
Begitu melihat Adhira yang tidur, Zeo meraih tangan Adhira yang masih ddibelit selang infus. "Maafin gue dhir " bisik Zeo mencium tangan Adhira lembut.
"Gue bakal tebus semua kesalahan gue ke elo seumur hidup gue." kata Zeo sungguh-sungguh.
****
"Dhira"
Malam itu, Adhira yang masih akan beersiap tidur dikamarnya pun menoleh cepat, itu suara Zeo.
Ah, omong-omong, Sekarang Adhira sudah pulang kerumah orang tuanya. Awalnya Zeo tak setuju, ia ingin Adhira tetap tinggal diapartemen bersamanya. Namun mertuanya melarang dengan alasan psikis Adhira yang masih terombang-ambing, ditambah Zeo masih harus kuliah dan bekerja, juga harus selalu mengontrol dua bayinya yang sekarang sudah berumur 14 hari itu. Pasti akan sangat merepotkan nantinya. Maka dengan alasan itu, mau tak mau Zeo harus merelakan Adhira jauh darinya. Tapi biasanya, sepulang dari rumah sakit, Zeo akan menginap dirumah mertuanya untuk menemani Adhira.
"Uda pulang?" Tanya Adhira pelan,
"Ya-" Zeo menggantung jawabannya saat tak sengaja ia melihat Adhira menyembunyikan tangannya yang bergetar.
Zeo tersenyum miris, Adhira masih setakut itu dengannya.
Setelah berkonsultasi dengan psikolg, Adhira bukan hanya menderita depresi pasca melahirkan yang akan hilang dalam hitungan bulan saja. Tapi depresi Adhira lebih berat dari itu. Istrinya itu juga menderita ketakutan berlebihan padanya. Dan Zeo baru menyadarinya, ciri-ciri depresi dan traumatis Adhira sudah dimulai sejak mereka bertengkar saat pertama kali di apartemen dulu.
Dulu, Zeo sering memergoki tubuh Adhira bergetar saat dekatnya, atau panic attack saat tak sengaja ia melihat tetangga apartemen mereka yang terkadang melihat Adhira penuh tanya. Tapi, Zeo tak pernah berpikir, Itu merupakan gejala depresi berat yang seperti saat ini diderita Adhira.
"Lo uda makan?" Tanya Zeo membuka jaketnya, ia mengambil handuk hendak mandi.
Adhira memalingkan wajahnya, "Hm"
Zeo menghela nafas, Adhira memang tak tampak sakit atau seperti layaknya orang depresi berat pada umumnya. Adhira bisa dibilang sangat sehat secara mental. Ia masih bisa tertawa, bercanda dengan Mira dan Devan, tersenyum lebar bahkan beberapa kali tampak bergosip dengan teman-temannya melalui sambungan telepon. Adhira itu sehat, jika tak ada Zeo dan anak-anaknya disekitarnya.
"Nanti habis mandi, gue mau ngomong sama lo, jangan tidur dulu ya" Kata Zeo lembut, berusaha agar nadanya tak seperti memerintah. Semenjak ia tau Adhira mengalami depresi, Zeo sebisa mungkin menjaga nada suaranya agar tak menyinggung perasaan Adhira yang sensitif.
"Hm" Dehem Adhira seperti tak peduli.
Dan Zeo yang mendapat respon singkat itupun segera membereskan kegiatan mandinya. Tak akan membuat Adhira lama menunggu. Perempuan itu harus banyak istirahat sekarang.
"Dhira, lo belum tidurkan" Kata Zeo begitu ia selesai mandi dan berpakaian.
__ADS_1
Adhira meliriknya. memneri respon dengan matanya.
"Dhira, nanti- " Zeo menarik nafasnya berusaha yakin, "Kalau anak-anak kita-"
"Anak-anak lo!" Bentak Adhira tiba-tiba memotong. "Mereka anak-anak lo sama selingkuhan lo, dia bukan anak gue" Desis Adhira mengepalkan tangannya.
Zeo memalingkan wajahnya, berusaha tenang. "Iya, anak-anak gue. Setelah anak-anak gue bisa keluar dari ruang NICU dan boleh dibawa perjalanan naik pesawat. Gue mau kita semua pindah ke Jakarta ya"
"Jakarta, ngapain ? Gue gak mau, lo mau nyuruh gue ngurus mereka kan, oh, atau lo mau marah-marahin dan nyiksa gue tanpa tau mama sama ayah hah"
"Adhira"
"Nggak, Lo nggak berhak ngatur gue-
"Adhira Alindra!" Tekan Zeo yang membuat Adhira langsung mengatupkam bibirnya takut. "Kamu itu istriku, jadi harus ikut aku ya Sayang, ya mau ya, ikut ke Jakarta" Kata Zeo melembut diujung kalimatnya, ia bahkan langsung menarik Adhira kepelukannya. Berusaha memberi afeksi agar Adhira luluh. Dan benar saja, tak lama Adhira mengangguk pelan.
Benar-benar suasana hati yang tak menentu. Zeo tersenyum miris dibuatnya. Sekasar itukah ia selama ini? Sampai saat ia berkata lembut sedikit saja, Adhira akan langsung luluh padanya.
****
"Sehat-sehat terus ya kak, turuti semua kata Zeo. Pokoknya kalau ada apa-apa ngomong sama Zeo. Jangan takut. " kata-kata Mira tadi pagi itu terus terngiang dibenak Adhira.
"Ze, kamu urus Adhira aja biar baby mama sama papa yang urus." kata Mama Zeo saat mereka sudah akan naik pesawat.
