EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-52 Kenapa harus pura-pura


__ADS_3

"Kamu-


Zeo langsung mencium bibir Adhira dalam, "Makasih dhir, makasih." kata Zeo lalu kembali mencium bibir Adhira sambil menangis. Ia sangat bahagia.


Sedangkan Adhira membeku, ia bingung harus bereaksi apa, selama setahun lebih mereka jarang berkomunikasi dan tiba-tiba Zeo menciumnya sambil menangis.


"Sekali lagi makasih ya sayang,"


Adhira mengerjap bingung saat Zeo mengucapkan kata terima kasih dengan tulus, ciuman mereka sudah terlepas, tapi kening mereka masih menyatu. Adhira bahkan masih bisa merasakan hidung Zeo menyentuh hidungnya, sesekali menggesekkannya.


Awalnya, Adhira terbuai, awalnya Adhira menikmati perlakuan Zeo.


Tapi-


Saat mengingat bagaimana Zeo menghakiminya dulu, bagaimana Zeo memerintahkan semua orang untuk menjauhkan anak-anaknya darinya. Emosi Adhira menyulut. Ia mendorong Zeo dari atas tubuhnya.


"Brengsek" maki Adhira begitu himpitan tubuh mereka terlepas.


Zeo berdehem, "Sori Dhir, aku, aku-" Zeo bingung sendiri. Tadi ia mencium Adhira karena benar-benar refleks. Ia terlalu bahagia sampai bingung harus melakukan apa untuk meluapkan rasa bahagianya. Dan sekarang, ia mulai merasakan kecanggungannya. Yah, walaupun mereka sudah dua tahun bersama, dan sekarang tinggal dan tidur dalam tempat yang sama. Tapi-


Tapi, hubungan mereka tetap sejauh itu, bisa dibilang, mereka bahkan tak pernah komunikasi. Pagi-pagi Zeo sudah berangkat bekerja, saat sore biasanya Zeo bermain bersama anak-anak, apalagi sekarang nanny Tari mulai sering izin pulang malam karena sudah mulai mengurus pernikahannya. Zeo jadi lebih sering menghabiskan waktunya dengan si bayi-bayi itu dibanding Adhira.


"Brengsek lo" Maki Adhira sambil mengatur nafasnya, emosinya naik turun karena ulah Zeo. Apa coba tujuan Zeo tiba-tiba mencium nya begitu.


Berdecak kesal, perempuan itu mengelap bibirnya dengan kuat untuk menghilangkan bekas ciuman mereka " Zeo Brengsek, sialan. Bajingan " makinya lagi sambil memukuli dada Zeo.


Zeo berdehem, ia memundurkan tubuhnya dan duduk disebelah istrinya. Tanpa memperdulikan Adhira yang masih menatap nya marah, Zeo yang masih ada bekas air mata dipipinya itu langsung meraih Adhira kepelukannya. Ia masih ingin menangis.


"Lepas Ze," Adhira mendorong Zeo namun Laki-laki itu justru kian mempererat pelukannya.


"Aku bahagia banget Dhir, makasih kamu uda mau nerima Zela dan Ken dihidup kamu."


Adhira menghentikan pemberontakannya. Perempuan itu terpaku, apa Zeo tau? Tapi dari mana? Apa Tari memberi tahunya?


"Makasih Dhir," kali ini Zeo memegang pipinya, menatapnya lama lalu kembali menciumnya lembut.


Adhira yang sempat kembali terbuai pun tersadar, ia mendorong Zeo lagi.


"A-aku, cuma nurutin perintah Tari dari pada anak-anak sialan itu nangis terus." elak Adhira. Ia tak boleh tampak menerima didepan Zeo. Biar Zeo sadar menjauhkannya dari anak-anak itu akan merugikan Zeo sendiri. Adhira masih terlalu gengsi untuk secara terang-terangan mengaku pada Zeo.


Zeo tersenyum, "Nggak papa, yang penting kamu ada usaha buat deket mereka."


"Aku gak berusaha!"


"Iya, iya sayang." kata Zeo terkekeh pelan. Merasa gemas dengan tingkah Adhira.


