EGO- Adhira

EGO- Adhira
74 - Saling menyakiti dan tersakiti


__ADS_3

"Kakak" Adhira mencium tangan Zela yang terbalut perban dan juga infus.


"Maafin mama hiks" Adhira menunduk dengan tubuh bergetar, tangisannya sudah tak dapat terhenti semenjak Zeo menawarkan perceraian untuknya tadi pagi.


"Mama mohon maafin mama, maafin mama karena egois sama kalian, maafin mama nak. Maaf." Adhira mencengkram selimut Zela untuk meluapkan rasa sesalnya.


"Mama gak bermaksud nyakitin kamu sama Ken, mama gak bermaksud gak peduli sama kalian, mama sadar- mama yang bodoh hiks. Mama yang bodoh karena punya mental lemah kayak gini nak, maafin mama" Adhira terisak sampai suaranya tersendat-sendat.


"Mama sayang kalian, sayangnya mama, anak cantiknya mama tolong bangun," Adhira merebahkan kepalanya diranjang Adhira, tangannya dengan lembut mengelus perban yang membalut pergelangan sang anak, seolah menyesali semuanya, seolah ia berharap kalau luka itu akan hilang secepatnya.


"Sayang, tolong bangun, tolong bilang sama papa, mama sayang banget sama kalian, mama gak mau bercerai- mama gak mau pisah dari kalian hiks, tolong kak, tolong, kakak gak mau kita pisahkan kak? Kakak gak mau pisah sama adik-adikkan kak?"


"Tolong bilang sama papa, mama menyesal, mama nyesel kak, tolong, tolong bangun sayang, jangan buat papa mu makin ngerasa terluka, kamu sayang mama kan? Kamu sayang papa sama Ken kan?"


"Zela, tolong bilang sama papa kalau mama cinta sama papa mu, mama sayang banget sama papa, sayang banget sama kamu dan Ken sama adik juga, mama sayang, mama gak mau pisah kak, mama sadar sekarang. Sadar kalau mau mama semarah dan sedendam apapun sama papa dimasa lalu, masa muda mama gak bakal kembali, masa kejayaan mama gak bakal keulang lagi, tapi kalian- cintanya mama, kesayangannya mama pasti bakal selalunada untuk mama bahkan dimasa yang akan datang nantinya. " Adhira terisak kian serak, ruang rawat yang hening itu semakin mendukung rasa sesal mama dua anak itu.


"Maafin mama ya" Adhira mengatur nafasnya saat nafasnya terasa mulai tersengal, membuat Ken, remaja berusia tujuh belas tahun yang sejak tadi berdiri dibalik pintu ruang rawat kakaknya pun ikut merasakan rasa sesak itu.


Tadi ia keluar untuk membelikan mamanya makanan, tapi siapa sangka, ketika pulang ia mendengar ratapan meyayat mamanya.


Jadi, pembicaraan yang tadi mau dibahas papanya adalah tentang perceraian?


Ken menghapus air matanya kasar saat ia merasakan hatinya sakit, sepwrti rasa kecewa yang berlebihan.


Ken tak mau orang tuanya bercerai.


"Mama" Ken membuka pintu ruang rawat kakaknya sambil memanggil mamanya dengan mata yang sudah ikut memerah.


"Ken" Adhira merentangkan tangannya saat melihat anak keduanya itu menghampirinya. Adhira sudah tak bisa menutupi perasaannya lagi, ia butuh tempat bersandar, dan satu-satunya yang ia miliki selain Zeo adalah kedua anaknya.


"Ma, jangan nangis"


"Ken, mama gak mau cerai, mama gak mau pisah dari kalian" Adhira langsung saja mengadu saat Ken memeluknya dengan erat.


"Mama cinta sama papa, mama sayang sama kamu, sama kakak, mama sayang kalian tolong jangan tinggali mama nak, mama sendirian"


Ken tak menjawab tapi lengan tegas nya memeluk mamanya kian erat, seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.


...****************...


"Pa?" Ken menatap papanya dengan pandangan kecewa, malam itu papanya datang menjenguk Zela setelah kakak kembarnya itu bangun dari tidurnya, tapi sang papa sama sekali tak menatap atau menggubris mamanya yang masih berusaha memperbaiki semuanya.


