EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-55 Kelapangan Panji


__ADS_3

Tak mau banyak bertanya Zeo pun mengangguk dan mengiyakan. "Oke, nanti juga sekalian ajak Dhira sama anak-anak keluar hari minggu." kata Zeo berusaha tak memikirkan keputusan orang tuanya mengenai kepindahan kedua adiknya.


*****


Sekarang disini lah Zeo, Adhira dan kedua anaknya, di bandara sambil menunggu kedatangan adik kembar Zeo itu .


"Zela sama papa aja, mama gak bisa gendong Zela juga. Kan mama uda sama Ken ya, kakak sama papa ya." kata Zeo membujuk putri kecilnya yang mengamuk minta digendong Adhira. Ceritanya kedua anak kembar Zeo itu sedang manja-manjanya dengan si mama. Semua sama mama, semua-semua mama. Zeo bahkan sedikit meringis kala hanya kata 'mama' yang diucapkan dua bayinya itu di seminggu terakhir.


"Mama-ma, " tangis Zela memberontak digendongan Zeo, terus mengulurkan tangan pada Adhira yang sudah tampak lelah mengurus Ken yang memang manjanya melebih-lebihi bayi seusianya.


Zeo menghela napas lelah, "Gak bisa sayang, Zela sama papa aja ya."


"Aaa, mama-ma" Zela tetap memberontak minta digendong Adhira.


"Kakak sama papa ya, mama gak bisa ini gendong kalian dua-duanya." kata Adhira menenangkan putrinya. Merasa agak sedih saat Zela menangis histeris, jujur saja, Adhira menyadari sejak semalam Ken yang selalu mendapat perhatiannya. Tapi mau bagaimana lagi, Ken rewelnya luar biasa.


Merawat dua bayi itu benar-benar gila.


"Mama-ma hiks."


Melihat tangisan Zela yang semakin keras dan membuat mereka menjadi pusat perhatian orang-orang, mau tak mau Adhira mengambil Zela dari Zeo.


Alhasil sekarang Adhira menggendong Zela dan Ken sekaligus. Barulah tangisan si sulung Talahashi itu mereda, berganti kicauan tak jelas sambil memukuli wajah sang adik.


"Dhir, gak papa" Tanya Zeo canggung.


"Hm" Dehem Adhira pelan.


"Ken sama papa aja yuk, kasian mamanya capek gendong Ken sama Zela oneechan, Kita beli es krim yuk." rayu Zeo pada Ken.


"kim"


"Iya es krim, mau"


"Au" kata kedunya kompak.


"Loh Zela juga mau?" tanya Zeo pada kedua anaknya.


"Mama juga mau?" tanya Zeo dihadapan Adhira dan hal itu membuat Adhira memalingkan wajahnya salah tingkah. Zeo memanggil nya mama.


"Em, aku aja yang beli. Kamu nunggu Zea sama Zee takutnya mereka gak hapal sama aku." kata Adhira gugup.


"Ken sama kakak sama papa dulu aja ya, biar mama yang beli es krim" kata Adhira memberikan Zela dan Ken kepelukan Zeo dengan buru-buru.


Zeo yang terkejut dengan tingkah istrinya itu hanya menggelengkan kepalanya tak mengerti. Kenapa Adhira bertingkah seperti remaja sekolah seperti itu,

__ADS_1


"Hua- mamama"


Zeo memejamkan matanya kesal, oke baiklah, tampaknya kali ini ia harus menebalkan muka untuk mengurus dua bayinya yang kembali tantrum karena melihat mamanya melangkah pergi.


****


Ketika sudah jauh dari anak dan suaminya, Adhira menghentakkan kakinya kesal. Ia tak habis pikir kenapa tadi sempat gugup hanya karena Zeo.


Menoleh kanan-kiri Adhira bingung harus membeli ea krim yang mana, ia bingung sendiri saat melihat banyaknya stan es krim disana, menghela napas pasrah, akhirnya Adhira tidak jadi membeli es krim, melainkan membeli beberapa camilan seperti roti. Hal itu ia lakukan ketika ia menyadari daya tahan tubuh anaknya tidak sebaik anak-anak lain.


Zela dan Ken itu gampang sakit hanya karena hal sepele. Setidaknya itu lah yang dia ketahui melalui Tari beberapa hari yang lalu saat Adhira ingin memberi es buah ke Zela.


"Dhira?" panggilan itu membuat Adhira yang akan membayar makanannya terhenti.


Perempuan itu terpaku ketika ia mengenali siapa orang yang memanggilnya.


"Biar gue yang bayar," kata Panji melewati Adhira. Ya orang yang memanggilnya tadi itu memang Panji. Mantan kekasihnya.


"Nih," kata Panji memberikan belanjaan Adhira.


"Thanks" kata Adhira menunduk.


"Santai aja kali Dhir, lo sama siapa kesini? Zeo?" tanya Panji menoleh kanan-kiri untuk mencari orang yang tanyakan.


"I-iya lo?"


"Lo sama siapa, mau kemana juga?" tanya Adhira mencoba santai.


