EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-26 Keluarga Zeo


__ADS_3

"Wah, pintar nihongo ne?"


Adhira terkekeh, ia berusaha bangun dari tidur dibantu mertuanya yang memegangkan infusnya Ah, tampaknya peran menantu kesayangan akan ia dapat sebentar lagi.


****


Adhira mengernyit saat ia melihat Zeo dan seorang pria paruh baya yang dilihat dalam sekali lirikan saja sudah dapat menebak bahwa pria paruh baya itu merupakan warga negera asing.


Adhira harus menggali pikirannya untuk mengingat siapa orang itu tanpa harus terlihat bodoh didepan mertuanya. Sebelum akhirnya ia ingat.


Ah, itu papa Zeo.


Walaupun pria paruh baya itu tampak lebih kalem dari Zeo, tapi beberapa kemiripan wajah tak dapat menutupinya. Mereka memang benar-benar ayah dan anak.


Wah,


Adhira jadi semakin semangat untuk menarik perhatian kedua mertuanya. Jadi saat ia dan mama Zeo akan melewati dua pria beda generasi itu, Adhira semakin mengatur mimik wajahnya akan kian tersakiti.


Sedangkan Zeo yang masih berhadapan dengan papanya itu tak tau apapun. Ia dan papanya hanya saling diam bahkan setelah papanya menghajarnya habis-habisan saat tau Adhira pingsan dan hampir keguguran tadi.


Yang orang tuanya tau, Zeo lah dalang dari semuanya. Mereka pikir Zeo lah yang memaksa Adhira meminum pil-pil sialan itu. Mereka pikir Zeo lah yang bersikap buruk dengan Adhira. Tanpa tau kebenerannya.


Tapi Zeo membiarkan semua presepsi buruk orang tua nya itu, ia tak ingin Adhira semakin tertekan karena mendapat perlakuan buruk keluarga nya jika tau kebenarannya nanti.


"Saya merasa tidak pernah mengajari kamu berlaku keji seperti itu" kata Kenji menatap putranya.


Zeo terkekeh, "Ya, anda memang tak pernah mengajari saya berlaku keji, tapi yang harus anda ingat adalah saya juga tidak pernah diajari kebaikan oleh seorang Kenji Takahashi selama hidup saya. Jadi jangan menuntut lebih kepada saya."


Kenji menatap anaknya dingin, " Saya perhatikan kamu sudah senang melawan saya ya."


Zeo mendecih, "Tumben memperhatikan, saya pikir anda tak peduli pada sikap saya kecuali tentang pekerjaan."


"Wah, Lihat Ego mu Alzeo-kun, " Papa Zeo mencibir remeh, "Ego mu sudah Setinggi langit, saya sampai lupa dengan sosok yang beberapa minggu lalu memohon pada saya untuk memberinya tempat tinggal dan pekerjaan."


Zeo berdesis, "Saya bukan meminta, lebih tepatnya saya hanya menagih hak saya sebagai seorang Takahashi, bukan begitu Otousan (Papa)?"


Zeo tersenyum miring saat papanya menatapnya sinis, "Lagian saya gak meminta ke Otousan sih sebenarnya, minta ke Obaachan (Oma) lebih tepatnya, cuma karena kebetulan Otousan anak buah Obaachan, jadi- kesannya seperti saya yang memohon ke Otousan"


Ayah dan anak itu saling bertatapan, berusaha mengeluarkan tatapan intimindasi yang akan mendominan.

__ADS_1


"Zeo," panggilan Nana itu membuat keduanya meghentikan adu tatapan itu.


Keduanya langsung menoleh kearah Nana yang sedang menuntun Adhira.


Adhira sendiri yang sejak tadi tak sengaja mendengar per-adu mulutan Zeo dan papanya merasa sedikit bergidik. Kenapa mereka kaku sekali? Adhira memaklumi kalau mereka orang asing yang mungkin masih baku berbahasa indonesia. Tapi, Saya? Anda? Wah? Hubungan ayah dan anak macam apa yang dijalani si gila Zeo dan papanya itu.


"Dhir," panggil Zeo bangkit dari duduknya, ia langsung menggendong perempuan itu tanpa peduli pemberontakannya. Agaknya si pemuda Jepang itu masih sedikit khawatir dengan Adhira.


Zeo langsung mendudukkan Adhira disofa yang diikuti Mama dan papa Zeo.


