
Dua hari setelah pembicaraan Adhira dan mamanya, Adhira kian tampak murung, apalagi saat Zeo disehari terakhir tak dapat dihubungi. Pikiran Adhira yang sudah kalut semakin sumpek saat kedua anak kembarnya menanyakan keberadaan papanya berulang-ulang. Ini sudah hari kelima Zeo di Jepang. Dan Adhira baru merasakan apa itu rasa kehilangan. rasa rindu dan rasa bersalah.
Ditambah saat tadi pagi ia pergi keluar untuk membeli susu si kembar dan tak sengaja bertemu tetangga depan rumahnya. Siapa lagi kalau bukan Devi. Perempuan yang sekarang sudah bergelar sarjana hukum itu berdiri didepan pagar, seolah-olah memang niat menunggunya.
"Baru pulang Dhir? Dari mana lo?" Tanya Devi bersedekap dada.
Adhira melengos, tak berniat menjawab.
"Sombong banget sih lo Dhir, gak inget dulu coba mau bunuh diri"
Adhira menghentikan langkahnya, mata perempuan itu menatap tajam lawan bicaranya, "Kenapa sih, lo sibuk banget sama hidup gue? Kalau lo gak suka gue yaudah tutup mata tutup telinga lo, anggap gue kasat mata. susah amat"
"Gak usah julid juga napa, Tuh, pantesan si kak Zeo ninggali lo dan balikan sama mantannya. Pasti karena ini nih, lo gak bermartabat."
Adhira memicingkan matanya kesal.
"Ntar juga tau rasa, oya secara hukum ya, kalau mamanya depresi bisa loh kak Zeo ambil hak asuh anak-anaknya."
"Lo doain gue cerai!!"
"Eh, emang belum ya? Kirain udah? Tampang lo uda kayak janda ngenes sih. " Ejek Devi. "Tapi, jangan marah loh Dhir, gue cuma mau kasih lo gambaran dari segi hukum aja"
"Oh iya, gue gak marah kok, apalagi sama pengangguran gak guna kayak lo, gak pantes kayaknya marah. Eh,, sorry gue bukan mau ngatain lo pengangguran, atau mau bilang secara hukum, tapi anyway, lo pengangguran itu kenyataan kan?"
Yah, walaupun perdebatan itu berakhir Adhira yang menang telak, tapi tetap saja, pembahasan itu tetap menganggu Adhira. Dan hal itu sampai terbawa Malam harinya, Adhira dirudung kebingungan, perempuan itu terus memikirkan perkataan teman-teman dan juga mamanya semalam. serta kejulitan tetangganya.
Sudah terhitung 5 hari Zeo dijepang. Dan laki-laki itu belum menelponnya sama sekali. Adhira dibuat kesal sendiri ketika Zeo selalu menghubungi nomor Devan untuk bicara dengan Zela dan Ken.
Memang apa bedanya sih? Pikir Adhira menjambak rambutnya. Ia benar-benar frustasi karena Zeo.
"Sialan kamu Ze," maki Adhira pelan ketika ia tak juga bisa menghilangkan bayang-bayang Zeo dipikirannya. Pertanyaan besar bercongkol dikepalanya. Apa Zeo setia padanya? Apa Zeo ingat dirinya dan anak-anak? Apa Zeo sudah tak betah dengan siafatnya. "Sial, Sial kamu Ze," Geram Adhira menjambak rambutnya sendiri.
"Hah, apa mama?"
Adhira terkejut, ia menatap Zela yang mendekat kearahnya.
"Apa? "
"Mama manggil kakak tadi, mama bilang sialan kamu Ze. Mama panggil kakak kan ma?" kata Zela menjelaskan.
"Hah, ah, itu, nggak sayang, Mama tadi kaget tadi ia kaget." kata Adhira mengelus rambut Zela. Sangking terbawa emosi pada Zeo Adhira sampai lupa kalau malam ini Zela dan Ken tidur dengannya.
__ADS_1
"Oh, em, mama"
"Hm" Sahut Adhira sambil memeluk Zela, mendekap putri sulungnya sayang, semenjak pembicaraan dengan mamanya, Adhira sekarang memang lebih dekat dengan Zela dan Ken, Lebih sering memeluk dan mencium layaknya Zeo saat menjaga kedua anaknya.
"Papa kapan pulangnya? " tanya Zela memainkan kancing piyama Adhira.
"Iya ma, papa pulang kapan?" tanya Ken yang ikut menghampiri mama dan kakaknya diranjang. Meninggalkan Lego nya dilantai begitu saja.
Adhira menghela napas, "Mama belum tau,"
"Papa gak pulang lagi katanya bilang tan-tan depi mah. Papa uda punya Zela Ken yang balu bilangnya gitu ma disana."
Adhira mengerutkan keningnya bingung, bahasa Zela ini sangat ajaib sekali. Ditengah kebingungannya merangkai kalimat Zela diam-diam Adhira salut pada Zeo yang langsung paham maksud Zela dan Ken tanpa berpikir dulu. Ah, kenapa Zeo lagi?
"Tante Devi bilang papa gak pulang karena uda punya Zela Ken yang baru disana gitu kak?" tanya Adhira yang diangguki kuat oleh Zela.