"Gila lo ya Ze?"

__ADS_1


"Sstt, kamu mau diceramahi mama lagi gara-gara ngomong lo-gue?" sahut Zeo mengingat kan keduanya dulu sempat ditegur karena berbicara tanpa sopan santun.


Adhira membuang muka, "A-aku gak ada hubungan sama dua anak kamu itu, aku cuma turuti perkataan Tari doang. " kata Adhira berusah menjelaskan. Ia tak mau Zeo menganggapnya kalah dari laki-laki itu.


" Iya- nggak papa, mana tau lama-lama kan mereka kenal dan mulai-


"Kamu pikir aku mau ngerendahin diriku buat ngurus anak-anakmu. Nggak Ze, nggak, aku cuma dipaksa Tari doang, kalau nggak pun, gak bakal aku sentuh bayi-bayi mu itu" potong Adhira ketus dan hal itu berhasil menghancurkan kebahagian Zeo dalam sekejab.


Adhira belum berubah.


Zeo menghela napas, tak mau memperpanjang masalahnya "Yaudah gak papa, kalau gitu aku mandi dulu." kata Zeo bangkit dari duduknya, laki-laki itu menghapus sisa air matanya dengan lengan baju kantornya.


Adhira memperhatikan Zeo yang beranjak kekamar mandi. Jika dilihat dengan seksama sekarang Zeo tampak lebih kurus daripada dulu saat mereka baru menikah. Zeo juga sudah tidak kuliah semenjak Zela dan Ken lahir, laki-laki itu sibuk mengurus kedua anaknya dan juga full bekerja.


Terkadang juga laki-laki itu harus bergadang karena pekerjaan kantor dan juga menjaga Zela dan Ken ketika rewel dimalam hari. Adhira jadi mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu ketika Zeo masuk rumah sakit karena kelelahan.


Adhira menunduk, ntah kenapa ia merasa tak enak hati pada Zeo karena semua kewajiban yang harusnya ia lakukan justru Zeo yang melakukannya sendiri. Apakah selama ini ia terlalu mementing kan dirinya sendiri?


*****


"Hiks mam-ma" tangisan itu membuat Adhira yang sedang makan malam menoleh , dilihatnya Tari yang sedang menggendong Ken dan Zela yang menangis dikaki Tari.


"Ya ampun Sayang, kenapa nangis hm?" Zeo yang masih makan disebelah Adhira langsung sigap menghampiri putri kecilnya.


"Zela sama Ken rewel aja pak, gak mau makan sama minum susunya dari Sore, saaya khawatir jadinya." adu Tari yang nampak kewalahan dan juga sedikit frustasi, sebentar lagi jam kerjanya akan habis, ia akan pulang untuk bertemu calon suaminya. Tapi, anak asuhnya itu malah tantrum.


"Mau? Mamam sama papa mau?" kata Zeo ketika Zela melihatnya.


"Mama" beo Zela disela tangisannya yang membuat Zeo menelan ludahnya gugup, ia melirik Adhira, dari tatapam matanya, laki-laki yang harapannya sudah pupus dalam sekejap mata sore tadi itu menatap anaknya seolah memperingati kedua bayinya agar tak berurusan dengan Adhira.


"Mamam sayang bukan mama." koreksi Zeo pada putrinya. Masih mencoba sabar.


"Ma-mama hiks ma-mama." tangis Zela yang diikuti Ken. Ruang makan menjadi ramai karena kedua bayi itu yang terus menangis dan berusaha menggapai Adhira. Bahkan Zela yang masih berada digendongan Zeo memberontak dan merentangkan tangannya kearah Adhira yang duduk kaku dikursi makannya. Begitupun Ken yang mengikuti jejak kakak kembarnya, berteriak dan menangis. Tari yang kewalahan bahkan meletakkan Ken kelantai agar tak jatuh dari gendongannya.


Bayi-bayi Takahashi ini kalau sudah tantrum memanng luar biasa.


Mama dan papa Zeo yang awalnya hanya diam pun saling melirik sebelum akhirnya memutuskan untuk menenangkan kedua cucunya.


