
Suami?
Adhira langsung memegang perutnya yang mulai menonjol. Rasa kebencian itu pun kembali lagi, ia membenci anak dan suaminya dengan sangat.
****
Adhira duduk melamun dengan bersandar ke kulkas, pikiran perempuan itu ntah melayang kemana.
Ia memegang perutnya yang mulai membesar, tadi setelah perdebatan panjang dengan Zeo akhirnya Adhira mau memeriksakan kandungannya.
Usia anak Zeo itu sudah 20 minggu, oh atau lebih tepatnya anak-anak Zeo. Karena ternyata ada dua bayi milik Zeo diperutnya.
Tadi Adhira juga mendengar detak jantungnya. Rasanya seperti ada yang berdesir didadanya. Dan Adhira benci hal itu. Ia tak mau hanya karena itu ia luluh begitu saja. Ia tak mau jatuh hati pada anak-anak Zeo. Tidak, tidak mau, dan tak akan mau.
Adhira mengusap perutnya dengan pikiran kosong begitu mengingat perkataan dokter padanya bahwa kedua bayi Zeo itu kekurangan nutrsi yang baik.
Perempuan itu jadi bingung sendiri, perasaan nya mulai kacau antara melakukan semua anjuran dokter untuk mulai memperbaiki gizi dan pola hidup sehatnya atau mengikuti egonya saja.
Adhira menatap-natapkan kepalanya pelan ke pintu kulkas,pikirannya terasa sangat penuh, rasanya ia ingin tidur sepanjang hari dan tak akan pernah bangun sampai kapan pun. Tapi tampaknya pemikiran itu hanya sekedar hayalan karena rencananya selalu gagal dalam berbagai alasan dan kesempatan.
Adhira menghentikan gerakan konstannya saat ia merasakan getaran pelan dari ponselnya. Perempuan itu membuka sling bag yang tadi ia pakai kerumah sakit, ah, omong-omong Adhira langsung berselonjoran didepan kulkas sepulang dari Rumah sakit sangking bosannya.
Perempuan itu melirik ponselnya saat chat dari Zeo masuk , oya, sekarang mereka sudah bertukar nomor ponsel atau lebih tepatnya Zeo lah yang mengambil paksa nomor ponselnya sepulang dari rumah sakit tadi. Katanya untuk berjaga-jaga hal penting. Ntahlah, Adhira enggan memusingkannya.
Bajingan (1)
[Gue kayaknyapulang agak malam nanti, ada tugas tambahn.]
Adhira menghela nafas, Sekarang Zeo juga sudah mulai kuliah dan bekerja dicabang perusahaan teman papanya. Semenjak pertengkaran mereka sebulan yang lalu , dimana Adhira mendapat dukungan mutlak dari mertuanya waktu itu. Zeo pun mulai mengendalikan emosinya. Pemuda itu juga tak terlalu menuntut banyak hal. Tak pernah mempersoalkan Adhira yang tak pernah masak, berberes, menyuci ataupun berbagi kamar dengan nya.
Zeo melakukannya sendiri, pagi-pagi sekali pemuda itu bangun untuk memasak, berberes rumah dan menyusun baju kotor mereka untuk dibawa ke Laundry sebelum berangkat kerja dan melanjutkan kuliah sore sampai malam.
Zeo juga mulai bersabar ketika Adhira berada dikegilaannya. Ntah lah, ntah Zeo yang terlalu berbaik hati padanya atau ntah karena terlalu bodoh. Adhira enggan mempersoalkannya, menurutnya hal itu justru menguntungkan dirinya.
Kling
Adhira kembali melirik ponselnya saat notif chat dari Zeo kembali muncul.
__ADS_1
Bajingan (4)
[lo mau pesen apa buat makan siang ini?]
[Lo harus makan Adhira, biar gue yang order kan dari sini]
[Buat makan malam juga apa? Nanti gue bawa sekalian pulang]
[Dhira]
Lagi dan lagi Adhira mengabaikannya. Biasanya Adhira tak akan mau makan kecuali disiang hari. Bukan karena Adhira tak selera makan, tapi perempuan itu memang benar-benar nekat menyiksa dirinya dan juga kandungannya dengan makan hanya satu kali dalam satu hari. tampaknya Adhira memang tak mau memberi nutrisi pada bayi-bayi Zeo itu diperutnya.
"Kalau kalian emang mau hidup sama gue, kalian harus tahan sama aturan gue." kata Adhira menyentuh perutnya ketika rasa perih diulu hatinya mulai terasa. Ia lapar, sungguh, Apalagi siang semalam ia hanya makan tiga potong pizza. Tapi kembali lagi, calon ibu muda itu memang berpegang teguh dengan pendiriannya untuk menyiksa anak-anak Zeo. Hitung-hitung latihan sebelum mereka lahir nantinya.
