EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-60 Nasihat


__ADS_3

Setelah selesai makan malam yang bagi Adhira terasa hambar karena hatinya sedang dirudung ketakutan itu.


Zela dan Ken mengikuti Kakek dan omnya untuk main bulu tangkis dihalaman depan rumahnya yang memang sering dijadikan tempat latihan oleh Devan. Katanya, si kembar jiplakan Zeo itu bosan melihat mamanya yang manyun terus sepanjang hari. Mereka ingin menghirup udara malam sambil berolahraga. Satu hal sederhana yang tak pernah mereka dapat saat di Jakarta. Omong-omong biasanya Adhira akan memarahi dua anaknya itu jika masih berkeliaran diruangan terbuka saat malam karena takut mereka masuk angin.


Tapi, berhubung sekarang Adhira sedang galau, maka mama dua anak itu meng-iyakan saja permintaan dua anaknya.


Ah, sangking galaunya, Adhira bahkan menatap televisi dihadapannya dengan pikiran kosong apalagi saat Lagi-lagi pertanyaan Windi tadi terngiang dikepalanya.


"Lo sebenernya nggak tau sama perasaan lo atau gengsi sama perasaan lo?"


Yah, jika dipikir-pikir Windi memang benar. Sebenarnya ia yang tak tau perasaannya atau gengsi dengan perasaannya. Jujur saja, Adhira akui ia masih sulit menerima Zeo dihidupnya. Tapi, ditinggal dua hari dan diacuhkan serta tak dikabari dua hari ini, kenapa rasanya sesakit ini sih?


Adhira menatap layar ponselnya yang menampilkan nomor luar negeri Zeo.


Perempuan itu ingin menelpon untuk menanyakan kabar.  Namun urung ia lakukan saat merasa itu terlalu memalukan.


Bagaimana respon Zeo nantinya saat ia menelpon laki-laki itu duluan, huh.


"Kak?"


"Ah, ya ma?" Adhira buru-buru mematikan layar ponselnya.


"Mama perhatikan kamu sekarang setiap datang kerumah mama, kamunya sering ngelamun kayak gak betah gitu." Kata Mira duduk disebelah Adhira.


"Mama kok ngomong gitu sih, mana mungkin kakak gak betah dirumah sendiri." kata Adhira meletakkan kepala nya dipangkuan sang mama.


Mira tersenyum kecil, ia mengelus rambut Adhira sayang, "Terus kenapa? Habis jumpa temen-temen kok mukanya murung. Apa jangan-jangan lagi kangen Zeo ni kayaknya."


"Ih, apa sih mama."


"Kamu kan gitu kak, dari dulu kalau ditinggal Zeo mukanya murung mulu. Ngaku, kangen kan?"


Adhira diam, ia bingung dengan perasaannya sendiri. Bolehkah ia mengatakan takut Zeo meninggalkannya daripada rasa kangen nya.


"Ma,"


"Hm,"


"Apa menurut mama Adhira jahat sama Zeo." tanya Adhira memilin bajunya.


"Iya" kata Mira tanpa dosa dan hal itu membuat Adhira langsung bangkit dari tidurannya dan menatap Mira sepenuhnya.


"Mama kok gitu?"

__ADS_1


"Kan emang gitu, kamu nya loh sering gak peduli sama Zeo. Emang kamu gak capek bersikap kayak gitu ke Zeo. Uda 5 tahun loh kak kalian berumah tangga. Tapi Zeo yang banyak ngalah, Zeo juga yang banyak sabar. Jadi kalau ditanya kamu jahat nggak sama Zeo, ya mama jawab kamu jahat banget sama Zeo. " Kata Mira kalem.


"Apa menurut mama Adhira salah?"


"Iya, Salah banget malah"


"Ish tapikan Zeo yang salah coba aja dia gak perkosa Adhira waktu itu. Coba aja Dhira gak hamil-


"Coba aja kamu gak kabur dari rumah malam-malam dan pergi ketempat haram kayak gitu cuma untuk menuhi tantangan gak penting kakak kelas mu itu. Pasti kamu gak bakal kayak gini." potong Mira.


