
Zeo ingin terus memaki rasanya, kenapa perempuan itu tidak bilang padanya?
"Pak putar balik pak, tolong kealamat ini ya." kata Zeo memberikam alamat apartemennya.
****
"Adhira!" teriak Zeo begitu berhasil membuka password apartemennya yang merupakan tanggal pernikahan nya dan Adhira. Ntah Adhira ingat atau tidak, tapi Zeo juga sempat menuliskan password itu pada selembar kertas semalam. Berjaga-jaga jika kejadian seperti ini terjadi.
"Adhira!" panggil Zeo menelusuri apartemennya.
Kosong, bahkan senyap, lampu-lampu ruangan masih hidup, pertanda penghuninya belum bangun atau pergi sebelum pagi. Zeo kian panik, pemuda itu bahkan mendorong beberapa kardus yang menghalangi. Ia harus menemukan Adhira sebelum mertuanya datang dan memakinya.
"Astaga Dhira- Dhira bangun." Zeo langsung panik saat mendapati Adhira tergeletak di lantai apartemennya. Ada kaleng bekas minuman beralkohol rendah disana. Minuman Bir yang dulu sering Zeo minum bersama teman-temannya ketika ia diusir dari Jakarta.
Tanpa harus melihatnya Zeo tau kalau Adhira telah meminum bir kadaluarsa. Stok air dan beberapa bahan dapur yang ada diapartemen adalah stok lama. Mungkin satu atau dua tahun lalu. Jadi Zeo langsung menyadari hal itu. Walaupun yang Zeo tau Bir kaleng itu tak memiliki tanggal expired, tapi saat melihat kondisi Adhira, Zeo langsung menghilangkan semua logikanya. Adhira keracunan.
"Dhira," Zeo merasakan tubuh Adhira yang melemah. Berbagai pikiran buruk langsung menghantamnya saat tak sengaja ia melihat ada darah kental yang mulai agak kering dicelana Adhira.
"Sial" Maki Zeo menggendong Adhira untuk membawa perempuan itu kerumah sakit.
**
Zeo masih menunggu hasil pemeriksaan dokter saat nomor baru menghubunginya terus menerus.
"Halo?" kata Zeo pelan.
"Halo Zeo, kamu sama Adhira dimana? Tante sama om di apartemen kamu ini, tapi kok kamunya gak ada. Eh- apa Adhira gak papa? Ini ada tetangga kamu bilang katanya kamu keluar buru-buru sambil gendong Adhira ya? Adhira kenapa?" Tanya Mira terdengar khawatir,
"Hah-" Zeo mengusap wajahnya untuk mencari alasan. Ia tak mungkin jujur kalau Adhira keracunan bir kadaluarsa kan? Bisa mati ia oleh ayah mertuanya.
"halo Ze?"
"Oh, iya Tan, aku sama Adhira lagi dirumah sakit ini."
"Dirumah sakit- Adhira kenapa?-HALO ZEO KAMU APAKAN ANAK SAYA!" Bentak Deni dari seberang telpon.
"Nggak papa, Om, tan, Tadi Adhira ngeluh kram, jadi Zeo panik langsung bawa Adhira ke Rumah sakit. Gak taunya kata dokter itu wajar kok. Iya wajar. Sekarang Zeo sama Adhira lagi jalan-jalan keluar belanja perlengkapan dapur. Maaf tadi Zeo lupa ngabari tan, om" Zeo mengusap rambutnya dengan gugup saat ia berbohong, oh ayolah, ini bukan kali pertama ia berbohong, tapi ntah kenapa Zeo bisa segugup ini.
Terdengar suara berebut telepon diseberang sana, tampaknya ayah dan ibu mertuanya sedang berdebat.
__ADS_1
"Oh, jadi kalian lagi diluar?" tanya Mira terdengar lega.
"I-iya tan." sahut Zeo gugup. "Tapi kami bakal pulang cepat kok, buar Zeo sampaikan ke Adhira, Adhira lagi belanja bahan makanan"
"Ah, Nggak usah, kalian nikmati belanja dulu aja. Biar om, tante sama Devan lain kali aja kesininya. Kami juga mau kerumah neneknya Adhira kok."
"O-oh, i-iya tan."
"Oya, ini tante bawa oleh-oleh buat kalian. Tante titipi ketetangga kalian ya. "
"I-iya Tan, makasih ya."
"Iya, bilang ke Adhira juga jangan banyak pikiran. Dia itu kandungannya lemah."
"I-yan Tan."
"Yaudah, tante tutup ya. Bilang ke Adhira ya."