Ken, sungguh kecewa.


"Pa, liat mama sebentar aja" Kata Ken pelan ketika Zeo hanya fokus pada Zela yang masih tak mau diajak bicara karena sedang mogok komunikasi dengan orang tuanya.


Zeo menghela nafas, ia lalu menatap anak laki-lakinya sebentar, "Jangan ikut campur urusan orang tua Ken, " Tekan Zeo dingin yang membuat Ken diam, tak lagi memaksa papanya untuk merespon mamanya. Sedangkan Adhira meremas tangannya saat tak sengeja ia mendengar teguran suaminya itu. Jelas sekali kalau Zeo sedang tak bisa diusik saat ini.


"Kakak, kakak mau apa hm? kakak mau apel? Mama kupaskan ya?" Adhira mencoba mengembangkan senyum disaat suasana dingin menyelimuti keluarga kecilnya itu.


Zela yang tadinya memunggungi keluarganya dan lebih memilih menatap tembok itupun kini melirik mamanya. Rindu dan menyesal sebenarnya, tapi ia juga malu karena telah membuat keluarganya panik dan khawatir.


"Mama- hiks huhu" Zela menatap Adhira dengan mata berair, "Maafin kakak" Zela menggenggam tangan Adhira, benar-benar menyesal.


Adhira yang mendapati anaknya menangis pun langsung membungkuk untuk memeluk anak sulung nya itu, ikut menangis, "Mama juga ya nak, maafin mama uda nyakitin hati kakak sama Ken, mama sayang banget sama kalian, jangan diulangi lagi ya nak, jangan tinggalin mama lagi ya nak"


Zeo dan Ken saling diam sambil menatap kedua perempuan dikeluarga mereka itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa haru, senang, dan juga takut yang menjadi satu. Haru dan senang karena keduanya telah saling memaafkan dan takut karena mungkin ini adalah momen terakhir mereka yang terjadi dalam satu ikatan keluarga yang utuh.


Karena Zeo, malam itu juga menatap semua anggota keluarganya dengan serius dan penuh ketegasan.


"Zela, Ken" Panggil Zeo pada kedua anaknya yang masih menikmati euforia dari mamanya itu.


"Hm? Kenapa Pa?" Tanya Zela sambil tetap menatap mamanya yang fokus mengupas apel dan pir untuknya.


"Aizela-Chan, Alzelo-Kun, lihat papa dulu" Kata Zeo tegas untuk menarik perhatian kedua anak remajanya itu.


Zela dan ken yang tadi nya masih saling cengengesan karena berebutuntuk bermanja ria dengan mamanya pun langsung menampilkan raut serius, manatap papanya dengan kaget. Jika papa sudah memanggil nama dengan nama awal dan berbahasa Jepang, itu sudah pasti ada suatu hal yang sngat serius.

__ADS_1


"Papa mau ngomong sama kalian" Kata Zeo melirik Adhira yang masih saja menunduk sambil mengupas apel ditangannya. Kentara sekali kalau mama dua anak itu sedang berusaha menyembunyikan tangisannya.


"Kenapa pa?" Tanya Zela bingung dan walaupun Ken sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan papanya, tapi ia tak bohong kalau sekarang kebingungan dan ketakutan juga menderanya.


"Papa sama mama minta maaf kalau akhir-akhir ini buat kalian tertekan, terutama untuk masalah semalam." Kata Zeo tenang.


"Papa mama sadar kalau kami bukan orang tua yang sempurna buat kalian, tapi papa sama mama tetap sayang kalian melebihi apapun."


Zela tak tau apapun, tapi ntah kenapa jantungnya berdetak kencang menunggu kelanjutan kalimat sang papa.


"Zela, Ken, kalian udah dewasa, dan papa sama mama tau kalau kalian pasti bisa menyikapi keputusan kami dengan fikiran terbuka."


"Keputusan apa? Maksudnya gimana pa? Ma?" Tanya Zela menatap kedua orang tuanya bergantian.


"Kami memutuskan untuk menjalani kehidupan masing-masing setelah ini"


"Shh" Adhira berdesis saat pisau yang ia pakai mengiris jari telunjuknya.


Ken diam, Zela diam, dan Adhira hanya mampu terisak pelan saat tangannya ditarik lembut oleh Zeo, dibalut dengan kain kasa yang ada di laci meja brankar.


