EGO- Adhira

EGO- Adhira
75 - Kembali memulai


__ADS_3

"Gue denger lo mau nambah anggota ya Ze?" Tanya Bastian sambil menyodorkan segelas alkohol berkadar rendah kearah Zeo dan kedua temannya yang lain.


"Hm, doain aja" Kata Zeo sambil ikut mengangkat gelasnya lalu meminum sedikit isi alkoholnya, hanya untuk sekedar menghargai sahabat-sahabatnya yang Malam ini sedang mengadakan pesta lajang untuk Neo, sahabat Zeo semasa SMA itu akhirnya memutuskan menikah setelah puas berkelana didunia malam.


"Serius lo? Nambah buntut? " Kata Dean yang tadi hanya mendengarkan.


Zeo mengangguk pelan.


"Berarti anak ketiga hitungannya lah ya Ze, Habis Zela, Zelo" Tambah Dean yang lagi-lagi dibalas anggukan oleh Zeo.


"Gila juga lo Ze, Zela sama Zelo uda mau kuliah kan tahun ini, terus nambah satu lagi yang mau otw, lah gue baru mau nikah" Keluh Neo yang membuat mereka bertiga terkekeh.


"Zeo mah masa mudanya didedikasikan untuk mantan ketua osis tersayang eaa" Dean mengompori.


Zeo hanya berdecak malas menanggapi, ketiga teman-temannya memang sangat sering menggodanya dengan Adhira, yah wajar sih, kisah mereka sangat fenomenal dulu.


"Eh tapi Ze" Bastian menepuk pundak Zeo, "Gue kagum banget sama lo bisa bertahan sejauh ini, pasti gak mudah ya jalani pernikahan yang masalahnya kayak gak ada habisnya. "


"Nah, iya" Dean ikut menepuk pundak Zeo, "Gue dulu mikir gitu juga waktu liat lo yang keliatan kuat banget ngehadapi semua masalah pernikahan lo dimasa muda, dedikasiin semua masa muda lo buat anak istri lo, gue aja yang baru nikah belum ada lima tahun dan baru punya anak satu kayak uda pingin kabur dari rumah aja, suntuk" Kata Dean menggelengkan kepalanya.


"Tapi waktu liat lo, gue tau kalau semua pasti bisa dinikmati"


Zeo tertawa pelan, jenis tawa palsu yang menyakitkan.


Ia hebat ya?


Zeo bahkan tak tau, ia hebat karena sanggup bertahan sejauh ini atau bodoh karena mau kembali bertahan. Zeo benar-benar tak tau, ntah kenapa sekarang, setalah menarik kembali tuntutan perceraian dan memilih jalur damai, Zeo seperti merasakan rasa hampa-


Sebuah rasa kecewa yang membuatnya malas berjuang, malas berangan, ia benar-benar merasakan arti kehampaan itu sendiri.


...****************...


"Ze,"


Zeo agak tersentak saat suara Adhira menyapa gendang telinganya.


"Kamu belum tidur?" Tanya Zeo pelan,


"Belum, aku nungguin kamu"


Zeo terdiam, bukannya senang karena istrinya menunggunya pulang. Zeo justru merasa aneh. Sejujurnya ia sudah terbiasa melakukan banyak hal sendiri, termasuk pulang kerumah tanpa sambutan apapun dari istrinya. Jadi ini benar-benar terasa janggal untuknya.


"Oh, "


"Kamu mabuk ya? Sini biar aku bantu buka bajunya" Adhira turun dari ranjang dan segera menghampiri Zeo, membantu membuka kemeja nya dengan telaten.


"Kamu bau alkohol banget, kan uda aku bilang jangan terlalu banyak minum tadi" Kata Adhira sambil tetap membuka satu persatu kancing kemeja suaminya.


"Aku gak minum banyak, tapi tadi Dean numpahin alkohol di kemeja ku"


"Oh, aku pikir, yaudah, sekarang kamu mandi gih atau mau makan dulu sebelum mandi? Tadi aku bikin pizza ala-ala Zela loh, kamu mau?" Tanya Adhira tersenyum.


"Kalau mau nanti aku panaskan ya, tadi kamu aku sisahin kok, oh atau kamu mau makan berat? Mau makan nasi? Aku juga masak ayam kecap manis tadi loh? Aku siapin ya? Kamu mandi dulu aja sana" Kata Adhira lagi dengan semangat.


