EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-31 Pagi dan Alina


__ADS_3

Ditengah ambang kesadarannya, Adhira merasa kehilangan ketika tangan Zeo berhenti mengusap perutnya, namun tak berselang lama Adhira dapat merasakan sesuatu bergerak diranjang sebelahnya. Dan harum khas Zeo itu kian melingkupnya ketika sebuah tangan mengusap pinggangnya dari belakang dan secara teratur usapan itu berpindah keperutnya. Perlahan Adhira pun mulai larut oleh usapan itu dan rasa mengantuk enggan memberinya toleransi.


****


Adhira mengerjap ketika ia mendengar dering ponsel yang bukan miliknya. Itu milik Zeo,


Perempuan itu membuka matanya dan sangat terkejut ketika menyadari posisinya yang sedang memeluk Zeo serta menyadarkan kepalanya didada pemuda itu. Mereka akan benar-benar menempel jika saja perut Adhira tak menghalanginya. Seketika Adhira merasa jijik dengan dirinya sendiri. Ia mendorong Zeo kuat dan melepaskan diri dari pelukan yang sialnya ia lah yang memeluk Zeo.


Namun hal itu tak membuat Zeo bangun. Pemuda itu malah mengganti posisinya dan kembali tidur dengan nyenyak. Seolah dorongan kuat Adhira tadi hanya sekedar dorongan ringan.


"Bangsat," Adhira mengusap tubuhnya kasar. Perempuan itu mengusap bahkan bisa dibilang hampir mencakar tubuhnya sendiri yang tadi sempat menempel dengan tubuh Zeo.


Ia benar-benar merasa jijik kepada dirinya sendiri. Pikirannya pun mulai melayang, apa mereka hanya berpelukan saja tadi malam atau melakukan hal lebih. Memikirkan itu, Adhira pun langsung bangkit dari ranjangnya, perempuan itu mengecek pakaiannya yang lengkap dan melihat lehernya apa kembali meninggalkan jejak kebajingan Zeo seperti yang lalu. Adhira masih trauma dengan kelakuan bajingan Zeo waktu itu.


Adhira bernapas lega, ia lalu mencari suara dering ponsel yang kembali mengusik yang Adhira yakini bukan miliknya melainkan milik Zeo.  Adhira berdecak ketika dering itu berhenti namun selang beberapa detik ponsel itu kembali berdering, Sebenarnya siapa pengganggu pagi yang tak tau tata krama dalam menelpon itu. Ah, Ya, jika itu ponsel Zeo pasti yang menghubunginya adalah kenalan Zeo. Pantas saja. Sama-sama tak punya urat malu. Maki Adhira pelan.


Tak perlu waktu lama bagi Adhira untuk menemukan ponsel itu dijaket Zeo.


Adhira mengernyit jijik ketika  ia menyadari Zeo tidur menggunakan jaket yang sering dipakai pemuda itu ketika pergi keluar. Apa pemuda itu tak memiliki rasa jijik.


Ai


Adhira menegerutkan keningnya, berusaha mengingat siapa pemilik nama pemanggil ini.


Apa salah satu adik Zeo? Atau teman-temannya? Kenapa namanya aneh sekali.


Karena penasaran Adhira pun langsung mengangkatnya.


"Halo Ze? Kamu kok lama banget sih angkat teleponnya? Masih tidur atau gimana ih,"


Adhira tergagap ketika suara lembut perempuan yang menyapanya.


"Ze? Halo?"


Adhira berdehem, "Ini siapa ya?"


"Ha?"


Adhira mendengar suara perempuan disebrang telepon sedikit kebingungan. Mungkin sama-sama bingung seperti dirinya.

__ADS_1


"Em, loh, kamu yang siapa? Ini nomor Zeo kan? Kenapa hp nya bisa sama kamu. Zeo kemana?"


"Zeo?" Adhira pura-pura tak tau. Ntah kenapa Adhira merasa ada yang tak beres dengen hubungan perempuan si penelpon ini dengan Zeo. Apa si Ai ini adalah pacar Zeo.


"Iya, Zeo, Alzeo immanuel. Kamu kok bisa pegang hp nya?"


"Oh Alzeo, iya hp nya masih sama aku, kamu siapanya ya?" tanya Adhira mencoba mencari tau siapa perempuan itu.


"Kok bisa sama kamu? Ketinggalan atau gimana? Kamu teman kampusnya? Aku Alina pacarnya."