"He'em ma. Ken tadi nangis. Kakak juga mau Naki tai Desu (Ikut nangis) tadi tapi, tapi itu sama kakek, Ken digendong ma ndak boleh bilang mama kata kakek sama om depan." cerita Zela.
Adhira memejamkan matanya untuk mengatur emosinya agar tidak mendatangi Devi dimalam-malam begini. Perempuan yang satu itu masih suka sekali mengurusi hidupnya.
"Tante Devi bohong, papa pasti pulang lah kan papa cuma punya satu Zea sama satu Ken didunia." jelas Adhira menenangkan anak-anaknya.
"Dunia?"
"Oh, dunia itu apa ma?" tanya Ken mengedipkan matanya bingung.
Adhira menggigit bibir bawahnya. "Nanti tanya sama papa kalau papa uda pulang ya. Sekarang Zela sama Ken bobok ya. Uda malam. " kata Adhira menciun Zela.
"Ken juga sini bobok sama mama," kata Adhira menarik Ken yang tidur melintang.
"Susunya mana?" tanya Adhira,
"cucu?" tanya Zela bingung.
"Cucu, Ken kan cucu obachan. " kata Ken menunjuk dirinya.
"kakak juga, kakak cucu nenek." teriak Zela tak terima.
Adhira menarik nafasnya dalam. "Susu sayang, susu. bukan cucu, Apa ya em miruku (Susu)" kata Adhira menerangkan. Rasanya Adhira ingin terus memaki Zeo dan keluarga Zeo yang membiasakan kedua anaknya bicara bahasa jepang setiap harinya. Bukannya apa-apa. Jika sudah begini Adhira juga yang repot nantinya, apalagi kalau mereka masuk sekolah nanti. Sangat sulit mengubah kebiasaan berbicara Zela dan Ken karena Zeo yang membiasakannya dirumah.
"Miluku Zela uda habis ma"
__ADS_1
"Ken enyang mama."
"Yaudah kalau gitu, sekarang Zela sama Ken bobok ya. Mama pusing." kata Adhira mencium Zela dan Ken bergantian.
"Otogibanashi (Dongeng)hore" teriak ken
"Hore, " teriak Zela mengikuti, meminta Adhira mendongeng.
Lagi-lagi ini adalah kebiasan yang diajarkan Zeo pada anak-anaknya dengan alasan mengasah imajinasi Zela dan Ken.
"Ok, " Kata Adhira duduk disamping kedua anaknya untuk mulai mendongeng. Walaupun Zela dan Ken sering bertanya ini dan itu tapi akhirnya keduanya tertidur pulas setelah beberapa menit kemudian.
Setelah anaknya tidur, Adhira kembali mengingat masalahnya. Jujur saja perkataan ketiga teman dan mamanya benar-benar mengusiknya.
Apalagi jika mengingat kalau Nenek Zeo yang tak menyukainya. Apa Zeo tidak mengajaknya ikut ke Jepang karena akan menikah lagi atas permintaan Neneknya yang suka ngatur itu. Atau bagaimana?
Pikiran Adhira langsung awut-awutan karenanya.
Menarik napasnya perlahan, mengatur posisi duduknya. Adhira meyakinkan dirinya untuk menghubungi nomor Zeo. Jika bajingan itu benar-benar memiliki pengganti dirinya. Adhira bersumpah akan memutus akses kedua anaknya dari Zeo seumur hidupnya.
"The number you are-
Tut
Adhira menggenggam ponselnya kuat saat nomor Zeo sudah tidak dapat dihubungi. Pikiran buruk sudah merajainya.
Adhira mencoba berpositif thinking saat nomor Zeo tak juga aktif, ia lalu mencari akal dengan menghubungi nomor Zea dan Zee diponselnya. Ia mengetikkan pesan pada keduanya secara bersamaan karena ini sudah malam, pasti jepang lebih malam lagi disana mengingat waktu jepang lebih cepat 2 jam dibanding indonesia.
Karena tak juga mendapat balasan, Adhira membuka akun instagram Zeo. Berharap mendapat informasi dari sana. Dan hasilnya benar saja tubuhnya gemetaran saat melihat postingan terakhir suaminya.
Disana Zeo mengunggah foto bunga sakura dengan caption yang jika diterjemahkan menjadi , 'Cantik, seperti Aizel ku.'
Lalu ada komentar mencolok dari akun instagram Alina, Adhira ingat itu karena ia selalu stalking akun mantam terindah suaminya itu.
'Wah, idamannya papa muda ini'
Diketerangan postingan itu diunggah 7 jam yang lalu dengan banyak sekali komentar.
Adhira memegangi dadanya yang bergemuruh, Aizel siapa yang dimaksud Zeo? Kekasih barunya kah?
Memikirkan hal itu membuat Adhira tak menyadari dirinya mulai terisak sambil menahan teriakan nya sendiri. "Bajingan kamu Ze, bajingan." makinya meremat ponselnya kuat. Hatinya sakit benar-benar sakit.
__ADS_1
****
Masuk awal minggu, aku tunggu vote nya yaaa... wkwkwk