Zeo menatap Adhira dengan diam, ia terus memperhatikan segala ekspresi dan juga bagaimana kecerewetan Adhira padanya. Zeo tak tau kenapa hatinya bisa membuncah sebahagia ini, tapi jujur saja ia sangat terharu, ini adalah kali pertama Adhira cerewet karena alasan perhatian padanya, bukan cerewet karena marah atau mengaturnya.


"Zeo,"


"Hm"


"Kenapa diem aja"


"Dhira"


"Hm" Adhira mendongak, menatap mata suaminya dengan kebingungan.


"Kalau perhatian mu ini cuma sekedar ngikutin saran Zela sama Ken, kalau perubahanmu ini cuma karena paksaan anak-anak. Mending kamu berhenti Dhir,"


Adhira tersentak saat Zeo mengatakan kalimat itu dengan nada rendah, berusaha terlihat tak kecewa.

__ADS_1


"Zeo-


"Aku nggak papa Dhir, yang penting kamu bisa nerima ketiga anakku dengan baik, itu uda lebih dari cukup untukku. Karena jujur, aku uda gak seberharap itu lagi sekarang"


Adhira tertegun, sebenarnya- seberapa jahatnya ia selama ini? Seberapa dalam luka yang ia buat dihati Zeo sampai laki-laki itu bisa selapang ini.


"Uda, sekarang kamu tidur gih sana, aku mau mandi, nanti kalau aku mau makan, aku ambil sendiri"


"Zeo-" Adhira menangkap tangan Zeo ketika suaminya itu akan pergi kekamar mandi. Dan betapa terkejutnya Zeo saat Adhira tiba-tiba memeluknya erat.


"Zeo- Aku gak tau seberapa jahatnya aku sampai kamu bahkan ngerasa asing sama perhatian ku, aku minta maaf, "


Zeo masih diam. Ia mendengarkan semua ucapan Adhira tanpa protesan sama sekali, karena ia ingin dengar. Ingin dengar isi hati istrinya ini.


"Zeo, kali ini tolong biarkan aku nunjukin sayang ku sama kamu karena aku tau, kehilangan mu itu uda lebih dari apapun untuk nyadarkan aku betapa berharganya kamu dihidupku"


Zeo tak mengatakan apapun, tapi tangannya membalas pelukan Adhira dengan sama eratnya. Biarlah kali ini ia terlihat bodoh, biarlah ia disebut memalukan karena mengulang hal yang sama, biar lah-


Karena sebenarnya, dihati Zeo tetap masih ada titik dimana ia sangat mengharapkan Adhira dihidupnya.


...****************...


"Ohayo pa, ma" Sapa Zela yang disusul Ken dibelakangnya.


Zeo dan Adhira yang sedang menyiapkan sarapan itupun menoleh, tersenyum manis. Ini adalah minggu pertama setelah mereka memutuskan untuk berdamai dari semua masalah dan ego mereka.


Dan juga rutinitas sarapan pagi yang sempat terlupakan itu pun mulai kembali dilakukan. Sederhana- Tapi bagi keluarga yang hampir lebur itu, rutinitas ini adalah hal yang sangat berharga.


"Mama masak apa?" Tanya Zela sambil mencium pipi mamanya yang mulai gembil.


Adhira tersenyum, mengusap kepala anak gadisnya sayang, "Mama lagi pingin makan kimchi jjigae kak"


"Kimchi jjigae? Korea? Pagi-pagi gini? Jangan yang pedes-pedes banget loh ma masih pagi" Kata Zela mengingatkan, Gadis itu lalu mengusap perut mamanya. "Wih, si bayi ini kayaknya ngidamnya makanan korea aja ya, inget kamu itu keturunan Jepang-Indo, jangan tiba-tiba lahir jadi warga korea ya" Kata Zela menepuk pelan perut mamanya yang mulai terlihat menonjol itu.


Ocehan Zela itu pun langsung direspon tawa geli dari anggota keluarganya yang lain. "Kamu ini ada-ada aja, uda duduk sana, nanti kena mama" Usir Adhira lembut, Menyingkirkan anak sulungnya dari area memasaknya.


