EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-35 Sindiran untuk Adhira


__ADS_3

"Ze-zeo pergi," kata Zeo kembali menjalankan mobilnya gila-gilaan. Pemuda itu bahkan tak memperdulikan hujan deras yang menerpa.


Yang ada dipikiran pemuda itu hanya wajah pucat orang yang sudah membesarkannya, ia tak memikirkan hal lainnya selain hal itu.


****


"Kamu mau makan ini kak?" tawar Mira menunjuk nastar buatannya. Ia baru saja membuat camilan, bermaksud agar Adhira mau menyemil. tapi tampaknya niatannya gagal saat melihat Adhira lagi-lagi menggeleng.


"Gak mau ma," katanya tak enak hati. Ini adalah tawaran mamanya yang kesekian kalinya dan Adhira selalu menolaknya. Semalam mama membuat soup jagung, semalamnya lagi membuat bolu karamel, lalu semalannya lagi membuat martabak manis dan hari ini membuat nastar. Dan sayangnya, semuanya tak ada yang Adhira makan sama sekali.


Mira menghela napas, mood makan Adhira kembali seperti saat trimester pertama dulu lagi. Anak perempuannya itu tak berselera makan dan hanya meminum susu hamil saja sebagai asupan energinya. Tubuh Adhira yang memang kurus pun semakin kurus. Adhira seperti tak memiliki tenaga apapun.


"Kamu makan sesuatu dong kak, Biar gak lemes gitu. Bubur ayam mau mumpung masih pagi ini. Mama belikan ya sama mang Roni"


Adhira langsung menggeleng kuat, "Nggak!" Bentak Adhira spontan, dan saat melihat keterkejutan mamanya, Adhira mencoba tersenyum .


" Em maksud kakak, kakak gak mau ma, Kakak mual, kakak juga gak bisa makan segala jenis bubur sekarang" kata Adhira memberi alasan, sungguh bubur mengingatkannya tentang kebejatan Zeo dulu. Hanya dengan membayangkannya saja, Adhira seketika merasa mual.


Mira mengangguk tanpa curiga, sambil menyusun nastar buatannya kedalam toples Mira sesekali melirik Adhira yang tampak ragu untuk mengelus perutnya sendiri.


"Mereka nendang?" tanyanya.


Adhira tergagap, "Hah, nggak kok mah."


"Sakit?"


Adhira diam saja.


"Hm, kenapa sini cerita sama mamah kok seminggu dirumah mamah kakak sering bengong, gak mau makan, kurusan lagi, apa kata Zeo nanti waktu tau kamu kurusan lagi. padahal Zeo bilang kamu suruh naikin berat badan semalam. Kakak Gak betah atau gimana hm?" tanya Mira meninggalkan nastarnya dan menghampiri Adhira, mengelus rambut putrinya sayang.


Adhira memeluk mamanya, " Mama kok ngomong gitu? Ini kan masih rumah kakak juga. Ya jelas betah dong, betah banget malah" Sangkal Adhira.


"Terus kenapa dong?" tanya Mira lembut.


"Perut kakak gak enak mah, bayinya nendang terus, kakak gak bisa tidur." Adu nya manja. "Kakak juga gak bisa makan walaupun laper, Hiks, neyebelin" Adhira mendung, matanya memerah. Dan Mira langsung berusaha menenangkannya.


Memang semenjak Adhira dirumah orang tuanya tanpa Zeo. Bayi-bayi Zeo itu sering berulah minta diusap-usap. Sedangkan Adhira sudah pasti enggan melakukannya. Ia tak mau menurunkan harga dirinya untuk mengurus anak-anak Zeo walaupun sebagai balasan nya ia tak bisa tidur atau makan dengan tenang.


Prinsipnya adalah enggan mengalah dengan apapun yang berurusan dengan Zeo. Walaupun ia yang rugi nantinya.


"Oya? Wah cucu-cucu nenek nakal ya. Kangen papa ya sayang? Jangan gitu dong kalau kangen. Mama nya juga harus makan , Biar kuat nyusulin papa pulang nanti" kata Mira mengelus perut Adhira.


