EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-49 Adhira dan Depresinya


__ADS_3

Adhira yang merasa tak dipedulikan hanya berdiri kaku. Ia bahkan tak bergerak sesenti pun dari tempatnya berpijak. Dalam benaknya, Adhira semakin membenci bayi-bayi sialan itu didekatnya. Dan yang pasti ia semakin merasa dirinya benar-benar tak berguna. Rasa dikucilkan, dijauhi dan dihakimi seperti ketika untuk pertama kalinya ia ketahuan hamil itu kembali menghantuinya. Adhira merasa sangat-sangat putus asa.


Ia merasa sangat asing dengan semua hal ini.


******


"Ze, " Adhira menarik tangan Zeo saat laki-laki itu akan keluar kamar mereka.


Zeo yang kaget menoleh cepat, "Eh, kenapa?"


Adhira menggeleng, "Jangan keluar, temenin gue."


"Temenin? Lo kesepian?" Tanya Zeo tak paham, ini memang sudah hari ketiga mereka di Jakarta, dan Adhira memang selalu mengurung dirinya dikamar. "Kan uda gue bilang dari semalem, gabung dong sama keluarga gue, Zea sama Zee loh masih penasaran sama lo, mereka jauh-jauh dari Jepang buat jumpa lo dhir, Mama sama papa juga mau kenal lebih jauh. Terus, anak-anak kita juga pingin diliat mamanya. Keluar dong dhir"


Salah, Zeo salah, Adhira sedang tak baik-baik saja. Tapi laki-laki itu justru menekan nya untuk terbuka.


Adhira mendorong tangan Zeo, "Gak, gue gak mau berhubungan sama keluarga lo, "


"Adhira!"


"Apa!"


Zeo memejamkan matanya, "Terserah, gue mau ngurus anak-anak gue" Desis Zeo membanting pintu kamar mereka.


Adhira mengepalkan tangannya, matanya berkaca-kaca.


****


Zeo tau kalau Adhira memang tak baik-baik saja, dalam artian kondisi fisik dan batin perempuan itu memang tidak baik. Namun melihat Adhira yang seperti mayat hidup diranjang tempat tidurnya itu membuat Zeo yang akan memejamkan matanya mengurungkan niatnya. Ini sudah hari ketiga mereka tinggal dirumah orang tua Zeo. Dan Yang Zeo perhatikan, Adhira kian mengurung dirinya dikamar setiap harinya. Apalagi semenjak pertengkaran mereka pagi tadi.


"Dhira" panggilnya lembut.


Adhira meliriknya lalu menghapus air matanya. Perempuan itu menangis ternyata.


"Kenapa hm?" tanya Zeo lembut, laki-laki itu hendak memeluknya namun Adhira memberi penolakan dengan mendorong dada Zeo menjauh.


Zeo yang melihat perubahan sifat Adhira hanya menahan emosinya dan berusaha lebih bersabar lagi. Ia tak mau memulai pertengkaran dihampir tengah malam begini dan memilih membalikkan tubuhnya sehingga memunggungi Adhira, ia butuh istirahat untuk memulai hari nya esok dengan banyak kegiatan yang ia emban termasuk merawat anak-anaknya. Si kembar rewel semenjak di Jakarta, mungkin tak terbiasa dengan suhu diluar inkubator. Walaupun si kembar dirawat dua perawat, tapi Zeo tetap selalu memantaunya, apalagi sekarang ia mulai diajak papanya untuk ikut terjun keperusahaan keluarga mereka. Tekanan nya kian besar.


Adhira yang melihat Zeo membalikkan badannya kian terisak. Ia semakin merasa tak dipedulikan bahkan oleh Zeo sekalipun.

__ADS_1


******


Didini hari hampir pagi Adhira terbangun ketika ia mendengar suara bayi-bayi menangis didekat kamarnya. Walaupun suara bayi-bayi itu sangat kecil tapi cukup mengganggunya. Perempuan itu menoleh kanan kiri namun tak menemukan keberadaannya.


Adhira jadi bertanya-tanya dimana bayi-bayi itu diletakkan oleh Zeo. Karena merasa sangat terganggu Adhira pun memutuskan untuk keluar mencari sumber suaranya walaupun dengan tertatih. Akhirnya Adhira menemukan sumber suara itu, tepat berada dikamar bayi disebelah kamarnya yang ternyata terhubung dengan kamarnya. Sudah ada kedua perawat yang menenangkan bayi-bayi itu disana.


"Eh, ibuk, maaf buk mengganggu tidurnya." kata salah satu dari mereka.


Adhira berdehem, "Mereka kenapa?"


Perawat itu saling melirik, "Kurang tau buk, sepertinya kelelahan atau bagaimana setelah perjalanan jauh, tadi pagi sempat dibawa pak Zeo sama nyonya kerumah sakit buat cek tubuh, tapi ini badannya malah panas." kata perawat itu lagi.


Adhira terdiam, ia jadi mengingat bagaimana usaha Zeo untuk membawa bayi-bayi itu ikut bersama mereka keJakarta. Kelahiran premature dan kondisi bayi yang belum terlalu stabil sebenarnya membuat dokter menganjurkan boleh dibawa perjalanan berkisar 10-15 hari lagi. Namun, Zeo meyakinkan dokter dengan keadaan anak-anaknya. Apa mungkin hal itu berefek sekarang?