Mereka semua diam, tapi siapapun tau, tak akan ada yang baik-baik saja saat tau rumah mereka hancur didepan mata mereka.


...****************...


Zela dan Ken tampak terkejut saat Adhira masuk keruang rawat Zela sambil menangis.


"Ma?"


"Ken" Adhira memeluk Ken dengan erat, menangis didada tegap anak keduanya itu dengan tergugu.


"Ma kenapa?" Tanya Zela berusaha turun dari ranjangnya sambil mendekati kembaran dan mamanya.


"Ma?" Ken mengusap punggung mamanya pelan, mencoba menenangkan.


"Mama gak mau Ken, gak mau kak" Kata Adhira tersengal.


"Mama gak mau tanda tangan, gak mau, mama gak mau pisah dari kalian"


Zela dan Ken saling menatap tak paham, namun ketidak pahaman mereka itu langsung sirna ketika papa mereka masuk dengan langkah tegas, membawa satu map tipis dengan wajah datar tak bersahabat.


"Tanda tangan Dhir" Katanya tegas, tak mau dibantah.


"Nggak, nggak mau Zeo hiks, Ken, mama gak mau" Adhira menenggelamkan kepalanya didada sang anak laki-laki tertuanya, meminta perlindungan.


"Dhira, kita harus segera selesaiin prosedurnya"


"Tapi aku gak mau"


"Adhira-


"Mama gak mau pa" Kata Ken dingin. "Jangan dipaksa"


Zeo menatap anak laki-lakinya itu dengan tegas, "Jangan ikut campur urusan orang tua Ken"


"Adhira"


"Pa!" Ken menepis tangan papanya saat papanya itu hendak memegang pundak mamanya.


"Alzelo! Gak sopan kamu ya, papa mau ngomong sama istri papa"


"Tapi istri papa itu mama ku, dan gak akan ada yang boleh nyakitin mama ku termasuk suaminya sendiri" Kata Ken dingin, remaja laki-laki yang selalu patuh pada orang tuanya itu menatap papanya menantang.


"Papa boleh ceraiin mama, papa boleh kecewa sama mama, papa boleh lakuin itu pa, tapi papa gak boleh dan gak berhak nyakitin mama, ngelukai mamaku, gak berhak. Pa, papa gak berhak"


Adhira tersentak dipelukan Ken, sedangkan Zeo tertegun dengan ucapan anaknya. Kedua orang tua itu seolah menyadari betapa besarnya cinta anak-anak mereka pada mereka.


"Ken sama kak Zela tau kalau papa yang selalu berjuang sendiri selama ini, kami tau kalau papa adalah orang yang paling tersakiti selama ini, tapi pa- apa papa pernah dengerin penjelasan mama secara mendalam, apa papa tau keinginan hati mama yang paling dasar? Apa kalian pernah saling bicara tanpa harus mementingkan ego dan emosi kalian?"

__ADS_1


"Mama cinta sama Papa, tapi mungkin dia gengsi untuk nunjukkannya, "


Zeo melirik istrinya yang berada dipelukan Ken dengan diam.


"Pa- Apa papa yakin buat berpisah dari mama?" Tanya Ken bergetar, menatap papanya dengan raut permohonan, begitupun dengan Zela yang sudah menangis sambil memegang selang infusnya.


"Apa papa pernah berfikir kalau mungkin perpisahan ini nanti saling menyakiti kita semua?"


"Apa pernah bayangin apa yang terjadi setelah mama setuju untuk tanda tangani surat itu?"


"Apa papa pernah bayangin kalau mungkin nanti kita gak bakal sering ketemu karena hidup sendiri-sendiri?"


"Apa papa pernah mikirin perasaan kami yang berantakan?"


"Pa, Papa bilang kalau dulu papa pernah hancur karena keegoisan orang tua papa, terus apa kami juga harus hancur dengan cara yang sama?"


"Pa, kami pernah merasakan arti sebuah keluarga lengkap yang kalian kasih kekami selama ini, dimanja, disayang, diutamakan, tapi- apa kalian gak mau kasih kelengkapan yang sama untuk adik Ken nantinya? Apa dia harus sendirian? Ngerasa gak diharapkan?"