Adhira memberengut, "Mama ih, gak usah bahas-bahas Zeo."

__ADS_1


Mira tertawa, "Kenapa emangnya? Kamu takut kangen? Zeo gak ada nelpon kamu apa?"


"Dih, Dia mati juga kakak gak peduli mah."


"Eh, kakak ngomongnya kok gitu, emang Kalau Zeo meninggal, kamu mau jadi Janda, ih kalau mama gak mau" Kata Mira tertawa, ia hanya berniat menggoda putrinya. " Tapi kak, mama liat-liat Zeo baik juga ya. dia sabar banget ngadepin kamu dan ayahmu yang kayak gitu, wawasannya juga bagus. Mama denger-denger, Orang tua Zeo di Jepang termasuk orang berada ya?"


"Ma ih,"


"Loh, mama kan cuma bilang kebaikannya suami kamu, aturnya kamu senang dong. Mama mulai suka sam Zeo, ya kan dek" Kata Mira mengelus perut besar Adhira.


"Tuh kan mama ih, udah lah aku mau ikut Devan joging aja." kata Adhira marah, perempuan itu menghentakkan kakinya untuk menyalurkan rasa marahnya. Mira terkekeh geli karenanya. Namun saat Adhura sudah diambang pintu, tiba-tiba pikiran buruk menyerang Mira, takut tetangganya bicara yang tidak-tidak pada Adhira.


"Eh, kak, Adhira makan dulu, jangan keluar-keluar rumah kak" teriak Mira yang tak didengar Adhira.


Adhira berjalan pelan disekitar depan rumahnya, perempuan itu sesekali memegang pinggangnya yang terasa agak pegal. Sepertinya sekarang ia mulai cepat lelah. Pinggang dan kakinya lagi. Uh, pegal sekali.


"Loh Adhira udah pulang," kata  buk Astuti, tetangganya yang ntah datang dari mana, namun jika dilihat dari apa yang dibawa mungkin baru pulang belanja.


"I-iya Tan," kata Adhira malu. Dulu buk Astuti ini sering menjodoh-jodohkannya dengan anaknya yang dua tahun lebih tua dari Adhira.


"Kapan pulang kok gak pernah ketemu?"


"Uda seminggu Tan, "


"Oh, sama suami mu?"


"Loh kenapa gak ikut? Berantem?"


Adhira menyengir tak enak hati, perasaannya semakin tak enak ketika melihat tetangga depan rumahnya keluar, Buk Gina yang diikuti anaknya, Devi namanya, sekaligus teman seperguruan karate Adhira.


"Loh mbak As, dari mana?" tanya tetangga depannya.


"Eh mbak Gina, Ini loh baru pulang dari beli sayur terus jumpa Dhira. Heran katanya uda pulang seminggu tapi gak pernah jumpa ya mbak, suaminya juga gak ikut katanya." kata buk Astuti menjawab.


Seketika Adhira menyesali keputusannya untuk keluar rumah. Ia melupakan bahwa kejadian yang menimpanya sangat menghebohkan seluruh warga kompleks. Bahkan semua orang juga tau tentang percobaan bunuh diri, hamil diluar nikah, nikah paksa, dikeluarkan dari sekolah dan perguruan karate, bahkan sampai putusnya ia dan Panji pun menjadi topik hangat sampai beberapa hari.


Hal itulah yang menyebabkan Adhira enggan keluar rumah ataupun apartemen selama ini. Ia malas bersosialisasi karena takut didiskriminasi dan dikucilkan.


"Oh, Hai Dhir apa kabar?" sapa Devi


"Baik" kata Adhira mencoba ikut santai.


"Kamu beneran uda pulang seminggu? Apa mobil yang datang hujan-hujanan itu kamu ya?"

__ADS_1


Adhira mengangguk mengiyakan.


"Oh, kamu kan diantar suami mu kan? Dia gak ikut nginep? Kenapa?" tanya Devi.