Adhira diam, yah sebenarnya yang dikatakan mama nya ada benarnya juga. Waktu itu Adhira ingat sekali ia pergi ke tempat hiburan malam itu karena Dean yang mengambil kartu pelajarnya lalu menantangnya, teman Zeo itu bilang jika Adhira pemberani Adhira harus mengambil kartu pelajarnya itu ketempat mereka dan jika Adhira berhasil mereka akan berhenti sekolah. Dan tentu saja Adhira yang memiliki Ego tinggi serta tak mau kalah pun dengan segera menyetujuinya.


"Coba, salah siapa? Apa sepenuhnya salah Zeo?"


Adhira diam.


"Salah dua-dua nya kan? Kamu tau sendiri bagaimna kehidupan hiburan malam itu dan kamu menyodorkan diri kesana. Apa kamu gak salah?"


Adhira memalingkan wajahnya. Ia mengaku salah.


"Mama tau kamu kecewa sama Zeo, karena dia kamu hamil diusia muda, karena dia kamu lepas sekolah karena dia kehidupanmu berantakan. Tapi apa kamu nggak pernah berpikir dari sisi Zeo?-


"Masa depannya juga berantakan, diusia belia kayak dia dengan kekayaan orang tua yang ia punya seharusnya dia itu masih santai-santai nya bermain kayak teman-temannya, kuliah dan pacaran sana-sini. Tapi apa? Dia lebih milih kerja dan ngurus anak-anak kamu bahkan dia juga yang ngurus kamu. Padahal ya kak, kalau Zeo mau Zeo bisa kok lepas tanggung jawab dari kamu. Cari pasangan yang lebih baik dari kamu"


"Nggak!"Bentak Adhira tiba-tiba , "Nggak mungkin Zeo cari pasangan lain ma, dia mau aku yang ngurus anak-anaknya. Jadi mana mungkin Zeo kayak gitu, dia kan sayang anak-anaknya." bantah Adhira tak terima.


"Karena aku mamanya anak-anaknya dia, jadi gak mungkin lah, mama harus tau ya, kalau dia mau pisah sama aku, hak asuh anaknya juga bakal jatuh ke aku" kekeh Adhira paksa.


"Oya? Apa menurutmu Zeo gak bisa ambil hak asuh Ken dan Zela dengan alasan mama kandungnya depresi dan gak bisa ngurus anak-anaknya. Lalu Zeo pergi sama pacarnya, siapa itu Alina ya. Lagian kalau mama liat dari foto nya memang cantikan Alina lagi dibanding kamu."


Adhira tergagap, apa tadi mamanya bilang? Cantikan Alina.


"Mama ih, mama kok Gitu, Mama sebenernya bela Adhira atau Alina sih hah? Mama dukung mantu mama itu selingkuh dari Adhira iya!"


Mira terkekeh, "Jangan marah, tapi seharusnya kamu tanyakan kediri kamu, kenapa Zeo mau bertahan sama kamu padahal dia bisa cari yang lebih dari kamu, padahal ada Alina yang lebih jauh sempurna dibanding kamu, Kamu bilang, Alina sama Zeo uda pacaran tiga tahun dulu kan, uda kenal sama keluarga Zeo di Jepang juga, Alina juga uda jadi Dokter, pinter, dan pastinya bisa memposisikan dirinya dimana selayaknya ia mementingkan Ego atau menekan Ego nya. " Mira mengelus rambut Adhira sayang.


"Mama denger juga, Neneknya Zeo gak suka sama kamu karena kamu kayak acuh tak acuh sama keluarga besar Zeo yang dijepang."


Adhira diam, itu memang kenyataan. Adhira ingat saat ia pergi ke Jepang untuk merayakan ulang tahun Nenek Zeo tahun lalu. Perempuan tua itu secara terang-terangan membandingkannya dengan Alina yang perhatian.


