EGO- Adhira

EGO- Adhira
71 -Sulit untuk saling mengerti


__ADS_3

Zeo masuk kedalam kamar saat jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Dan pemandangan Adhira yang sudah tertidur pulas lah yang pertama kali ia temui.


"Dhira" Bisik Zeo mendekati ranjang mereka, mengelus pipi istrinya sayang.


"Dhira, sayang bangun dulu" Bisik Zeo lagi sambil mencuri satu kecupan disudut bibir istrinya itu yang hanya direspon dengan erangan terganggu sebentar sebelum mama dua anak itu kembali tertidur.


"Dhira" Zeo mengelus perut Adhira yang walaupun belum besar, tapi sudah cukup memberi tau kalau didalam sana memang ada bungsu harapan mereka.


"Eugh" Adhira mengerjap saat ia merasa cukup terganggu dengan gerakan tangan suaminya diperutnya itu.


"Ze" Erangnya agak kesal.


"Bangun dulu yuk, aku mau ngomong" Kata Zeo mengusap rambut Adhira,


"Emm, besok pagi aja aku ngantuk" Kata Adhira setengah merengek, tak mau bangun walaupun suaminya sudah merayu sebaik mungkin.


Zeo menggeleng, enggan menuruti saran istrinya itu, masalah serius seperti ini harus dibahas secepat mungkin agar nanti tak berlarut-larut, lagian jika besok baru dibahas sudah pasti akan terlupakan dengan kesibukan pagi mereka yang padat. "Nggak sayang, bangun sekarang yuk, aku mau ngobrol hal penting tentang anak-anak"


Memdengar kata anak-anak, barulah Adhira membuka matanya walaupun sangat enggan. Sedikitnya penasaran kenapa suaminya ini tega membangunkannya ditengah malam untuk membahas anak-anak mereka.


"Kenapa sama kakak sama Ken?" Tanya Adhira serak, berusaha menyenderkan punggungnya pada sandaran ranjang yang juga diikuti Zeo setelahnya.


"Tadi waktu aku pulang, mereka juga baru pulang, keliatan capek banget" mulai Zeo sambil melirik Adhira yang diam mendengarkan.


"Katanya mereka juga belum makan malam, terus rupanya kamu nggak masak makan malam ya? nggak nymbut mereka juga akhir-akhir ini ya?" Ujar Zeo berusaha sehalus mungkin, tak mau menyinggung perasaan Adhira yang sensitif.


"Zela nangis karena ngerasa gak dipeduliin sama kita lagi, Ken walaupun diam aja tapi aku tau kalau dia pun ngerasain hal yang sama- Maksudku, kamu tau, mungkin mereka ngerasa semenjak kamu hamil kita terlalu fokus kekehamilan kamu, aku nya juga sibuk terus bulan-bulan ini dikantor pusat, terus kamunya juga terlalu fokus menyantaikan diri untuk kehamilan kali ini, jadi mereka-


"Menyantai?" Potong Adhira terdengar tersinggung. "Menyantai gimana?" Tanyanya tak suka.


"Nggak gitu maksudku sayang" Zeo menghela nafas saat menyadari kalau Adhira sudah salah tangkap dengan maksud ucapannya.


"Jadi maksudmu sebenarnya apa sih ini?" Balas Adhira lagi, tak lagi berusaha menutupi kalau ia memang merasa sangat tersinggung oleh ucapan suaminya itu. Karena jujur saja Ia tak suka saat Zeo mengatakan kalau ia hanya bersantai diri untuk kehamilannya, padahal laki-laki itu tau sendiri kalau bersantai itu bagian dari usahanya untuk bisa menerima kehamilan ketiga nya ini secara lapang dada. Karena- Jujur saja, bahkan sampai sekarang, Adhira masih sering merasa sulit menerima kehamilannya dengan senang hati, ia masih sering berburuk sangka dengan Zeo, masih sedikit trauma walaupun hanya sekedar melihat segelas susu hamil ditangannya. Takut tiba-tiba Zeo membanting gelasnya dan memakinya lagi. Karena sungguh-


Trauma di tujuh belas tahun lalu itu masih terekam dengan jelas. Membayanginya dengan nyata. Trauma itu masih ada.


