus serta tumpukan buku-buku bisnis itu terasa asing untuknya.
Pemuda itu ingin pulang.
Pulang ke apartemennya.
Apa yang dilakukan Adhira sekarang ya. Apakah sudah sarapan? Sudah minum susu? Apakah senang?
__ADS_1
Zeo mengambil ponselnya, membuka kontak Adhira yang ia beri nama Kanai. Yang dalam bahasa jepang berarti ,"Istri" . Ia sudah akan menelpon dengan nomor internasionalnya. Tapi ia urungkan. Zeo kembali menyimpan ponselnya dinakas.
Zeo lalu memejamkan matanya. Sejak semalam ia ragu hanya untuk sekedar mengabari Adhira akan kepergiannya. Mungkin, Yang Adhira tau sekarang ia sedang sibuk oleh pekerjaan di apartemen. Tapi nyatanya, Zeo bahkan pulang ke negaranya tanpa meminta izinnya.
Seminggu yang lalu, orang tuanya mengabari kalau neneknya masuk rumah sakit, tekanan darah nya tinggi saat tau Zeo sudah menikah. Memang, pernikahan Zeo dirahasiakan orang tuanya pada keluarga di Jepang, terutama kakek dan nenek Zeo yang memiliki watak keras. Mereka ingin Zeo dewasa dahulu, terlebih pernikahan di Jepang tak begitu diharuskan. Banyak orang yang memilih hidup sendiri sampai akhir hayatnya.
Membuat, Usia umum menikah semakin tinggi. Dijepang, Rata-rata orang dewasa menikah saat mereka sudah berada diatas 27 tahun. atau bahkan 30 tahun keatas.
Dan Begitu mendapat kabar kalau Zeo, yang usianya barus 19 tahun itu sudah menikah dan bahkan sudah akan memiliki anak. Nyonya dan Tuan Takahashi benar-benar marah luar biasa.
Demi Tuhan, Zeo bahkan baru tamat SMA.
Kemarahan nyonya Takahashi itu membuat kesehatannya drop. Dan karena rasa bersalah yang mendalam karena sudah berbicara jujur dengan keaadan Zeo oada ibunya. Papa Zeo pun meminta Zeo pulang ke Osaka agar bisa menjelaskan secara langsung.
Dan sudah dapat ditebak, dua tetuah Takahashi itu menolak secara terang-terangan Adhira sebagai istri Zeo. Nenek Zeo bahkan dengan gamlang meminta Zeo menceraikan Adhira setelah kelahiran anak-anaknya. Yang sungguh, Akan Zeo tolak mentah-mentah.
Zeo tak akan mengulangi sejarah bodoh orang tuanya.
Zeo membuka matanya, ia menghela nafas gusar. Apalagi saat mengingat neneknya yang memaksanya untuk kembali pulang ke Jepang, kuliah, dan belajar mengurus perusahaan, Tentunya tanpa Adhira.
Meninggalkan Adhira sendirian disana setelah anak-anak mereka lahir.
Tidak.
Tidak.
Zeo tidak mau. Ia akan melawan neneknya, tak peduli kalau neneknya adalah orang yang paling berjasa dikehidupannya.
Zeo punya alasan kuat untuk menolaknya.
***
Hm, Terlepas dari masalah yang psangan ini hadapi ditempat yang berbeda.
Aku mau tanya dong. kalau kontak Adhira di hp Zeo adalah ,'Kanai', terus kontak Zeo di hp Adhira apa? Ada yang ingat nggak? Ini pernah dibahas dibab terdahulu pokoknya.
__ADS_1