"Gue sendirian lah, jomblo ini" tawa Panji.


Adhira berdehem, "Oh,"


Panji yang menyadari suasana semakin canggung pun menggaruk kepalanya, "Gue baru pulang dari LA dan ini nunggu jemputan." kata Panji akhirnya.


"LA? Lo kuliah disana?" tanya Adhira bingung, pasalnya dulu laki-laki itu pernah bilang kalau ia tak mau ke LA dan menuruti permintaan ayahnya.


"Ehm, gue pikir-pikir nuruti ayah gue gak ada salahnya juga sih. Lagian cari suasana baru juga kan. Refreshingin otak dari banyak masalah" kata Panji Yang membuat Adhira terdiam. Ia tau Panji sedang menyindir masalah mereka dulu.


Lama mereka diam, Adhira enggan bersuara sedangkan Panji terus menatap Adhira. "Dan rupanya gue tetep gak bisa ngilangi masalahnya." kata Panji lagi.


"Pan-"


"Lo apa kabar dhir? I miss you bad." kata Panji langsung menarik Adhira kepelukannya.


Perempuan itu terkejut, ia mendorong Panji untuk melepaskan pelukannya. "Pan- jangan gini gue-

__ADS_1


"Ck, walaupun gue belum bisa move on dari lo Dhir, tapi gue cuma mau peluk doang kok gak mungkin gue rebut istri orang kan?" kata Panji terkekeh. Kekehan yang siapapun tau, itu bukan jenis kekehan bahagia. Justru sebaliknya. Kekehan. miris yang meyayat hati.


Adhira memalingkan wajahnya.


"Lo baik-baik sama Zeo ya Dhir, walaupun gue tau waktu gue ngomong gini sama lo dalam hati gue sebenernya doain kalian pisah sih." tawa Panji lagi.


"Lo tau nggak Dhir, dulu gue pernah hampir rebut lo dari Zeo?" kata Panji yang membuat Adhira menatap mantan kekasihnya itu penasaran.


"Waktu itu gue uda hampir nekad buat rebut lo dari Zeo, gue pikir gak ada salahnya kok gue jadi ayah buat anak lo kelak. Yang penting lo balik lagi sama gue- apalagi waktu gue tau dari Devi lo jadi bahan bullyan tetangga lo karena Zeo pergi dulu." kata Panji mengingatkan Adhira dihari ulang tahunnya dulu. Ia sempat bertemu Devi dan Gisel ditaman.


"Tapi gue sadar sih, gue bukan siapa-siapa kalau dibanding Zeo. Lo hebat Dhir, dulu lo bisa ngerubah gue jadi lebih baik dari pergaulan bebas gue diJakarta. Dan sekarang lo bisa ngerubah berandalan kelas kakap kayak Zeo jadi mellow dan tunduk sama lo."


"Apa-


"Waktu itu gue liat Zeo nangis semenyedihkan itu cuma karena lo koma setelah lahiran" Panji terkekeh, "Saat itu juga gue sadar, Zeo emang orang yang tepat buat lo." Kata Panji datar.


Adhira mendongak, masih dalam posisi berpelukan ini membuat Adhira hanya bisa melihat dagu Panji. "Zeo nangis,"


"Hm, dan sejak saat itu gue sadar. Gue gak ada apa-apanya dibandingkan Zeo."


Adhira tak tau harus berkata apa, sejak dulu ia tau Zeo peduli padanya, tapi ia sungguh tak tau kalau Zeo semenyedihkan itu hanya karenanya.


"Gue sayang banget sama lo Dhir, tapi- gue bakal tetap dukung lo buat Zeo kok, jadi bahagia ya Dhir" Kata Panji mencium kening Adhira.


Adhira mengepalkan tangannya, ia masih suka Panji, seharusnya. Tapi, kenapa ciuman ini berbeda dengan ciuman curi-curi Zeo ketika ia tidur. Kenapa ciuman kening ini terasa begitu- Hambar.


"Dhir,"


"Hm"


"Kayaknya gue uda kelewatan banget, gak seharusnya kita kayak gini" Kata Panji berdehem sebelum melepas pelukannya.


"Ha?" Adhira mengernyit bingung.


"Itu suami lo ngeliatin kita dari tadi, kok gue jadi gugupnya. Kayak ketauan maling." kata Panji menatap Zeo yang berdiri tak jauh dari mereka.


Adhira menoleh kearah pandang Panji. Disana Zeo berdiri dengan tatapan marah dan Zela juga Ken yang menangis digendongannya.


Untuk pertama kalinya, Adhira merasa setakut ini dengan seorang Alzeo Immanuel Takahashi yang sekarang sedang tersenyum culas menghampirinya.


****


note:


Jangan menduga kalau bakal ada kisah lama bersemi kembali ya guys. Gak akan ada diceritaku, --- Tapi ntah kalau lain kali.

__ADS_1


Tapi beneran, aku gak suku selingkuh-selingkuh klub wkwkwk.


Oia, Sorrya for typo, dan sorry juga, harusnya up semalm siang juga, tapi paket data aku habis huhuhu


__ADS_2