Zela memberengut, tapi ia tetap menurut untuk bergabung dengan saudara kembarnya dan menonton papa dan mama nya yang bekerja sama dalam membuat menu sarapan.


Zela melirik kearah Ken, "Damai banget, " Katanya tersenyum, membuat Ken pun ikut tersenyum. Kedua kembar Takahashi itu mungkin terlihat santai dan biasa saja, tapi siapa sangka kalau sebenarnya mereka adalah orang yang paling bahagia saat melihat interaksi manis papa dan mamanya lagi. Lagi-lagi hal sederhanalah yang membuat arti kebahagiaan itu terasa nyata.


"Kalian kapan mulai ujian sekolah?" Tanya Zeo sambil membantu Adhira meletakkan mangkuk-mangkuk kimchi jjigae didepan kedua anaknya.


"Setengah bulan lagi kayaknya ya kan Ken? ini uda mulai intens bahas soal ujian juga sih,"


Ken mengangguk, "Iya, Oya pa rencananya jum'at sore besok kelas dua belas mau adain kemah dipuncak untuk refreshing sebelum ujian, kami ikut ya"


"Nah, iya, pa, Zela juga mau bilang itu tadi tapi lupa, Boleh ya pa? sesekali ikut camping ya?" Kata Zela memohon.


"A-a itu acaranya wajib ya?" Kata Zeo agak kaku, karena jujur saja ia adalah sosok orang tua yang selalu merasa was-was, biasanya jika kedua anak kembarnya mengikuti acara diluar sekolah seperti itu ia pasti akan ikut menyusul sehari setelahnya, tapi sekarangkan Adhira sedang hamil muda.


"Nggak wajib banget sih, tapi dianjurkan buat anak kelas dua belas" Kata Zela dengan harap-harap cemas, "Boleh kan pa? Ma?"


Zeo melirik Adhira saat merasa tangannya diusap lembut, "Kasih aja, kasian lo mereka mau refreshing sama temen-temennya, lagian kalau cuma puncak aku yakin aman kok, "


"Nah, iya tuh pa, bener kata mama, ya kan Ken? Anak kelas dua juga ikut loh pa "


"Berarti Pacarmu si Yaka- Yaka itu juga ikut?" Sinis Zeo tak berusahan menutupi kalau ia tak suka pada pacar anak gadisnya itu. Ah, mengingat kalau pacar anaknya itu pernah datang setahun yang lalu kerumah dan berakhir ia usir kala itu benar-benar membuatnya semakin jengkel karena Zela yang mendiamkannya seharian.


"Heheh" Zela menyengir tanpa dosa yang membuat Zeo mencibir."Tapi kan malah bagus aku dijagain sama dua orang sekaligus, sama Yaka, sama Ken juga ya kan Ken?"


"Iya, Boleh kan pa?" Tanya Ken juga penub harap.


Zeo berdehem, "Nanti papa fikirin lagi deh"


"Yah, papa mah gak asik, padahal semua temen-temen ku dikasih, Angel yang manja nyerempet ke bloon aja dikasih sama Om Damar buat ikut"


"Heh, kakak" Tegur Adhira.


"Habisnya papa nyebelin" Keluh Zela, Gadis itu pun langsung menyenggol.

__ADS_1


"Udah-udah makan yuk, nanti telat" Lerai Adhira yang dibalas anggukan malas kedua anaknya.


...****************...


"Kamu beneran gak papa kan aku tinggal dulu?" Tanya Zeo untuk yang kesekian kalinya, laki-laki yang sudah dibuntuti sekretarisnya itu masih tak rela meninggalkan istrinya diruangannya sendirian.


"Ya ampun gak papa Ze, uda sana Meeting kasian Evan dari tadi ngikuti kamu terus" Kata Adhira juga untuk yang kesekian kalinya.


Zeo menghela nafas berat sebelum benar-benar menutup pintu ruangannya dan mengikuti perintah istrinya itu untuk segera meeting.


Ah, ya, pagi tadi Adhira memang ikut kekantor bersamanya setelah mereka melakukan konsultasi rutin dengan psikiater yang menngani Adhira akhir-akhir ini.


Dari konsultasi itu, Zeo jadi lebih banyak tau tentang Adhira, terutama apa alasan perempuan itu yang sempat menolak calon anak ketiga mereka, stres dan trauma yang masih kerap muncul.