"Ken, Ken sama Obaachan sini sayang yuk." kata Mama Zeo menghampiri Ken yang menangis memeluk kaki Tari.


"Ma-mama" tangis Ken semakin menyedihkan ketika mata bayi laki-laki itu menemukan Adhira yang tak jauh darinya.


"Eh, main yuk, main sama papa sama Ojiichan juga yuk." rayu Zeo pada kedua anaknya berusaha mengalihkan pembicaraan yang justru membuat tangisan kedua bayi itu semakin menjadi.


Adhira menunduk, ia meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak peduli, tapi ntah apa yang merasuki nya karena dengan tiba-tiba Adhira beranjak dari duduknya dan menghampiri kerumunan itu.


"K-ken mau sama mama ya," kata Adhira merentangkan tangannya yang langsung disambut cepat oleh Ken. Mengabaikan obaachannya yang kebingungan. Ken langsung memeluk leher Adhira, menangis sesenggukan diperpotongan leher mamanya. Seolah mengadu bagaimana semua orang menjauhkannya mereka sejak tadi.

__ADS_1


Adhira tersenyum, "Cup-cup Ken kangen mama ya sayang." kata Adhira menciumi pipi Ken yang membuat bayi laki-laki itu terkekeh disela sisa tangisnya.


"Mmamama" sekarang gantian Zela yang mengamuk, bayi perempuan itu mejulurkan tangannya minta digapai oleh Adhira. Zeo bahkan sampai kewalahan karena Zela yang terus memberontak dari gendongannya.


"Kakak juga mau sama mama hm?" kata Adhira menghampiri Zela, perempuan itu berjinjit untuk mencium kedua mata anaknya karena posisi Zela yang masih berada digendongan Zeo.


Ajaibnya kedua bayi itu langsung berhenti menangis dan menyisahkan senggukan serta cegukan yang menandakan betapa lamanya kedua bayi itu menangis kuat tadi.


Mungkin kedua bayi itu benar-benar merindukan Adhira. Padahal baru tadi Sore Adhira memandikan dan mengajak mereka bermain tapi keduanya langsung memanggilnya mama dan merindukannya dengan sebegitunya.


"Kakak sama Ken mau mamam sama mama ya." kata Adhira pada kedua anaknya yang masih sesekali sesenggukan.


"Mama?" beo keduanya hampir bersamaan disisa tangisnya. Lucu sekali, Adhira bahkan tanpa sadar sudah menciumi pipi kemerahan Ken. Ah, kedua anaknya memang keturunan Zeo sekali, Kedua bayi itu lebih cocok disebut bayi Jepang karena kulit putih dan pipinya yang kemerahan dan sedikit berbintik.


"Iya mamam sama mama mau?"


"Mama"


"Iya, sama mama, mau?"


"Uu" sahut Zela tak jelas.


Adhira tertawa, "Iya mamam sama mama ya."


Tari yang melihat respon majikan perempuannya itu langsung berlari kekamar Zela dan Ken untuk mengambil makan malam dan susu kedua anak asuhnya. Memanfaatkan keakraban mama dan anak itu untuk memberi anak asuhnya makan.


Sedangkan Zeo dan kedua orang tuanya hanya bisa saling melirik dengan penuh kebingungan melihat tingkah Adhira. Perempuan itu bahkan bertingkah seolah-olah merawat Zela dan Ken adalah suatu hal yang memang biasa ia lakukan.


"Ekhem, Zeo ajak Ken dan Zela makan  itu." kata papa Zeo berdehem.


Zeo tergagap, "Hah, ah, iya. Zela mau mamam ya."


"Mama" beo Zela lagi.


"Iya sama mama" kata Zeo tersenyum. Ia menciumi pipi Zela untuk menutupi rasa bahagianya atas perhatian Adhira pada kedua anaknya.


Tari maupun kedua orang tua Zeo pun menahan tawa ketika melihat Zeo lah yang justru tampak semangat dan bahagia. Seolah-olah laki-laki itu lah yang akan disuapi oleh Adhira.


-


Note


Obaachan \= nenek


Ojiichan  \= Kakek.


-

__ADS_1


__ADS_2