EGO- Adhira

EGO- Adhira
Zeo- 65 Boleh?


__ADS_3

Zeo memperhatikan Adhira dari depan pintu sambil bersedekap dada, senyumnya mengembang saat Adhira memakai gaun tidur pendek. Memutar-mutar tubuhnya dengan percaya diri.


"Bagus yang mana ya?" Kata nya bergumam.


Adhira lalu membuka lagi gaunnya, berniat menggantinya dengan piyama tidur pendek yang biasa ia pakai.


Zeo yang melihat Adhira membuka gaun atasnya dengan santai pun refleks berdehem dan mulai panik. Sedangkan Adhira yang ikut kaget menatap Zeo dengan wajah pias.


"Z-ze-


"Sori, aku gak tau kamu lagi ganti baju, a-aku, aku keluar dulu ya, iya aku keluar" Kata Zeo menutup pintu, meninggalkan Adhira yang kini bergerak kaku. Perempuan itu mengancing piyamanya dengan wajah yang benar-benar pucat.


"Oya-"


Adhira kembali berkedip dengan wajah kaku saat Zeo kembali memunculkan kepalanya dengan mata terpejam. "Aku- mau ajak kamu makan malam" Kata Zeo sebelum menutup pintu dengan bantingan.


Adhira berdehem,


Apa Zeo melihat semuanya?


Apa Zeo sejak tadi memperhatikannya?


T-tapi-


Akh, Adhira menggigit bibir bawahnya malu, sialan Zeo.


***


"Papa nande (Kenapa)? Mama itu gak ada?" Tanya Zela saat melihat Zeo yang berdiri kaku didepan kamarnya sendiri.


"Hah"


"Papa napa? Mama mana?" Tanya Ken menimpali, ikut bingung saat melihat papanya linglung. Tadi papanya bilang mau mengajak mamanya makan malam, tapi ia heran kenapa papanya seperti orang yang baru ketahuan mencuri didepan kamarnya sendiri.


Zeo berdehem, pikirannya agak kosong saat melihat Adhira yang hampir akh- sudah lah. Yah, walaupun itu bukan kali pertama melihat Adhira em-, maksudnya, oh ayolah mereka sudah menikah lima tahun dan punya dua anak. Sedingin apapun hubungan mereka dulu, tapi pasti hal seperti itu bukan hal yang tabu. Namun, em ntahlah.


"Papa-"


"Muka papa melah"


"Oh, ya, ya" Zeo menggaruk pipinya. "Papa digigit nyamuk, oya, kalian kenapa disini, ayok makan. Mama masih pakai baju" Kata Zeo berdehem diujung kalimatnya.

__ADS_1


"Mama mana?"


"Mama pakai baju. "


"Papa intip ya mama ya" ejek Ken dengan jenaka.


"Papa- " Teriak Zela dan Ken kesal saat Zeo meninggalkan mereka dengan menutup kedua telinga.


Sial. Zeo sangat malu sekarang.


****


"Muka papa melah, tapi itu ikan nya nggak kalai(Karai\=pedas) kok." Kata Zela lagi saat wajah papanya masih saja memerah ketika bertatapan dengan sang mama.


"Ya kan mama" Kata si sulung Takahashi itu lagi.


Adhira dan Zeo berdehem. "Uda kamu makan aja, papa lagi gak enak badan kak," Kata Adhira mengalihkan tatapannya.


"Tapi muka papa melah"


"Kak"


"Papa intip mama ya, telus di malahi mama ya" Ejek Ken lagi tak tau situasi.


"Papa malu ya ma"


"Papa intip mama pakai baju tadi loh mama, ya. ya pa?"


Adhira melirik Zeo, begitupun Zeo yang kebetulan menatapnya.


Mereka berdehem bersama.


"Papa mama muka nya kok melah semua"


Ya Tuhan, kenapa canggung sekali.


****


Setelah membacakan dongeng untuk kedua anaknya karena Adhira yang mengeluh mulas tadi, akhirnya Zeo bisa menidurkan tubuhnya dengan tenang.


Setidaknya itu harapannya sesaat sebelum melihat Adhira yang duduk diranjang dengan gaun pendek yang tadi menjadi alasan bullian anak-anak pada nya.

__ADS_1


"Z-ze"


"Ka-kamu, kok"


Adhira berdehem, perempuan itu lalu turun dari ranjang. Mengalungkan tangannya dengan pelan keleher si laki-laki Jepang itu.


"Dhira" Sial, Zeo gemetar saat memanggil nama istrinya itu.


Adhira terkekeh pelan, ia lalu berjinjit, mengecup pucuk hidung Zeo dengan gemas.


"Selamat ulang tahun pernikahan papa nya Zela Ken, Makasih uda ada dan selalu mau bertahan untuk ku dan anak-anak. Maaf uda acuh tak acuh sama kamu dulu. Aku-hmp


Adhira tersentak saat tubuhnya ditarik dan dipaksa berjinjit saat Zeo memeluknya dan mencium bibirnya.


"Selamat ulang tahun pernikahan juga, aku pikir kamu lupa-


Adhira tersenyum, dan itu dijadikan kesempatan untuk Zeo menciumi bibirnya dengan gemas.


"Gak mungkin aku lupa lah, tanggal dan bulan ini tuh tanggal dimana hidup aku berubah 99 persen. Aku bahkan masih ingat gimana sakitnya tangan ku yang kuiris pakai pisau. Atau sakitnya kepala ku karena aku pecahkan ketembok. Aku juga masih ingat gimana sakitnya perutku waktu aku pukuli mereka waktu itu-


Adhira tersenyum kecil saat melihat respon Zeo yang diam. Bola mata laki-laki itu berkaca-kaca.


"Maaf" Bisik Zeo pelan.


"Maaf-


"Tapi dihari yang menurutku hari terburuk didunia itu, akhirnya sekarang menjadi hari yang paling aku syukuri. Dimana akhirnya hari itu, aku ngeliat gimana bertanggung jawabnya si kakak kelas nakal itu. Dia mau bertahan, dia mau mengalah, dan dia mau tetap jadi andalan ku dan anak-anakku."


Mata Zeo kian merah.


"Alzeo,,, Makasih uda mau bertahan" Bisik Adhira lembut sebelum gantian ia yang mencium bibir Zeo.


Zeo mengangguk diciuman mereka. Mereka saling berbalas ciuman sebelah bisikan Zeo menjadi bisikan rendah yang membuat Adhira terpaku.


"Adhira- boleh?"


Adhira terkekeh, dan untuk kali pertamanya, mereka menikmati malam tanpa harus keterpaksaan hati. Dan semoga selalu begitu.


****


Ekhem, walauoun aku uda jarang up.

__ADS_1


Tapi emm, masih ingatkan kewajiban hari seninnya.. Wkwkwk


__ADS_2