"Sayang-


"Gak usah banyak basa-basi, kamu mau ngomong apa sama aku? Kamu mau nyalahin aku yang malas-malasan dirumahmu iya? Kamu mau nyindir aku yang gak bisa masak ataupun beresin rumahmu lagi gitu- Oh atau kamu uda mulai eneg liat aku males-malesan, gak bisa ngurus diri, ngurus rumah, ngurus anak-anak dan ngelayanin kamu lagi"


Zeo berdecak tak suka, Adhira ini sulit sekali diajak berbicara dengan tenang dan berfikir dengan kepala dingin, selalu memenangkan egonya dan berpegang teguh dengan pendirian kakunya sendiri.


"Kamu apa sih, kok tiba-tiba bahas masalah ini?ini rumahmu juga Dhira, rumah kita, lagian aku nggak bahas masalah itu, aku cuma mau bilang kalau kita sekarang kurang perhatian sama anak-anak lagi sampai mereka ngerasa kita ngejauh dan gak sayang lagi sama mereka!" Tegas Zeo sedikit ikut tersulut emosi.


Percayalah, bahwa sebenarnya mereka itu sama-sama bersumbu pendek, hanya saja, semenjak kelahiran anak-anaknya dan depresi Adhira dulu, Zeo sadar kalau mereka tak mungkin bisa terus bersama kalau tak ada yang mau mengalah diantara mereka berdua.


" Tapi kesannya kamu kayak nyalahin aku untuk semua masalah ini kan? Atau jangan-jangan sebenarnya kamu mau marah karena aku uda jarang ngerjain pekerjaan rumah tapi kamu pakai alasan anak-anak buat negur aku-

__ADS_1


"Dhira!" Bentak Zeo setengah berteriak, tapi berusaha ia tahan agar tak benar-benar membentak dengan keras. Takut anak-anak nya dengar. Walaupun kamar mereka berada dilanatai bawah dan jauh dari kamar anak-anak yang berada dilantai dua, tapi tentu saja Zeo tak mau mengambil resiko. Apalagi sekarang anak-anaknya sedang dalam tekanan ujian kelulusan dan persiapan masuk universitas.


"A-apa?" Adhira menatap Zeo dengan mata bergetar, menahan tangis dan juga kekagetan. Bagai Dejavu, keduanya terdiam. Ini adalah kali pertama mereka saling meninggikan suara setelah hampir 15 tahun berusaha saling menerima. Biasanya hanya Adhira yang marah-marah dan Zeo akan selalu mengambil peran sebagai air yang dingin.


"Bisa kita bicarain masalah kita dulu hm? Maaf uda bentak kamu" Zeo sudah akan meraih Adhira kepelukannya, tapi respon Adhira membuat Zeo terpaku.


Adhiranya beringsut mundur menghindarinya.


"Sayang-


"Maaf kalau aku malas-malasan selama ini, tapi aku bakal berusaha untuk ngurus kalian lagi besok sebisa ku" Kata Adhira menahan tangis.


Zeo berdecak, mengusap wajahnya lelah. Demi Tuhan, bukan itu maksudnya. Sebenarnya apa yang ada difikiran istrinya itu? Kenapa selalu mengambil kesimpulan sendiri? Zeo hanya ingin Adhira sadar untuk tak terlalu mengacuhkan anak-anak mereka, bukan berarti Adhira harus kembali mengurus rumah dan memaksakan diri untuk ini dan itu. Zeo juga tak mau Adhira kelelahan dan jika untuk masalah rumah, Zeo masih punya uang berlebih untuk membayar seorang asisten rumah tangga atau bahkan housekeeper kerumah rumah mereka.


"Bukan itu maksudku Dhir, peduli setan sama saling urus mengurus yang ada dikepala mu itu, aku cuma mau baik aku atau kamu itu lebih peka keanak-anak, mereka itu masih remaja labil yang perlu perhatian kita"


"Jadi maksudmu aku gak perhatian sama mereka gitu? Kamu fikir-


"Adhira Takahashi! Dengerin suami mu dulu bisa!?" Sentak Zeo yang langsung membuat Adhira diam. Kaget lebih tepatnya. Oke, ini kali kedua Zeo membentaknya dalam kurun waktu lima menit mereka berbicara.


"Kamu sadar nggak sih kalau kita makin jauh ke anak-anak, uda jarang nerima pamitan pergi sekolah mereka lagi, atau nyambut mereka pulang dengan pelukan lagi, kamu sadar hm?"


