
Zeo memundurkan tubuhnya, "Zeo pulang, Otousan"
Dan untuk pertama kalinya, Kenji menyayangkan masa mudanya yang kelam.
****
Zeo sampai esok paginya, awalnya, ia langsung mengunjungi apartemen, berharap Adhira sudah pulang.
Namun, yang ia dapati hanyalah ruangan sunyi yang mulai berdebu. Yah, tak mengherankan sih, apartemen ini sudah ia tinggal lebih dari dua minggu lamanya. Atau bahkan bisa disebut tiga minggu?
Zeo mengusap wajahnya, ia ragu untuk kerumah mertuanya, rasanya malu karena ia sudah menelantarkan Adhira tiga minggu terakhir tanpa kabar. Namun, sekali lagi, Pemuda Jepang yang sekarang tampak lebih kurus itu menatap chat mama mertuanya.
[Ze, kamu gak ada niatan pulang? Adhira butuh kamu. ]
[Tante gak maksa kamu untuk pulang, namun, apa kamu juga gak ngerasa ingin jadi seseorang yang dibutuhkan anak-anak mu kelak]
Zeo meremas ponselnya. Ia harus kerumah mertuanya sekarang, ah, tidak tampaknya ia akan kesana malam nanti, agar bisa mengumpulkan kembali tenaganya. Ia harus tidur agar bisa menemui Adhira dan calon anak-anaknya.
Yah, ia harus menjadi sosok yang dibutuhkan oleh anak-anaknya kelak. Zeo tak ingin anaknya terlantar seperti ia dan kedua adiknya.
Zeo tak ingin seperti papanya.
****
Adhira mengerjapkan matanya, perempuan itu bergerak tak nyaman ketika ia merasakan beban diperutnya. Seperti ada yang memeluknya. Harumnya seperti jaket Zeo, harum yang tiga minggu terakhir ia jadikan pengobat rindu. Tapi harum ini lebih menyengat. Seperti-
Seperti harum Zeo yang sebenarnya.
"Ze-Zeo?" kaget Adhira ketika ia mendapati Zeo lah yang benar-benar memeluknya. Wajah pemuda itu penuh lebam, bahkan disudut-sudut bibirnya ada bekas darah yang sudah mengering. Mata nya pun tampak membengkak.
Adhira melirik sekitarnya, ini kamarnya dan ini bukan mimpi. Ini benar-benar nyata tapi-
Tapi kenapa Zeo ada disini?
"Stt, badan gue sakit banget Dhir, tidur dulu." kata Zeo menarik Adhira kepelukannya.
Adhira tergagap, ia tak bisa menolak atau memberontak seperti biasa. Perempuan itu masih sangat terkejut. ia bahkan tak berani bergerak, masih tap percaya Zeo lah yang memeluknya.
Adhira mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Zeo dari bawah, pemuda itu benar-benar tertidur. Adhira yang hendak memberontak pun mengurungkan niatnya. Di dini hari itu Adhira membiarkan dirinya dipeluk Zeo hingga pagi menjelang.
****
Adhira bergerak gelisah ketika ia merasa ada yang meniupi wajahnya.
"Ohayo" sapa Zeo begitu Adhira membuka matanya.
Adhira yang terkejut karena Zeo tepat berada didepan wajahnya pun secara spontan mendorong Zeo menjauh.
"Ahk," Zeo mengerang, pemuda itu memegangi dadanya yang sakit karena bekas pukulan mertuanya. Ah omong-omong semalam sebelum ia bisa masuk kekamar Adhira, Zeo mendapat sambutan manis ayah mertuanya. Sebuah sambutan yang hampir menghantarkannya ke jenjang kematian.
"Ze," Adhira memegang lengan Zeo, perempuan itu merasa terkejut untuk tindakannya sendiri. Apakah dorongannya sesakit itu.
"Ze, Lo gak apa?" Tanya Adhira secara spontan meraih tubuh Zeo sangking kaget dengan respon kesakitan Zeo.
Zeo yang awalnya mengerang sakit pun langsung tersenyum, "Khawatir heh." katanya jenaka.
__ADS_1
Adhira memutar bola matanya, Ia lalu mendorong tubuh Zeo dari pangkuannya."Lo kok bisa disini?"
"Karena gue masuk dari pintu."
