
"Iya, Obaachan (nenek) juga, Jaga kesehatan ya. Hm, nanti aku sampai kan sama Adhira"
Adhira yang merasa namanya disebut segera meletakkan ponselnya, Perempuan beranak dua itu dengan raut penasaran menempel pada Zeo.
"Kenapa?" Bisiknya dengan gerakan mulut. Merasa begitu penasaran dengan apa yang dikatakan nenek dari suaminya itu. Pasalnya, selama 9 tahun pernikahan mereka, Hanya nenek Zeo yang sudah tua renta itulah yang masih tampak kurang suka dengannya.
Jika diungkit, katanya sih, Si Nenek masih dendam karena cucu pertamanya itu pernah dibuat menderita oleh Adhira.
Jika ingat itu, Adhira tak sadar sudah memonyongkan-monyongkan bibirnya kesal tak mau disalahkan. Lagian kan awal mula hubungan toxic ia dan Zeo dulu juga karena sikap Zeo yang terlalu diluar batads nalar manusia.
"Apa?" Bisik Zeo juga dengan gerakan mulut, mata sipitnya menatap bingung sang istri yang sekarang menggelanyut di lengannya. Persis srperti Zela yang merayunya ketika menginginkan sesuatu.
"Obachan ngomong apa?" Kata Adhira penasaran.
Zeo tersenyum jenaka, Papa berdarah Jepang itu menunjuk bibirnya sebagai syarat untuk jawabannya.
Adhira memberengut, ia menggeleng tanda menolak.
Zeo menaikkan alisnya mengejek, "Gak penasaran apa?"
"Ish, Ze" Rajuk Adhira yang justru membuat Zeo kian senang menjahilinya.
"Yaudah kalau nggak mau, aku gak maksa kok" Kata Zeo pura-pura tak peduli.
"Ih, Zeo" Adhira menggoyang lengan Zeo. Sungguh, ia sangat penasaran tentang apa yang dibahas si tetua Takahashi yang sepertinya mempunyai dendam kusumat padanya itu.
"Papa,"
"Sayang"
"Zeo, ih, nyebelin banget"
Zeo menoleh, ia tersenyum geli. "Kan uda dikasih tau syarat- Hmp
Zeo menahan bahu Adhira saat perempuan itu menumpuhkan badannya ke atas tubuhnya, mencium bahkan menggigit bibir Zeo gemas.
"Puas?"
__ADS_1
Zeo mengusap liur dibibir Adhira, "Ya ampun Sayang, brutal banget sih nyiumnya. padahal aku cuma minta kecup tadi-
"Oh, jadi aku yang salah?" Alis Adhira menungkik penuh aura permusuhan, Zeo tak dapat untuk menahan tawanya. Papa dua anak itu terbahak juga artinya.
Ia lalu mencium bibir Adhira sekilas, memeluk penuh sayang istrinya yang penuh ego ini, menciumi rambut Adhira saat perempuan itu memberontak dipelukannya.
"Stt, yang jinak kenapa sih mama, Papa mau peluk lama-lama ini"
"Dih, jijik gue dengernya Ze"
Zeo terkekeh, ia lalu mengeratkan pelukannya. Benar-benar gemas dengan tingkah istrinya ini.
"Jadi Obaachan bilang apa tadi, dia pasti nyuruh kamu ninggalin aku kan? Pindah Ke Jepang iya kan? Pokoknya aku gak mau tau ya Ze, kalau kamu lebih milih obaachan untuk ninggali aku dan nikah sama pilihannya. Nikah sama orang lain. Aku bun*h kamu. Aku hantam pakai vas bunga mau!"
Zeo terkekeh, dan kesempatan itu dipakai Adhira untuk lepas dari lilitan tangan suaminya.
"Kamu jangan ketawa ya, kamu pikir aku bercanda. hah? kamu pikir aku gak sanggup bun*h kamu hah. Liat aja nanti, aku lebih baik kehilangan kamu karena kegilaan aku dari pada kamu ninggalin aku sama anak-anak. Aku tuh-
"Apa?" Zeo menipiskan bibirnya geli saat Adhira benar-benar mengambil vas bunga didekat mereka.
Zeo yang tadinya terkekeh penuh kesenangan langsung terkejut saat Adhira mulai merengek, tidak menangis namun mata perempuan itu memerah, menahan tangis.
"Sayang, Eh, Obaachan gak bilang gitu- Aku-
Zeo kehabisan kata-katanya saat akhirnya air mata Adhira meluncur.
"Sayang"
Ya ampun, Melihat istrinya menangis seperti ini saja dada Zeo rasanya nyeri sekali. Adhira adalah manusia dengan gengsi tertinggi, tidak akan mau memohon ataupun menangis untuk hal yang sepele. Dan melihat Adhira menangis didepannya. Zeo gugup harus melakukan apa.
" Ya ampun, sayang, Obaachan gak bilang gitu, kamu jangan nangis hei, lihat aku dulu sayang, dengerin aku hm" Zeo menghapus air mata Adhira, menatap mata istrinya yang berkaca-kaca.
"Jangan tinggalin aku Ze-
"Stt, aku gak bakal ninggalin kamu, apapun masalahnya aku gak akan pernah ninggalin kamu, ninggalin anak-anak, kalian duniaku sayang. Udah ya- Tadi Obaachan gak nyuruh aku apa-apa. Obaachan cuma bilang kalau ulang tahun si kembar nanti dirayain di Jepang. Obaachan gak bisa lagi naik pesawat ke sini karena kesehatannya. Udah, Obaachan cuma bilang itu, Dan lagi dia bilang itu cuma permintaannya, dan aku harus izin dulu sama kamu. Makanya aku bilang bakal ngomong sama kamu. serius sayang. Obaachan gak bilang apa-apa selain itu. "
"Bener hiks"
__ADS_1
"Bener, suwer deh"
"Hiks, kenapa gak bilang hiks"
"Aduduh duh, Jangan dipukul sayang. Taruh dulu Vasnya hei. nanti pecah"
Zeo terkekeh saat Adhira memukuli punggungnya kesal.
"Nyebelin banget"
"Mama Tadaimaaa(Aku pulang)" Teriakan kompak itu membuat Adhira dan Zeo terkejut.
"Loh, Mama kenapa? Matanya kok merah sih?" Tanya Zela panik.
"Iya, Papa pukul mama ya?" Marah Ken tak ramah.
Zeo menggeleng, "Nggak kok, mama aja yang cingeng-
"Tuh kan, papa bully mama, its not fair papa. Papa itu laki-laki, papa gak boleh bully mama dan jahatin mama-
"Papa-
"Alah, papa mau bela apa lagi, papa tuh ya emang ihk, "
Zeo hanya melihat putri sulungnya itu malas, Zela dan segala gaya sok ingin melindunginya.
"Iya Pa" Sahut Ken mendukung kakak beda beberapa menitnya itu.
"Loh Ken, kamu juga bela kakakmu itu?"
Ken memutar bola matanya, bocah berumur 8 tahun itu lalu memeluk Adhira yang sejak tadi menahan senyum, begitupun Zela yang ikut memeluk mamanya. "Mama gak papa kan?"
Zeo mecibir, tapi matanya langsung bersinar saat dengan jutek Zela mengulurkan tangan mungilnya.
"Mau ikut pelukan nggak!?"
Ya ampun, anak siapa sih ini sebenarnya.
__ADS_1