"Gue benci kalian, "Bisik Adhira yang direspon tendangan kecil disebagian sisi perutnya.
Adhira yang sempat terkejut karena untuk pertama kalinya mendapat tendangan dari perutnya pun mengerjap, namun sekali lagi ia tanamkan pada dirinya. Ia membenci semua hal yang berhubungan dengan Zeo dihidupnya. Termasuk kedua calon anak-anak Zeo itu.
***
Begitu pintu itu terbuka, suasana gelaplah yang menyambutnya. hal yang biasa sebenarnya, Karena sungguh, Adhira si pemalas itu terlalu gengsi walaupun hanya untuk menghidupkan lampu apartemen saat malam. Selalu merasa itu adalah tugas Zeo.
Tak mau ambil pusing, Zeo langsung mendudukkan dirinya disofa begitu ia menghudupkan sklar lampu. Pemuda itu mengusap wajahnya dengan rasa lelah.
Pekerjaan yang ia kerjakan cukup banyak tadi, ditambah lagi kegiatannya sebagai mahasiswa baru benar-benar membuatnya semakin kelelahan.
Namun rasa lelah itu ia abaikan begitu saja saat ia mengingat hasil usg kandungan Adhira siang tadi. Ah, senyumnya langsung mengembang, Ternyata bayinya memang kembar. Detak jantungnya juga mulai terdengar tadi.
Tapi..
Nutrisi kedua bayi kembar itu sangat-sangat dibawah standar bayi kembar pada umumnya. Bisa dibilang kedua bayi itu malnutrisi.
Ah, Tampaknya ia harus benar-benar mengubah pola hidup Adhira agar kian bergizi nantinya.
"Dhira" Panggil Zeo saat menyadari ia tak melihat Adhira dimana pun.
Apa perempuan itu sudah tidur? Batin Zeo sambil melihat jam diponselnya yang masih menunjukkan angka 20.11.
__ADS_1
Tidak biasanya Adhira tidur dijam-jam seperti ini. Zeo melirik bungkusan nasi padang dan bakso bakar untuk makan malam. Atau lebih tepatnya untuk makan malam Adhira. Kali ini ia harus memaksa Adhira makan tiga kali dalam sehari demi anak-anaknya.
Zeo ingat perempuan itu selalu menolak makanan, tak ayal ia sering pingsan atau lemas karena kekurangan nutrsi dan energi. Oleh sebab itu, saat jam makan siang kantor tadi Zeo memaksanya kerumah sakit untuk mengecek kandungannya. Berharap dengan begitu pintu hati Adhira terbuka sedikit untuk mau menyayangi kandungannya.
Tapi tampaknya harapan Zeo itu langsung musnah begitu saja saat ia melihat Adhira meminum sesuatu dari arah dapur. Itu seperti pil.
Trauma dengan kejadian bulan lalu, Zeo pun langsung menyambar Adhira. Pemuda itu mencengkram mulut Adhira. Mengorek apapun yang dimasukkan perempuan itu kemulutnya barusan.
"L-lwepas," tolak Adhira yang diabaikan Zeo.
"Lo mau apain lagi anak gue Adhira, sialan, lo minum aspirin? Gila!" maki Zeo mengguncang bahu Adhira.
"Muntahin Dhira. muntahin" Marah Zeo mengorek mulut Adhira.
Adhira yang masih terkejut karena amukan Zeo pun tampak bingung, "Uhuk-huk, huekk, Lwepas Ze,"
Adhira tersedak-sedak saat akhirnya pil sakit kepala dan air putih yang ia minum tadi ia muntahkan kelantai. Matanya merah karena mual. Bajingan memang Zeo.
"Gila ya lo, minum aspirin waktu lagi hamil rentan gini, maksud lo itu apa sebenarnya" Marah Zeo saat Adhira selesai dengan muntahannya.
Adhira memegang lehernya yang perih, ia menatap Zeo tak kalah marah, "Emangnya kenapa? Kepala gue pusing, ya gue minum obat lah"
Zeo membuka mulutnya lalu menutupnya lagi. " Lo-, Lo itu lagi hamil Dhira" Sabar Zeo.
"Ya emang kenapa, peduli setan, gue pusing ya gue minum obat."
Zeo menarik nafasnya, peperangan Ego dan harga diri muncul dibatinnya. Tapi ia tetap mencoba sabar. "Lo itu-Ok, Oke, selesai masalah ini sampai sini aja selesai." Zeo menarik napasnya. Ia enggan melanjutkan, enggan marah dan kehilangan kendali.
"Lo gila ya." tuding Adhira.
Zeo mengabaikannya, " Lo pusing karena efek lo gak makan Dhir, jadi sekarang makan ya." kata Zeo melembut.
Adhira menggeleng skeptis, "Jangan lo pikir gue mau ya."
Zeo mengepalkan tangannya.
Adhira Sialan.
__ADS_1