"Iya tan, nanti Zeo sampaikan." Kata Zeo langsung bernapas lega begitu sambungan telepon mati.
Zeo menatap tangannya yang berkeringat. Sialan ia benar-benar gugup. Gugup dengan keadaan Adhira dan anak nya juga gugup dengan mertuanya.
Zeo langsung bangkit dari duduknya begitu dokter keluar menemuinya.
"Ya dok, bagaimana keadaan istri saya?"
"Anda suaminya?" Tanya dokter laki-laki paruh baya itu padanya. Ada nada terkejut saat ia menanyakan hal itu.
Zeo mengangguk yakin.
Dokter Angga tersenyum maklum, "Bisa ikut keruangan saya sebentar. Ada yang ingin saya sampaikan."
Zeo langsung mengangguk dan mengikuti langkah dokter itu. Berbagai pikiran buruk hinggap dikepalanya. Namun Zeo berharap itu bukanlah suatu hal yang mempersulit keadaanya nantinya.
"Jadi gimana dok?" tanya Zeo langsung begitu mereka masuk keruangan dokter itu.
Dokter Angga tersenyum, " Kondisi istri anda untuk saat ini cukup baik, namun tidak terlalu baik untuk anak ataupun istri anda kedepannya jika terus mengalami hal yang serupa."
"Maksud dokter?" tanya Zeo mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Kita tahu bahwa kehamilan muda itu sangat rentan keguguran karena tubuh yang belum bisa menerima perubahan hormon dengan baik saat mengandung. Dan hal itu terjadi pada istri anda sekarang, Minuman soda ataupun alkohol sangat berakibat buruk jika dikomsumsi secara bekala"
Zeo mengangguk, "Lalu apa lagi dokter? Apa ada masalah lain? Seperti keracunan dan pendarahan tadi apa tidak masalah?" tanya Zeo mengingat kondisi Adhira yang lemah tadi.
"Seharusnya masalah keracunan ini bukan lah masalah yang terlalu besar, namun mengingat waktu dan juga efek dari hal-hal lain, masalah ini jadi sedikit agak sulit."
"Sulit?" tanya Zeo kian tak paham.
"Apakah istri anda mengonsumsi soda atau sejenisnya, alkohol misalnya atau bahkan makanan yang dilarang semasa kehamilan? Selain masalah ini tentunya."
Zeo menggeleng. Yang ia tau senakal-nakalnya Adhira perempuan itu tak pernah minum-minuman seperti alkohol, namun soda? Ntahlah Zeo juga kurang tau.
"Jika mengonsumsi tolong hilangkan kebiasaan buruk itu semasa kehamilan karena hal itu benar-benar tidak baik untuk janin. Dan juga tolong perhatikan makan dan minum si ibu teratur ya. Jika dilihat istri anda terlihat sangat lemah karena kekurangan nutrisi. Hal-hal itu yang membuat kandungan dan kesehatan nya melemah drastis. "
Zeo terdiam, selama ini ia pikir Adhira yang enggan makan saat hamil itu bukan hal yang perlu diperhatikam namun mengingat nasihat dokter ini, Zeo mulai berpikir untuk mengatur pola makan perempuan itu.
"Selain makanan dan pola hidup yang sehat, mengonsumsi susu hamil juga baik untuk keduanya. Disini sudah saya berikan resep serta vitamin yang silakan ditebus nanti. "
Zeo mengangguk, "Terima kasih dok."
"Oiya?"
Zeo menoleh, " kehamilan muda yang pertama memang sedikit menyulitkan, Apalagi ibu Adhira sepertinya memiliki kemungkinan hamil kembar" Kata Dokter bername tag Angga itu tersenyum.
"K-kembar?" Zeo tampak sangat terkejut.
"Maksud dokter-
"Ya, ini masih dugaan sementara, namun kita bisa memastikan saat kehamilan sudah memasuki bulan ke 4 atau ke 5 nantinya. Namun untuk menjaga kejadian yang tak diinginkan seperti tadi, tampaknya Anda benar-benar harus menjaga pola makan dan pola hidup istri anda"
Zeo mengangguk-angguk, "Terima kasih dokter." kata Zeo dengan nada senang. Sangat senang. Dan tanpa ia sadari, ia keluar dari ruangan Dokter dengan wajah berseri. Seperti bukan Zeo sama sekali.
****
Guys, Katanya NT uda mulai bisa komentar per paragraf kayak di Wp ya, Coba dong komen.
Kita coba ya hehehe..
Please...
__ADS_1