"Zeo, jangan bikin gue emosi ya. Gue-"
"Gue baru pulang semalam pagi, diapartemen gak ada lo jadi malem tadi gue kesini tapi ya gitu, gue dapet sambutan yang memuaskan." Zeo menunjuk wajahnya yang lebam, Tak perlu dijelaskan, Adhira tau maksudnya. Pasti itu ulah ayahnya.
Tapi berbeda saat ia melihat Zeo yang babak belur dihajar mertuanya dulu, dimana Adhira yang merasa puas, kali ini, Adhira justru merasa iba melihata Zeo, ntah perempuan itu sadari atau tidak, tapi matanya sudah berkaca-kaca.
"Siapa yang nyuruh lo kemari,"
Zeo menggeleng, "Gak ada, cuma ngikuti kata hati aja, soalnya ada yang kangen gue setengah mati kayaknya sampai tidur make jaket gue. Kangen beneran kan lo" ejek Zeo menarik kerah jaketnya. Sehingga Adhira condong padanya.
Adhira menatap jijik Zeo, perempuan itu hendak bangun dari tidurnya namun dicegah oleh Zeo. Pemuda itu memeluk pinggang Adhira dari belakang.
"Gue kangen Dhir, sama lo, sama anak-anak gue." kata nya menempelkan pipinya ke punggung Adhira.
Adhira merasakan jantungnya berdetak kencang. Namun, pikiran buruk Adhira langsung melayang pada benaknya. Jangan dipikir Adhira tak curiga akan kepergian Zeo ditiga minggu terakhir.
"Urusin aja selingkuhan lo itu, ntar dia marah lo pulang, nanti setelah anak-anak ini lahir kan kalian yang ngurus." kata Adhira yang tak dapat dipungkiri ada nada cemburu disuaranya.
"Lo ngomong apa sih? Jangan yang aneh-aneh deh. Gue kerja Dhir," kata Zeo masih pada posisinya. Adhira sudah akan kembali meluapkan pikiran buruknya ketika tiba-tiba Zeo mengelus perutnya.
"Eh, anak papa nendang, kangen banget sama papa ya." kata Zeo begitu mendapat tendangan pelan dari perut Adhira yang ia peluk.
"Papa juga kangen banget sama kalian.," kata Zeo memajukan dirinya untuk mencium perut Adhira yang buncit.
Sedangkan Adhira hanya mengepalkan tangannya emosi. Emosi pada dirinya sendiri yang tak sanggup menolak perlakuan Zeo pada dirinya.
Tak menutupi kemungkinan, ia juga rindu.
****
Sedangkan ayah Adhira terus menatap Zeo penuh ancaman. Semalam setelah Mira berbicara dengan Adhira, Mira mengirim pesan ke Zeo yang langsung dibalas telpon oleh Zeo yang tanpa diduga menanyakan Adhira dengan panik.
Lalu malam tadi, pemuda itu datang dengan wajah percaya dirinya untuk menanyakan Adhira. Deni yang mengetahui itu langsung saja menghajar habis-habisan menantu nya itu. Zeo bahkan tak diberi kesempatan berbicara, pria paruh baya itu terus memaki dan menyumpah sarapahi Zeo dengan membabi buta.
Mungkin, kalau tidak karena Mira yang memohon dan melindunginya Zeo dengan tubuhnya, Zeo pasti sudah masuk rumah sakit malam itu juga.
Namun dari amukan ayah mertuanya, Zeo tau kalau selama ini Adhira tersiksa karenanya. Dan Zeo tak bisa berkata atau membela dirinya karena memang ia yang salah apa lagi jika mengingat kepergiannya yang mendadak dan tak memberi kabar serta kepulangannya yang semaunya,
Saat itu setelah ayah mertuanya puas mengamuk, Zeo baru menjelaskan kalau ia mengunjungi Nenek nya yang sakit sekaligus mengurus pekerjaan di Jepang. Zeo bahkan mengatakan kalau ia sebenarnya kabur dari rumah neneknya karena mendapat chat Mama mertuanya. Setelah itu barulah Deni pergi dan menyuruhnya istirahat.
"Ma Dhira mau ikan patinnya." suara Adhira itu memecah keheningan meja makan yang sunyi.
"Wah, lagi selera banget kayaknya." ejek Mira menyindir Adhira yang pagi ini habis banyak sarapan setelah dua hari semalam mogok makan.