"Iya, berantem atau gimana Dhir? Atau ada masalah." sambung buk Gina, mama Devi.


"Ya itu loh mbak, akupun penasaran kok betah dirumah seminggu gak ada keluar ditambah pulang gak sama suaminya datang hujan-hujanan lagi tuh." kata buk Astuti menyindirnya. Tetangganya itu memang berubah total setelah kejadian Adhira dulu.


"Oalah mbak, namanya juga anak-anak masih muda, pikirannya belum mateng. Belum bisa nyelesaiin masalah dengan kepala dingin. Waktu berbuat kadang kan gak kepikir keburu kebawa nafsu." kata buk Gina.


Adhira melirik kanan-kiri tak nyaman. Ia sudah panas dengan semua pembicaraan tetangganya juga tatapan Devi yang merendahkan. Omong-omong hubungan Devi dan Adhira tak begitu baik karena Adhira yang mengalahkan Devi dalam pencalonan Osis dulu.


"Iya memang mbak, ck anak muda sekarang ya jangan sampai anak-anak kita ngalamin ya, biar kecapai dulu cita-citanya."


"Iya mbak, Devi juga sering kuceramahi kok. Sayang kalau sekolah pinter, ilmunya banyak tapi gak digunakan. Malah sibuk ngurus anak sama suami."


Sudah. Adhira sudah muak dan ingin mencakar-cakar wajah tetangganya ini, tetapi ia sadar kalau itu semakin memperjelek namanya. "Ekhem, Dhira pamit pulang dulu ya tan. "


"Eh kenapa? Capek ya. Oia kandungan kamu itu uda berapa bulan kok uda besar banget kayak 9 bulan. Uda mau lahiran ya" kata buk Astuti lagi.


Adhira hanya tersenyum paksa, ia malas menjelaskan. Karena Adhira tau tetangganya itu hanya ingin menggosipkan nya dan menyudutkannya.


"Padahal belum ada 7 bulan kan Dhir? Atau uda lebih? Seinget tante kamu nikah dulu kan baru hamil sebulan ya " kata buk Gina menambahkan.


Adhira menunduk begitu ia merasakan tangannya agak bergetar. Sial. Ia terserang panic attack lagi.


"Uda lah mah, Tan, Dhira pegel itu biar istirahat." kata Devi tersenyum kecil namun Adhira tau teman sebayanya itu mengejeknya dalam hati.


"Oiya, yaudah Dhira sana pulang, tapi kamu kalau ada masalah sama suami mu itu ya didiskusikan jangan langsung pisah rumah. Jangan dibawa stres juga kamu kan kadang-kadang pikirannya pendek  dan bla-bla-bla


Adhira langsung meninggalkan tempat itu dan masuk kerumahnya ketika tetangganya itu terus mengoceh, masih bisa Adhira dengar mereka mengatainya tak punya sopan santun karena langsung pergi.


Adhira menunduk, ia melihat perutnya yang menonjol. Padahal usia kandungannya baru memasuki minggu ke 26. Bulan genap 7 bulan.Tapi perutnya memang sudah tampak cukup besar. Mungkin karena kehamilan kembar.


Mata Adhira berkaca-kaca, "Kalian denger itu, kalian tau kenapa gue benci kalian? Kalian uda ngancurin hidup gue sialan. " kata Adhira memukuli perutnya.


"Kakak! Ya ampun Adhira kamu ini uda gila apa ya." Teriak Mira yang melihat Adhira memukuli perutnya seperti itu.


"Iya! Adhira uda gila, Adhira Gila, Adhira gak berguna, Adhira sampah dan itu semua karena anak-anak ini." kata Adhira menangis.


Mira menarik putrinya kepelukannya. "Kamu kenapa sih sayang, cerita sama mama ya pelan-pelan."


"D-Dhira benci Zeo ma, Dhira benci Zeo hiks." tangis Adhira dipelukan mamanya.

__ADS_1


****


Tetangga julid, time wkwkwkwk.


__ADS_2