EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-46 Hai sayang


__ADS_3

Disisa kesadarannya, Adhira bisa merasakan tubuhnya melayang, mungkin Zeo menggendongnya, ia juga bisa mendengar pemuda itu terus memohon kepadanya untuk membuka mata.


"Bajingan lo ze" bisik Adhira sebelum menutup matanya karena rasa sakit luar biasa diperutnya.


****


Zeo menjambak rambutnya begitu Adhira masuk ruang operasi. Kata dokter, Adhira harus segera melakukan operasi cesar dan melahirkan secara prematur karena banyak faktor selain karena pendarahan akibat pertengkaran mereka tadi dan ternyata juga, kandungan Adhira tak sekuat yang Zeo kira. Kurangnya asupan gizi dan tekanan psikis yang diderita Adhira adalah alasan kenapa anak-anak nya lahir dua bulan lebih cepat dari seharusnya.


Zeo menghela nafas frustasi, Pemuda Jepang yang wajahnya masih babak belur itu bahkan tak memperdulikan bagaimana penampilannya lagi, kaos putihnya terdapat bercak darah Adhira, sedangkan wajahnya kusut penuh sesal.


Masih jelas dibayangannya bagaimana raut kesakitan Adhira tadi, bagaimana wajah pucat dan dinginnya tubuh Adhira tadi.


Zeo menundukkan kepalanya sambil menjambak rambutnya pelan untuk mengurangi rasa sesal didadanya. Ia takut, benar-benar takut.


Zeo tak tau berapa lama ia menunggu dalam sesalnya, ketika akhirnya mertuanya datang dengan wajah panik. Mereka mungkin diberi tau tetangga mereka yang tadi sempat ikut heboh saat Zeo mengeluarkan mobil seperti orang kesetanan dan hampir menabrak satpam kompleks.


"Zeo, Zeo, gimana Adhira- " Tanya Mama Adhira dengan mata yang sudah basah.


"Zeo, Adhira-


"Masih diruang operasi tan, A-adhira harus secar sekarang. Kandungannya lemah." Zeo menjawab dengan gmetar.


" Ya ampun, gimana bisa?" Mama Adhira menangis tersedu dipelukan Deni yang hanya diam.


"Apa kalian bertengkar tadi?" Tanya Deni setelah Mira sudah mulai tenang.


Zeo mendongak dan tanpa ragu mengangguk, "Ya kami- Bugh


Zeo terjatuh dari kursi tunggunya saat Deni langsung menghadiahinya pukulan.


"Kamu-


"Mas, uda, ini rumah sakit, udah" Lerai Mira ketakutan.


Dan setelahnya keheningan benar-benar menemani mereka bahkan sampai akhirnya lampu merah operasi itu berubah menjadi warna yang mereka harapkan.


Anak-anak nya telah lahir.

__ADS_1


Zeo bahkan tak malu menangis tersedu-sedu dipelukan mama mertuanya begitu suara anak-anaknya terdengar saling bersahutan.


"Stt, uda dong bang, liat deh uda jadi papa juga kok." kata Mira lembut pada menantunya yang masih tersedu itu, padahal ia sendiri masih menangis.


Zeo menghapus air matanya, Pemuda itu tersenyum sambil mengangguk-angguk. "Anak Zeo cewek atau cowok ma" tanyanya begitu menyadari ia tak ingat jenis kelamin anak-anaknya. Ia bahkan tak sadar kalau sudah memanggil Mira dengan sebutan mama bukan tante seperti biasanya.


"Cewek-cowok." kata Mira mengacak rambut Zeo gemas. Bayi kembar itu sudah dibersihkan sejak setengah jam yang lalu. Tapi bahkan, Zeo baru bisa menghentikan tangisan harunya sekarang.


"Sepasang?" tanya Zeo disertai kekehan kecil. Ia bahagia.


Mira mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Iya bang, Sepasang. Mirip kamu"


Zeo kembali tergugu, Rasanya dadanya sesak sekali. " T-terus Adhira?"


Senyum Mira agak memudar, "Adhira belum sadar, kamu nangis mulu sih. Gak mau liat anak-anak kamu di ruang Nicu apa?"


Zeo mengangguk, ia menghapus air matanya dan menuju ruangan dimana bayi yang lahir prematur atau mengalami kelainan kesahatan itu dirawat. Walaupun tak begitu fokus ketika dokter dan suster meminta persetujuannya untuk merawat anaknya ke NICU, tapi Zeo sempat mendengar kalau bayi-bayinya mungkin akan menjalani perawatan dalam Inkubator lebih dari 3 minggu atau bahkan satu bulan. Kelahiran kembar diusia 29 minggu ini benar-benar sangat berisiko.