"Kamu sadar kan Kalau mereka mulai mendam semua perasaan dan pendapat mereka sebulan dua bulan terakhir? Gak ada cerita-cerita random mereka kekita karena kita uda mulai sibuk sama kegiatan kita. Bahkan kita mulai gak tau kapan mereka pulang les atau pulang kelas tambahan mereka loh Dhir?" Kata Zeo memelan.


Adhira mengusak rambutnya. "Jadi aku harus gimana Zeo? Kamu mau aku kayak mana? Kamu marah sama aku karena mereka menjauh dari kita? Mereka uda dewasa gak selamanya harus disambut dan diurus setiap harinya"


"Iya kan? Anak-anak mu itu memang uda dewasa kan? Lagian mereka juga uda tau kali Ze kalau mama mereka lagi hamil adek mereka, gak bisa ngurus mereka full kayak dulu, kalau kamu mau ributin masalah aku jarang masak buat mereka, bukannya kamu uda kasih mereka uang lebih untuk makan diluar? Dan kalau kamu mau ngeributin aku yang gak pernah sambut mereka pulang, bukannya mereka uda tau kalau mamanya lagi hamil dan gak bisa nungguin mereka sampai tengah malam lagi, " Adhira menarik nafasnya, mengumpulkan semua emosinya. "Anak-anak mu itu uda dewasa Zeo! Mereka gak harus dikasih perhatian yang kayak kamu maksud, "


"Nah itu" Zeo mununjuk Adhira dengan emosi tertahan. Tak suka dengan pendapat Adhira tentang masalah mendidik anak mereka, karena sungguh setelah kehamilan anak ketiga mereka ini Adhira benar-benar seperti melepas Zela dan Ken sebagai balasan kekesalannya karena hamil lagi.


"Kenapa mereka gak harus dapet perhatian lagi dari kita? "


"Ck, Ze, berhenti manjain mereka. Apa kamu sadar kalau anak-anak mu itu terlalu bergantung ke kita. Dan berhenti bahas aku harus full time lagi buat mereka. Bukan karena aku gak sayang. Tapi kamu mikir nggak sih jadi aku yang lagi berusaha ngatur kewarasanku sekarang, ngatur emosiku, ngatur mentalku, ngatur pola hidupku untuk calon anak kita dan kamu! Kamu mau bebanin aku lagi untuk ngurus mereka yang uda dewasa, mereka itu uda ngerti kondisi mamanya kayak mana Zeo, lagian dulu diusia mereka kita juga uda bisa lepas dari orang tua kan"


"Diusia kita? Kamu samaain kehidupan kita sama anak-anak kita Dhir? Kamu sama-sama in masalah kita sama masalah kita dulu, yang berusaha dewasa lebih cepat dari seharusnya. Kamu mau anak kita jadi anak hilang arah kayak aku dulu, atau kamu mau anak kita jadi pasien rumah sakit jiwa kayak kamu" Sentak Zeo yang lagi-lagi membuat Adhira terdiam.


"Berhenti sama-samain kehidupam, masalah, dan sikapmu dulu ke mereka Dhir, karena masalah kita sama mereka beda. Mungkin di Zaman kita dulu anak-anak umur tujuh belas tahun uda lepas dari orang tuanya, uda milih jalannya sendiri karena apa? Karena dari kita masih bocah kita uda dididik lebih keras dari mereka. Uda ngerasain kehancuran keluarga dari kecil. Tapi mereka, mereka yang kamu bilang anak-anak ku itu- dari kecil uda ngerasain kemudahan dari segala aspek, dimanja, dipenuhi, diperhatikan, diutamakan, dan tiba-tiba secara mendadak kamu mau didik mereka dewasa dan mandiri"


"Kalau kamu mau buat mereka dewasa dan bisa berdiri dikaki mereka sendiri itu bukan gini caranya Dhir, ada tahap-tahapan nya."


