EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-53 Alasan Adhira


__ADS_3

"Iya sama mama" kata Zeo tersenyum. Ia menciumi pipi Zela untuk menutupi rasa bahagianya atas perhatian Adhira pada kedua anaknya.


Tari maupun kedua orang tua Zeo pun menahan tawa ketika melihat Zeo lah yang justru tampak semangat dan bahagia. Seolah-olah laki-laki itu lah yang akan disuapi oleh Adhira.


*****


Seperti biasa, sepulang bekerja Zeo berdiri didepan pintu kamar nya karena ia ingin mendengar interaksi Adhira dan kedua anaknya.


Sebenarnya setelah kejadian diruang makan minggu lalu itu, Adhira mulai dekat dengan Zela dan Ken walaupun jika dihadapan Zeo Adhira akan berusaha menutupi ke akrabannya dengan kedua anaknya.


Awalnya Zeo bingung dengan sikap Adhira, kenapa jika Zeo dirumah Adhira bersikap tak acuh pada Zela dan Ken walaupun kedua bayi itu menangis histeris minta digendong sedangkan jika Zeo tidak dirumah Tari dan mamanya sering mengirim foto ataupun vidio kebersamaan Adhira dan kedua anaknya. Sangat akrab. Zeo bahkan emosi sendiri saat ia dirumah karena Adhira yang acuh tak acuh pada kedua anaknya.


Tapi, sekarang Zeo sudah dapat menyimpulkan suatu hal yaitu, Adhira tak ingin harga dirinya jatuh didepan nya. Perempuan itu tak mau dianggap menyerah karena sudah mengakui Zela dan Ken.


Yah, Adhira adalah Adhira si perempuan paling keras kepala dan angkuh yang pernah Zeo kenal.


"Kiss mama Ken, kiss ini dipipi." suara Adhira itu membuat Zeo yang sedikit mengintip dari pintu kamar tersenyum. Adhira bahkan sudah menyambatkan dirinya sendiri sebagai mama.


"Mamama"


"Iya, kakak juga sini cium mama."


"Duh, duh, liur kakak banyak banget ini hisss.. Kakak ya" Adhira terdengar menggerutu, tapi gerutuan bahagia tanpa kesal.


Lalu terdengar gelak tawa, Adhira menggelitiki perut Zela dan Ken bergantian.


"Wah, pinternya anak mama jadi pingin cium lagi nih. Hm, ketawanya kuat ya kak, adek Ken juga ini hihihi"


Lalu kembali terdengar tawa dari Zela dan Ken karena Adhira menciumi perut mereka bergantian.


"Ma-mama" Ken menahan kepala Adhira yang ingin mencium perut nya. Bayi laki-laki itu sudah menyerah.


Melihat itu gantian Adhira yang tertawa. "Wah Ken uda nyerah nih kak."


Nah, satu lagi yang agak berubah semenjak Adhira dekat dengan Zela dan Ken. Perempuan itu mulai membiasakan Ken memanggil Zela dengan sebutan 'kakak' seperti yang dilakukan mama Adhira dirumahnya. Tampaknya Adhira takut suatu saat Ken akan memanggil langsung namanya tanpa embel-embel kakak.


Dan perempuan itu juga mulai menyapa dan mengajak Zela dan Ken menggunakan bahasa indonesia, berbanding terbalik dengan Zeo dan kedua orang tuanya yang lebih sering menyapa dan berbicara menggunakan bahasa jepang.


"Kakak sama Ken ngantuk ya? uluh-uluh, uda sipit aja matanya ini hm"


"Mata siapa sih ini yang diturun, mata papa ya. Hm, mata papa ya." Adhira kembali mengganggu kedua bayi yang tampak sudah lelah tertawa itu. Zeo menahan senyumnya. Kenapa Adhira lucu sekali sih.

__ADS_1


"Ini juga, kak Zela ini, rambutnya tebel gini mirip siapa sih? hm?apa? mirip papa juga, wah, mirip papa semua kalian ya. Mamanya gak kebagian."


"Aduh-aduhh, uda ngantuk ya adek ganteng, bobok sini, bobok sama mama, kita tunggu nanny ambil susunya ya"


Zeo mengipas wajahnya, Ken yang dipuji ganteng kenapa dia yang malu sih. Sial.


"Bobobo" Ken membeo


"Wah Ken uda pinter, iya sayang bobok sama mama mau?"


"Mamama"


Adhira tertawa, "Yaudah bobok sama mama yuk," Kata Adhira senang sendiri.


Zeo yang mendengar Zela dan Ken mulai mau berbicara itu tersenyum sendiri. Sebagai seorang Ayah dari dua bayi premature yang anaknya sempat didiagnosa mengalami keterlambatan perkembangan mental tentu saja kemajuan sedikit itu membuat Zeo sangat bahagia.


"Pak"


Zeo berjingkat kaget ketika bahunya ditepuk oleh Tari.


"Bapak ngapain disini?"


"Sttt" Zeo memberi kode diam.