Apalagi tadi katanya bayi-bayi itu dibawa keluar rumah untuk kerumah sakit. Pasti suhu panas mobil mempengaruhi mereka.


"Buk, ibuk mau gendong? Mungkin kalau sama mamanya baby nya mau diam dan tenang." anjur perawat itu sedikit tampak frustasi karena anak asuhnya itu tak mau diam sejak tiga jam yang lalu.


Adhira tak bergerak dari posisinya ketika perawat itu mendekat. Adhira menelan ludahnya gugup. Tiba-tiba kilasan pertengkrannya dengan Zeo terbayang dimatanya, bagaimana Zeo memaksanya makan bubur, bagaimana Zeo membentaknya.


"Ng-nggak!" teriak Adhira tiba-tiba yang membuat kedua perawat itu terkejut bukan main.


Kedua perawat itu menjadi bingung dengan perubahan emosi Adhira yang mendadak. Sedangkan kedua bayi itu semakin menangis kencang disaat Adhira berteriak dan menangis ketakutan.


Zeo yang kaget saat mendengar suara teriakan dan tangisan dari kamar anaknya pun langsung refleks bangun dan berlari menghampiri kamar yang ada disebelahnya.


"Dhira, eh, eh, Stop Dhir, sadar" Cegah Zeo pada Adhira yang menjambak rambutnya membabi buta. Perempuan itu menyakiti dirinya sendiri.


"Dhira, sadar hei. Berhenti sayang, berhenti." kata Zeo memeluk Adhira.


Begitu menyadari Zeo yang memeluknya, Adhira langsung menghentikan aksinya, perempuan itu menangis tersengal-sengal didada Zeo.


"Ze- hiks, buang, buang anak-anak itu Ze, hiks, aku- aku takut, Hik, Buang mereka Ze hik"


"Adhira, hei, tenang sayang, tenang"


"Ya ampun Ze ada apa?" tanya mama, papa dan adik-adik Zeo yang terbangun dan menghampirinya karena mendengar keributan dari lantai atas.


"Ma, ma tolong anak-anak Zeo ma. Adhira lepas kendali ma." kata Zeo menunjuk anak-anaknya yang masih terus menangis .

__ADS_1


Mama dan papa Zeo langsung sigap meraih cucu-cucunya. "Ya ampun ini kenapa panas banget." kata Mama Adhira saat merasakan tubuh bayi itu panas.


"Iya buk, Panas nya tinggi sekali dari tadi malam dan susah tidur."


"KENAPA TIDAK BILANG DARI TADI" bentak Papa Zeo yang menyadari kondisi cucu-cucunya tidak kondusif.


"Pa?"


"Zea bilang sama pak Toni untuk keluarkan mobil, kita kerumah sakit sekarang. Zeo kamu tenangkan Adhira dulu jangan sampai Adhira nyakitin anak-anak kamu."


Zeo yang masih memeluk dan menenangkan Adhira yang menangis diluar kendali itu mengangguk patuh. Laki-laki itu sudah pasrah dan hanya menuruti perintah papanya saja.


"Buang Ze, hiks, buang mereka, atau-atau, bunuh mereka Ze, mereka nangis hiks. mereka nangis hiks" Adhira kian menjadi di pelukan Zeo. Sedangkan Zeo hanya mampu mengeratkan pelukannya.


Apalagi ini Tuhan?


*****


"Gimana anak-anak Zeo Pa?" tanya Zeo yang mendapati papa dan mamanya kembali keruang inap Adhira. Sekarang mereka sudah berada dirumah sakit. Dan Zeo hanya mengurus Adhira sejak tadi sedangkan papa dan mamanya yang mengurus si kembar.


"Anak-anak kamu baik-baik aja, tapi mereka harus dirawat diruang intensif dulu. Mungkin karena kaget setelah perjalan jauh." kata Mama Zeo .


Zeo mengangguk, ia sedikit lega.


"Apa Adhira gak ada perubahan?" tanya papa Zeo yang memperhatikan menantunya yang masih menangis dan terus memeluk Zeo.


Mereka tak terlalu kaget ketika Adhira mengamuk dan menangis secara berlebihan, karena psikolog yang menangani Adhira sebelumnya sudah memberi mereka peringatan. Mereka hanya perlu menjauhkan Adhira dari anak-anaknya, jangan membiarkan perempuan itu mendapat akses penuh untuk mendekati anak-anaknya karena ditakutkan menyakiti kedua bayinya.


Dan juga mereka hanya perlu banyak bersabar ketika Adhira menangis berlebihan atau menatap dengan pandangan kosong. Karena hal itu semua adalah ciri-ciri dari gejala Depresi pasca melahirkan yang dialami Adhira.


Zeo menggeleng pelan, "Kata dokter mau gak mau kayaknya besok pagi Adhira harus konsultasi ke psikiater. Soalnya tahap depresi Adhira uda diluar batas, takutnya Adhira bukan cuma nyakitin anak-anak kami doang tapi juga nyakiti dirinya sendiri." kata Zeo mengingat perkataan dokter yang menangani Adhira tadi.


Mama Zeo menghela napas, ia mengusap rambut Zeo, "Sabar ya sayang."


Zeo mengangguk dengan pandangan putus asa. Ia lelah sangat lelah.


*****


Sorry for typo, aku gak ada revisi soalnya wkwkwk.

__ADS_1


__ADS_2