EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-38 Harapan yang langsung pupus


__ADS_3

"Gue mau tidur, " Kata Adhira lalu melepas rangkulan Intan, Febi dan Windi.


Ia mengambil bantal lalu menarik selimut. Meninggalkan ketiga temannya yang merasa bersalah.


Perempuan itu benar-benar marah.


***


Ketika Adhira bangun, ia tak mendapati teman-temqnya di kamar, ia bahkan sampai mengintari kamar dan kamar mandinya, semua temannya tidak ada disana. Mungkin mereka sudah berangkat sekolah. Seketika rasa kecewa dan bersalah hinggap di hatinya. Kecewa karena ia bangun sendirian tanpa teman-teman dan bersalah karena telah berlaku kasar dengan ketiga temannya tadi malam.


Adhira memegang pinggangnya ketika akan bangun untuk mandi, akhir-akhir ini ia cepat merasa pegal dibagian pinggang dan kakinya.


Selesai mandi dan berganti baju Adhira memutuskan untuk turun kebawah dan makan bersama atau lebih tepatnya melihat keluarganya makan, karena Adhira tidak berselera makan. Ia akan mual setiap melihat nasi dan semua hak yang berbau daging.


"Ma?" panggil Adhira ketika ia tak menemukan orang diruang makan dan dapur. Hanya ada banyak makanan dimeja makan tanpa ada yang makan disana. Mengerutkan keningnya Adhira memutuskan untuk mencari mamanya, tak biasanya mamanya tidak ada dirumah. Kalau ayah dan Devan mungkin sudah pergi bekerja dan sekolah.


"Mama"


"Mama"


"Ma-


"Taraaaaa! Happy birth day Adhira!"


Adhira sampai memundurkan langkahnya karena terkejut. Ia masih berada diketerkejutannya ketika semua keluarganya dan sahabatnya memberi ucapan selamat.


"A-ayah gak kerja? Devan, kalian bukannya sekolah?" tanya nya kebingungan.


"Tara, ini loh kejutannya. Selamat ulang tahun ya Dhir dan maaf buat semalem ,mungkin kami kasar banget ya." kata Windi memeluk Adhira.


Adhira tersenyum, ia mengangguk lalu membalas pelukan Windi. "Gue juga huks, gue jahat banget tadi malem"


"Udah-udah bumil, jangan nangis" Bisik Windi sayang.


"Eh uda, nangis nanti aja, sekarang berdoa dan tiup dulu lilinnya, habis itu potong kue dan kita sarapan bareng." kata mamanya.


Adhira mengangguk, ia meniup lilin berangka 18 itu setelah berdoa. Ia berharap kehidupannya lebih baik lagi untuk kedepannya dan yang pasti tanpa Zeo disisinya. Ia berharap, ia tak memiliki hubungan apapun lagi dengan Zeo kedepannya.


***


"Lo gak makan dhir?" tanya Intan saat melihat Adhira tak makan. Perempuan itu hanya meminum susu hamil, itu pun perlahan-lahan.


Adhira menggeleng, "Gue mual."


"Lo gak makan bukan karena masih marah sama kita kan?" kata Windi memelas.

__ADS_1


Adhira terkekeh ia lalu menggeleng. "Gue gak selera makan." kata Adhira menjelaskan.


"Coba diminum teh hangat kak, sama makan kue."


Adhira menghela napas, lalu menggeleng.


"Dhir ini kari ayam loh Dhir, lo yakin. Lo kenapa gak mau makan"


"Gue mual banget."


"Makan buah mau? Biar kamu gak lemes dari semalam makan kamu gak teratur, muntah-muntah juga kan?" kata Deni tiba-tiba.


Adhira dan yang lain sempat terdiam, jarang-jarang Deni perhatian seperti itu. Berarti Adhira sudah cukup kelewatan kali ini.


Adhira kembali menggeleng,


"Dhira, ayah gak suka kalau kamu gak makan. Itu bahaya buat kamu" kata Deni menasehati, ia cukup prihatin dengan putrinya itu, jika dilihat Adhira memang semakin kurus. Hati Deni teriris ketika kadang memergoki Adhira muntah-muntah. Putrinya itu sekarang terlihat sangat kurus hanya perutnya saja yang kian membesar. Apa memisahkan Zeo dengan Adhira yang hamil merupakan kesalahan terbesarnya.


"Adhira mual yah," kata Adhira menahan tangis, selain pinggang dan kaki yang cepat pegal. Adhira juga menyadari perasaannya mulai cepat tersentuh.


"Kamu kangen Zeo?" tanya Deni akhirnya,


Adhira menggeleng kuat, ia tak merindukan pemuda itu. Namun Adhira akui ia mulai bergantung dengan kehadiran Zeo. Ia biasa makan disuapii agar tak mual, ia biasa dielus-elus perutnya sebelum tidur. Dan sekarang rasanya Adhira merasa sedikit kehilangan.