Zeo diarahkan langsung oleh perawat yang bertugas, sampai akhirnya mereka berhenti didekat dua kotak inkubator anak-anaknya.


Zeo menatap perawat dengan mata berkaca-kaca. Seolah-olah meyakinkan dirinya sendiri kalau ia telah resmi menjadi ayah.


Zeo tergugu, Mama mertuanya benar, anak-anaknya sangat mirip dengannya. Walaupun kedua mata bayi-bayi kecil itu belum terbuka tapi Zeo langsung menyadari bahwa keduanya sangat mirip dengannya.


"Hai sayang, ini papa" tangis Zeo tak tega melihat bayi-bayinya yang dililit-likit selang kecil


"Maafin papa ya sayang, maafin papa," Bisik Zeo hampir hanya seperti gumaman.


"Suster, apa boleh saya gendong?" tanya Zeo gemetar.


"Maaf pak, untuk saat ini belum bisa menggendongnya pak, karena kedua bayi bapak masih sangat lemah dan masih perlu penyesuain suhu" Jelas suster itu selembut mungkin, berusaha tak menyinggung perasaan si ayah baru yang masih menggebu itu.


Zeo mengangguk dengan senyum samar, "Hm, lakukan yang terbaik buat anak-anak saya sus. Saya mohon" kata Zeo tak berhenti menatap bayi-bayi itu. Rasanya kedua bayi itu memiliki magnet tersendiri untuknya.


"Pasti pak," kata perawat itu ramah.


***

__ADS_1


Setelah melihat kedua anaknya, Zeo duduk menunggu Adhira. Perempuan itu belum juga sadar dari komanya. Adhira sempat pendarahan saat melahirkan tadi, Namun sudah bisa dijenguk setelah dipindahkan ke ruangan rawat.


"Dhir, sori" kata Zeo mencium punggung tangan Adhira. Pemuda itu merasa sangat menyesal telah berlaku kasar dan sering membentak Adhira sebelumnya yang tanpa sengaja juga menambah beban psikis perempuan itu.


"Lo harus sadar, lo harus liat mereka Dhir." kata Zeo bergetar. "Gue minta maaf, gue minta maaf karena pernah nyakitin lo Dhir" Bisik Zeo pelan.


"Dan makasih uda berkorban buat mereka, makasih Dhira," Bisiknya lagi menghapus air matanya.


Pemuda itu sangat cengeng setelah Adhira melahirkan. Bahkan dapat Zeo rasakan tangannya masih bergetar sisa ketakutannya ketika mengantar Adhira keruang operasi tadi.


"Adhira pasti sadar, dia anak saya yang kuat." kata Deni memegang pundak Zeo. Ayah Adhira itu merasa sangat prihatin dengan menantunya. Mau bagaimana pun ia pernah ada diposisi Zeo bahkan merasakan katakutan yang lebih lagi ketika bunda Adhira melahirkan Adhira dulu sebelum ia mendapat kabar terburuk dalam hidupnya beberapa jam kemudian.


Zeo mengangguk kuat, "I-iya om"


"Sekarang kamu bukan lagi anak laki-laki yang bebas Zeo. tanggung jawab mu semakin bertambah. Kamu bukan cuma suami, tapi ayah untuk anak-anak kamu. Jadi perbaiki sifat dan sikap kamu kedepannya, "


"Kamu harus bimbing Adhira ke yang lebih baik lagi, jaga dan rawat anak-anak kalian dengan baik." Nasihat Deni menepuk-nepuk pundak Zeo berusaha memberi semangat pada menantunya itu.


"Pasti om" kata Zeo yakin.


"Kamu gak kabari keluarga mu?" tanya Deni yang membuat Zeo membeku, ia memang belum mengabari keluarganya yang masih berada dijepang. Kepanikannya membuatnya lupa dengan banyak hal.


"Belum om"


"Kabari dulu, mau bagaimana pun mereka adalah keluargamu. Dan anak-anak mu adalah bagian dari keluargamu" kata Deni yang sekarang sudah agak mulai paham hubungan Zeo dengan keluarganya yang tak begitu harmonis.


Zeo mengangguk, ia akan menghubungi mama dan adik-adiknya terlebih dahulu. Lalu akan mengabari ketiga temannya yang saat ini ntah berada dibelahan dunia mana.


*********


Note :


Sorry gak detail jelasin tentang kelahiran si twin disini.


Walaupun cerita ini uda dibuat jaaaauh sebelum cerita 'Salah' Sandi dan Kea. Tapi waktu nulis ulang aku keinget anak Sandi dan Kea terus. Wkwkwk, dasar baper.


Oya, masih pakai target like ya.

__ADS_1


Bab depan, respon kacaunya Adhira waktu liat anak-anaknya. hmm, si twin di terima nggak ya?


__ADS_2