"Kamu ngapain?" kata Zeo dengan suara yang hampir seperti gumaman.


Tari mengangkat dua botol susu yang ada ditangannya. Zeo mengangguk mengerti, "Yaudah sana, tapi jangan bilang ke Adhira saya uda pulang." pesan Zeo.


Tari mengangguk dan memberi tanda Ok dengan jarinya.


Setelah memberi susu pada Zela dan Ken, Tari pun langsung keluar karena tak mau mengganggu kedua majikannya yang masih berusaha memperbaiki hubungan mereka itu.


Melihat Tari yang keluar, Zeo pun kembali mengintip aktivitas Istri dan kedua anaknya. Sekarang, Adhira diposisi memunggunginya. Perempuan itu sibuk mengusap-usap perut Ken yang memang sangat manja, sedangkan Zela sudah mulai tertidur dengan botol susu masih dipegangannya.


Zela memang berbeda, mungkin ia sudah mengerti posisinya yang merupakan kakak. Sejak masih bayi dulu pun Zela lah yang paling tidak rewel dan anteng, sangat berbanding terbalik dengan Ken yang manja dan Juga senang merengek. kemanjaannya itu akan naik berkali-kali lipat lagi ketika sedang berasama Adhira seperti sekarang ini contohnya.


Zeo tersenyum ketika Adhira mencium kening Zela dan Ken, sepertinya kedua anaknya sudah tidur. Zeo yang memang sudah pegal mengintip itupun memilih melangkah masuk.


Laki-laki itu hampir memeluk Adhira dari belakang jika saja ia tak mendengar Adhira bergumam kepada kedua anaknya.


"Mama sayang sama kalian, tapi kenapa sih kalian harus mirip papa kalian?"

__ADS_1


Zeo diam mendengarkan, ia ingin tahu apa alasan Adhira dulu sangat membenci kedua anaknya.


"Kenapa salah satu dari kalian nggak ada yang mirip mama?" tanya perempuan itu bergetar.


"Setiap mama mau peluk kalian, mama jadi harus keinget kebejatan papa kalian. Mama gak suka itu, mama gak suka mata Ken yang mirip papa, mama gak suka rambut kakak yang mirip sama papa. Mama gak suka." monolog Adhira bergetar.


"Setiap liat kalian mama takut lepas kendali, mama takut nyalurin rasa sakit hati mama kekalian. Mama takut hiks." Adhira menangis, bahu perempuan itu bergetar. Dan Zeo membeku ditempatnya.


"Apa kalian benci mama? Mama gak pernah ada buat kalian, mama jahat sama kalian."


"Tapi nanti kalau kalian tau kisah mama sama papa jangan benci mama ya sayang. Jangan tinggali mama." Perempuan itu tergugu.


"Mama takut ditinggal sendiri, nanti kalau papa punya mama baru jangan lupain mama ya." perkataan Adhira itu membuat Zeo menghela napas geli. Lagian siapa yang mau mencari mama baru untuk kedua anaknya jika kedua anaknya saja selalu merengek tanpa Adhira.


"Kakak sama Ken cepet jalan ya sayang, biar pinter kayak papa sama aunty-aunty kecil kalian. " kata Adhira yang teringat banyak prestasi yang diraih suami dan adik iparnya itu.


Zeo menahan senyumnya, apa artinya Adhira memujinya pintar?


"Cepet bisa ngomong, cepet bisa lari-lari, nanti kita main kejar-kejaran ya sama aunty Zea sama Zee kalau mereka liburan kesini lagi. " Kata Adhira memeluk Zela yang posisinya lebih dekat dengannya.


"Maafin mama ya kak, Ken juga" Bisik Adhira tulus.


Zeo tak mampu berkata-kata, sebagai seorang yang jelas-jelas tau bagaimana bencinya Adhira pada kedua anaknya, ia sangat terharu.


"Ekhem," dehem Zeo yang membuat Adhira dengan cepat menghapus air matanya.


"Kapan kamu pulang!?" ketus Adhira bangun dan menjauh dari Zela dan Ken. Respo cepat yang menyakiti hati Zeo. Segengsi itu Adhira padanya.


"Barusan," bohong Zeo, "Zela sama Ken kok tidur disini kamu yang-


"Tari yang minta, aku cuma nurutin aja." bohong Adhira beralibi. Jelas-jelas perempuan itu yang mengajak Zela dan Ken tidur dikamar mereka.


"Oh-"


"Uda sana, bawak mereka kekamar mereka. Disini sempit" Ketus Adhira bersedekap dada.


Zeo menahan kalimatnya. laki-laki itu mengusap wajahnya. Merasa frustasi dengan hubungan tak sehat ini.


******


Uhui, Adhira dan Ego nya wkwkwk.

__ADS_1


Zeo sabar bat ya, Kalian kalau jadi Zeo tetap betah dan milih sadar atau kabur aja bawa anak-anak pergi wkwkwk.


Guys, ini senin kan? Vote nya mana??? Nagih ini.


__ADS_2