Dan ternyata menjadi Adhira juga tak semudah yang ada difikiran Zeo. Adhira memang seterluka itu, luka batin perempuan itu masih begitu membekas. Mungkin, Adhira yang sekarang memanglah sosok Adhira dewasa yang memiliki dua orang anak remaja, tapi siapa sangka kalau dilubuk hati nya, Adhira tetaplah remaja enam belas tahun yang mengalami trauma berat akan suatu ikatan pernikahan.


Trauma itu kembali terpicu ketika Adhira hamil namun seolah-olah semua orang tak ada yang memperhatikannya, Suami yang bekerja lembur, anak-anak yang gila belajar dan ia yang sepwrti terabaikan oleh siapapun.


Ego Adhira, amarah Adhira. Sikap Apatis Adhira, kata-kata jahat Adhira, sebenarnya itu semua adalah usaha Adhira untuk tetap waras, usahanya untuk tak membenci dirinya sendiri. Karena sejatinya, Adhira hanya ingin dimengerti, hanya ingin diperhatikan, hanya ingin berkelu kesah.


Begitipun dengan Zeo, laki-laki itu hanya ingin dihargai perjuangannya, hanya ingin dibalas perasaannya, hanya ingin ditemani dalam usahanya, ia hanya ingin keluarga yang harmonis tanpa tekanan. Ia hanya ingin anak-anaknya bahagia tanpa tau kalau tingkahnya itu membuat istrinya merasa terasingkan.


Yah, sesederhana itu memang masalahnya,


Mereka hanya butuh komunikasi dan mengurangi Ego dan gengsi untuk selalu bertukar kata.


Yah, sesederhana itu.


Karena sejatinya, memaafkan, menerima dan mencoba mengatakan kejujuran pada orang lain itu tak seburuk itu.


Ddrrtt


Adhira terbangun dari lamunannya, perempuan itu lalu mengambil ponselnya ketika benda itu menampilkan spam notif bar dari Zeo.


[Sayang, Aku gak mudeng mereka bahas apa, yang ada dikepalaku cuma kamu doang]


[Uh, bosen banget yank, ih, bahas apa lagi]


[Dhira sayang, kamu kesini dong ikut meeting]


[Ngomong-ngomong yank, aku kok tiba-tiba inget Yaka ya, duh sebel banget sama anak itu berani-beraninya macarin anak kita ya kan?]


[Pokoknya aku gak mau yah yank kalau sampai Zela nikah dibawah usia 25 tahun, gak rela aku, gak Ridho]


[ Duh, yank, bete]


[Sayang]


[Dhira sayang, kamu masih dikantorku kan?]


[ Yank, Tapi Ken kok belum pernah bahas pacar ya? Masak anakku yang ganteng satu itu gak ada yang mau]


[Yank, Betee]


Adhira tersenyum tipis saat membaca spam chat itu tanpa ada niatan membalas satu pun chatnya.


karena ia tau kalau pasti nanti Zeo akan semakin menjadi-jadi jika diladeni kegabutannya. Maka Adhira memutuskan melangkahkan kakinya ke meja kerja suaminya, duduk dikursi berkelas bossy itu langsung membuatnya dihadapkan dengan laptop berlayar mati, tumpukan map yang disusun rapi Dan juga-


Dihadapkan langsung dengan foto keluarga.


Foto keluarga yang didalamnya masih tergambar kenangan diperayaan pernikahan mereka yang kelima tahun, Foto keluarga yang manis, foto keluarga yang membuat hati Adhira terenyuh.


Adhira mengusap bingkai foto itu, ia lalu dengan iseng memghidupkan laptop didepannya dan lagi-lagi Adhira dibuat tertegun. Wallpaper foto itu adalah fotonya dengan Zela dan Ken yang baru masuk Tk.


Yah, lagi-lagi sesederhana itu, tapi mampu membuat air mata Adhira berjatuhan dengan haru.


Adhira mengusap layar laptop itu pelan, lalu kembali membuka spam chat dari Zeo. Spam Chat yang membuatnya menyadari kalau Zeo adalah orang yang ia cintai, sangat-sangat ia cintai.


[Sayang, I love you]

__ADS_1


...****************...


Yeayyy


__ADS_2