EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-56 Menenangkan diri


__ADS_3

Suasana dalam mobil sangat mencekam bagi Adhira, ia sama sekali tak berani melirik Zeo yang rahangnya mengeras. Laki-laki itu fokus menyetir, pandangannya juga fokus kedepan. tapi dari gengaman jari-jarinya pada setir mobil. Adhira tau Zeo sedang dilanda emosi.


"Mama hiks" Zela yang duduk dipangkuan Adhira mengigau ditengah tidurnya. Bayi itu tersengal-sengal lalu kembali tidur. Menandakan bahwa sebelum tidur ia sempat menangis lama.


Begitupun dengan Ken, bayi itu juga masih terisak ditengah tidurnya. Sesekali memanggil nya. Seolah-olah tangisan mereka sebelum tidur tadi benar-benar menguasai alam bawah sadarnya.


Hal itu juga lah yang membuat Adhira tak berani memulai pembicaraan dengan Zeo. Laki-laki itu memang tak mengatakan apapun padanya. Tadi begitu menemui ia dan panji, Zeo langsung menyerahkan dua anaknya yang menangis histeris kegendongan Adhira. lalu meminta Adhira pergi ke mobil dengan kalimat tak terbantahkan.


Adhira yang saat itu ketakutan hanya bisa memeluk dua anaknya yang terisak-isak kemobil, meninggalkan suami dan mantan nya saling adu tatap disana.


******


Adhira mencium kening Zela, ia merasa bersalah telah meninggalkan kedua anaknya sampai menangis tadi.


Sedangkan Zea dan Zee yang tau suasana sedang tidak harmonis antara oniisan dan gishi nya pun hanya diam tak berani bersuara.


Keheningan itu berlanjut sampai mereka kembali kerumah.


Bahkan begitu sampai dirumahpun, Zeo langsung keluar mobil meninggalkan mereka semua. Laki-laki itu bahkan tak menawarkan diri untuk membantu ketika Adhira kesusahan membawa Zela dipelukannya. Atau membantu kedua adik kembarnya yang kesulitan menurunkan koper sambil membawa Ken dipelukan mereka.


"Zeo-" Mama Zeo yang memang menunggu kehadiran anak-anaknya itu menatap bingung Zeo yang melewatinya begitu saja.


"Zeo kenapa Dhira? Eh, Loh ini kenapa tidurnya sambil misek-misek gini aduh cucu obaachan" kata mama Zeo pada menantunya. Lalu mengambil Zela dari gendongan Adhira yang bahkan dalam tidurnya masih menangis.


"Mama," panggil Zea yang menggendong Ken.


"Loh Ken, Ken kenapa ini juga nangis. Hm" Kata mama Zeo bingung. Perempuan paruh baya itu tampak kesulitan dengan Zela dipelukannya.


"Ini kenapa sih kok pada diem aja, Zela sama Ken kok tidurnya misek-misek guni terus Oniisan mu itu kenapa Ze? mukanya gak enak banget dilihat? Kalian gak berantem kan-


"Ekhem, ma Ken ditidurkan dimana?" potong Zee yang melihat wajah Adhira yang merasa bersalah.


"Eh, " seolah mengerti kode Zee, mama Zeo pun tak membahasnya lagi.


"Tari lagi izin keluar lagi sayang, letak dikamarnya aja yuk." kata Mama Zeo mengajak Zea dan Zee masuk.


"Loh kalian baru nyampekkan?Lah, Itu Zeo kenapa Ai? Siang-siang kok keruang gym." kata Papa Zeo yang baru muncul.


"Ruang gym?"


"Hm, Panas-panas juga, adeknya baru pulang bukannya bantu beres-beres dulu" Gerutu papa Zeo menghampiri anak dan istrinya yang kesulitan.


"Ekhem, papa tolongin Zee, Ken berat." kata Zee mengalihkan pembicaraan.


Adhira menunduk tak nyaman, ia merasa bersalah sekaligus tertekan. Sepertinya Adhira membutuhkan obat penenang nya.

__ADS_1


"Dhira kekamar dulu ma, pa." kata Adhira berlari pergi meninggalkan mertua dan adik iparnya yang sibuk mengurus Zela dan Ken.


"Dhira kenapa lagi ai?" Tanya papa Zeo pada istrinya dengan bingung.


"Berantem, uda tolong bawakkan Zela ini"


*****


Adhira mengurung dirinya dikamar, ia meminun obat penenangnya dengan terburu-buru. Adhira tau ia yang salah tapi psikisnya yang memang kurang baik itu justru membuatnya seolah-olah ia yang tertindas.


Adhira menghela napas setelah beberapa menit kemudian ia merasa tenang. Perempuan itu menggigit bibir bawahnya. Tampaknya ia harus tidur untuk menghilangkan perasaan bersalahnya ini pikirnya, perempuan itupu langsung naik keatas ranjang untuk tidur.


Ia harus lupa masalah tadi.


Yah harus lupa.


Bukan dia yang salah. Bukan, bukan.


Adhira terus menyugesti dirinya untuk tenang. Sebelum akhirnya kelelepan membuatnya tertidur nyenyak.


****


Adhira mengerjapkan matanya begitu ia merasakan ada pergerakan diranjang sebelahnya.


"Ze," Panggil Adhira begitu ia melihat Zeo lah yang duduk dipinghir ranjang mereka.