"Pa, kalau dulu papa mau bertahan dan rela lakuin apapun demi kami selamat dikandungan mama, demi kami bisa hidup bahagia, apa alasan yang sama gak bisa papa lakuin untuk adik Ken pa? Apa dia gak seberharga itu untuk buat papa kembali bertahan?"


Zeo menatap anak-anaknya dengan mata memerah, ia mulai menyadari kalau keputusan ini bukan hanya membuatnya tersakiti tapi jiga menyakati anak-anaknya.


"Pa- Seburuk-buruknya mama, Mama Ken sama Zela itu tetap mama, gak ada yang lain, gak ada yang lebih baik dari mama didunia ini, dan sebaik-baiknya niat papa mau bahagiain kami, tapi kalau papa misahin kami sama mama, maaf pa, papa tetep orang terjahat bagi kami"


"Kalau papa tetap mau pisahin kami sama mama, maka kami yang bakal misahin diri dari papa"


Zeo terdiam, pandangannya kosong, sedangkan Adhira tertegun, anak-anaknya membela dirinya sebegitu hebatnya, dan ia malah menyia-nyiakan anak-anak hebat ini?


"Papa" Zela berjalan sambil membawa selang infusnya. Memeluk papanya dengan erat, tak memperdulikan lengannya yang masih nyeri ketika digunakan untuk memeluk erat tubuh papanya.


"Pa" Zela memanggil dengan lembut, mata basahnya menatap papanya dengan binaran.


Zeo tersenyum tipis, mengusap rambut anak gadisnya itu sayang. "Hm" Sahutnya pelan.


"Sama kayak mama, papa adalah papa terbaik versi kami, gak akan ada papa sehebat dan sekuat papa selain papa nya Zela dan Ken ini, gak akan ada papa yang sesabar dan sepenyayang ini selain papa" Zela menunjuk dada Zeo. "Gak akan ada selain papa, pa, karena papa satu-satunya papa untuk kami"


"Kalian berdua itu adalah orang tua terhebat buat kami, kita adalah keluarga terbaik versi keluarga kita sendiri, jadikan ini pelajaran buat kita ya pa, buat papa, buat mama, buat Zela, buat Ken, buat kita semua, Pa- bertahan sekali lagi ya pa?" Pinta Zela dengan tergugu.


"Kita berjuang sekali lagi ya, tapi kali ini bukan cuma papa yang bertahan dan berjuang, tapi kita semua, mau ya pa? Kita buat keluarga kita keluarga terhebat ya? Kita sambut adik Zela sama Ken dengan bahagia, kita rendahkan ego yang jahat itu, kita bina rumah bahagia kita lagi ya pa?"


"Pa- papa mau kan?"


Zeo menatap Adhira yang kini juga sudah menatapnya, mereka saling diam, tapi seolah rasa sakit dan ketakutan itu bisa mereka rasakan dari hati mereka masing-masing.


"Zeo- ayo perbaiki lagi?" Suara Adhira bergetar.


"A-aku sayang sama kamu Ze" Kata Adhira lalu memeluk tubuh Zeo, bergabung dengan Zela,


Zeo lalu menatap Ken yang diam menatapnya. Sebelum remaja laki-laki itu tersenyum dan ikut menubrukkan tubuhnya kedalam pelukannya.


Mereka semua berlomba untuk memeluk Zeo, dan Zeo menyadari satu hal, sepertinya bertahan satu kali lagi bukanlah suatu hal yang buruk.


Bersamaan dengan tangan besarnya yang membalas pelukan istri dan anak-anaknya map surat perceraian itu jatuh lepas dari genggamannya.


Dan semoga itu adalah keputusan yang tepat.


--


...****************...


Note:


Banyak kata atau kalimat berulang yang diucapkan Dhira itu memang bukan berniat berbelit ya guys, tapi itu sebagai bukti kalau pada saat itu suasananya memang sepelik itu.


karena bagi orang-orang yang krisis kepercayaan, krisis semangat, krisis dukungan, dia bakal berusaha mengulang pernyataannya berulang-ulang demi dapat sebuah pengakuan atau pembelaan. Dan itu yang terjadi sama Dhira.


So, gimana sama bab ini?

__ADS_1


__ADS_2