"Ya jadi apa! Aku salah lagi? Uda kayak gini kamu mau salahin aku? Asal kamu sadar aja Yang buat aku kayak gini itu siapa coba? Kamu kan? Uda aku bilang dari dulu, bukan setahun dua tahun loh aku bilang ke kamu Ze kalau aku gak mau hamil lagi! Aku masih trauma! aku masih agak gila Zeo! Aku gak bisa hamil dengan banyak tekanan lagi,"


"Tapi kamu dengan santainya bilang semua bakal.bisa kehandle, semuanya bisa kita lewati, aku bisa enjoy sama kehamilan ku, tapi sekarang- kamu nyalahin aku kan"


"Kenapa jadi bahas kehamilan, aku cuma mau kamu kasih Zela sama Ken perhatian lagi Dhira"


"Tapi kesannya kamu memang lagi salahin aku Zeo, padahal ini semua salah mu, dari awal, dari awal ini semua salah mu. Kalau nggak karena sikap baj*ngan mu dulu mungkin aku gak bakal berakhir hidup sama kamu, Zela sama Ken gak akan punya papa bertopeng sok baik kayak kamu yang bisnya cuma nyalahin mama mereka, aku gak bakal punya suami sok berkuasa kayak kamu, aku gak bakal punya trauma ini, aku gak bakal se gila ini, aku gak bakal punya kelainan mental ini Baj*ngan!"

__ADS_1


Teriakan Adhira itu membuat Zeo terdiam kaku, tak menyangka kalau Adhira akan mengungkit masa lalu mereka-


Apa - Adhira menyesal hidup bersamanya?


"Kalau kamu mau salahin aku yang gak bisa ngurus anak-anakku, aku bakal salahin kamu untuk semua kejahatanmu dulu sama aku yang buat aku jadi mama terjahat buat mereka asal kamu tau itu!" Adhira menghapus air matanya.


"Yang salah itu kamu Zeo, dan asal kamu tau, hal yang paling aku sesali seumur hidupku adalah ketemu sama kamu"


Zeo merasakan hatinya berdenyut, seperti ada yang menusuk, terasa sangat perih. Setelah hampir 17 tahun lebih mereka hidup bersama-


Apakah Adhira juga menyesalinya?


"Kamu nyesel ketemu aku?"


"Siapa yang gak nyesel ketemu sama pemerk*sa, penyiksa, dan pemabuk kayak kamu dulu hah yang buat mental ku hancur sehancurnya" Adhira masih menggebu-gebu menyalahkan Zeo, sampai ia tak bisa menyadari kalau suaminya itu sudah seperti orang linglung yang tertampar kenyataan. Yang merasa hancur oleh setiap kalimat dari mulutnya.


"Keluar!" Bentak Adhira tiba-tiba yang membuat Zeo tersentak.


"Dhira"


"Aku yang keluar atau kamu yang keluar" Ancam Adhira yang membuat Zeo kembali terpaku.


"Oke, aku yang bakal keluar dan tidur disofa-


"Aku yang keluar" Kata Zeo dingin sambil menarik satu bantal dengan perasaan kosong.


Tampaknya masalah mereka lebih runyam dari yang yang seharusnya.


*******


Note : Haii


Kayaknya aku lagi alergi sama yang sweet-sweet deh sampai ekstra bab aja muncul konflik ringan yang rumit banget. Wkwk.


Ntah kenapa mau nulis adegan manis Zeo-Adhira nih lagi nggak ngefeel. Jadinya malah gini. Kalian gak masalah kan kalau aku munculin konflik kayak gini?


Karena jujur aja, masalah Adhira dalam ngehadapi anak-anaknya itu banyak banget yang aku ambil dari real (Nggak kehidupan ku secara total ya tapi sekitarku), soalnya kebanyakan orang tua sekarang selalu bandingin anak-anaknya sama masa muda mereka dulu. Nuntut anaknya harus bisa sedewasa mereka dulu.


Yang padahal titik masalahnya aja uda beda sama anak jaman sekarang.


Jadi kalau uda beda titik masalahnya uda pasti beda cara mengatasinya kan?


Sebagai contoh nih, katanya masalah terberat orang tua diusia sekolah adalah sekolah yang jaraknya jauh(Curam, berliku) dan harus jalan kaki, Intinya penuh perjuangan.


Nah, dimasa kita masalah terberat dimasa sekolah bukan lagi tentang jarak tempuh atau kendaraannya, Tapi tentang tekanan-tekanan untuk yang jadi pertama, cara kita menghadapi ekspetasi, cara kita ngehadapi keberhasilan orang lain dan sebagainya.


Tapi itu sekedar opini ku aja sih. Kalau kalian? Gimana?

__ADS_1


Oke kayaknya bab ini terlalu panjang, jadi see you di bab penuh drama selanjutnya ya wkwk.


__ADS_2