Zeo mengangguk, Ia bersiap untuk memberikan putra kecilnya ke papanya sedangkan mamanya menggendong putri kecilnya dengan hati-hati. Tubuh bayi-bayi Zeo yang lebih kecil dari bayi yang lahir normal itu membuat Zeo agak ragu memberikannya pada papanya.
"Ck, uda sini, papa uda pernah megang bayi kalau kamu mau tau." kata Papa Zeo melihat keraguan anaknya. Ah, sekarang hubungan Zeo dan kedua orang tunya pun secara alami mulai membaik. Keterpurukan Zeo waktu kelahiran si kembar benar-benar memberi pengaruh baik untuk hubungan ketiganya.
Zeo berdecak, ia memberikan bayinya pada papanya dengan sedikit tak rela. "Hati-hati pa" kata Zeo yang membuat papa Zeo itu mendengus tak suka karena diremehkan.
Sedangkan Adhira, perempuan itu tak berani mendekat. Ia bahkan tak berani melihat kedua bayinya yang menjadi rebutan Zeo dan mertuanya. Perempuan itu belum bisa menerima bayi-bayi kecil itu disisinya. Ia bahkan hanya melihat kedua bayi itu dua kali, pertama saat ia akan membantingnya dulu, dan kedua saat mereka didalam mobil menuju bandra tadi. Posisi Adhira yang berada didekat mama mertuanya dan juga Zeo mau tak mau membuatnya melihat kedua bayi kecil itu.
"Dhir, kenapa?" tanya Zeo mendekati Adhira.
"Apa peduli lo, urus aja bayi-bayi sialan lo itu" ketus Adhira yang merasa terasingkan.
__ADS_1
Selalu, selalu begitu.
Zeo menghela napas, mood Adhira gampang sekali berubah. Terkadang perempuan itu bisa menangis tersedu-sedu dipelukannya, bermanja padanya, tapi dalam beberapa menit kemudian bisa mengamuk dan memaki Zeo semaunya. Atau bahkan yang paling parah adalah diam melamun dengan pandangan kosong.
"Mau gue gendong?" tawar Zeo ketika melihat Adhira yang masih kesulitan berjalan akibat jahitan operasinya.
Adhira tak menyahut, perempuan itu bingung sendiri. Ia ingin mengiyakan namun termakan gengsi tapi jika berjalan sendiri Adhira mana sanggup menaiki tangga pesawat.
Zeo yang melihat itu diam-diam mendengus jengkel, sebelum akhirnya menggendong paksa Adhira yang membuat perempuan itu memekik karena kaget. Jahitannya tegang dibuatnya. Sialan memang Zeo, batin Adhira, namun begitu, ia tetap diam dan justru mengalungkan tangannya ke leher Zeo. Berusaha menyamankan dirinya.
*****
Selama satu jam lebih perjalan dipesawat dan tiga puluh menit perjalan didalam mobil, Adhira benar-benar tertidur. Perempuan itu bahkan tak terusik ketika bayi-bayinya menangis karena haus dan Zeo yang sibuk mencari botol susu untuk kedua bayinya.
"Ini rumah gue," bisik Zeo begitu mereka turun dari mobil yang menjemput mereka dibandara tadi.
Adhira menatap rumah didepannya. Rumah itu terkesan sangat megah bahkan dapat dikatakan terlalu megah untuk ditinggali sehari-hari.
Adhira tak merespon, ia sibuk memperhatikan sekitarnya. Ini adalah pertama kalinya Adhira menyadari bahwa Zeo benar-benar sangat kaya. Pantas saja prilaku nya sering terkesan semena-mena.
"Baby!" teriakan itu mengalihkan perhatian Adhira. Adik kembar Zeo itu berlari-lari menghampiri bayi-bayi kecil itu yang sekarang sudah berpindah posisi ke dua orang yang jika dilihat dari pakaiannya yang seragam merupakan dua orang perawat.
Selain kedua adik Zeo, keluarga Zeo yang lainnya pun berebut untuk melihat kedua bayi yang belum diberi nama itu. Memang, setelah kejadian gila Adhira yang akan membuang anaknya itu keluarga Zeo langsung pulang dan hanya meninggalkan papa dan mama Zeo saja yang membantunya merawat bayi-bayi itu dirumah sakit. Sedangkan yang lainnya kembali keJakarta atau bahkan pulang ke Jepang terlebih dahulu. Seperti nenek Zeo, si wanita tua asal Jepang itu tak nampak sekarang, mungkin masih dilarang Zeo.
"Oniisan, Baby nya lucu, wahhh, gantengnya.. Sayang ini Aunty loh. Namu Aunty, Aunty Zee, dan Ini Aunty Zea"
"Oniisan, liat, mereka buka mata, "
"Wah, Oniisan, liat-liat, dia liat aku.!"
Adhira yang merasa tak dipedulikan hanya berdiri kaku. Ia bahkan tak bergerak sesenti pun dari tempatnya berpijak. Dalam benaknya, Adhira semakin membenci bayi-bayi sialan itu didekatnya. Dan yang pasti ia semakin merasa dirinya benar-benar tak berguna. Rasa dikucilkan, dijauhi dan dihakimi seperti ketika untuk pertama kalinya ia ketahuan hamil itu kembali menghantuinya. Adhira merasa sangat-sangat putus asa.
Ia merasa sangat asing dengan semua hal ini.
****
__ADS_1
Like, Hadiah dan votenya ditunggu, wkwkwk.
Spoiler bab depan judulnya. Adhira dan depresinya.