"Kamu sudah baikan?" tanya Kenji pada menantunya.


Adhira mengangguk kaku,


"Kalau Anak ini berlaku jahat kepadamu lagi, katakan saja pada otousan (Papa) biar dia mendapat didikan yang lebih lagi."


Adhira langsung melirik Zeo, wajah pemuda itu penuh lebam, ada bekas darah disudut-sudut bibirnya. Adhira tersenyum kecil, ntah kenapa ia senang Zeo mendapat kan hal itu.


"Yaudah, mama mau masak dulu. Kamu duduk disini aja. Tungguin mama masak Nikujaga kesukaan nya Zeo-kun ya."


Adhira melirik Zeo, "Zeo, A-aku mau duduk dikursi makan aja, boleh?" kata Adhira dengan mimik wajah lemah dibuat-buat.


Zeo melototkan matanya ketika Adhira berekting seolah-olah menjadi istri tertindas didepan orang tuanya.


Zeo berdecak, ia pun menggendong Adhira untuk dipindahkan.


"Bagus ya," bisik Zeo, Adhira hanya tersenyum licik digendongan pemuda itu.


Setelah itu Adhira hanya memperhatikan ibu mertuanya masak, sedangkan Zeo dan papa nya duduk diruang nonton tanpa interaksi apapun. Dapat Adhira simpulkan bahwa Zeo tak begitu akur dengan orang tuanya, terutama papa nya.


"Maaf ya ma, Dhira gak bisa bantu."


"Gak papa dong sayang, kamu juga lagi sakit." kata Nana masih sibuk dengan olahannya.


"Tadi pagi padahal Dhira mau masak, uda belanja juga tapi karena kram jadi Dhira langsung pulang."


"Belanja?"


"Hm, iya."

__ADS_1


"Hitori de kaimono suru no" Tanya Papa mertuanya yang membuat Adhira mengerutkan keningnya tak paham.


"Kata papa, kamu belanja sendiri?"


Adhira melirik Zeo yang memutar bola matanya, perempuan itu merasa ini adalah kesempatan untuk mengganggu Zeo.


"Iya Pa."kata Adhira menundukkan kepalanya.


Ayah mertunya itu langsung menatap Zeo marah. " Jangan mau melakukan semua hal sendiri, gunanya suami mu ini itu apa kalau sampai semua kamu lakukan sendiri."


Adhira tersenyum kecil. Sedangkan Zeo mendengus tak suka.


"Udah deh, Sorera wa subete seichō shimasu (Mereka sudah dewasa). Biar mereka mengaturnya sendiri." kata Nana yang lagi-lagi membuat Adhira bingung. Ia sama sekali tak paham, kedua orang tua Zeo ini payah sekali dalam berbahasa indonesia. Bahkan Mama Zeo yang katanya half indonesia saja saat berbicara dengannya kosa kata nya masih terdengar acak.


"Oya, Adhira nanti ikut mama ke Jepang yuk, jumpa adik-adiknya Zeo." kata Nana tiba-tiba mengalihkan perhatian.


"Nai (Gak) !!" Teriak Zeo, "Nggak boleh pokoknya."


Mengabaikan teriakan Zeo, Adhira menatap mertuanya bingung. "Zeo punya adik?".


"Ei, punya dong, Dhira belum pernah jumpa kan ya. Adik Zeo cewek-cewek loh, kembar. Waktu nikahan kalian mereka gak datang karena ujian." Kata mama Zeo itu tersenyum.


"O-oh." Adhira menganggukkan kepalanya. Namun diam-diam ia melirik Zeo, ah, terlalu banyak yang tidak ia tau tentang suaminya itu.


Tapi tunggu?


Suami?


Adhira langsung memegang perutnya yang mulai menonjol. Rasa kebencian itu pun kembali lagi, ia membenci anak dan suaminya dengan sangat.


***


Note:


Nikujaga : Makanan khas Jepang yang dibuat dari Daging, kentang, dan bawang bombay yang direbus dengan bumbu gula, kecap asin dan mirin.


Anyway, Buat bab semalam. Arti Nihongo itu 'Bahasa Jepang ya'


Jadi mama Zeo itu kayak, "Ei, pinter bahasa jepang ya kamu" Gitu sama menantu tunggal dan kesayanganya.

__ADS_1


Wkwkwk. Aduh -duh, kok aku yang julid.


Source : Google


__ADS_2