Adhira berdecih, "Oh Alina, kamu pacarnya ya?"


"Iya, kamu siapa nya Zeo? Kenapa hp nya bisa sama kamu? " tanya Alina yang mulai curiga.


"Aku Adhira,"


"Oh- Mbak Adhira-


"Adhira Takahashi, Istri Zeo immanuel Takhashi, " Sambung Adhira tersenyum culas,


"Istri, jangan becanda deh mbak."  kata Alina mulai kesal.


Adhira menatap layar ponselnya yang menampilan wajah Alina, perempuan itu sangat cantik seperti model, sama seperti suaranya yang lembut tatapan perempuan itu pun demikian. Pantas saja Zeo mau. Batin Adhira.


"Uda puas liatin suami gue tidur? Kalau Uda  bay." kata Adhira memutuskan sambungan.


Adhira menghentakkan kakinya kesal, ia melempar ponsel itu kewajah Zeo membuat pemuda itu terbangun dan mengerang.


"Gila lo!?" bentak Zeo memegangi keningnya yang memerah.


Adhira berdecak, perempuan itu menatap Zeo dengan pandangan marah.


"Lo yang gila bangsat, bajingan, sialan!" Adhira melempari Zeo dengan semua benda yang ada disekitarnya. Ia marah, benar-benar marah.


"Dhira lo kenapa sih."


Adhira mengusap air matanya yang ntah kenapa menetes, "Sialan lo." makinya meninggalkan kamar.


"Adhira" panggil Zeo dari kamar dengan bingung.

__ADS_1


Adhira berusaha mengatur emosinya, ia tak tau kenapa hatinya bisa sesakit itu mengetahui Zeo memiliki kekasih.


Jadi selama ini pemuda itu sering pulang malam karena itu?


Lalu apa gunanya pemuda itu mempertahankan anak dan pernikahan mereka, jika sudah memiliki kekasih.


Adhira mengerang marah ketika membayangkan Zeo sedang bersama Alina dan bersenang-senang disana sedangkan dirinya tak bisa tidur nyenyak karena anak-anak sialan Zeo ini.


"Kalian liat, kelakuan bajingan papa kalian itu kayak apa? Dia cuma manfaatin gue buat jaga kalian. Tapi dia seneng-seneng sama pacarnya- sialan. Kalian sama-sama sialan. Hiks." tangis Adhira didapur sendirian.


**


"Akh" Zeo mengerang kesal sambil kembali menidurkan tubuhnya. Keningnya nyut-nyutan, dan tubuhnya sangat lelah. untung saja hari ini adalah hari minggu, ia tak perlu disibukkan banyak hal dengan diburu waktu.


Zeo kembali berdecak ketika melihat kekacauan yang dibuat Adhira, menghela napasnya kasar zeo pun membereskan barang-barang perempuan itu yang dilempar membabi buta kepadanya. Zeo tak tau masalahnha apa. Tiba-tiba saja Adhira mengamuk tanpa sebab.


Apa perempuan itu marah ia tidur disebelahnya. Tapi- Bukan kah dua minggu terakahir juga begitu?


Zeo masih sibuk membereskan alat-alat rias Adhira yang berserakan, Namun kegiatannya terhenti ketika ponsel retaknya itu menampilkan notifikasi bar chat Alina. Ah, omong-omong Zeo memberi ID kontak Alina dengan Ai, artinya Cinta dalam bahasa Jepang.


Ai (3)


[Ze please bilang tadi itu bohong]


[aku mohon Ze]


[kamu gak hianati aku disanakan? Kamu setia sama aku kan?]


Zeo menahan napasnya begitu membaca chat dari Alina. Apa maksud kekasihnya itu?


Pemuda itu langsung membuka semua daftar panggilan diponselnya. Ada nama Id Alina disana dan panggilan itu dijawab masuk.


Zeo menatap pintu kamar dimana Adhira pergi tadi, apa Adhira yang mengangkatnya tadi? Apa Adhira sudah mengetahui hubungannya dengan Alina? Apa perempuan itu mengamuk karena hal itu? Tapi kenapa Adhira semarah itu?


Batin Zeo penuh dengan berbagai pertanyaan.


****


Kalian masih pada ingat Alina kan?

__ADS_1


Namanya sering muncul di bab-bab awal.


__ADS_2