"Jadi kenapa? Apa ada makanan yang kamu mau? Kamu marah sama ayah karena usir Zeo? Marah sama temen-temen kamu? Jangan gitu dongĀ  Dhira. Ayah diem aja bukan berarti ayah gak peduli. Kalau kamu kangen Zeo hari ini juga ayah antar." kata Deni akhirnya.


Adhira kian terisak, Perempuan itu merasa kesal dengan keadaannya sendiri. Ia benci Zeo tapi kenapa ia tergantungan dengannya.


seolah harapannya langsung pupus begitu saja, ia ingin hidup tanpa Zeo. Tapi kenapa hatinya sesaktit ini.


"Iya, mau ayah Antar sepulang ziarah kemakam Bunda mau? Atau mau Zeo yang jemput" Tanya Deni lagi.


Adhira tak tau mau menjawab apa, tapi tangisannya semakin keras. Ia rindu Zeo. Benar-benar rindu.


***


Dan benar saja, sore harinya setelah pulang dari ziarah ke makam bunda Adhira. Mereka sekeluarga mengantar Adhira pulang. Awalnya Adhira menolak ia tak mau kembali ke apartemen namun Deni memaksa nya pulang. Karena ia tau Zeo lah yang dibutuhkan Adhira. Bukan dirinya ataupun istrinya.


Deni merasa bersalah karena sempat berpikir untuk memisahkan Adhira dari Zeo. Mau sebenci apapun ia pada menantunya itu, Zeo tetap lah Zeo, Suami serta ayah untuk anak dan calon cucu-cucunya.


Dan mau sebaik dan sesayang apapun ia merawat Adhira, Zeo tetaplah orang paling dibutuhkan Adhira selama kehamilannya.


"Zeo biasa pulang jam berapa?" tanya Deni begitu mereka masuk ke apartemen dan suasana heninglah yang menyambut, bahkan lampu masih mati disore menjelang malam ini. Pertanda tak ada kehidupan diruangan ini.


"Malam biasanya kan kak, Zeo kan kuliah juga." kata Mira meletakkan berbagai macam oleh-oleh ke atas meja makan.

__ADS_1


"Biar Devan telpon ya Yah, biar abang cepet pulang." kata Devan menawarkan bantuan.


Deni dan Mira mengangguk, "Yaudah telpon, suruh pulang cepat. Bilang Ayah yang nyuruh " kata Deni, kali ini Deni akan berbicara pada Zeo. Ia ingin berbicara layaknya menantu dan mertua. Deni ingin memperbaiki hubungannya.


" Kalau Zeo pulang malam, kamu biasanya masak apa kak?" tanya Mira membereskan oleh-olehnya dan berniat memasak.


Adhira yang ditanyai tak merespon. Perempuan itu malah memperhatikan setiap sudut apartemen. Dimulai dari letak barang atau benda, semua seperti ketika ia akan berangkat pergi.


"Z-zeo gak pulang." kata Adhira sambil menatap gelas susunya yang masih berada didekat kompor. Tempat terakhir ia minum. Zeo bukan lah orang yang malas, pemuda itu bahkan sangat rajin. Jadi tidak mungkin pemuda itu tak menyuci gelas dari seminggu yang lalu kan?


"Hah, Apa?"


Adhira terduduk disofa, pikirannya bercabang. Apa Zeo pergi ? Apa pemuda itu pergi kerumah selingkuhannya? Apa Zeo meninggalkannya. Lalu bagaimana dengan dirinya? Bagaimana dengan anak-anaknya?


"Dhira kenapa?" tanya Mira meninggalkan pekerjaannya dan menyadarkan Adhira dari lamunannya.


"Hei-hei, kok nangis?" tanya Mira kebingungan saat lagi-lagi Adhira menangis.


"M-ma Zeo pergi, dia ninggalin Dhira sendiri, dia pergi mah." Adhira terlihat panik. Tangannya bergetar dan matanya mulai basah.


"Eh, kok ngomong gitu-


"Nomor abang gak aktif yah." kata Devan semakin mempersempit pikiran Adhira.


"Mah," rengek Adhira.


"Coba biar ayah yang telpon." kata Deni merebut ponsel Devan.


"Mungkin masih rapat atau masih ada kelas kuliah yah, coba tanya tetangga sebelah." kata Devan memberi solusi.


Deni pun langsung keluar, tak lama mungkin hanya sekitar 5 menit ayah Adhira itu kembali masuk dengan wajah tak bersahabat. "Ayok pulang, gak usah datang kemari lagi, ambil semua barang kamu Dhira jangan tinggalin satupun."


"Mas?" Mira tampak bingung, begitupun dengan Adhira dan Devan.


"Kata tetanggamu, Zeo uda gak pulang seminggu. Laki-laki macam apa yang pergi dari rumah tanpa memberi kabar bahkan telpon keistrinya." kata Deni menggeram.


"Sudah, ayo pulang!" perintah Deni mutlak.


Dan Adhira merasa dunianya runtuh dalam sekali waktu.


****


Hai-hai, aku double up nih.


Karena hari senin, boleh dong minta vote nya wkwkwk

__ADS_1


__ADS_2