Begitupun dengan Devan yang terus mengejek kakaknya yang kali ini makan lahap dan tak pilih-pilih makanan. "Pasti karena ada abang itu mah, Ciee, ciee yang suaminya uda pulang"
"Devaan, ih, mama liat itu Devan mah" Adu Adhira manja yang mengundang kekehan geli yang lain.
Begitupun Zeo yang melihatnya, berusaha menahan senyum dibibir pecah nya itu.
Adhira yang tak sengaja melihat Zeo pun memberengut karena merasa diejek, tapi ntah kenapa, tak ada rasa marah dihatinya. Ia justru semakin selera makan, ntahlah ia tiba-tiba langsung berselera makan pagi ini, apa mungkin karena ada Zeo disisinya?
__ADS_1
****
Setelah sarapan, ayah Adhira pergi bekerja dan Devan pergi ke sekolah sedangkan mama nya pergi belanja keperluan bulanan. Seolah memberi ruang sepasang suami istri muda yang tak berjumpa tiga minggu itu dengan tenang. Hanya meninggalkan Zeo dan Adhira dirumah.
"Dhir, lo marah sama gue?" tanya Zeo ketika melihat Adhira enggan menatapnya.
"Buat apa gue marah sama loh, cih gak guna."
"Sori, gue uda ninggalin kalian tanpa ngasih kabar."
Adhira membuang pandangannya, "Jadi gimana kelanjutannya?"
"Kelanjutan apa?" tanya Zeo bingung.
"Pernikahan kita, anak-anak lo ini." kata Adhira gamang, sebenarnya perempuan itu ingin kejelasan dari hubungan mereka. Adhira tak ingin hidup selamanya dengan Zeo dan menjadi istri pemuda brengsek itu. Namun dilain pihak ia ragu karena ucapan Mira tadi malam. Ia sedikit tak rela menjadi tak dikenal anak-anak itu kelak.
"Pernikahan? Emang kenapa?"
"Heh Kenapa? Lo ninggali gue tanpa tanggung jawab selama hampir sebulan tanpa kabar dan lo masih tanya kenapa!!!" Marah Adhira tiba-tiba.
"Gue kan uda bilang gue Kerja"
"Kerja sama pacar lo itu"
"Dhira, gue baru pulang, bisa nggak sih kita bicara secara normal. Kepala gue mau pecah rasanya."
"Oh, gue gak normal, jadi cara bicaranya bagusan Alina lah ya." Sinis Adhira.
"Alina? Gak ada hubungannya sama Alina Dhir, gue uda bilang berkali-kali, gue pulang ke Jepang barengan sama lo yang kerumah ayah lo, nenek gue sakit, dan waktu gue uda disana, gue kerja Dhira, kerja!" Jelas Zeo mulai habis kesabaran.
Adhira memalingkan wajahnya, "Lo aja bisa nikahin gue dengan gampang padahal lo uda pacaran tiga tahun sama Alina. Terus, kenapa gue harus sepercaya itu sama lo. Gak menutup kemungkinan, otak bajingan lo itu khianati gue kan!"
"Adhira!"
"Lo bisa cerai-in gue kalau anak-anak lo uda lahir, gue muak liat muka lo, dan gue gak mau ngurus anak-anak lo itu nantinya"
Prang!
Dan suara teriakan Adhira itu dibalas dengan bantingan remot tv oleh Zeo yang terbawa emosi.
Adhira memejamkan matanya kaget. Bukan, ini bukan yang ia mau, bukan pertengkaran seperti ini yang ia mau.
Ia hanya ingin memancing Zeo agar mau menceritakan kesehariannya tanpa harus terlihat peduli dan menurunkan egonya. Seharusnya Zeo menjelaskan dengan tenang, kalau ia pergi ke Jepang tanpa Alina.
Seharusnya Zeo membujuknya agar tetap mempertahankan bayinya seperti biasanya.
Tapi-
Tapi kenapa jadi bertengkar?
Adhira menatap Zeo dengan pandangan yang sulit diartikan.
*******
Aku baru ngeh, judul bab semalem typo. wkwkwk. Maaf buat Typo yang bertebaran ya guys. Im so sorry.
__ADS_1
Karena semalam pakai target like responnya bagus. Kali ini gitu juga, aturannya sama kayak semalam ya. Kalau like nya terpenuhi. Aku bakal double up.
Buat spoiler, bab selanjutnya tentang lanjutan pertengkaran yang berefek ke baby twinnya. Ekhem.