"Ze aku-


"Diem Dhira, aku gak mau lepas kendali." kata Zeo dingin.


Adhira menelan ludahnya, ia menatap punggung Zeo yang berkeringat seperti habis olahraga. Laki-laki itu tak memakai baju hanya celana yang ia pakai saat kebandara tadi.


"Ze, jangan pikir aku ngerasa bersalah sama kamu ya. Jangan bilang sekarang kamu lagi nunggu penjelasan aku, karena aku gak bakal jelasin apapun-


"ADHIRA!" Bentak Zeo menatap Adhira.


Adhira tersentak ketika suara keras Zeo menggema didalam gendang telinganya.


"A-apa!" bentak Adhira gantian, walaupun tubuhnya sekarang sedikit gemetar menatap Zeo. Tapi Adhira tak mau mengalah begitu saja. Ia tak suka dibentak dan ia tak suka kalah dari lawannya apalagi jika itu Zeo.


"A-apa, j-jangan kamu pikir aku takut ya sama kamu. Ze hmp." Adhira memegang tangan Zeo ketika Zeo mencengkram pipinya.


"Jangan pancing emosi gue Dhir, apa susahnya sih diem." desis Zeo menguatkan cengkraman nya.


Adhira tersengal, ia menatap tangan Zeo yang ada dipipinya. Tangan laki-laki itu diperban dengan kain kasa. Apa Zeo baru memukul benda keras?

__ADS_1


Pikiran Adhira melayang ,lalu hal itu mengingatkannya pada ucapan papa mertua nya tadi kalau Zeo keruang Gym, apa Zeo mengamuk disana? Apa Zeo melepaskan emosinya disana? Apa Zeo mencoba melindunginya dari amarah? T-tapi kenapa?


Adhira refleks memberontak ketika Zeo mendekatkan wajah mereka dan akan menciumnya.


"Ze-" kata Adhira gemetaran ketika ia membayang apa yang akan dilakukan Zeo selanjutnya.


Melihat Adhira yang hampir menangis, laki-laki itu pun mendorong Adhira menjauh.


" Gue mau mandi."kata laki-laki itu bangkit dari duduknya. Meninggalkan Adhira yang memegangi letak jantungnya yang berdegup kencang. Zeo sangat mengerikan. Tatapan mata Zeo persis seperti saat laki-laki itu dulu menamparnya ketika ia akan menggugurkan kandungannya. Tatapan tak berperasaan yang mengerikan.


Adhira tersengal. Jantungnya berdegup kencang.


Jika benar luka dikedua tangan Zeo akibat laki-laki itu mengamuk didalam Gym. Adhira jadi tak dapat membayangkan jika saja laki-laki itu langsung mengamuk dengan nya saat itu juga. Apa Zeo akan menamparnya seperti dulu?


Menggeleng kuat untuk menghilangkan rasa takutnya. Adhira pun bangkit dari duduknya, ia melirik jam dimeja nakasnya yang menunjukkan pukul 4 sore. Menandakan hampir 3 jam lebih ia tertidur tadi.


Adhira membuka tirai gorden yang menutupi pintu kaca menuju balkon kamar.


selama ini ia sering berdiri didekat pagar balkon hanya untuk melihat suasana halaman rumah Zeo yang luas. Itu sering Adhira lakukan ketika perempuan itu masih dipuncak depresinya dulu.


Adhira menatap halaman dibawahnya yang dipenuhi rerumputan hijau yang sangat dirawat. Dan ia tersenyum kecil ketika mendapati Zea dan Zee sedang bermain disana bersama Zela dan Ken yang duduk dibecak bayinya. Mereka tampak senang.


Dan sepertinya kedua bayinya pun sudah baik-baik saja sekarang. Adhira tersenyum kecil, sejenak melupakan ketakutannya akan Zeo. Tapi saat ingatannya kembali berputar kemasalah yang ia hadapi.


Adhira menghela napas, ia memikirkan ucapan Panji di Bandara tadi. Apa Zeo segitu menyayanginya ? Apa selama ini ia yang terlalu egois?  Pikiran perempuan itu melayang keberbagai kesabaran Zeo yang mau merawat anak-anaknya ataupun rutin menyempatkan diri untuk mengantarkannya kepsikiater sejak dulu. Adhira juga mengakui Zeo sangat sabar dan mengalah ketika mereka berdebat tidak seperti dulu yang sama-sama keras dan melawan.


"Dhira" panggilan disertai pelukan tangan yang melingkar diperutnya itu membuat Adhira sempat tersentak. Itu Zeo,


"Diem sebentar aja." bisik laki-laki itu meletakkan dagunya diceruk leher Adhira. Adhira menelan ludah nya gugup ketika merasakan tetes demi tetes sisa air keramas dari rambut Zeo mengenai pipinya.


Adhira menggenggam kuat pagar balkonnya. Tapi kali ini ia tak menolak pelukan Zeo itu dengan pemberontakan. Mereka sama-sama menenangkan diri mereka dengan cara masing-masing.


******


.Note :


Obaachan \= nenek


Oneesan \=abang


Gishi \=kakak ipar


Nah, nah Kalau kamu yang ada diposisi Zeo waktu tau pasanganmu cipika cipiki sama mantannya gimana?


Bersikap kayak Zeo kah? Menenangkan emosi dulu baru bicara. Atau gimana?

__ADS_1


Bay the way, Zeo gantle ya kali ini


__ADS_2