
"Kata tetanggamu, Zeo uda gak pulang seminggu. Laki-laki macam apa yang pergi dari rumah tanpa memberi kabar bahkan telpon keistrinya." kata Deni menggeram.
"Sudah, ayo pulang!" perintah Deni mutlak.
Dan Adhira merasa dunianya runtuh dalam sekali waktu.
*****
Adhira terdiam sepanjang perjalanan pulang, ia tak menggubris semua pertanyaan orang tua dan adiknya.
Ia menatap keluar melalui kaca mobil sambil sesekali terdengar sesenggukan sisa tangisnya tadi.
Perempuan itu menghapus sisa-sisa tangisnya, ntah kenapa ia bisa sesakit dan sesedih ini hanya karena mengetahui bahwa Zeo telah pergi dan lari dari tanggung jawabnya. Bukan kah seharusnya ia senang, bukankah ia seharusnya merasa bebas? Lalu Kenapa sekarang ia menangis memilukan seperti ini. Kenapa perasaan tak rela itu menghantam kuat dadanya. Kenapa? Kenapa Zeo meninggalkannya? Apa karena pemuda itu tak sanggup menghadapi sikapnya lagi?Kenapa? Kenapa saat ia mulai merasakan apa itu rindu pada pemuda itu?
Adhira tak sanggup menahan kesedihannya, ia menangis tergugu tak memperdulikan mamanya yang ikut menangis, merasa kasihan dengan dirinya.
"Sayang, udah, jangan kayak gini" Mama Adhira menarik Adhira kepelukannya. Membuat tangisan itu kian keras.
"Zeo ninggali Dhira ma.. hiks, Zeo ninggali kami" Racaunya sedih.
Adhira menunduk ketika merasakan tendangan pelan diperutnya, ia enggan mengelusnya, rasanya Adhira ingin membalas dendam sakit hatinya pada Zeo melalui anak-anaknya. Bukankah pemuda itu begitu menyayangi anak-anaknya? Dan Semua perlakuan itu tidak lepas dari pandangan keluarganya.
__ADS_1
Mira menatap putrinya dengan nelangsa. Adhira adalah anak perempuannya yang paling tegas dan pemberani sebelumnya, gen pendendam dan kaku dari ayahnya dan juga sifat keras kepala seperti almarhum bundanya benar-benar membuat Adhira tumbuh sebagai anak yang tangguh dan tak kenal takut. Ditambah mulut pedas dan lantamnya semakin melengkapinya. Selama lima belas tahun menjaga Adhira, Mira bahkan sangat jarang melihat Adhira menangis karena suatu hal justru Adhira lah yang sering membuat anak orang menangis, tapi kali ini ketika melihat Adhira menutup mulutnya agar tak terisak membuat Mira ikut menangis dalam diam, hatinya sungguh teriris melihat Adhira yang rapuh.
Deni yang menyadari kedua wanita nya menangis pun mengeraskan rahangnya, laki-laki paruh baya itu bahkan memegang setir dengan kuat, seolah-olah membayangkan kalau menantunya ada dicekikan tangannya. Niatan untuk memperbaiki hubungan itu sirna begitu saja. Ayah Adhira itu justru ingin memutuskan tali hubungannya dengan Zeo ataupun yang berhubungan dengan Zeo dihidup putrinya, kecuali calon kedua cucunya.
Sedangkan Devan, anak laki-laki itu hanya diam. Ia terus mengirimi pesan teks melalui semua akun media sosial abang iparnya. Memohon agar abangnya cepat pulang. Walaupun jika dilihat dari gelagatnya Devan tampak geram begitu mendapati wajah cantik perempuan yang bukan kakaknya ada di akun instagram abang iparnya. Memang, itu merupakan postingan lama. Postingan satu tahun yang lalu. Tapi tetap saja, Devan dibuat geram oleh abang iparnya itu. Dan tanpa disadari,
Anak laki-laki itu mengepalkan tangannya kuat.
****
Begitu sampai rumah, Adhira langsung mengurung diri didalam kamar, menangisi kesedihan tak beralasannya. Ia bahkan melewatkan makan malamnya, susu hamilnya dan semua hal tentang dirinya. Adhira terlalu sedih untuk bersikap biasa saja.
Adhira hanya melirik pintu kamarnya dengan gamang. Tak ingin menyahuti panggilan mamanya, ia tak ingin bicara.
Ketukan dan rayuan mama dan ayahnya silih berganti, dan Adhira masih enggan bangkit dari tempatnya. Sampai akhirnya, di jam sembilan malam, mama dan ayahnya menyerah, membiarkan ia tidur setelah sekali lagi merayunya membuka pintu kamar.
"Kak, yaudah kalau gak mau buka pintu, tapi tidur ya sayang, nanti kalau lapar tinggal ambil di meja makan. uda mama siapin."
"Tidur nyenyak ya nak"
Adhira menggigit bibir bawahnya, Bagaimana ia bisa tidur nyenyak kalau kesedihan dan rasa nyeri dihati dan perutnya terus mengganggunya.
__ADS_1
"Ka-kalian denger itu hiks, keluarga gue sedih karena gue. Gue banyak berkorban untuk kalian"
"J-jadi kalian bisa nggak sih sekali aja bela gue. Sayang sama gue, milih gue, kalian itu benalu di hidup gue hiks, gak tau terima kasih" Adhira memukul-mukul perutnya, menyalahkan bayi-bayi itu atas kesedihannya.
"Kalian tau, kalian tau kelakuan papa bajingan kalian itu hah,dia ninggali kalian. Hiks. Dia ninggalin kalian." Adhira meringkuk ditempat tidurnya.
"Dia cuma manfaatin gue dong hiks, dia khianati gue, bajingan. Ahk, Jahat, kalian harus mati" Adhira tiba-tiba bangkit dari tidurnya.
Mata basahnya berpendar penuh kebencian. Ia harus balas kesedihan dan penderitaannya.
"Kalian harus rasain gimana sakit hatinya gue mulai sekarang, hiks. Gue benci kalian" Adhira tergugu.
Tapi setelah lama menangis, Akhirnya dengan lemas, perempuan itu menarik jaket Zeo kepelukannya. Jaket yang waktu itu tak ingin ia pakai karena jijik sekarang ia peluk dengan erat.
"Gue benci elo, Ze, benci sebencinya." Tangis Adhira menghirup aroma Zeo sepuasnya.
Ia benci saat hati dan logikanya tak sejalan. Ia ingin marah tapi rindu.
Adhira kian tergugu ketika merasakan perutnya nyeri, Ia rindu Zeo.
Dan malam ulang tahunnya itu, ia akhiri dengan pejaman mata yang basah. Dengan jaket Zeo yang ada dipelukan hangatnya.
__ADS_1