"Iya kan? Tuh, baru kepikirkan kalau kamu itu sebanyak itu minusnya untuk Zeo."


"Kamu itu terlalu cuek sama keluarga Zeo, kesannya kayak gak mau peduli, ah, jangankan sama keluarga Zeo, sama anak dan suamimu aja kamu kayak gitu. Gak peduli. galak, suka marah-marah, gak peka sama perasannya Zeo, dan mama yakin kamu pasti masih suka meninggi kalau bicara sama Zeo"

__ADS_1


"Kak, mama kasih tau ke kamu, Ada kalanya kita harus mempertahankan gengsi dan harga diri sebagai tameng biar gak direndahkan orang lain. Tapi- Kamu harus ingat, ada kalanya juga kita harus menurunkan ego dan berpikir terbuka untuk mendapat kebahagiaan itu sendiri."


"Mama gak menyalahkan atau menghakimi sikapmu, tapi- coba kamu gunakan hati dan bukan logikamu. mama tanya sama kamu sekarang"


"Kamu sayang Zela dan Ken"


Adhira mengangguk kuat, "Iyalah ma, aku sayang banget sama mereka"


"Kamu suka liat mereka ketawa?"


Adhira tersenyum, "Hm" Angguknya kuat.


"Kamu suka kalau mereka muji masakan mu, kalau mereka cium pipimu, kalau mereka cerita ke kamu"


Adhira kembali mengangguk.


"Apa itu artinya kamu sayang juga sama Zeo? Sama papanya anak-anak mu, sama suamimu hm?"


Adhira meremas tangannya ragu, Dan Mira menyadari itu, anaknya sedang berperang dengan egonya sendiri.


"Kak, mama kasih tau kamu, Sifat percaya dirimu itu bagus, kamu percaya diri kalau Zeo gak mungkin berpaling darimu, kamu percaya diri kalau anak-anakmu gak bisa hidup tanpa mu. Tapi- Apa kamu pernah berpikir kalau sifat dan sikapmu itu bisa buat mereka jauh darimu, kalau sifatmu itu bisa aja buat mereka jengah dan berpaling darimu?"


Adhira kian kuat meremas tangannya, wajahnya memucat dan setetes air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Pikiran perempuan itu sedang kalut. Membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang diberikan mamanya.


"I-itu gak mungkin ma hiks,"


"Semua mungkin sayang, kamu harus tau, Orang-orang yang kamu acuhkan itu punya potensi dan punya hak untuk berpaling darimu"


Adhira meremas tangannya yang bergetar hebat, tangisannya mengeras, Adhira tergugu kuat. Dadanya sesak sekali. Kenapa mengakui perasaan harus sesesak ini.


"Apa itu artinya-  Dhira gak ada kesempatan ma?" kata Adhira tersendat, perempuan itu mulai kesulitan mengatur tangisannya. Kata-kata mamanya sangat menusuk hatinya.


"Ada kalau kamu mau nuruni ego dan gengsi kamu." kata Mira melembut. Ia tau sejak tadi ia terkesan kasar dan blak-blakan dengan Adhira. Hal itu ia lakukan karena jika tidak begitu Adhira tidak akan segera mengerti kesalahannya.


"Tapi Nenek Zeo. Keluarga Zeo gak suka aku,"


"Kenapa kamu pikirkan? Sekarang itu hubungan kamu sama Zeo yang diperjelas. Jangan biarkan Zeo terbiasa melakukan banyak hal tanpa kamu. jangan biarkan Zeo dan anak-anakmu terbiasa tanpa kamu" kata Mira membuat Dhira kian tergugu.


Perempuan itu benar-benar dibuat sadar hari ini.


*****


Yeyyyy, Akhirnya ada yang nyentil Adhira sampai sum-sum tulangnya. Wkwkwk.

__ADS_1


Puas banget aku...


Btw, happy weekend guys, Oya, Di Riau dingin banget, uda jam delapan pagi tapi suhunya masih bikin kulit keriput Wkwkwk, gimana sama daerah kalian? Aman? Cerah?


__ADS_2